
Semua orang berkumpul di ruang keluarga apartemen Barra, kecuali Cindy yang saat ini masih istirahat di kamarnya. Sejak pagi dia menangis, membuat kondisinya sedikit lemah dan kelelahan. Barra memaksa Cindy untuk masuk ke dalam kamar setelah makan siang 3 jam yang lalu.
Sisil baru saja bergabung setelah menidurkan kevin di kamar tamu. Daddy Hendra juga baru datang 1 jam yang lalu dan kini dia tau semua permasalahan putranya. Selama 1 bulan ini dia menahan diri untuk tidak menanyakan langsung pada Barra lantaran Mommy Sonya melarangnya.
"Dad tidak menyangka kamu akan seperti ini.! Pernikahan bukan lelucon, bagaimana kamu bisa menikahi wanita lain hanya untuk mendapatkan keturunan.!" Hendra terlihat geram dengan ulah putranya. Barra sudah dewasa, usianya tidak muda lagi, harusnya bisa berfikir panjang atas apa yang akan dia perbuat. Hendra juga merasa jika putranya tidak memiliki pendirian, terlalu bermain dengan perasaan sampai mengabaikan logika.
"Maaf Dad, aku tau ini salah."
"Kami semua sudah terjadi, aku dan Cindy bahkan sudah mendapatkan hukumnya." Barra tertunduk lesu. Dia malu, sangat malu pada kedua orang tuanya, adik serta adik iparnya.
Seharusnya sebagai kakak, dia bisa memberikan contoh yang baik dan bisa bersikap bijak, tapi justru membuat permasalahan rumit yang akhirnya jadi melibatkan semua orang.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri, Mom dan Dad tidak perlu melibatkan diri. Aku harus bertanggungjawab dengan jalan yang sudah aku pilih." Ucapnya tegas.
"Tidak bisa, Mom juga berhak ikut turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Karna ini bukan menyangkut tentang kalian bertiga saja, tapi juga menyangkut kedua cucu Mommy."
Mommy Sonya tak kalah tegas. Dia tidak mau tinggal diam dan membiarkan Barra memutuskan sendiri permasalahan ini.
Mommy Sonya tidak mau mengambil resiko, takut Barra akan mengambil keputusan yang bisa menyakiti banyak orang.
"Kita akan menyuruh Yuna dan Mamanya untuk datang, selesaikan permasalahan ini secara terbuka di depan. keluarga."
"Nicho yang menjemput mereka."
Mommy Sonya melirik Nicho. Laki-laki yang tengah duduk santai itu langsung mengangguk patuh dan beranjak dari duduknya.
"Aku mau ikut,," Rengek Sisil.
"Prisilla.! Ingat kamu sudah punya anak, jangan bertingkah seperti itu." Tegur Daddy Hendra tegas.
"Ya ampun Dad, memangnya kenapa.? Aku kan cuma mau ikut suamiku, bukan ikut orang lain."
"Lagi pula Kevin sedang tidur, kalaupun bangun ada Mom yang akan menjaganya." Sisil menyengir kuda.
"Boleh ya Mom, aku titip Kevin sebentar."
Sisil langsung menggandeng tangan Nicho dan menariknya untuk segara pergi dari ruang keluarga.
Tingkah putrinya membuat Sonya dan Hendra geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Barra menatap bahagia. Dia ikut senang dengan rumah tangga adiknya yang terlihat sangat bahagia dan telah di karuniai seorang anak.
__ADS_1
Dulu dia sempat mengancam Nicho untuk tidak menyakiti Sisil, dan terbukti jika Nicho telah menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab untuk Sisil.
Sedangkan dia sendiri justru membuat kekacauan dan menyakiti perasaan kedua istrinya.
...*****...
"Kak Yuna masuk saja, kami mau pergi dulu. Di dalam sudah ada Mom dan Dad yang menunggu." Ucap Sisil begitu mengantar Yuna dan Mama Rena sampai ke depan pintu apartemen Barra.
"Terimakasih,," Ucap Yuna tulus. Dia tersenyum lebar pada adik iparnya yang sangat baik, bahkan sepanjang perjalanan terus mengajaknya bicara sembari menggendong Kenzie.
Yuna tidak menyangka jika wanita hamil yang dia temui di mall waktu itu adalah adik iparnya. Pantas saja saat itu Barra tiba-tiba sudah berada di lantai bawah.
"Tolong sampaikan pada Mom, aku dan Kak Nicho ingin mencari udara segar sebentar. Sejak ada Kevin, kita jarang pergi berdua." Tuturnya sembari menyengir kuda. Yuna hanya mengangguk patuh sembari tersenyum tipis, dia bisa memaklumi hal itu.
"Makasih kak." Sisil berlalu sambil menggandeng tangan Nicho.
"Kenapa tidak minta ini dulu pada Mom.?" Seru Nicho.
"Kalau minta ijin, nanti kita tidak bisa pergi." Sahut Sisil cepat, dia terdengar menahan tawa.
Yuna yang mendengar dan melihat tingkah mereka hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.
