
Yuna tersenyum getir setelah membaca 2 poin terakhir yang sejak awal belum dia ketahui. Dadanya berdenyut nyeri, nafasnya seketika sesak. Pandangan matanya bahkan mulai menggelap. Yuna tidak pernah berfikir akan terikat perjanjian gila seperti ini dengan laki-laki yang begitu baik di luar. Yuna menyesal karna di awal tidak membaca 2 poin terakhir itu.
"Aku pikir laki-laki paling jahat di dunia ini hanya Papa, ternyata ada yang lebih mengerikan dari beliau." Yuna tersenyum kecut. Air matanya menetes begitu saja seiring rasa sakit yang semakin menghimpit dalam dadanya.
Dia ingin marah dan menolak semua itu tapi tidak berdaya, surat perjanjian itu sudah terlanjur dia tanda tangani.
"Rahim dan anak bukan untuk di perjualbelikan, seandainya aku tau isi perjanjian ini sampai akhir, aku lebih memilih menjual diri." Yuna menghapus air mata di pipinya. Dia meletakkan kertas itu di atas meja dan menatap Barra dengan sorot mata penuh kekecewaan karna tidak menyangka di balik kesempurnaan yang Barra tunjukkan selama ini, ada sifat yang mengerikan di dalamnya.
"Sesuai perjanjian yang tertulis, aku bersedia memberikan salah satu dari mereka untuk kalian."
"Mari bercerai setelah aku melahirkan, aku nggak akan meminta Mas Barra untuk melanjutkan pernikahan ini lagi." Seru Yuna tegas.
Jujur saja, dia tidak sanggup membayangkan salah satu baby twins di ambil alih oleh Barra yang ternyata sudah memiliki istri.
Barra dan istrinya akan mengklaim jika anak itu ada darah daging mereka, dan poin terakhir menuliskan bahwa Yuna tidak berhak untuk menemuinya dan muncul di hadapan anak kandungnya sendiri. Secara tidak langsung, Barra menyuruh Yuna untuk melupakan kalau dia tidak pernah memiliki anak.
Tapi Tuhan memang adil karna menganugerahkan 2 anak sekaligus di rahim Yuna. Setidaknya ketika Barra mengambil salah satu dari mereka, Yuna tidak akan gila.
"Tolong antar aku pulang,," Yuna beranjak dari duduknya tanpa mau menatap Barra. Sungguh hatinya hancur tak tersisa. Luka yang di torehkan oleh Papa kandungnya, tak sebanding dengan luka yang torehkan oleh Barra hingga tak menyisakan hatinya sedikitpun. Hancur, benar-benar hancur tanpa sisa.
"Yuna, aku belum selesai bicara." Barra mencegah Yuna dengan memegang pergelangan tangannya.
Di menatap iba pada Yuna yang terlihat sangat hancur dan kehilangan seluruh kebahagiaannya dalam sekejap. Sedikitpun tidak ada kebahagiaan yang tersisa dari sorot matanya.
Barra sadar dia kejam dan keterlaluan karna saat itu tidak memberikan kesempatan pada Yuna, saat Yuna ingin membaca ulang surat perjanjian yang sudah di tanda tangani.
Jika Yuna membacanya, sudah pasti Yuna tidak akan setuju.
Karena sebelumnya Barra sudah mencoba untuk mencari wanita yang mau untuk menikah dengannya dan memberikan anak mereka padanya, namun satupun tidak ada yang menyanggupi 2 poin itu.
Seburuk-buruknya seorang ibu, tidak ada yang akan merelakan berpisah dengan anaknya tanpa bisa melihatnya lagi seumur hidup.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan lagi Mas, semuanya sudah jelas, aku sangat paham derajat dan tugasku."
"Mas Barra nggak usah khawatir, aku nggak akan berubah pikiran." Yuna menepis pelan tangan Barra hingga melepaskan tangannya.
"Kita akan tetap melanjutkan pernikahan, salah satu yang ikut denganmu juga membutuhkanku." Tegas Barra. Dia menatap Yuna dengan sorot mata dalam. Ternyata hatinya tidak bisa sejahat itu untuk membuang Yuna dan salah satu anaknya setelah berhasil mencapai tujuan.
"Dia nggak keberatan hidup berdampingan dengan kamu, dia rela menerima kamu sebagai madunya." Jelasnya menuturkan.
__ADS_1
Lagi-lagi Yuna hanya mengulas senyum getir. Dia tidak mungkin bertahan sebagai madu.
"Aku tetap mau bercerai setelah melahirkan. Kita bawa masing-masing dari mereka."
Yuna tetap bersikeras untuk memilih melanjutkan perjanjian yang tertulis.
