
"Tolong jaga batasan," Pinta Yuna. Dia berani menegur Barra setelah jauh dari twins. Mereka sedang sibuk dengan mainan barunya di ruang keluarga.
"Aku tau kita pernah menikah hingga ada twins di tengah-tengah kita, tapi Mas Barra juga harus tau kalau kita sudah selesai." Tegasnya.
"Aku memang ibu dari anak-anak Mas Barra, tapi jangan berlebihan memperlakukanku. Bukankah ada hati yang harus di jaga."
Yuna menatap jengah. Sudah lelah terus berurusan dengan Barra. Dia pikir berpisah akan membuatnya tenang, tapi sikap Barra tetap saja mengusik ketenangannya.
Ada hal yang seharusnya tidak lagi di lakukan oleh Barra, tapi masih dilakukan padanya.
Yuna tidak keberatan mengurus twins bersama-sama, bahkan mengijinkan Barra dan Cindy untuk membawa twins tinggal di apartemen selama beberapa waktu kapanpun mereka mau.
Dan mereka sudah beberapa kali membawa Ara ataupun Zie tinggal di apartemen meskipun hanya bertahan 2 sampai 3 hari karna baik Ara maupun Zie selalu merengek untuk bertemu Yuna.
Barra memilih bungkam setelah menarik nafas dalam. Dia tidak bisa acuh begitu saja pada Yuna. Tidak bisa menganggap Yuna seperti orang lain meski sudah bercerai. Selalu ada perasaan yang mendorongnya untuk memperhatikannya.
Selalu ingin memperdulikan Yuna dan tidak bisa lepas begitu saja dari Yuna.
Bahkan berharap suatu saat Yuna akan kembali padanya.
...*****...
Yuna baru selesai menidurkan twins. Dua balita itu sudah bisa tidur berdua di kamar mereka sendiri sejak 3 bulan lalu. Karna keduanya sudah jarang bangun tengah malam.
Mama Rena menghampiri Yuna yang baru saja keluar dari kamar twis.
"Ada nak Chandra di teras,," Ujarnya memberi tau.
Yuna mengangguk, dia memang sudah tau kalau Chandra akan datang.
"Iya Mah, Yuna pakai cardigan dulu." Yuna bergegas masuk kedalam kamarnya, mengambil cardigan untuk membalut dressnya yang hanya memiliki tali spaghetti di pundak.
Dia membuat teh hangat lebih dulu dan keluar memui Chandra.
Seperti biasa, senyum manis dan teduh akan menghiasi wajah Chandra setiap kali melihat Yuna.
Wanita itu memiliki tahta tertinggi di hati dan pikirannya saat ini.
Sekarang dia menyesal karna tidak sejak dulu mendekati Yuna. Dulu merasa gengsi untuk menunjukkan ketertarikan di depan Yuna. Karna Yuna terlalu cuek dan dingin pada laki-laki.
Chandra yang biasanya di kejar-kejar oleh banyak wanita, tentu saja enggan memulai lebih dulu saat itu. Apa lagi diselimuti oleh gengsinya yang besar.
"Makasih." Ucap Chandra. Dia menerima teh hangat dari Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Yuna.
Yuna hanya memberi anggukan dan senyum tipis, lalu duduk di samping Chandra.
"Anak-anak sudah tidur.?" Tanya Chandra. Dia meletakkan cangkir di atas meja setelah meneguknya.
"Sudah, baru saja.".Jawab Yuna.
__ADS_1
Keduanya saling pandang untuk beberapa saat.
"Aku,,,,
Ucap Yuna dan Chandra bersamaan. Keduanya lalu tersenyum kikuk.
"Kamu duluan,," Chandra mempersilahkan Yuna untuk bicara lebih dulu.
"Soal itu,, aku,,," Yuna terlihat gugup. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
"Aku,,, siap memulai hubungan baru bersama." Lanjut Yuna.
Chandra terlihat sangat bahagia mendengarnya, matanya sampai berbinar dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya.
Yuna menundukkan pandangan, malu dengan tatapan mata Chandra yang begitu dalam padanya.
Keputusan ini bukan sebulan atau dua bulan dia ambil. Yuna sudah memikirkannya matang-matang selama 3 bulan terakhir. Dia juga sudah meminta pendapat dari Mama Rena serta Nitha yang menurutnya kedua orang itu sangat mengerti apa yang terbaik untuknya.
Baik Mama Rena maupun Nitha, keduanya sama-sama mendukung keputusan Yuna yang akan memulai lembaran baru bersama Chandra. Sejauh ini, mereka bisa melihat kegigihan Chandra dalam menarik hati dan perhatian Yuna. Lebih dari 1 tahun berusaha untuk mendapatkan hati Yuna dengan cara yang baik. Benar-benar berjuang dan sabar menunggu sampai Yuna bisa menerimanya.
Chandra meraih tangan Yuna, dia menggenggamnya erat dan menatapnya dalam.
