
Barra menatap baby girl dengan air mata yang terus mengalir. Dia hanya sanggup untuk duduk, kakinya terasa tidak bertulang. Tidak kuat untuk sekedar berdiri.
Bayi mungil itu membiru. Barra tidak pernah membayangkan akan seperti ini, kehilangan salah satu anaknya adalah pukulan terberatnya. Merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada mereka.
Dia menyembunyikan salah baby twins saat masih dalam kandungan, kini semua itu menjadi kenyataan. Pada akhirnya dia hanya memiliki satu anak.
Di bantu perawat, Barra beranjak dari kamar jenazah. Dia tidak sanggup berlama-lama menatap putri cantiknya yang tidak bernyawa.
Menyerahkan pemakaman putrinya pada pihak rumah sakit dan Mama Rena.
Karna dia harus tetap berada di rumah sakit untuk menjaga baby boy dan menemani Yuna yang sampai saat ini belum sadarkan diri.
Benturan keras di kepala Yuna, membuat Yuna kehilangan banyak darah. Dia tidak sadarkan diri saat masih berada di rumah.
Beruntung Yuna dan baby boy masih bisa diselamatkan meski harus kehilangan baby girl.
Barra masuk ke ruang NICU untuk melihat baby boy yang harus di letakkan dalam inkubator.
Kelahiran mendadak yang di akibatkan oleh benturan, membuat baby boy harus mendapatkan perawatan intensif agar kondisinya benar-benar sehat.
Wajahnya sangat tampan, sekilas sangat mirip dengan Yuna ketika sedang tidur seperti itu.
Sedangkan hidungnya mungkin perpaduan antara dia dan Yuna yang memang sama-sama memiliki hidung mancung.
Hanya beberapa menit diperbolehkan untuk melihat putranya, dia mencoba mengabadikan putranya. Memotretnya seperti yang dia lakukan pada baby girl. Namun bedanya, dia menyuruh perawat untuk memotret baby girl. Barra tentu saja tidak sanggup mengabadikan langsung tubuh putrinya yang tidak bernyawa.
Kini Barra masuk ke ruangan Yuna, lalu duduk di sisi ranjang dengan di bantu perawat yang sejak tadi bersamanya. Barra menatap Yuna dengan hati yang hancur. Entah akan seperti apa reaksi Yuna jika tau salah satu anaknya tidak bisa di selamatkan.
Barra tidak bisa membayangkan sehancur apa hati seorang ibu yang kehilangan anaknya untuk selamanya.
Satu jam lebih duduk di sisi ranjang, terus menggenggam tangan Yuna dan mengajaknya bicara meski tau Yuna tidak akan merespon karna tidak sadarkan diri.
Suara pintu terbuka membuat Barra menoleh. Dia kaget melihat Cindy yang datang ke rumah sakit dan masuk ke ruangan Yuna. Padahal dia sudah melarang Cindy untuk datang, tapi ternyata Cindy tetap ingin melihat keadaan Yuna dan baby twins.
Barra belum bilang pada Cindy kalau salah satu baby twins meninggal.
"Bagaimana keadaan Yuna.?" Tanya Cindy cemas.
"Cindy kenapa kamu tetap datang.?" Barra mencoba untuk beranjak, dia ingin membawa Cindy keluar karna takut akan ketahuan oleh Mama Rena.
"Bagaimana kalau Mamanya Yuna melihat kamu."
"Tapi aku khawatir dengan mereka, aku nggak tenang di rumah."
__ADS_1
"Apa Yuna baik-baik saja.? Lalu bagaimana dengan baby twins.? Baby boy sehat kan.?"
Cindy mengajukan banyak pertanyaan pada Barra.
"Kita bicara di luar, aku akan tunjukan baby boy pada mu." Barra mengajak Cindy untuk keluar dari ruangan. Dia membawa Cindy ke ruang NICU namun hanya berdiri di luar jendela.
"Itu baby boy,," Barra menunjuk inkubator putranya.
Bayi mungil itu nampak menggerakkan kaki dan tangan, sangat menggemaskan meski di lihat dari kejauhan.
"Ya ampun, dia lucu sekali sayang. Aku nggak sabar mau gendong baby boy." Ucap Cindy dengan mata yang berbinar.
Barra yang mendengar ucapan Cindy hanya diam saja, pikirannya benar-benar kalut saat ini.
Wajar jika Cindy sangat antusias, karna hampir setiap malam dia selalu melihat hasil USG baby boy, menatap gambar janin yang akan menjadi anaknya. Kini dia bisa melihat langsung wujud baby boy yang begitu menggemaskan. Dia semakin tidak sabar untuk berkumpul dengan baby boy dan menunjukkan pada keluarganya dan keluarga Barra.
"Lalu yang mana baby girl.?" Tanya Cindy setelah puas menatap dan memvidiokan baby boy dengan ponselnya.
"Dia nggak ada di dalam." Ujar Barra karna Cindy terus mencari baby girl di dalam sana.