Terlihat konyol dan kekanakan namun cukup membuatnya iri. Rumah tangga mereka terlalu manis dan romantis.
"Yuna mengerti Mah,," Jawabnya pelan.
...*****...
"Kamu duduk saja, biar Mom yang buka.!" Cegah Sonya pada Barra yang hendak beranjak setelah mendengar bel. Teguran itu membuat Barra kembali duduk, padahal dia terlihat tidak sabar untuk menyambut kedatangan Yuna. Dia berharap Yuna juga membawa Kenzie agar bisa melihat putranya secara langsung.
"Sore Mom,," Yuna mengapa sopan dan mengulas senyum tipis pada Mama mertuanya yang membukakan pintu.
Mommy Sonya tersenyum ramah, kemudian menjabat tangan besannya.
"Ayo masuk nak,"
"Silahkan Bu Rena." Mommy Sonya menyuruh keduanya untuk masuk.
"Boleh saya gendong Kenzie.?" Dia meminta Kenzie dari gendongan Mama Rena.
"Iya silahkan Bu," Mama Rena memberikan Kenzie pada besannya, mereka kemudian masuk ke dalam.
__ADS_1
Yuna menunduk malu melihat keberadaan Daddy Hendra.
"Selamat sore Om," Sapa Yuna lirih, dia mengulurkan tangannya pada Hendra.
"Duduklah," Ujar Hendra setelah membalas jabatan tangan menantunya. Mama Rena juga ikut menjabat besannya itu. Begitu juga dengan Barra yang langsung berdiri dan menjabat tangan Mama Rena.
Sedangkan Yuna memilih menghindar tanpa menoleh pada Barra. Dia juga enggan untuk menjabat tangannya meski masih berstatus sebagai istri Barra.
Yuna duduk di sofa yang jauh dari Barra. Kinara diletakan dalam pangkuannya. Sejak tadi pandangan mata Barra tak lepas dari bayi mungil itu. Sebenernya tadi pagi saat berada di rumah sakit, dia ingin menanyakan hal itu namun mengurungkan niatnya.
"Itu Kenzie, lalu siapa bayi perempuan itu.?" Tanya Barra. Setelah menatap Mommy Sonya, Barra menatap Yuna.
"Tebak saja sendiri, menurut kamu dia siapa." Jawab Mommy Sonya kesal. Dia lantas duduk di samping suaminya dan memberikan Kenzie padanya karna sejak awal Daddy Hendra belum pernah melihat Kenzie secara langsung.
"Dia sama tampannya dengan Kevin." Ucap Dad Hendra. Wajahnya berbinar bahagia, siapa yang tidak senang melihat cucu dan bisa menggendongnya seperti ini.
"Mom aku serius." Seru Barra. Merasa penasaran, dia lalu beranjak dan mendekati Yuna.
"Kamu tidak pantas menjadi seorang ayah kalau tidak bisa mengenalinya." Sindir Mom Sonya.
"Baby girl.?" Tanya Barra sembari menatap Yuna. Tangannya mengulur dan menyentuh bayi mungil itu dengan posisi berlutut di depan Yuna.
Yuna hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Barra.
Seketika dia menatap baby girl dengan sorot mata dalam dan berkaca-kaca.
"Bukannya dia,,"
Barra tidak bisa berkata-kata. Air matanya tiba menetes. Dia terus mengusap wajah Kinara dan menatap lekat wajah cantik itu yang dia akui sangat mirip dengannya.
Yuna tidak berbuat apapun, dia memilih diam dan membiarkan Barra berinteraksi dengan putrinya.
Sedih memang, pemandangan seperti ini sangat mengiris hati karna Yuna sendiri mengalaminya.
"Mom yang menyembunyikan Kinara. Untung saja Mom datang tepat waktu dan bisa mengambilnya. Kalau tidak, Mom yakin kamu dan Cindy akan mengambil Kenzie.!" Seru Mom Sonya.
"Mom tidak setuju kalau mereka di pisahkan, mereka masih sangat kecil dan butuh ibu kandungnya.! Jadi biarkan mereka ikut dengan Yuna."
"Sekalipun kamu putra kandung Mommy, jangan harap Mom akan membela kamu selagi kamu salah.!"
Mommy Sonya meluapkan kekesalannya setelah 1 bulan lebih menahannya. Dia berada di kubu Yuna, bukan karna tidak bisa mengerti keadaan Barra dan Cindy, tapi ingin memutuskan apa yang terbaik untuk kedua cucunya. Karna saat ini yang terpenting bukan perasaan Barra, Cindy maupun Yuna.
__ADS_1
"Aku ingin menggendongnya," Pinta Barra dengan suara yang bergetar. Dia tidak merespon ucapan Mommy Sonya, perasaannya sedang bercampur aduk lantaran mengetahui kenyataan bahagia ini.
Yuna memberikan Kinara untuk di gendong oleh Barra. Tangis Barra semakin tumpah. Perasaannya pasti sama dengan Yuna saat mengetahui bahwa baby girl masih hidup.