"Aku tidak bisa berjanji untuk selalu membahagiakanmu dan anak-anak, tapi aku berjanji tidak akan membuatmu menangis." Ucap Chandra serius.
Dia sudah sering mendengar dari Mama Rena kalau selama ini Yuna sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata. Terlalu banyak rasa sakit yang membuatnya terus menangis dan menangis selama ini. Mama Rena selalu berpesan pada Chandra, jika memang dia serius dengan Yuna, maka jangan pernah sekalipun membuatnya menangis lagi. Sudah cukup banyak air mata yang Yuna keluarkan selama ini. Mama Rena tidak tega melihat putrinya merasakan kesedihan lagi.
Yuna mengangguk.
"Kita akan menikah bulan depan." Ucap Chandra tanpa keraguan sedikitpun. Dia sudah memikirkan matang-matang untuk menggelar pernikahan secepat mungkin setelah Yuna mau untuk memulai hidup baru dengannya.
"Bulan depan.? Secepat itu.?" Tanya Yuna kaget.
Dulu saat akan menikah dengan Barra hanya membutuhkan waktu 1 hari, sekarang hanya naik 1 bulan. Proses yang terlalu singkat, Yuna hanya berharap pernikahan keduanya tidak akan sesingkat sebelumnya.
"Jangan terlalu lama, lebih cepat lebih baik kan.?" Ujar Chandra.
"Besok kita cari cincin dan fitting baju pengantin." Chandra mengulas senyum bahagia.
...*****...
Persiapan sudah berjalan 80 persen. Memang uang yang banyak bisa membuat segalanya menjadi mudah. Chandra sudah menentukan hotel untuk tempat pernikahan mereka. Cincin dan baju pernikahan juga sudah lengkap.
Tinggal menunggu hari H yang tinggal 1 minggu lagi.
"Kamu mau kemana Yun.?" Mama Rena masuk ke dalam kamar Yuna sembari menggendong Kenzie.
"Mau ke rumah Mommy Sonya Mah, aku harus mengantarkan undangan pada Mom Sonya dan Sisil." Yuna beranjak dari duduknya. Dia sudah selesai bersiap.
"Mau mengajak Zie dan Ara.?" Tanya Mama Rena.
__ADS_1
"Iya, sudah lama kan mereka tidak bertemu twins."
Ujar Yuna. Hubungan dia dan mantan mertuanya memang baik-baik saja sampai saat ini. Mereka bahkan beberapa kali datang ke rumah, atau terkadang meminta twins untuk di bawa ke rumah mereka.
"Mama mau ikut juga.?" Tawar Yuna. Mama Rena menggeleng.
"Kamu dan anak-anak saja." Sahutnya.
"Ya sudah, aku pergi dulu Mah. Tolong bawa Zie keluar, aku ambil Ara dulu."
Yuna dan twins sudah sampai di rumah Mom Sonya. Kehadiran mereka di sambut hangat oleh semua orang. Sisil dan Nicho juga ada di rumah itu.
"Ya ampun cucu Oma dan Opa makin besar saja." Mom Sony langsung menggendong Kenzie yang baru di turunkan dari mobil oleh Yuna. Dan Daddy Hendra juga langsung meraih Kinara yang masih dalam gendongan Yuna.
"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini.? Dad bisa menyuruh supir menjemput kalian." Ujar Hendra.
"Tidak apa Dad," Sahut Yuna.
"Ayo masuk,," Mom Sonya merangkul Yuna dan mengajaknya masuk kedalam.
"Wah senangnya ada twins. Kakak Kevin pasti senang, tapi dia masih tidur." Sisil menghampiri Yuna dan mencium punggung tangannya.
Yuna menyambut hangat mantan adik iparnya itu.
"Perut kamu,,," Tiba-tiba Yuna menatap perut Sisil yang terlihat menonjol. padahal 2 bulan lalu tidak seperti itu.
"Kamu sedang hamil.?" Tanya Yuna.
Sisil menyengir kuda, lalu mengangguk.
"Ya ampun, Kevin baru saja 2 tahun." Yuna tersenyum lebar sembari menggelengkan kepalanya.
Mom Sonya dan Dad Hendra masuk kedalam lebih dulu, mereka sudah sibuk dengan cucunya sampai asik sendiri.
"Kak Nicho terlalu doyan,," Bisik Sisil.
"Prisilla.!" Tegur Nicho dengan mata yang membulat sempurna.
Yuna hanya bisa mengulum tawa melihat sikap pasangan suami istri itu. Setiap kali bertemu, sellau ada saja hal lucu yang membuatnya ingin tertawa.
"Jadi sudah berapa bulan.?" Yuna mengusap perut Sisil.
"Sudah 4 bulan."
"Semoga lancar sampai melahirkan, dan babynya girl." Ucap Yuna tulus.
"Aamin,, makasih kakak ipar."
Yuna menggelengkan kepala, Sisil masih saja memanggil Yuna dengan sebutan kakak ipar.
__ADS_1