"Lalu dimana.? Aku juga ingin melihatnya. Pasti dia sangat cantik." Seru Cindy.
"Kamu benar, dia sangat cantik sampai Tuhan memilihnya untuk menjadikan dia bidadari di surga." Sahut Barra. Air matanya kembali tumpah, sangat menyakitkan kehilangan seorang anak. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya.
Itu sebabnya saat ini di mencemaskan kondisi Yuna ketika Yuna sadar dan mau tidak mau harus memberitahukan kabar duka ini.
"A,,aapa.? Di surga.?" Suara Cindy terbata.
"Jadi baby girl meninggal.?" Raut wajah Cindy seketika sendu dan cemas.
"Benturan keras di bagian perut membuat baby girl harus pergi untuk selamanya." Jelas Barra.
Entah seperti apa rasanya saat Yuna jatuh dari tangga, yang pasti sangat sakit. Kepalanya bahkan harus di jahit, beberapa bagian tubuhnya memar dan terluka.
"Lalu bagaimana sekarang.?"
"Yuna akan tetap memberikan baby boy untuk kita kan.? Dia sudah bersedia memberikannya, aku harap dia nggak berubah pikiran." Ungkapan Cindy dengan nada kecemasan dan takut.
Pertanyaan gila itu membuat Barra membulatkan matanya.
"Cindy.! Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu."
"Yuna bahkan belum sadarkan diri, dia juga belum melihat baby boy, padahal dia yang melahirkannya. Tapi kamu sudah membahas hal ini." Barra menarik tangan Cindy agar beranjak dari sana.
__ADS_1
"Pulanglah, kita bicarakan di rumah." Pinta Barra.
"Sebentar lagi Mama Rena pasti akan kesini setelah memakamkan baby twins. Jangan sampai di melihat kamu."
Cindy menatap tak percaya, tiba-tiba saja merasa bahwa Barra tidak akan mengambil baby boy dari Yuna.
"Aku harap kamu juga nggak berubah pikiran, apapun yang terjadi baby boy harus tetap sama kita."
"Mereka sudah menanti kelahiran baby boy, aku nggak mau membuat mereka kecewa." Cindy menatap penuh harap.
Entah bagaimana jika Yuna tidak memberikan baby boy padanya, sedangkan semua keluarga sudah sangat menanti dan tidak sabar ingin melihatnya.
"Cukup Cindy, sudah aku bilang kita bahas saja di rumah."
"Tunggu sampai Yuna pulih, baru kita bicarakan hal ini." Tegas Barra. Jangankan untuk membahas kesepakatan itu, memikirkan hal lain pun tidak sanggup.
...****...
"Yuna,,," Barra menatap berbinar saat Yuna mulai membuka mata perlahan.
Ada kebahagiaan yang menyelimuti di tengah-tengah kehancuran hatinya akibat kehilangan baby girl. Setidaknya Yuna baik-baik saja dan sudah sadarkan diri.
"Syukurlah,," Ucap Barra, dia lantas mencium tangan Yuna yang sejak tadi dia genggam.
Yuna tidak merespon, dia masih diam dan terlihat bingung dengan keadaannya sendiri.
Tiba-tiba Yuna menatap perutnya yang tidak lagi besar seperti sebelumnya. Dia terlihat syok hingga kedua matanya membulat sempurna.
"Baby twins, bagaimana dengan baby twins.?" Tanya Yuna lirih. Dia menangis, air matanya mengucur deras. Pikirannya kalut, membayangkan kondisi baby twins yang bisa saja tidak selamat.
Yuna ingat bagaimana dia terjatuh dari tangga. Tubuhnya seperti di hantam batu dan dilempar. Dia berusaha mendekap perutnya dengan kedua tangan saat itu, berharap bisa untuk melindungi baby twins.
"Kamu harus tenang, kondisi kamu masih lemah."
"Baby twins baik-baik saja,"
Barra menenangkan Yuna, dia juga menyembunyikan kebenaran untuk sementara waktu karna kondisi Yuna pasti akan memburuk jika tau baby girl meninggal.
"Benarkah.? Tapi aku ingin melihat mereka." Seketika Yuna berhenti menangis, dia terlihat bahagia mengetahui baby twins selamat.
"Mereka ada di ruang NICU, karna lahir sebelum waktunya akibat incident jadi mereka harus dimasukkan ke inkubator." Jelas Barra, dia bahkan sangat hati-hati mengatakannya.
"Kapan aku bisa melihatnya, apa Mas Barra sudah melihat mereka.? Bagaimana wajah mereka.?" Yuna begitu antusias ingin melihat kedua anaknya.
__ADS_1
"Tampan sepertiku dan cantik sepertimu." Jawab Barra sembari mengulas senyum menggoda. Yuna mencebikan bibir mendengarnya.
"Kita panggil dokter dulu, kamu harus di periksa" Barra langsung menghubungi petugas lewat alat komunikasi yang ada di kamar itu. Tak berselang lama, dokter dan perawat datang ke ruangan Yuna.