Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 64


__ADS_3

Barra pamit pulang pada Mama Rena. Dia baru saja mengatakan banyak hal pada Mama Rena setelah keluar dari kamar Yuna.


Barra berjanji tidak akan mengambil baby boy dari tangan Yuna. Dia juga bersedia untuk tidak muncul di hadapan Yuna selama beberapa waktu hingga keadaan Yuna benar-benar siap untuk berbicara empat mata dengannya.


Keputusan Barra di respon baik oleh Mama Rena, dia bersyukur Barra tidak jadi memisahkan Yuna dari anak kandungnya.


...****...


Satu bulan berlalu, senyum Yuna semakin merekah setiap harinya. Dia benar-benar bahagia bisa menikmati hidup dengan tenang. Keputusan Barra untuk tidak muncul di hadapannya, membuat Yuna bisa bernafas lega selama 1 bulan terakhir.


Yuna sangat menikmati perannya sebagai orang tua tunggal untuk Kenzie. Putranya itu tumbuh dengan sehat, semakin tampan dan menggemaskan.


Kenzie menjadi satu-satunya sumber kekuatan untuk Yuna dalam melanjutkan hidupnya.


Separuh nyawanya seolah telah kembali lagi, setelah sempat ikut pergi bersama putrinya.


Pagi itu, Yuna tengah menjemur Kenzie di depan ruko. Kegiatan rutin yang biasa di lakukan oleh Yuna setiap hari.


Sebuah mobil mewah yang berhenti di depan rukonya, membuat Yuna mengerutkan dahi. Seketika perasaan takut muncul dalam dirinya, dia tidak akan siap jika pemilik mobil itu adalah Barra dan Cindy.


Bagaimana jika nanti Barra dan Cindy meminta Kenzie untuk ikut bersama mereka. Yuna belum siap untuk memberikannya setelah 1 bulan melewati hari - hari indah bersama putranya.


Yuna berdiri dan mengambil Kenzie dari stroller, dia mendekap erat tubuh mungil putranya.


2 orang wanita paruh bayar dan wanita muda turun dari mobil. Masing-masing dari mereka menggendong bayi mungil. Yuna menatap lekat salah satu dari mereka, dia seperti pernah melihat wajahnya. Terlebih saat seorang laki-laki juga ikut turun dari mobil.


Ya, tidak salah lagi. Yuna yakin pernah melihat wanita dan laki-laki.


2 wanita itu tersenyum tipis pada Yuna. Senyum yang begitu tulus dan hangat. Yuna tidak mengenal mereka, tapi senyum dan tatapan mereka seolah menunjukkan kedekatan.


"Selamat pagi kakak ipar,," Wanita muda yang tengah menggendong anak laki-laki, menyapa Yuna dengan ramah.


Yuna terkejut sekaligus bingung. Dia tidak pernah merasa memiliki adik ipar.


"Keponakanku semakin tampan saja." Ujarnya lagi. Dia mendekat dan memandangi wajah Kenzie.


"Tidak jauh berbeda dengan Kevin." Tuturnya sembari menatap bayi laki-laki dalam gendongannya yang berusia sekitar 3 bulan.


"Prisilla, jangan bicara terus. Kamu membuatnya bingung." Tegur wanita paruh baya itu.


"Hehee,, aku terlalu excited Mom." Jawabnya sembari menyengir kuda.


"Saya Sonya,," Wanita paruh baya itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan pada Yuna. Meski ragu, Yuna membalas ukuran tangannya.


"Yuna." Jawabannya singkat dengan ekspresi cemas.


"Ini putri saya, dan dia suaminya." Ujarnya memperkenalkan anak dan menantunya.


"Panggil saja Sisil." Potong Sisil cepat. Nicho dan Sonya reflek melirik pada Sisil.

__ADS_1


"Boleh kami masuk.?" Tanya Sonya.


Dengan ragu-ragu, Yuna menganggukan kepala dan mempersilahkan mereka masuk.


Di ruko hanya ada dia sendiri. Mama Rena dan Nitha sedang berbelanja di pasar sejak 30 menit yang lalu, sedangkan Farah sedang pulang ke kampung asalnya lantaran ibunya sakit.


"Maaf, ada keperluan apa.?" Tanya Yuna sopan.


