Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 136


__ADS_3

Barra menggandeng tangan Yuna saat keluar dari ruangan. Sepertinya tak ingin Yuna kesulitan berjalan, apalagi kalau sampai terjatuh karna gaun yang dia kenakan cukup panjang. Walaupun sudah di bantu oleh asisten MUA yang memegangi bagian bawah gaun itu, tak lantas membuat Barra membiarkan Yuna berjalan tanpa pegangan.


Awalnya Yuna terlihat ragu saat Barra mengulurkan tangan padanya, tapi karna dia merasa kesulitan untuk berjalan, akhirnya menerima uluran tangan Barra dan memegangnya erat.


Anak-anak tak melihat saat mereka keluar dari resort, karna resort yang di tempati Yuna dan Mama Rena terletak beberapa meter di belakang resort pertama dan kedua.


Tak ada ucapan apapun saat keduanya berjalan ke halaman belakang yang sudah di sulap untuk acara pernikahan sederhana itu. Beberapa kerja dan kursi hanya untuk penghuni resort saja dan staff wedding.


Mama Rena, Mom Sonya dan Dad Hendra sudah nampak berada di sana. Tak bisa di pungkiri, gurat kebahagiaan tergambar jelas di wajah keriput mereka.


Dia usianya yang sudah senja, mereka masih bisa menyaksikan pernikahan anak pertama mereka untuk ketiga kalinya.


Tak ada harapan yang lebih besar selain kebahagiaan Barra dan Yuna serta ketiga anaknya.


Berharap pernikahan kali ini menjadi pernikahan yang terakhir untuk mereka.


Yuna dan Barra ikut bergabung dengan orang tua mereka sembari menunggu kedatangan anak-anak.


Mereka yang paling penting dalam acara pernikahan ini. Kebahagiaan twins dan Brian yang sangat di nantikan oleh Yuna maupun Barra.


Terlebih Yuna yang ingin membuat anak-anaknya bahagia.


"Mommy senang akhirnya kalian akan bersatu lagi, semoga pernikahan ini lancar dan kalian selalu bahagia." Ucap Mom Sonya penuh harap.


"Usia kamu sudah tidak muda lagi, Dad harap kamu bijak dalam menyikapi sesuatu kedepannya dan selalu berfikir sebelum mengambil keputusan. Jangan mengecewakan kami lagi." Tutur Dad Hendra. Dia tak pernah berhenti menasehati putranya meski usia putranya hampir setengah abad.


Bagi Dad Hendra, selagi dia masih hidup, tugasnya belum selesai untuk selalu memberikan nasehat pada anak-anaknya.


"Aku mengerti Dad. Banyak pelajaran yang sudah aku ambil selama bertahun-tahun."


"Keputusan yang salah telah menciptakan kehancuran untuk diriku sendiri."


"Tentu saja aku tak akan mengulangi hal itu lagi." Ucap Barra dengan penuh penyesalan.


Rasanya tak pernah bisa melupakan kesalahan yang sudah dia perbuat meski sudah lama berlalu.


Karna keputusan yang dia buat 16 tahun lalu, telah memberikan luka untuk banyak orang.

__ADS_1


"Memang sudah seharusnya kamu mengambil pelajaran dari pengalaman yang lalu agar kedepannya lebih berhati-hati lagi dalam bertindak." Ucapnya.


"Semoga kalian bahagia. Kami ikut bahagia jika kalian bahagia." Dad Hendra menepuk pundak Barra dan tersenyum bangga pada putranya. Karna Barra tak pernah menyangkal dan mau mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat. Yang lebih membanggakan lagi, dia mau memperbaiki kesalahannya.


Sejauh ini Dad Hendra bisa melihat bagaimana putranya menjadi lebih baik lagi setelah hidup sendiri.


"Terimakasih Dad." Ucap Barra dan Yuna bersamaan.


"Oh my God,, Apa ini mimpi.?!" Seru Kinara dengan ekspresi kaget sekaligus bingung. Begitu juga dengan Kenzie dan Brian yang tampak tak percaya dengan apa yang ada si depan matanya.


Apa lagi melihat kedua orang tua mereka yang memakai baju pengantin.


Yuna dan Barra serta orang tua mereka berdiri dari duduknya untuk menyambut kehadiran anak-anak.


