Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 88


__ADS_3

"Kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Chandra. Dia menatap Yuna dan tersenyum tipis padanya.


"Kenapa buru-buru.? Lanjutkan saja kalau kalian belum selesai bicara." Ujar Barra dingin. Dia mendorong stroller ke dalam ruko, twins terlihat tidur pulas.


Chandra tersenyum kecut tanpa di tunjukkan pada siapapun.


"Apa kamu tidak keberatan.?" Tanya Chandra dengan suara lantang. Barra menghentikan langkah dan menoleh tajam.


"Tidak.!" Serunya tegas, lalu kembali melangkah ke dalam.


"Sikap cemburunya tidak pernah berubah sejak dulu." Gumam Chandra begitu Barra tidak terlihat lagi. Yuna langsung menoleh, terlihat penasaran dengan penuturan Chandra.


"Apa Pak Chandra dan Mas Barra teman lama.?" Tanya Yuna.


Chandra mengangguk cepat.


"Dulu kami satu kampus, temasuk Cindy." Mendengar Chandra menyebutkan nama Cindy, Yuna semakin menatap serius dan penasaran.


Dia juga sedikit terkejut, itu artinya Chandra tau tentang statusnya sebagai istri kedua Barra.


Karna sebagai teman lama, sudah pasti Chandra tau Barra dan Cindy suami istri.


"Jadi,,,


"Aku pulang dulu,," Chandra memotong ucapan Yuna. Dia menepuk pelan pundak Yuna dengan mengulas senyum teduh.


"Menyakitkan hadir di tengah-tengah orang yang saling mencintai, keep strong." Ucap Chandra. Senyumnya semakin lebar, seakan ingin memberikan kekuatan pada Yuna lewat senyumnya yang menyejukkan.


Yuna tidak menjawab apapun, dia hanya tersenyum kaku.


Ucapan Chandra memang benar, sangat menyakitkan sampai tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Mobil yang di tumpangi Chandra sudah menjauh dari pandangan matanya, Yuna bergegas masuk ke dalam. Di lihatnya Barra yang tengah duduk di sofa seorang diri dengan secangkir teh di atas meja.


Bersamaan dengan itu, Mama Rena menuruni tangga dan berjalan mendekat ke arah sofa.


"Zie dan Ara ada dimana Mah.?" Tanya Yuna. Barra yang tidak mengetahui keberadaan Yuna, langsung menoleh. Dia pikir Yuna masih asik mengobrol dengan Chandra.


"Sudah Mama pindahkan ke kamar kamu, mereka masih tidur." Sahutnya. Mama Rena lalu duduk di sofa untuk menemani mereka karna tidak mungkin di tinggal berduaan dengan Yuna. Mama Rena hanya ingin menghindari hal-hal yang tidak di inginkan karna status mereka bukan lagi suami istri.


"Kalau begitu aku ke atas dulu." Yuna tidka tertarik sedikitpun untuk bergabung dengan Barra dan Mama Rena.

__ADS_1


"Yuna,, aku ingin bicara." Cegah Barra. Langkah Yuna terhenti, menatap ke arah Barra yang terlihat serius. Tanpa banyak bertanya, Yuna langsung duduk di samping Mama Rena.


"Mau bicara berdua.?" Tanya Mama Rena pada Barra.


"Akan jauh lebih baik kalau ada Mama, karna saya nggak akan bisa membujuk Yuna." Ucap Barra. Dia memberikan tatapan seolah ingin meminta bantuan pada Mama Rena.


"Membujukku.?" Yuna menatap curiga. Dia berfikir Barra akan memintanya untuk kembali menjadi istrinya.


"Soal tempat tinggal." Kata Barra.


Yuna bernafas lega mendengarnya. Ternyata bukan membahas hubungan mereka.


"Aku harap kamu mau mengajak twins pindah ke rumah yang sudah aku siapkan."


"Ruko ini hampir 70 persen penuh dengan baju, kamu nggak kasian sama mereka.?" Barra menatap teduh. Dia ingin bicara baik-baik pada Yuna agar Yuna tidak keras kepala dan mau tinggal di rumah agar lebih layak dan nyaman untuk twins.


"Rumah yang aku siapkan memang sedikit jauh dari ruko ini. Kalau kamu keberatan dengan lokasinya, aku bisa mencarikan rumah gantinya disini."


