Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 117


__ADS_3

Terkadang hidup tak selamanya berjalan sesuai yang kita inginkan. Meski selalu di limpahkan kebahagiaan, tak mesti kebahagiaan itu akan bertahan selamanya. Walaupun memang kita sudah berharap kebahagiaan itu tak akan pernah berakhir.


Yuna mungkin tak pernah menyangka sesuatu yang besar akan terjadi dalam hidupnya, hingga mampu merenggut seluruh kebahagiaan yang Yuna rasakan dalam sekejap.


"Sebenarnya ada apa Mah.?" Yuna terus mengulang pertanyaan itu berkali-kali, tapi sampai detik ini Mama Rena terus bungkam. Yuna tak mendapatkan jawaban dari kecemasan yang di tunjukkan oleh Mama Rena.


"Sudah ikut saja." Hanya ucapan seperti itu yang berulang kali keluar dari mulut Mama Rena setiap kali Yuna bertanya. Dia juga tidak tau harus bagaimana mengatakannya pada Yuna.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh supir. Mereka hanya pergi berdua karna saat ini twins dan Brian sedang sekolah.


Yuna terlihat pasrah saja di dalam mobil, namun tidak bisa tenang. Pikirannya mulai kacau, melihat Mama Rena yang cemas dan enggan menjawab rasa penasarannya.


"Rumah sakit.? Memangnya siapa yang sakit.?" Ucap Yuna begitu mobil yang dia tumpangi berbelok ke rumah sakit setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam.


Mama Rena bungkam, dia terlihat menarik nafas dalam, seolah memberikan ruang di dadanya yang terasa sesak.


Keduanya turun dari mobil, Mama Rena langsung menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Yuna, tidak selamanya sesuatu yang sudah lama menjadi milik kita tidak bisa berpindah tangan." Ujar Mama Rena sembari melirik putrinya. Yuna terlihat semakin bingung, dia bahkan tidak paham kemana arah pembicaraan Mama Rena.


"Kamu harus berbesar hati dan ikhlas menerima jika semua itu terjadi." Tuturnya lagi. Sorot mata Mama Rena terlihat sendu menatap Yuna.


"Mah,, Yuna sama sekali tidak paham ucapan Mama." Kata Yuna sembari menggelengkan kepala.


"Kamu akan paham setelah ini." Sahutnya lemah.


Mama Rena menghentikan langkah di depan ruang operasi. Mengajak Yuna untuk duduk di kursi tunggu.


"Jawab pertanyaan Yuna, Mah. Siapa yang ada di dalam.?" Mata Yuna berkaca-kaca, pikirannya tidak bisa tentang. Anak-anak dan suaminya tidak ada dihadapannya saat ini, tentu saya Yuna berfikir jika salah satu dari mereka ada di dalam.


Belum sempat menjawab, Mama Rena langsung beranjak dari duduknya saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.


"Dengan keluarga Pak Chandra.?" Serunya menatap Mama Rena dan Yuna. Saat itu juga Yuna memaku di tempat, pikirannya semakin kacau sampai tidak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


"Iya Dok, bagaimana dengan operasinya.?" Tanya Mama Rena cemas.


"Semua yang bernyawa pasti akan kembali pada sang pencipta, semoga keluarga ikhlas dan tabah."


"Kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain." Sahut Dokter dengan suara yang terdengar berat. Beberapa kali juga terlihat menarik nafas panjang.


Mama Rena langsung menatap Yuna, putrinya itu hanya diam memaku dengan tatapan mata yang kosong, air matanya mengalir deras. Sesaat setelah itu, Yuna berteriak histeris. Tubuhnya merosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya sambil terus menyebut nama Chandra.


"Yuna,,," Mama Rena berlari ke arah putrinya, saat ini dia hanya bisa mendekap putrinya.


Kehancuran dan kehilangan jelas di rasakan oleh Yuna.


"Mas Andra tidak mungkin pergi Mah.! Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan kami.!" Teriak Yuna histeris. Air mata Mama Rena ikut tumpah, tak kuasa membendung air matanya menyaksikan putrinya begitu hancur.


"Mas Andra pasti baik-baik saja." Ujar Yuna sembari berdiri, dia berjalan tertatih ke arah ruang operasi. Mama Rena bergegas menyusulnya.


