Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 86


__ADS_3

"Aku bahkan tidak sanggup untuk melakukannya. Apa yang harus aku lakukan." Tangis Cindy pecah dalam dekapan Barra. Dia tidak sanggup jauh dari Barra.


"Kamu tidak akan pergi, kita akan pulang sekarang." Barra melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Cindy.


"Kau.! Menjauh dari putriku.!" Eva yang baru saja datang, langsung mendorong Barra dan menarik Cindy dari hadapan Barra.


"Berani sekali muncul dihadapan putriku setelah memilih jal-l*ng itu.!"


"Jangan harap aku akan membiarkan Cindy kembali padamu.! Putriku berhak bahagia dengan laki-laki yang lebih baik darimu.!"


"Bukan laki-laki yang sibuk mencari kebahagiaannya sendiri di balik kekurangan putriku.!" Bentaknya penuh amarah.


"Mam, jangan seperti itu. Barra tidak seperti yang Mami pikirkan." Tegur Cindy. Selama ini Barra mau menerima kekurangannya. Tapi perasaan bersalah karna tidak bisa menyempurnakan kebahagiaan Barra, membuat Cindy menjadikan Barra sosok yang kejam dimata semua orang.


"Aku yang sudah menyuruh Barra menikah lagi. Mami lihat sendiri bagaimana kondisiku kan.? Bagaimana aku bisa memberikan anak untuk Barra tanpa adanya rahim."


"Itu sebabnya aku membiarkan Barra menikahi wanita lain."


Entah sudah berapa kali Cindy menjelaskan hal ini pada Eva, tapi Eva tetap tidak mau tau dan selalu menganggap Barra dan Yuna yang sepenuhnya bersalah dalam hal ini.


"Dan dia mau melakukannya begitu saja.?!" Seru Eva.


"Kalau dia benar-benar mencintaimu, harusnya dia menolak."


"Tapi lihat, dia dan wanita murahan itu bisa menjalani hidupnya dengan bahagia di atas kesedihan kamu.!" Eva menatap Barra dengan sorot mata tajam. Dia sudah sangat muak melihat wajah menantunya. Laki-laki yang hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri.


"Ayo pergi.! Untuk apa mempertahankan laki-laki seperti itu.!" Eva menggandeng tangan Cindy karna pesawat yang akan membawa mereka akan segera take off.


"Pergilah, aku akan menunggumu kembali." Seru Barra dengan suara yang tercekat. Dia hampir saja meneteskan air matanya melihat kepergian Cindy.


"Aku janji akan kembali.!" Sahut Cindy dengan air mata yang terus mengalir.


Sudah 1 jam berlalu, Barra masih berada di bandara dengan duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Cindy. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun Barra tak kunjung beranjak dari sana.


...*****...


3 hari berlalu,,,


Seulas senyum bahagia terpancar dari wajah manis itu dengan mata yang berbinar. Kebahagiaannya saat sederhana, tidak pernah mengingkan kebahagiaan yang lain selain apa yang ada di depan matanya saat ini.


"Pintar sekali anak Mama." Yuna tersenyum bahagia melihat kedua buah hatinya makan dengan lahap. Menghabiskan sarapan dengan cepat tanpa drama.

__ADS_1


"Udah selesai nak.?" Mama Rena menghampiri Yuna dan dua cucunya.


"Sini biar Mama jagain mereka, kamu juga harus sarapan." Mama Rena mengambil alih Zie dan Ara agar Yuna bisa makan.


"Makasih Mah,," Yuna meletakkan mangkuk di tangannya, kemudian menempel erat di punggung Mama Rena dengan mendekap bahunya.


"Makasih sudah bantu Yuna mengurus mereka. Yuna minta maaf kalau semua yang terjadi membuat Mama sedih."


"Tapi satu hal yang harus Mama tau, Yuna baik-baik saja dan sangat bahagia saat ini. Jadi Mama nggak perlu khawatir dengan kehidupan Yuna sekarang."


"Kita akan selalu bahagia dan bersama-sama."


Ucapnya yakin.


Semua permasalahan yang menimpa hidupnya memang menghancurkan hati, meninggalkan luka di dalamnya. Namun Yuna tidak mau terpuruk. Ada Mama Rena dan twins yang masih membutuhkannya dan perlu untuk di bahagiakan.


Jika di tanya bagaimana perasaannya saat ini, tentu Yuna akan menjawab hancur, bahkan sangat hancur.


Dia tidak pernah berniat untuk masuk kedalam rumah tangga orang lain dan menjadi orang ketiga. Menghancurkan kebahagiaan orang yang saling mencintai membuatnya dirundung penyesalan dan rasa bersalah. Meski kehadirannya memang di harapan sendiri oleh Barra dan Cindy.