Mereka reflek tersenyum melihat ekspresi wajah twins dan Brian yang terlihat kaget.


"Ini serius.? Papa sama Mama mau menikah.?" Tanya Kinara lagi. Dia berjalan cepat menghampiri mereka dengan gaun panjang warna dusty. Gaun serupa yang juga di pakai oleh Aileen.


Yuna dan Barra kompak menganggukkan kepala.


Sedikitpun Kinara tak curiga saat Sisil menyuruh dia dan Aileen untuk memakai gaun yang sama. Begitu juga dengan semua anak laki-laki yang diminta untuk memakai setelan jas warna hitam.


Sisil hanya bilang kalau akan membuat foto keluarga sebagai kenang-kenangan. Dan mereka percaya begitu saja dengan perkataan Sisil yang memang pandai ber akting itu.


"I'm speechless now. This is my dream,," Ucap Kinara dengan air mata yang mulai menetes. Itu adalah air mata kebahagiaan karna impiannya untuk melihat kedua orang tuanya bersatu akan segera terwujud.


"Makasih Mah, Pah,," Katanya dengan suara yang sedikit bergetar.


Yuna tersenyum lebar, tapi juga meneteskan air matanya. Dia bisa bernafas lega karna bisa membuat anak-anaknya bahagia hari ini.


"Brian, Zie, ayo kemari,,," Barra memanggil kedua putranya yang masih diam di tempat. Keduanya lalu segera menghampiri mereka dan ikut berpelukan.


Pemandangan itu cukup mengharukan, bahkan membuat sebagian keluarga ikut meneteskan air matanya.


Setelah ini, anak-anak tak akan bingung lagi untuk membagi waktu bertemu dengan Papanya.


Tak perlu menunggu waktu senggang untuk melihat Barra karna mereka akan tinggal bersama.

__ADS_1


"Selamat Mah, Pah, semoga Mama dan Papa selalu bahagia." Ucap Kenzie. Matanya bahkan berkaca-kaca menahan tangis.


"Makasih sayang." Yuna mengusap wajah Kenzie, sedangkan Barra mengulas senyum lebar sembari mengacak pelan rambut putranya itu.


"Brian, are your oke.?" Tanya Barra. Dia menepuk pelan pundak Brian yang sejak tadi tampak diam.


Brian menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar.


"Aku bahagia Papa Barra dan Mama akan menikah." Ucapnya.


Yuna mendekap erat putra bungsunya. Ada perasaan bahagia sekaligus sedih melihat putranya itu. Yuna hanya berharap Brian bisa lebih bahagia lagi dengan kehadiran Barra yang akan menjadi sosok ayah untuknya. Yuna ingin melihat Brian bisa merasakan kebahagiaan seperti kedua kakaknya.


...****...


Pernikahan Yuna dan Barra berjalan lancar. Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar mereka. Banyak doa baik yang di panjatkan untuk Yuna dan Barra.


Kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri untuk kedua kalinya. Barra terlihat bahagia meski dia tau jika di hati Yuna tak ada namanya.


Meski tau bahwa pernikahan ini semata-mata hanya demi kebahagiaan anak-anak.


Namun Barra tak mempermasalahkannya, dia bisa mengerti hal itu. Memang sulit untuk menerima orang lain disaat hatinya sangat mencintai seseorang.


Karna dia juga pernah merasakan hal itu saat awal menikahi Yuna. Cintanya yang begitu besar pada Cindy, bahkan membuatnya berjanji tak akan pernah mencintai Yuna.


Barra mengakui dulu terlalu keji pada Yuna saat menyentuhnya karna membayangkan Cindy.


Kini Barra akan sabar menunggu sampai Yuna bisa menerima kehadirannya, agar Yuna tak mengingat Chandra saat sedang melakukannya.


Barra tak mau hal itu sampai terjadi padanya karna itu akan sangat menyakitkan.


Begitu proses ijab kabul selesai, mereka langsung melakukan sesi foto keluarga. Yuna terus mengulas senyum setiap kali akan di foto. Tentu dia harus bahagia dalam sesi foto keluarga itu.


...*****...


Kira-kira masih pada mau lanjut atau tamat.?


Takutnya pada bosen kalo kepanjangan babnya😁

__ADS_1


__ADS_2