
"Nggak usah begitu ngeliatinnya." Yuna membuang pandangan lantaran terus di tatap oleh Barra. Terlebih saat sedang mengarahkan sendok ke mulut Barra. Laki-laki itu terus menatapnya dengan tatapan teduh dan terlihat dalam.
Mungkin Barra pikir Yuna akan luluh hanya dengan di beri tatapan seperti itu. Yang ada Yuna malah semakin kesal karna Barra terlihat sama sekali tidak merasa bersalah padanya.
"Kenapa jadi jutek begini." Protes Barra. Dia menahan senyum, merasa lucu melihat sikap Yuna yang sekarang.
Dulu rasanya biasa saja saat Yuna mengurusnya dengan baik dan berucap lembut padanya. Tapi sekarang terasa berbeda, cukup menarik perhatiannya hingga rasanya ingin terus menggoda dan membuat Yuna kesal.
"Perlakuan saya sesuai bagaimana anda memperlakukan saya." Jawab Yuna cuek. Lagi-lagi Barra hanya menahan senyum, sedikitpun tidak tersinggung meski nada bicara Yuna terdengar ketus.
"Cepetan makannya, aku juga mau makan." Yuna memberikan lirikan tajam.
Barra terlihat sengaja memperlambat makannya. Sudah lebih dari 15 menit tapi baru beberapa suap yang masuk ke mulutnya.
"Jadi kamu belum makan.?" Tanya Barra enteng. Yuna seketika membulatkan matanya. Bagaimana bisa Barra mengira dia sudah makan sedangkan sejak tadi mengurusnya.
"Sejak tadi aku mengurus bayi, bagaimana aku bisa makan." Geram Yuna.
Perutnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Baby twins di dalam perut sudah minta untuk di beri makan.
"Berikan padaku, aku akan makan sendiri."
"Aku pikir kamu sudah makan." Barra akan mengambil piring dari tangan Yuna, tapi piring itu malah di tahan.
"Kenapa.? Katanya kamu mau makan.?" Barra menatap bingung.
"Tanggung." Ketus Yuna.
"Mendingan Mas Barra cepetan ngunyahnya," Yuna Menyendok penuh makanan dari piring dan menyuapkan ke mulut Barra.
Mulut yang tadinya ingin bicara, kini terpaksa bungkam karna terisi penuh oleh makanan.
"Otot doang gede, pas sakit minta di suapin. Mana lama banget makannya." Gerutu Yuna pelan. Dia mengarahkan wajahnya membelakangi Barra.
"Aku dengar itu." Ucap Barra sembari mengunyah.
"Bagus kalau dengar, memang sengaja biar Mas dengar." Sahut Yuna lagi tanpa tertawa sedikitpun, padahal suara Barra terdengar lucu. Protes karna kesal tapi suaranya tidak terlalu jelas, menahan makanan di dalam mulut agar tidak keluar.
Barra kembali mengulum senyum. Dia jadi merasa kalau Yuna punya kepribadian ganda. Dari yang tadinya sangat polos dan lembut, kini bisa bersikap ketus dan blak-blakan.
"Sudah sana makan, jangan ngomel-ngomel terus kasihan baby twins." Barra mengambil paksa piring di tangan Yuna.
"Memangnya Mas Barra pikir siapa yang bikin aku ngomel-ngomel." Yuna beranjak dari duduknya.
"Aku, suamimu." Jawab Barra santai. Yuna melongo tak habis pikir, dia memilih pergi begitu saja. Semakin lama berada di samping Barra, bisa-bisa naik darah.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan.! Kenapa aku harus berurusan dengan laki-laki seperti itu." Yuna menarik nafas dalam. Setiap kali menyesali pernikahannya, Yuna selalu ingat kalau semua yang terjadi karna kecerobohannya sendiri.
"Sabar Yuna, 6 bulan lagi akan berakhir." Yuna mengusap lembut perutnya.
"Maafkan Mama sayang, salah satu dari kalian harus ikut dengan Papa." Yuna mengedipkan mata dengan cepat untuk menahan air matanya yang hampir tumpah.
Yuna duduk di depan meja makan seorang diri. Mama Rena dan asisten rumah tangganya terlihat sudah selesai sarapan.
Yuna membalik piring, dia memenuhinya dengan makanan. Ternyata pura-pura kuat disaat sedang hamil cukup menguras tenaga. Dia butuh banyak asupan makanan agar tetap kuat berpura-pura.
...*****...
"Stok cardigannya sudah menipis Yun. Nggak telfon pihak konveksi biar di produksi lagi.?" Tutur Nitha sembari mengecek stok yang ada di rak.
"Belum, rencananya aku mau datang langsung sekalian mau pilih bahan buat new product."
"Paling nanti habis makan siang aku ke sana."
Jawab Yuna. Nitha mengangguk paham, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Mereka sudah bekerja keras selama 3 bulan ini. Meski di awali dengan bantuan Barra yang mempromosikan pada teman kantor, tapi Yuna dan Nitha juga gencar mempromosikan di semua media sosial hingga pelanggan semakin berdatangan.