Harapannya sudah runtuh setelah membaca poin itu, jadi Yuna merasa tidak perlu hidup dengan Barra lagi setelah melahirkan. Dia yakin bisa hidup tanpa Barra dengan membesarkan anaknya dan bekerja keras untuk mengembalikan semua uang yang sudah Barra keluarkan untuknya.
"Jangan keras kepala Yuna.! Aku sudah berbaik hati memikirkan hidup kalian ke depannya."
Barra mulai sedikit kesal karna Yuna bersikeras mau berpisah.
"Baik.?" Tanya Yuna dengan senyum sinis di bibirnya.
"Aku baru tau ada orang baik yang tega membuat perjanjian gila seperti ini."
"Apa semua orang kaya seperti Mas Barra.?" Yuna menatap tajam. Nada bicaranya memang pelan, namun keras akan sendirian.
"Aku memang butuh bantuan, tapi bukan berarti Mas Barra bisa bisa memperlakukanku seperti ini."
Yuna kembali meneteskan air mata, dia tidak sanggup menahannya. Luka di hatinya terlalu perih.
"Maaf, aku harus pulang." Yuna beranjak pergi. Dia mengambil tas miliknya berjalan cepat keluar villa.
Tidak mau melihat Yuna pulang sendirian dalam keadaan seperti itu, Barra berlari cepat untuk menyusulnya.
"Yuna, jangan gegabah. Aku nggak akan biarin kamu pulang sendiri. Ingat kandungan kamu." Seru Barra. Dia berhasil mengejar Yuna dan menahannya.
"Kenapa.? Mas Barra takut tujuannya gagal kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka.?"
"Tenang saja, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik. Mas Barra sudah membayar mahal anak ini, mana mungkin aku akan membahayakan mereka." Yuna terkekeh kecil. Dia tidak mengerti lagi dengan semua ini. Hidup terlalu mempermainkan takdirnya.
Barra tidak bisa berkata-kata, tanpa pikir panjang, dia langsung menggendong Yuna dan membawanya kembali ke kamar.
Dia tidak tega melihat kondisi Yuna seperti ini. Dan jika membawanya pulang, Mama Rena pasti akan sangat khawatir.
"Turunkan aku.! Aku mau pulang," Yuna memukul dada Barra.
"Kita akan pulang kalau kamu sudah tenang." Barra mendudukkan Yuna di ranjang.
__ADS_1
"Aku minta maaf, tapi aku benar-benar ingin bertanggungjawab pada kamu dan baby twins." Barra meraih tangan Yuna dan menggenggamnya.
"Aku mohon, tetap berada di sampingku dan jadi bagian dari kami demi baby twins."
Ucapnya dengan tatapan memohon. Yuna terkekeh mendengarnya. Antara benci dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Barra.
"Terimakasih tawaran baiknya, akan aku pikirkan nanti." Jawab Yuna santai.
"Aku ingin sendiri, tolong antar aku pulang atau pesankan kamar lain untukku." Pinta Yuna. Raut wajahnya berubah drastis, tidak ada lagi kesedihan dan kehancuran yang tadi terpancar dari sorot matanya.
Barra bahkan bingung dengan perubahan ekspresi Yuna yang terlalu cepat.
"Mas,,," Tegur Yuna pelan.
Lamunan Barra seketika buyar.
"Kamu pakai kamar ini saja. Ada kamar lagi di atas, aku akan pindah ke atas."
"Telfon aku saja kalau butuh sesuatu."
"Jangan coba-coba untuk pulang sendiri." Barra beranjak dari duduknya.
"Sebaiknya kamu istirahat." Barra meletakkan tangan di kepala Yuna dan mengusapnya lembut. Namun Yuna langsung memegang tangan Barra dan menyingkirkan dari kepalanya. Dia menggenggam tangan besar itu dengan sedikit menekannya.
"Aku mengerti." Jawab Yuna dengan sorot mata dalam dan senyum tipis.
Dia melepaskan tangan Barra begitu saja, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Barra, dia beranjak dari sana dengan pikiran yang kacau.
"Terima kasih untuk liburannya yang indah dan berkesan ini." Ucap Yuna saat Barra membuka pintu kamar hendak keluar. Suaranya terdengar tulus berterima kasih.
Barra menoleh, dia melihat Yuna yang tersenyum lebar padanya. Entah senyum macam apa yang mengembangkan di bibir Yuna. Bukan senyum sinis ataupun bahagia.
Barra hanya menganggukkan kepala, kemudian keluar dan menutup pintu.
...****...
Double up biar dapet vote lebih banyak 😁.
__ADS_1
Yang belum vote jangan lupa vote dulu yah.