Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 107


__ADS_3

Sudah 4 bulan yang lalu sejak pertama kali mereka memeriksakan kehamilan Yuna, kini kehamilan Yuna sudah memasuki bulan ke 6.


Kehamilan itu membuat sikap Chandra semakin perhatian dan terkesan protektif pada sang istri. Dia tidak mengizinkan Yuna untuk pergi ke ruko lagi, bahkan melarangnya untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Yuna hanya di bolehkan mengurus dan menemani twins bermain, selebihnya tidak melakukan apapun.


Terkadang Yuna sampai diam-diam pergi ke ruko tanpa sepengetahuan Chandra. Karna tidak mungkin dia menyerahkan pekerjaannya begitu saja pada Nitha lantaran ada hal yang tidak bisa di handle oleh Nitha.


Setiap hari Chandra juga tak pernah lupa mengucapkan "I love you" pada Yuna. Pagi setiap kali Yuna membuka mata, selalu di sambut dengan kalimat manis itu dari mulut Chandra.


Chandra adalah definisi suami idaman, juga ayah yang baik untuk twins, bahkan kini sangat excited menemani perjalanan kehamilan Yuna.


Dia juga tak pernah lupa membuatkan susu untuk Yuna sebelum berangkat ke kantor dan malam sebelum tidur.


Yuna benar-benar di perlakuan layaknya permaisuri oleh Chandra.


Siang itu mereka sedang bersantai di ruang keluarga. Saat weekend seperti ini, Chandra akan siaga dengan 24 jam berada di samping Yuna. Selalu menyiapkan kebutuhan Yuna, bahkan sampai mengambilkan Yuna minum saat menginginkannya.


Yuna mengulas senyum, menatap Chandra yang tengah bermain dengan twins. Mereka bertiga semakin dekat setiap harinya. Tak jarang twins suka merengek meminta ikut saat melihat Chandra akan berangkat ke kantor.


Twins memang mudah dekat dengan siapa saja.


Terlebih pada orang yang selalu memanjakan dan mau bermain dengan mereka.


"Papi mau susu,," Seru Kinara di sela bermainnya.


"Tidak sayang, Papi tidak mau susu." Jawab Chandra cepat. Dia menatap sekilas dan kembali bermain dengan mereka.


Yuna terkekeh geli dengan jawaban Chandra yang salah menanggapi pertanyaan Kinara.


"Sayang,, Kinara bukan menawari kamu susu, tapi dia minta susu." Seru Yuna.


"Lihat, susunya habis." Yuna mengarahkan Chandra untuk melihat botol susu milik Kinara yang sudah kosong.


Chandra menatap botol itu kemudian bengong sendiri.


"Ya ampun, baru beberapa menit yang lalu kenapa cepat sekali habisnya.?" Gumamnya sembari meraih botol susu itu dan beranjak dari duduknya.


Yuna beranjak dari sofa dan menghampiri Chandra.


"Sini biar aku saja yang buatkan susunya." Ujar Yuna sembari mengulurkan tangannya pada Chandra, meminta botol susu milik Kinara. Yuna kasihan pada Chandra yang sudah membuatkan susu untuk Kenzie dan Kinara, ditambah menemani mereka bermain.

__ADS_1


Padahal ada baby sitter mereka, tapi Chandra memilih untuk membuatkannya sendiri.


"Tidak apa, kamu temani mereka saja,," Tolak Chandra. Tangannya mengusap pipi Yuna, kemudian turun mengusap perut Yuna yang sudah membuncit.


"Haii Boy, kamu mau minum susu juga.?" Tanya Chandra dengan mensejajarkan wajahnya dengan perut Yuna.


Chandra begitu bahagia ketika mengetahui anaknya berjenis kelamin laki-laki. Dia bahkan sudah menyiapkan nama untuk putranya.


"Makasih sayang,, aku baru saja minum jus." Tolak Yuna lembut.


"Baiklah,," Ucap Chandra. Dia mengusap pucuk kepala Yuna dan beranjak ke dapur.


Yuna menatap kepergian Chandra dengan senyum yang merekah. Chandra telah memberikan kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Sikap hangat dan kelembutan Chandra yang penuh cinta, membuat Yuna semakin mengagumi dan mencintai sosok suaminya itu.


"Mama senang melihat kamu bisa tersenyum seperti ini." Mama Rena tiba-tiba datang dan menghampiri putrinya. Dia bisa ikut merasakan kebahagiaan Yuna sejak menikah dengan Chandra.


"Mah,," Yuna menoleh dan tersenyum pada Mama Rena yang berdiri di sampingnya.