Kini sudah ratusan produk yang terjual setiap harinya. Mama Rena bahkan selalu membantu untuk packing orderan.
"Sudah waktunya makan siang." Ucap Yuna sembari menatap arloji di tangannya.
"Aku mau siapin makan buat Mas Barra." Yuna beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.
"Sebentar lagi Yun, tanggung."
"Nggak ada kata tanggung kalau sudah waktunya makan Nit. Ayo Fa, tinggalin aja si Nitha kalau nggak mau makan." Yuna mengajak Farah untuk ikut dengannya ke dapur.
"Iya Mba."
"Ayo Mba Nitha, jangan buat bumil marah." Bisik Farah, dia menyengir kuda.
"Oke,, oke,," Nitha beranjak dan menyusul Yuna ke dapur.
Makan siang sudah di siapkan oleh Mama Rena dan asisten rumah tangga.
Yuna mengambilkan makan siang untuk Barra, tak lupa membawakan obat lagi untuknya.
Apa yang sedang dia lakukan untuk Barra saat ini hanya bentuk dari tanggung jawab dan yang pasti untuk menghindari segala macam pertanyaan dari Mama Rena.
"Mas,,," Seru Yuna sambil mengetuk pintu. Entah sedang apa laki-laki itu. Sejak pagi Yuna belum kembali lagi ke kamar. Dia memang enggan ke kamar karna tidak ada tujuan.
__ADS_1
"Masuk.!"
Yuna langsung membuka pintu. Dilihatnya Barra yang baru keluar dari kamar mandi. Ternyata dia baru saja mandi dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya.
"Siang - siang begini kenapa mandi. Mas Barra juga lagi demam." Yuna berkomentar tanpa mau menatap ke arah Barra. Dia fokus berjalan ke meja untuk meletakkan nampan.
"Ini makan siangnya, tolong makan sendiri. Aku juga harus makan,," Yuna bergegas pergi.
"Tunggu dulu, aku mau bicara." Seru Barra. Dia berjalan cepat menyusul Yuna yang baru saja keluar.
"Sini masuk dulu." Di tariknya tangan Yuna hingga masuk ke kamar. Barra menutup pintu dan menguncinya.
Wajah Yuna seketika berubah panik. Menatap Barra dan pintu yang terkunci secara bergantian.
"Mau bicara apa sampai harus kunci pintu segala.?" Tanya Yuna curiga.
"Mas Barra harus ingat poin perjanjian yang dibuat sendiri. Ini sudah 3 bulan lewat, jadi Mas Barra nggak bisa nidurin aku lagi.!" Yuna sedikit menekankan ucapannya.
"Lagi pula selama ini juga Mas Barra terpaksa nyentuh aku kan.?" Yuna menatap mata Barra dengan tajam.
3 bulan disentuh oleh Barra, tapi tidak merasakan apapun. Barra melakukannya tanpa rasa. Hanya sekedar untuk menumpahkan benih di dalam rahimnya.
Barra membisu, tadinya dia hanya ingin bicara pada Yuna kalau Cindy mau bertemu dan setelah makan siang akan mengajak Yuna untuk bertemu Cindy. Tapi karna mengunci pintu, Yuna jadi salah paham.
Penuturan Yuna malah membuat Barra menyesal karna menyentuh Yuna layaknya boneka hidup. Benar-benar tanpa perasaan dan justru sering membayangkan Cindy saat melakukannya dengan Yuna.
"Kenapa diam aja.? Benarkan apa yang aku bilang.?" Yuna menatap ketus. Bibirnya mencebik kesal hingga menarik perhatian Barra yang tanpa sadar berjalan mendekat.
"Mas Barra mau ngapain,,?!" Yuna mendorong dada Barra agar menjauh. Sayangnya tenaga Barra terlalu kuat, kedua tangannya bahkan di pegang oleh Barra.
"Euumm,,,!!" Kedua mata Yuna melotot sempurna ketika bibir Barra menempel sempurna di bibirnya, bahkan melahap bibir bawahnya.
Ini pertama kalinya Barra mencium Yuna setelah 3 bulan menikah.
Jika seorang wanita lebih dulu di ambil ciuman pertamanya sebelum di ambil kesuciannya, Yuna justru sebaliknya.
"Mas.!" Pekik Yuna begitu Barra melepaskan pelukannya. Dia menatap jengkel dengan mata yang memerah.
Barra santai saja di tegur oleh Yuna, dia malas menyeka sudut bibir Yuna yang sedikit basah karna ulahnya.
"Setelah makan ikut aku, dia ingin bertemu sama kamu." Ucapnya lembut.
Yuna langsung paham siapa yang di maksud oleh Barra.
"Maaf aku sibuk, setelah makan siang harus pergi ke tempat produksi."
__ADS_1
Yuna memutar kunci dan membuka pintu, dia keluar kamar dengan langkah cepat.