Hinaan yang dia dapatkan juga semakin menambah beban berat dalam hidupnya. Dia tidak merebut siapapun, juga tidak menjajakan tubuhnya pada siapapun. Dia dan Barra resmi menikah dan itu sah. Tapi dengan mudahnya hinaan itu keluar dari mulut orang yang tidak tau apapun.


...****...


Ruko yang Yuna tempati semakin terlihat penuh, dia juga harus menambah 2 karyawan lagi karna sudah tidak bisa meng-handle orderan yang terus bertambah.


Yuna juga mulai berfikir untuk mencari tempat tinggal sendiri agar semua lantai di ruko itu difungsikan untuk usahanya.


"Jadi ketemu artisnya Yun.?" Tanya Nitha begitu Yuna masuk ke ruang kerja.


"Jadi, tapi schedulenya di undur jadi jam 3 sore. 1 jam yang lalu ngabarin, katanya ada urusan mendesak." Tutur Yuna sembari duduk di depan meja kerjanya.


Dia sudah mulai berani menggaet publik figur terkenal untuk membuat produknya semakin di kenal banyak orang. Setelah sebelumnya hanya mengandalkan model saja.


...*****...


"Ya ampun Yun,, cantik banget." Puji Nitha begitu artis tadi beranjak dari restoran.


"Kamu juga cantik Nit, apalagi kalau tiap bulan perawatan. Cantiknya bakal ngalahin artis." Tuturnya


"Kata orang-orang, kita itu nggak jelek, cuma nggak ada modalnya aja." Goda Yuna sembari menyikut lengan Nitha yang sejak tadi terus menatap kepergian artis itu.

__ADS_1


"Bener, makanya sekarang gue lagi nyari orang yang mau modalin gue biar cantik." Nitha terkekeh geli.


"Jangan mengharapkan orang, nanti kecewa." Celetuk Yuna, tetap dengan senyum bercanda.


"Nggak bisa nyangkal kalo yang pengalaman udah bicara." Sahut Nitha.


"Tenang ibu bos,, kamu masih cantik dan seksi, masih kelihatan ting-ting kok." Bisik Nitha menggoda.


"Jangankan yang modelnya kaya Papa twins, yang 10 kali lipat lebih baik dari Papanya twins juga bisa kepincut sama kamu." Seru Nitha. Dia bercanda namun bicara sesuai fakta.


Yuna memang secantik dan se mempesona itu dengan kebaikan dan ketulusan hati yang terpancar.


"Jangan ngelantur kamu,," Tegur Yuna. Dia mengambil minuman dan mulai meneguk nya.


"Yun,,," Panggil Nitha setengah berbisik, dia mencolek pinggang Yuna.


"Apaan sih Nit, aku lagi minum nih. Untung nggak tumpah." Sahut Yuna.


"Itu, ada Papanya twins di meja belakang."


"Sejak kapan dia ada disana.?" Nitha berbisik sepelan mungkin agar tidak di dengar oleh Barra yang jaraknya sangat dekat dengan mereka.


Walaupun Barra sedang fokus bicara dengan seseorang, tapi Nitha yakin Barra bisa mendengar ucapannya kalau tidak berbisik.


Yuna langsung menoleh ke belakang, hanya hitungan detik sudah mengganti posisi seperti semula. Barra tidak melihatnya saat dia menoleh.


"Ayo buruan pulang,, udah sore." Yuna beranjak dari duduknya tanpa pikir panjang. Nitha yang mengerti posisi Yuna, tidak memberikan protes dan ikut bergegas keluar mengikuti langkah Yuna.


"Kita belum pesan taksi Yun,," Seru Nitha begitu keluar dari restoran. Yuna menghentikan langkah, dia merogoh ponsel dari tasnya untuk memesan taksi.


"Iya, aku pesan dulu taksinya." Ujar Yuna.


"Nggak usah pesan taksi, biar aku antar kalian pulang."


Yuna dan Nitha menoleh bersamaan, menatap Barra yang menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.


"Mas Barra,," Sapanya. Dia pura-pura kaget melihat kehadiran Barra.


"Nggak usah Mas, makasih." Tolak Yuna halus.


Dia kembali fokus pada ponselnya untuk memesan taksi.

__ADS_1


"Aku juga mau ke ruko." Tutur Barra. Yuna langsung tau tujuan Barra ke ruko. Dia pasti rindu dengan twins setelah 4 hari tidak bertemu dengan mereka.


Barra terus mendesak Yuna untuk pulang bersama, pada akhirnya Yuna ikut mobil Barra dan meminta untuk duduk di kursi belakang bersama Nitha.


__ADS_2