"Semoga pernikahan kamu dan Chandra selalu di limpahi kebahagiaan." Ucapnya.


"Aamiin,," Yuna memeluk erat sang Mama, kebahagiaan yang dia dapatkan sekarang juga tak lepas dari do'a Mama Rena yang tak pernah putus untuk kebahagiaannya.


Barra turun dari ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan Cindy yang tengah tidur lelap.


Meraih celana dan bajunya yang berserakan di lantai, Barra pergi ke balkon kamar setelah memakainya.


Sudah pukul 2 malam, tapi sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya. Berbeda dengan Cindy yang langsung terlelap tak lama setelah pergulatan panas mereka.


Barra menutup rapat pintu balkon, dia duduk balkon dan mengambil rokok yang selalu ada di sana.


Entah sejak kapan dia mulai merokok, yang pasti sejak mengetahui Yuna tengah mengandung anak Chandra.


Sudah lebih dari 6 bulan sejak Yuna menikah lagi, sampai detik ini Yuna tak pernah lepas dari pikirannya. Tak pernah hilang dari hatinya.


Berulang kali mencoba untuk menerima kenyataan, nyatanya sampai saat ini masih terus mengharapkan Yuna kembali padanya.


Dia terjebak dalam permainannya sendiri. Semakin menyesali niat jahatnya saat menikahi Yuna.


Kalau saja sejak awal memberikan Yuna kesempatan untuk mengetahui kebenarannya, menikahinya secara baik-baik untuk di jadikan istri kedua, mungkin saja tidak akan seperti ini akhirnya.

__ADS_1


Kini perasaannya terhadap Cindy bahkan perlahan mulai mengikis, mulai di gantikan tempatnya oleh Yuna yang setiap harinya semakin mengisi ruang di hati.


Kenangannya bersama Yuna dan twins saat masih bersama, terus berputar-putar di kepalanya. Membuat Barra semakin sulit untuk melupakan mantan istrinya itu.


"Aku mencintaimu Yuna,,," Gumam Barra dengan sorot mata yang menerawang jauh.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu." Serunya lagi. Barra terlihat sangat putus asa.


Hidupnya terasa semakin redup setiap harinya. Hanya twins yang bisa memberikan warna untuknya saat ini.


Cindy memaku di tempat. Dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Barra. Perlahan berjalan mundur dan menutup pintu balkon dengan hati-hati.


Entah sudah berapa kali dia memergoki Barra bicara seperti itu setiap malam.


Cindy juga bisa merasakan perbedaan sikap Barra sejak beberapa bulan yang lalu. Tatapan mata Barra tak lagi dipenuhi cinta yang besar untuknya. Dia sadar hati Barra sudah hampir dikuasi oleh bayang-bayang Yuna.


Cindy menarik nafas dalam, dia kembali berbaring di ranjang dan membalut selimut hingga sebatas leher.


Ternyata sangat menyakitkan, bisa memiliki raganya tapi tidak dengan hatinya yang sudah mulai mengikis.


Cindy mulai mengerti, mungkin hal ini yang dulu dirasakan oleh Yuna.


...*****...


1 bulan berlalu, kehidupan Barra dan Cindy tak mengalami kemajuan. Barra masih saja memikirkan Yuna dan semakin kehilangan semangat untuk menjalani hidup.


"Lusa aku akan pergi ke Paris selama 1 minggu." Tutur Barra pada Cindy.


"Ada urusan pekerjaan." terangnya lagi. Dia fokus menyantap sarapannya, sesekali melirik sekilas pada Cindy yang duduk di depannya.


"Baiklah, aku akan menyiapkan keperluanmu nanti." Sahut Cindy.


"Untuk kontrak kerjasama yang aku tunjukkan semalam, aku sudah menandatanganinya."


"Minggu depan aku berangkat ke LN untuk pemotretan." Cindy berkata dengan hati-hati. Meski Barra sudah menyetujui keinginannya untuk berkarier lagi, tapi takut kepergiannya ke LN akan membuat Barra tidak suka.


"Aku mengerti, semoga semuanya berjalan lancar." Ucap Barra. Dia mengulas senyum tipis pada Cindy.


Kali ini Barra memang benar-benar mendukung penuh keputusannya untuk memulai karier lagi, tidak seperti dulu yang selalu melarangnya untuk kembali terjun keduanya.

__ADS_1


Kini keduanya sudah disibukkan dengan urusan masing-masing, tak banyak menghabiskan waktu berdua seperti dulu. Komunikasi diantara mereka juga tidak se intens beberapa bulan yang lalu.


__ADS_2