Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 108


__ADS_3

Barra mulai merasa hidupnya kian terasa hampa. Semakin hari seperti ada yang hilang dalam dirinya. Hidup tanpa arah dan tujuan, hanya twins yang kini menjadi semangatnya untuk tetap menjalani hidup yang tak lagi berjalan sesuai keinginannya.


Rumah tangganya bersama Cindy juga mulai renggang. Kesibukan masing-masing membuat keduanya jarang berkomunikasi. Cindy juga lebih sering pergi ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Terkadang sampai lebih dari 2 minggu meninggalkan Barra seorang diri di apartemen.


Namun pada kenyataannya hal itu tak pernah menjadi masalah untuk Barra. Dia membebaskan apapun yang dilakukan oleh Cindy selagi menyangkut kariernya.


Seperti hari ini, sudah 1 minggu yang lalu sejak Cindy pergi ke Paris untuk pemotretan. Tak banyak yang di lakukan oleh Barra setelah pulang dari kantor. Terkadang ia sengaja pulang larut malam agar bisa langsung tidur begitu sampai di apartemen.


Tapi hari ini dia pulang lebih awal, mandi dan bersiap untuk menemui twins.


Sumber kebahagiaannya yang masih tersisa.


Barra memarkirkan mobilnya di halaman rumah Yuna. Rumah pemberian dari Chandra itu hampir 7 kali lipat dari rumah pemberiannya sebelumya.


Awalnya merasa keberatan ketika twins harus pindah ke rumah itu, namun Barra juga sadar tidak bisa melarang Yuna untuk pindah ke rumah suaminya.


Rumah ini selalu terbuka untuknya, juga untuk Mom Sonya dan Dad Hendra. Yuna tak pernah melarang mereka untuk datang, begitu juga dengan Chandra.


Mereka bebas datang kapan saja untuk menemui dan membawa twins jalan-jalan maupun di bawa untuk menginap.


Barra mengulas senyum, kedua manik matanya menatap twins dan Yuna yang sedang asik bermain di taman depan. Ketiganya tertawa lepas, terlihat sangat bahagia. Barra mengakui jika setiap kali dia datang, mereka selalu terlihat semakin bahagia.


Barra bergegas turun dari mobil untuk menghampiri mereka yang sampai saat ini tidak menyadari kehadirannya. Dia berjalan cepat dengan sorot mata yang lebih hidup.


"Awwww,,,!!" Pekik Yuna kesakitan. Dia memegang perutnya karna merasakan kontraksi palsu. Beberapa hari ini dia sering mengalami hal itu menjelang persalinannya yang diperkirakan kurang dari 1 minggu lagi.


"Mama,,, Mama kenapa.?" Twins terlihat panik, keduanya langsung mendekat pada Yuna dan memeluknya.


"Kamu baik-baik saja.?" Tanya Barra cemas. Dia sampai merangkul pundak Yuna dan menatap wajahnya dengan dekat.


Yuna sedikit terkejut melihat kedatangan Barra yang tiba-tiba langsung merangkulnya, bahkan terkesan seperti memeluknya dari samping.


"Papa,, Mama sakit,," Seru Kenzie.


"Lepas Mas,," Pinta Yuna sopan. Dia menyingkirkan pelan tangan Barra dari kedua pundaknya. Bukan tanpa alasan, Yuna hanya ingin menjaga perasaan Chandra, dia juga harus menjaga batasan dengan mantan suaminya itu.


"Aku baik-baik saja." Tutur Yuna, meski masih sedikit menahan sakit di bagian bawah perutnya yang terasa kram.

__ADS_1


Barra bergeser saat Yuna beranjak dari duduknya. Dia menatap sendu pada Yuna yang semakin jauh dari angan-angan. Wanita cantik itu tidak mungkin untuk dia miliki lagi.


Yuna sudah sangat bahagia dengan pernikahannya bersama Chandra, sebentar lagi kebahagiaan mereka bahkan akan semakin lengkap dengan kehadiran anak mereka.


"Kalian main sama Papa dulu ya,, Mama mau ke kamar sebentar." Pamit Yuna pada twins. Dia mengusap kedua pipi mereka bersamaan.


"Mereka sudah lama di taman, kalau mereka bosan pindah ke dalam saja." Ujar Yuna pada Barra. Dia hanya menatap sekilas pada Barra, benar-benar menjaga interaksi dengan Barra.


Barra mengangguk paham.


"Makasih,,," Ucapnya.


Yuna hanya merespon dengan anggukan kecil, lalu bergegas pergi dari taman.