Jelas Barra. Tadi saat mengajak twins jalan-jalan ke taman, Barra sempat melihat-lihat rumah yang tak jauh dari sana. Ada beberapa rumah yang disewakan dan di jual.


"Aku tau Mas Barra melakukan semua ini untuk anak-anak. Tapi maaf, untuk soal tempat tinggal, aku yang akan memberikannya untuk mereka." Lagi-lagi Yuna menolak niat baik Barra yang ingin memberikan tempat tinggal untuk twins.


Bukan tanpa alasan, Yuna hanya ingin tinggal di tempat yang dia sewa sendiri atau dia beli sendiri dengan uangnya.


Karna merasa rumah itu darinya, bisa saja Barra juga akan datang sesuka hati dan masuk kesemua sudut ruangan. Lama-lama Barra akan menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri dan bebas tidur di sana.


"Kali ini saja, aku mohon jangan kerasa kepala." Pinta Barra. Yuna menatap kesal.


"Keras kepala.? Memangnya kapan aku keras kepala.?" Cecar Yuna tak terima.


"Karna aku terus menolak untuk bertahan.?" Senyum miris mengembang dibibir Yuna.


"Aku hanya ingin melindungi hati dan mentalku, bukan karna keras kepala." Serunya.


"Yuna,," Tegur Mama Rena lembut. Dia memegang tangan putrinya dan memberikan isyarat denga tatapan agar Yuna bisa mengontrol emosinya.


"Mah, Yuna nggak mau. Mama pasti tau apa yang Yuna khawatirkan." Ucap Yuna memohon.


"Nak,, tapi Barra benar. Anak-anak kamu butuh tempat tinggal yang nyaman untuk saat ini."


"Coba kamu lihat,," Mama Rena meminta Yuna untuk mengedarkan pandangan ke semua sudut di lantai 1. Semuanya sudah penuh dengan produk jualan Yuna.

__ADS_1


Hanya tersisa space untuk 2 sofa dan 1 meja, dapur kecil di sudut ruangan. Toilet kecil, kamar untuk Nitha dan Farah. lalu ruangan kecil untuk tempat kerja mereka. Dan sisanya penuh dengan rak serta karung dan box berisi baju-baju.


Dan lantai atas juga sudah mulai dipakai untuk tempat penyimpanan stok baju.


"Setidaknya untuk sementara waktu. Nanti malau kamu sudah bisa membelikan rumah untuk mereka, kita bisa pindah ke rumah yang kamu beli." Mama Rena berusaha untuk membujuk Yuna. Karna dia juga merasa kasihan pada cucunya yang harus tinggal di ruko dengan udara dan debu yang bercampur dengan ribuan baju di dalamnya.


"Tapi Mah,,


"Yuna,, Mama Rena bahkan lebih mengerti dengan apa yang anak-anak butuhkan." Potong Barra.


"Aku mohon kali ini saja jangan menolaknya lagi."


"Besok aku akan mencarikan rumah yang dekat dengan ruko ini." Ucap Barra tegas.


"Untuk saat ini kamu harus memikirkan kepentingan dan apa yang terbaik untuk anak-anak, jangan meninggikan ego." Tutur Barra.


Yuna menarik nafas dalam. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk pelan tanda setuju.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Barra beranjak dari duduknya.


"Saya pulang Mah,," Barra mengulurkan tangan pada Mama Rena dan mencium punggung tangannya.


Walaupun sudah bercerai dengan Yuna, namun Barra masih sangat menghormati Mama Rena dan masih menganggapnya sebagai orang tua.


"Terimakasih." Ucap Yuna saat Barra akan beranjak.


Barra mengangguk dengan mengulas senyum tipis.


"Hubungi aku kalau ada sesuatu dengan anak-anak." Pesannya.


"Iya,,"


Barra berlalu. Yuna menghela nafas dan kembali duduk di sofa.


"Yuna nggak mau di hina lagi Mah," Gumam Yuna pelan.


"Tapi nggak tega kalau harus melarang Mas Barra bertemu anak-anak." Keluhnya sendu.


"Sekarang Mas Barra malah mau memberikan rumah. Kalau Mamanya Mba Cindy sampai tau,,


"Jangan dengarkan omongan orang tentang kamu, mereka nggak pernah tau apa yang sudah kamu rasakan dan alami selama ini." Mama Rena mengusap punggung Yuna.

__ADS_1


"Fokus saja pada kebahagiaan kamu dan anak-anak."


Yuna tersenyum dan mengangguk paham.


__ADS_2