Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 131


__ADS_3

Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang tertutup, anak-anak sengaja membiarkan kedua orang tuanya di dalam, bahkan kompak tak akan masuk ke dalam kamar.


Suasana terasa canggung saat keduanya mulai beradu pandangan, keduanya sama-sama memikirkan hal yang sama akan kejadian beberapa hari lalu. Wajah Yuna bahkan terlihat semakin merah karna harus menahan malu.


Entah apa yang ada di pikiran Barra saat ini, itu membuat Yuna jadi semakin malu padanya. Harusnya hal memalukan itu tak pernah terjadi, sayangnya tak bisa di hindari.


"Kita keluar saja, aku bisa makan sendiri nanti." Ucap Barra pelan. Mana mungkin dia akan membiarkan Yuna menyuapinya, sepertinya Yuna juga tidak akan menuruti perintah Kinara.


Selain itu, dia tak mau membuat Yuna merasa canggung dengan berdua di dalam kamarnya.


"Tidak apa, disini saja." Yuna tampak lebih santai, dia mengambil paperbag kecil dan menyodorkannya pada Barra.


"Sejak kemarin aku ingin menitipkannya pada anak-anak, tapi mereka menyuruhku untuk menberikannya sendiri." Tutur Yuna tanpa ekspresi.


"Maaf terlambat ngasihnya."


Barra menerimanya, seulas senyum tipis terlihat mengembang di bibirnya. Bukan karna sebuah brand jam ternama yang tertera di paper bag itu, tapi karna Yuna mau memberikan hadiah di hari ulang tahunnya. Hal yang tak pernah di lakukan oleh Yuna sebelumnya. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, Yuna tak memberikan ucapan apapun padanya. Hal ini tentu saja memberikan kenangan tersendiri untuk Barra.


"Terimakasih, aku akan memakainya kalau sudah bisa berangkat ke kantor." Barra lalu menyimpan kado pemberian Yuna di sisi ranjangnya yang kosong.


Yuna hanya tersenyum menanggapinya, dia lalu mengambil kotak makan di atas nakas dan membukanya.


"Biar aku suapi, setelah ini Mas Barra bisa minum obatnya."


"Kalau tidak ada perubahan, sebaiknya pergi ke dokter saja."


Yuna terlihat begitu peduli dan perhatian padanya, namun Barra bisa melihat bahwa yang di lakukan oleh Yuna hanya sekedar untuk memenuhi permintaan anak-anak, dan tak ingin mengecewakan mereka.


"Tidak apa Yuna, aku akan makan sendiri." Barra mencoba mengambil makanan dari tangan Yuna, tapi di jauhkan olehnya.


"Hanya menyuapi, tidak masalah." Kata Yuna, dia tetap bersikeras untuk menyuapi Barra.


"Kinara bisa saja masuk ke kamar lagi nanti." Ujarnya memberi tau. Yuna benar-benar tidak mau membuat putrinya itu berfikir macam-macam jika melihatnya enggan menyuapi Barra.


"Kamu yakin anak-anak akan masuk ke kamar lagi.?"


Yuna langsung mengangguk yakin. Barra langsung tersenyum melihat keyakinan Yuna. Wanita itu memang terlalu polos karna menganggap anak-anaknya masih kecil dan tidak bisa merencanakan hal seperti ini.

__ADS_1


"Tapi mereka hanya akan menunggu kita keluar dari kamar." Ucap Barra.


Dia sangat yakin anak-anaknya akan tetap di luar dan tak akan menampakkan dirinya lagi di kamar ini, bahkan jika dia dan Yuna tetap di dalam kamar hingga pagi.


Karna Barra tau kalau mereka sengaja keluar dari kamar untuk membuat dia dan Yuna berduaan saja.


Berbeda dengan Yuna yang tak berfikir sejauh itu.


"Kalau begitu biarkan saja. Lebih baik makan sekarang dan habiskan makanannya." Yuna tampak cuek dengan hal itu, atau mungkin masih yakin ketiga anaknya akan kembali ke kamar.


Barra mulai membuka mulut saat Yuna menyendokkan makanan ke arahnya. Seketika tatapan mata Barra tertuju pada wajah Yuna, menatap lekat wajah cantik itu yang terlihat fokus untuk menyuapinya tanpa menyadari seseorang menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman.


Perasaan yang sejak dulu tak pernah luntur di makan waktu.


Sudah hampir 14 tahun sejak Barra memilih untuk menceraikan Yuna, perasaan itu tak berubah hingga detik ini. Kebersamaannya dengan Yuna yang hanya bertahan selama 2 tahun, nyatanya mampu menumbuhkan rasa cinta dengan akar yang kokoh hingga tak mudah tercabut meski pohonnya telah hilang.