Barra diam beberapa saat untuk menatap kepergian Yuna. Dia menyadari bahwa ada hal yang dulu tidak bisa dia berikan pada Yuna, tapi kini diberikan oleh Chandra. Yuna begitu bahagia menjadi istri satu-satunya dan diperlakukan dengan cinta sepenuh hati.


"Papa,,, ayo main,," Kinara menggoyang tangan Barra.


Lamunan Barra seketika buyar, tidak lagi menatap Yuna yang masih berjalan untuk masuk ke dalam rumah.


"Mau mainan,," Seru twins bersamaan. Keduanya antusias mengikuti Barra dengan menggandeng tangannya.


Barra tersenyum lebar, tawa mereka menjadi obat tersendiri untuk hatinya yang tidak baik-baik saja.


Mereka sumber kekuatan di tengah rapuhnya hati.


Di ambang kehancuran hidupnya yang tak tau arah.


...*****...


Begitu masuk ke dalam kamar, Yuna di sambut oleh ponselnya yang berdering. Dia sudah bisa menebak kalau Chandra yang menelfonnya. Laki-laki itu pasti sudah melihat cctv. Dia tak pernah absen untuk menelfonnya jika ada sesuatu yang terjadi.


Chandra memang selalu memantau dia dan twins dari kantor lewat cctv yang tersambung di ponselnya.


Yuna berharap Chandra tidak cemburu ataupun salah paham saat melihat Barra merangkulnya.


Mengambil ponsel dan mengangkat panggilan vidio dari Chandra, Yuna mengulas senyum manis pada laki-laki tampan itu.

__ADS_1


"Apa perut kamu sakit lagi.?" Tanya Chandra. Yuna tak langsung menjawab, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Chandra. Tatapan mata dan nada bicaranya tak seperti biasanya. Seakan ada kekesalan yang dia pendam.


"Sedikit, tapi sudah tidak lagi." Jawab Yuna setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya.


"Syukurlah, sebaiknya kamu istirahat."


"Aku pulang terlambat hari ini, tidak perlu menyiapkan air untuk mandi." Ucapnya dengan senyum tipis.


Memang nada bicaranya biasa saja, tapi terasa mengganjal di hati Yuna.


"Kalau begitu aku matikan telfonnya, sebentar lagi harus meeting."


"I love you,,"


"Mas,," Seru Yuna. Dia mencegah Chandra yang akan mematikan sambungan telfonnya.


"Kenapa.?" Chandra menaikan sebelah alisnya. Dia terlihat meletakkan ponselnya dan memakai jas yang tadi di letakkan pada senderan kursi.


"Mas Andra marah.?" Tanya Yuna dengan hati-hati.


Chandra terkekeh kecil, ekspresi wajahnya terlihat santai sembari mengancing jasnya.


"Marah.? Memangnya kenapa aku harus marah.?" Chandra justru balik bertanya. Hal itu membuat Yuna semakin risau, tidak tau bagaimana perasaan Chandra yang sebenarnya saat ini. Entah menyembunyikan kemarahannya atau memang benar-benar tidak marah setelah melihat kejadian tadi.


"Soal tadi, aku nggak tau kalau dia datang," Tutur Yuna lirih.


"Aku mengerti, bukankah sudah biasa seperti itu." Sahut Chandra cepat.


"Aku harus meeting, jangan lupa istirahat." Tuturnya lagi. Dia mengambil ponselnya sembari beranjak dari kursi kerjanya.


Chandra pamit lagi dan setelah itu mematikan sambungan telfonnya. Dia menarik nafas dalam, tersenyum kecut sembari memasukkan ponsel kedalam saku jasnya.


Entah sudah berapa kali dia memergoki Barra bersentuhan fisik dengan Yuna. Sejak awal memang sudah tau kalau Barra belum bisa melepaskan Yuna, tapi dia tak pernah berfikir kalau sejauh ini Barra masih memiliki perasaan pada Yuna.


Walaupun Yuna tau batasan dan selalu berusaha untuk menghindari kontak fisik dengan Barra, tetap saja terselip rasa cemburu saat melihat Barra berdekatan dengan Yuna dan menyentuhnya.


Selama ini berusaha untuk memahami dan mengerti keadaan mereka sebagai orang tua kandung twins, tak pernah mempermasalahkan kehadiran Barra yang lebih sering datang saat dia tidak ada di rumah. Tapi lama-lama mulai jengah melihat interaksi Barra dengan Yuna yang terkesan masih mengharapkannya.

__ADS_1


__ADS_2