
"Silahkan masuk Mba,," Pelayan restoran membukakan pintu VIP pada Yuna..
"Terimakasih." Yuna bergegas masuk, namun setelah itu langsung menghentikan langkah karna melihat Chandra ada di dalam ruang VIP itu seorang diri.
"Mas Andra.??" Yuna menautkan alisnya. Dia tidak pernah mengira kalau orang yang akan berinvestasi pada bisnisnya adalah Chandra. Selama ini Yuna hanya diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai asisten pribadi tanpa memberi tau siapa nama bosnya.
Setelah lebih dari 2 minggu, Yuna baru di beri jadwal untuk bertemu dengan seseorang yang akan bekerjasama dengannya.
"Kenapa diam disitu.? Kemari, ,," Panggil Chandra. Senyum dan tatapan matanya kian teduh dari waktu ke waktu.
Meski tau bahwa Chandra mencintainya dan serius menjalin hubungan dengannya, namun sampai detik ini Yuna belum bisa membuka hatinya untuk Chandra. Walaupun pada kenyataannya kedekatan mereka semakin intens karna Chandra selalu datang menemui Yuna dan beberapa kali pergi bersama dengan twins.
"Jadi Mas Andra yang akan berinvestasi.?" Yuna menatap bingung sembari berjalan mendekat.
Chandra seorang CEO perusahaan besar, rasanya tidak mungkin kalau benar-benar tertarik untuk berinvestasi dan kerja sama dengan bisnis milik Yuna. Hal itu yang membuat Yuna menatap bingung dan merasa aneh.
Pertanyaan Yuna hanya di jawab dengan anggukan serta seulah senyum.
"Kamu mau pesan apa.?" Chandra mendorong buku menu ke arah Yuna yang duduk di depannya.
"Oren jus saja, aku nggak laper." Sahut Yuna. Buku menu itu tidak ia sentuh sama sekali.
"Kenapa nggak bilang dari awal.? Dan kenapa harus pakai perantara lebih dulu.?" Yuna langsung mencecar Chandra dengan tatapan serius.
"Biar kamu tidak banyak tanya." Sahut Chandra dengan kekehan kecil. Yuna hanya berdecak.
Setelah memesan minuman, keduanya mulai membahas soal kerja sama itu. Chandra berniat membuka store di luar kota, karna Yuna baru memiliki 1 store resmi di Jakarta. Dan ruko lama yang masih tetap di fungsikan untuk melayani pembelian via online.
Setidaknya Yuna selalu mengalami kemajuan setiap bulannya, meskipun sampai saat ini ruko yang sejak awal dia tempati belum biasa menjadi milik pribadi karna Yuna fokus memperbesar usahanya lebih dulu.
"Sudah petang, aku harus pulang." Yuna bicara sembari menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Biar aku antar, aku juga ingin bertemu anak-anak." Chandra ikut beranjak dari duduknya. Dia terlihat bersemangat untuk mengantarkan Yuna pulang.
"Mas Andra nggak cape seharian di kantor, terus belum mandi juha kan.?" Ujar Yuna. Dia menatap Chandra yang masih mengenakan setelan jas lengkap. Walaupun masih rapi dan wangi, tapi tetap saja penampilannya tidak se cool biasanya.
"Aku sudah biasa kerja sampai larut malam." Jawab Chandra cepat. Yuna percaya hal itu karna tau sendiri bagaimana totalitas Chandra bekerja untuk kemajuan perusahaannya.
"Kalau begitu temani aku dulu ke apartemen, aku harus mandi."
__ADS_1
"Twins pasti tidak mau di gendong kalau aku belum mandi." Ujar Chandra sembari tersenyum tipis.
"Ayo,," Chandra meraih tangan Yuna dan menggandengnya keluar dari restoran.
Keduanya langsung pergi ke apartemen Chandra. Apartemen yang sudah 3 kali Yuna datangi selama 1 tahun dekat dengan Chandra.
Laki-laki itu tinggal seorang diri di apartemen mewah dengan ukuran yang luas. Beberapa pekerjaan rumah dia kerjaan sendiri karna hanya mendatangkan asisten rumah tangga setiap 3 hari sekali.
Yuna mengikuti langkah Chandra tanpa penolakan. Dia berani pergi ke apartemen Chandra karna memang laki-laki itu tidak pernah berbuat macam-macam padanya, jadi merasa tidak ada hal yang harus dia hindari dari sosoknya.
Walaupun Yuna belum memikirkan untuk membuka lembaran baru dengan menjalin hubungan serius, namun dia tidak menutup jalan bagi Chandra untuk tetap dekat dengannya.
"Aku mandi dulu,," Ujar Chandra begitu masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu.
"Kalau mau minum, ambil saja di lemari pendingin." Tuturnya sembari mengusap pucuk kepala Yuna serta tersenyum tipis. Perlakuan itu selalu Yuna dapatkan dari Chandra. Selalu mengusap pucuk kepalanya setiap kali bertemu.