Sejauh ini selalu muncul penyesalan dalam dirinya, menyesal karna dulu melepaskan Yuna serta twins dan mempertahankan cintanya yang lain. Karna merasa cinta itu jauh lebih berharga dalam hidupnya setelah sekian lama tumbuh di hatinya.


Tapi pada akhirnya keputusan yang dia ambil hanya menjadi bom waktu untuk menciptakan kepedihan dalam hidupnya yang tak pernah usai.


Mencintai dalam diam, tanpa berani untuk mengejarnya karna takut akan semakin menjauh. Tak ada yang lebih menyakitkan dan menyiksa dari itu.


"Maaf untuk apa.?" Tanya Yuna, dia hanya menatap sekilas dan kembali menatap kotak makan di tangannya.


"Aku sudah menyakiti kamu, membiarkan kamu dan anak-anak pergi saat itu."


"Kamu pasti berfikir aku tidak mencintaimu karna lebih mempertahankannya." Ucap Barra.


Yuna tampak mengukir senyum, terlihat santai mendengar ungkapan penyesalan dan rasa bersalah dari mulut Barra.


"Jangan merasa bersalah padaku, aku sendiri yang ingin pergi. Cinta kalian terlalu kuat, bagaimana mungkin aku bisa tumbuh di antara kalian." Tutur Yuna santai.


"Aku hanya akan tampak seperti benalu di pohon yang rindang." Tambahnya, lalu kembali mengukir senyum.


"Lagipula jika aku tetap bertahan, mungkin aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan selama 7 tahun bersamanya."


Yuna tak pernah menyesali keputusannya saat berpisah dari Barra.

__ADS_1


"Kamu masih membenciku.?" Tanya Barra, ada ketakutan dalam dirinya akan hal itu.


"Dulu iya, tapi tidak lagi setelah aku menikah." Jawabannya jujur.


"Aku hanya benci dengan rasa sakit yang sama."


Kehidupan rumah tangganya bersama Barra, mengingatkannya dengan rumah tangga kedua orang tuanya. Laki-laki yang mudah membagi cintanya, mampu menjalani 2 hubungan sekaligus, Yuna benar-benar muak dan membenci hal itu. Bersembunyi di balik kata cinta, pada kenyataannya hanya karna hasrat semata. Merasa senang karna bisa memiliki lebih dari 1 wanita.


Hening, Barra tak lagi mengajukan pertanyaan. Dia justru jadi semakin merasa bersalah pada wanita baik di hadapannya. Sedangkan Yuna terlihat santai saja sambil terus menyuapinya.


"Ini obatnya,," Yuna memberikan obat di tangan Barra setelah selesai menyuapinya. Dia juga menyodorkan air minum padanya.


"Terimakasih,," Barra meminum obat itu, lalu meletakkan gelas di atas nakas.


"Anak-anak menginginkan kita bersama, aku pikir kebahagiaanku tak lagi penting saat ini." Tutur Yuna lirih.


"Diamnya anak-anak, membuatku berfikir jika mereka tak mempermasalahkan kesendirianku."


"Aku tak pernah tau sampai kapan bisa menemani mereka."


"Anak-anak tidak bisa berpura-pura ataupun menyembunyikan apa yang dia rasakan, tapi kita bisa melakukannya itu kan.?" Tanyanya.


Barra masih diam, dia masih menyimak dan memahami setiap kata yang keluar dari mulut Yuna.


Dia sedikit paham kemana arah pembicaraan Yuna, namun tak mau terlalu yakin.


"Aku rasa, aku harus mengabulkan keinginan anak-anak kali ini."


"Jadi bagaimana.? Apa Mas Barra juga akan melakukannya untuk mereka.?"


"Yang terpenting saat ini bukan perasaan, tapi status di depan anak-anak." Ujarnya.


Yuna menawarkan pada Barra untuk kembali bersama, menikah demi anak-anak.


Barra terdiam, dia jadi ingat saat memutuskan untuk menikah dengan Yuna. Saat itu yang terpenting bukan perasaan, tapi status agar Cindy tak meninggalkannya.


Mungkin memang sudah waktunya dia merasakan apa yang dulu si rasakan oleh Yuna.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari menikah secepatnya." Ucap Barra tegas.


Tidak masalah jika saat ini Yuna kembali padanya hanya untuk kebahagiaan anak-anak. Barra hanya perlu waktu untuk membuat Yuna mencintainya.


__ADS_2