Beberapa perawat masih ada di dalam, mereka masih sibuk menjahit bagian tubuh Chandra yang terluka parah. Kondisinya memang sudah kritis saat dilarikan ke rumah sakit.


Melihat Chandra yang sudah terbujur kaku, Yuna langsung berlari ke arahnya, mendekap erat tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa. Hidup terlalu menyakitkan untuknya. Yuna tak pernah membayangkan akan ada perpisahan dengan cara tragis seperti ini. Dia pikir, Chandra akan selalu berada di sampingnya hingga menua nanti.


Perawat yang ada di sana jadi menghentikan pekerjaannya dan memberikan waktu pada Yuna untuk memeluk Chandra terakhir kalinya.


"Mas Andra sudah janji tidak akan meninggalkanku dan membuatku menangis, kenapa sekarang melakukan hal itu dalam waktu yang bersamaan." Racau Yuna. Kondisinya semakin memperihatinkan dengan baju dan wajah yang ikut berlumuran darah.


Mama Rena tidak bisa berkata-kata, ikut menangis di samping Yuna dan terus mengusap punggungnya.


Yuna tak berhenti meracau, sampai akhirnya berteriak dan tidak sadarkan diri.


Kehilangan Chandra adalah hal paling menyakitkan dalam hidupnya. Seakan semuanya runtuh.


...*****...


Barra melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia mendapat kabar dari pekerja di rumah Yuna jika Chandra mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Tadinya sembari mengantar twins pulang, Barra akan minta ijin pada Yuna untuk membawa twins berlibur ke Singapura akhir pekan nanti, tapi dia malah di sambut kabar buruk.


Sampainya di rumah sakit, Barra langsung menanyakan ruangan Chandra. Namun seketika terkejut mendapati kabar jika Chandra sudah meninggal.


Dia bergegas mencari keberadaan Yuna, wanita itu pasti sedang hancur saat ini. Barra bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Yuna sekarang.


"Mah,," Sapa Barra. Dia menghampiri Mama Rena yang jalan tergesa-gesa.


"Nak Barra,," Mama Rena sedikit bingung melihat Barra ada di rumah sakit.


"Dimana Yuna.? Apa dia baik-baik saja.?" Tanya Barra.


"Saya ikut berduka atas meninggalnya Chandra." Tuturnya lirih.


"Yuna ada di ruangannya, dia beberapa kali tidak sadarkan diri." Sahut Mama Rena sendu.


Barra meminta Mama Rena untuk mengantarnya ke ruangan Yuna.


Barra menarik nafas berat. Dia berdiri di sisi Yuna yang berbaring lemah tak sadarkan diri. Menatap lekat wajah Yuna dengan sisa air mata yang masih ada di pipi dan pelupuk matanya.


Tangan Barra terangkat, dia menghapus air mata Yuna.


Hingga detik ini, Barra perasaannya terhadap Yuna tak pernah berubah. Melihat Yuna dalam keadaan seperti itu, memberikan rasa sesak tersendiri dalam dadanya. Barra berharap kesedihan Yuna tak akan berlarut-larut, meski tau jika kehilangan orang yang dia cintai amat menyakitkan.


Setelah menunggu Yuna sadar dan kondisinya lebih stabil, mereka bergegas pulang untuk mengurus pemakaman Chandra.


Sejak Yuna membuka mata, Barra tidak berani berkata apapun padanya. Dia memilih diam karna Yuna terus melamun dan sesekali masih histeris.


Dia hanya membantu mendorong kursi roda yang di duduki oleh Yuna menuju mobilnya.


Hal itu saja sudah membuat Barra merasa lega karna Yuna tidak memberikan protes meski dia yang mendorong kursi rodanya dan mengantarkannya pulang.


Mungkin karna Yuna masih syok, masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi hingga membuatnya tidak terlalu memikirkan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Pandangan matanya bahkan masih kosong. Yuna bahkan tidak merespon saat Mama Rena bicara padanya. Hanya air mata yang terus menetes. Terkadang mengukir senyum tipis, lalu kembali terisak.


Kepergian Chandra seperti memberikan duka dan luka yang mendalam bagi Yuna hingga dia sulit untuk menerima kenyataan.


__ADS_2