"Iya, sudah sana mandi. Zie dan Ara pasti menungguku." Yuna menyingkirkan tangan Chandra dari kepalanya dan mendorongnya pelan untuk pergi ke kamar.
"Tunggu disini, jangan ngintip.!" Goda Chandra. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Yuna sembari berlalu.
Ucapan Chandra membuat Yuna melotot tajam.
...*****...
"Mama,, pulang,," Zie langsung berjalan menghampiri Yuna dengan langkah cepat. Balita 19 bulan itu sudah sangat lancar berjalan.
"Sayang,,," Yuna langsung meletakkan tas di sofa dan menggendong Kenzie.
"Malam Bu,," Sapa Chandra. Dia menghampiri Mama Rena yang sedang memangku Kinara.
Mama Rena hanya mengulas senyum ramah.
"Om Ndra,,," Panggil Ara.
"Halo anak cantik,,," Chandra mencubit gemas pipi Kinara, lalu memintanya dari pangkuan Mama Rena.
"Ara sudah makan.?" Tanya Chandra. Balita mungil itu langsung menanggapi dan menjawab pertanyaan Chandra. Keduanya terlibat obrolan ringan dengan pembahasan anak seusia Kinara.
Yuna dan Chandra duduk di lantai ruang keluarga yang beralasan matras. Mainan Ara dan Zie berserakan di sana. Keduanya sedang bermain dengan di temani Yuna dan Chandra.
__ADS_1
Twins mudah dekat dengan siapapun, jadi mereka sangat dekat dengan Chandra. Apalagi Chandra sering datang menemui mereka, sekalipun Yuna sedang sibuk di ruko.
"Apa lagi yang kamu pikirkan.?" Ujar Chandra. Yuna langsung menoleh, tidak tau kemana arah pembicaraan Chandra karna sejak tadi mereka sibuk bermain dengan twins tanpa terlibat obrolan berdua.
"Apa.?" Yuna bertanya balik.
"Zie dan Ara sudah dekat denganku, aku rasa mereka tidak keberatan kalau aku menjadi ayah sambungnya." Tutur Chandra. Dia merasa sudah memiliki tempat di hati kedua anak Yuna.
"Tapi kamu seperti enggan membuka hati. Apa yang membuat kamu berfikir keras untuk tidak memulai hubungan denganku.?"
"Apa karna masih ada Barra di hati kamu.?" Tatapan mata Chandra terlihat menelisik. Dia ingin tau jawaban apa lagi yang akan keluar dari mulut Yuna setelah berulang kali mengatakan bahwa Barra tidak pernah ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadinya saat ini dan tidak akan berpengaruh apapun untuk keputusannya.
"Kalau Mas Chandra berfikir aku masih mencintai Mas Barra, pasti saat ini aku masih menjadi istrinya." Sahut Yuna tegas. Secara tidak langsung mengatakan bahwa dia tidak mencintai Barra dan laki-laki itu tidak menempati ruang di hatinya.
"Walaupun menjadi yang kedua.?" Tanya Chandra dengan ekspresi tak habis pikir.
Yuna langsung mengulas senyum smirk.
"Tentu saja aku akan merebut Mas Barra dan Mba Cindy." Jawab Yuna tanpa pikir panjang.
"Tapi sayangnya aku tidak tertarik untuk melakukannya, karna dia tidak berarti untukku." Jelas Yuna.
Jika dia mencintai seseorang, tentu saja dia akan berjuang untuk mendapatkannya agar menjadi miliknya seutuhnya. Karna dia tidak bisa berpura-pura rela berbagi cinta dan suami. Lebih baik hidup tanpa cinta dari laki-laki daripada harus berbagi dan tidak tenang setiap harinya.
"Lalu kenapa sulit membuka hati untukku.?" Chandra meraih tangan Yuna dan menggenggamnya.
"Aku benar-benar serius Yuna, aku siap menjadi ayah untuk mereka." Ucap Chandra tulus. Dia sudah mendekati Yuna selama 1 tahun ini namun tidak pernah mendapatkan kepastian.
"Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka." Yuna berkata lirih. Nyatanya luka itu terlalu membekas di hatinya. Yuna sedikit trauma dengan laki-laki dan merasa bahwa laki-laki hanya bisa menyakiti.
"Tapi aku bersedia untuk menyembuhkannya." Ucap Chandra. Sorot matanya begitu dalam dan memohon.
"Aku,,,
"Setidaknya jalani saja dulu. Seiring berjalannya waktu, luka itu pasti akan tertutup dan perlahan kamu bisa menerima ku." Potong Chandra.
Yuna diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Dia benar-benar belum siap untuk menjalin hubungan baru, tapi semakin lama tidak tega pada Chandra.
...*****...
__ADS_1