Dia terus menatap bayi perempuan dalam gendongan wanita paruh baya itu.


Wajah bayi perempuan itu sangat mirip dengan Barra, dan hampir mirip dengan Kenzie juga.


Sonya tersenyum melihat Yuna yang terus menatap bayi mungil dalam gendongannya.


"Kamu mau menggendongnya.?" Tawarnya pada Yuna. Tawaran itu tentu saja membuat Yuna kebingungan, namun dia reflek menganggukkan kepala lantaran sangat ingin menggendongnya.


Yuna berdiri dari sofa, begitu juga dengan Sonya. Keduanya mendekat dan hanya dalam hitungan detik, bayi cantik itu sudah berada dalam gendongannya Yuna.


Jantung Yuna seketika berdetak kencang, ada perasaan yang sama seperti saat dia menggendong Kenzie.


Yuna lantas menatap Kenzie yang berada di dalam stroller, kemudian kembali menatap bayi dalam gendongannya. Di terus melakukan hal itu bergantian.


"Baby girl,,," Ucap Yuna dengan suara yang tercekat. Air matanya seketika tumpah tanpa bisa di bendung. Dia sangat yakin jika bayi dalam gendongannya adalah baby girl. Perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah.


"Dia putrimu." Ucap Sonya. Matanya berkaca-kaca, ikut hanyut dalam. kesedihan Yuna.


"Bagaimana putriku bisa bersama kalian.? Lalu bayi siapa yang meninggal waktu itu.?" Tanya Yuna.


Pantas saja saat melihat foto baby girl yang di tunjukkan Nitha ketika berada di makamnya, Yuna merasa baby girl tidak mirip dengannya atau Barra.


"Barra putraku." Ucap Sonya dengan nada penuh sesal. Dia terlihat kecewa pada putranya.


"Saya dan Daddynya tidak pernah mengajarkan Barra menjadi laki-laki kejam seperti itu,"


"Berkat putriku, akhirnya kami mengetahui semua rahasia kehidupan Barra." Sonya menoleh pada Sisil, lalu mengusap pundaknya dengan tatapan bangga.


"Dia tidak sengaja mendengarkan percakapan Barra dan Cindy, sejak saat itu kami berusaha untuk mencari tau."


Penjelasan Sonya hanya membuat Yuna diam memaku. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya saat ini. Semua yang terjadi terlalu sulit untuk di cerna dengan cepat. Namun yang pasti, Yuna sangat bahagia karna pada kenyataannya Baby girl belum meninggal.


"Kami sengaja mengambil putri kalian dan menukarnya dengan bayi lain."


"Dengan begitu, kamu bisa tetap bersama putramu."


"Saya tau betul siapa Barra, putraku tidak akan tega mengambil satu-satunya bayi kalian." Sonya tersenyum tipis. Usahanya untuk membuat Barra melepaskan baby boy tidak sia-sia.


Meski dia harus menyembunyikan baby girl dari Yuna.


"Kedua bayi itu adalah hakmu. Kamu yang lebih pantas untuk mengasuh mereka."

__ADS_1


"Saya akan bicara pada Barra untuk tidak mengusik kalian lagi." Tuturnya.


"Oppa menelfon Mom,,," Seru Sisil panik. Dia menatap ponselnya yang baru saja dia ambil dari dalam tas. Semua orang jadi menatap ke arahnya.


"Apa Oppa tau semua ini.?" Wajah Sisil terlihat panik.


"Mommy rasa tidak. Kakakmu tidak pernah melihat putrinya."


"Kamu angkat saja, mungkin ada hal lain yang akan dia katakan." Perintah Sonya. Sisil mengangguk patuh dan mengangkat panggilan telfonnya setelah memberikan Kevin pada Nicho.


"Hallo Oppa,,, ada apa.?" Tanya Sisil, lalu menoleh pada Sonya.


"Iya, Mom sedang bersamaku. Ponselnya tertinggal di rumah."


"Apa.?!! Kak Cindy sudah melahirkan.?"


"Dimana.?"


"Baik, kita akan ke sana sekarang."


Sambungan telfon terputus. Sisil langsung menatap Sonya.


"Bagaimana ini Mom.? Anak siapa yang akan di ambil oleh Oppa.?"


"Aku pikir mereka akan berpura-pura anaknya meninggal agar tidak ketahuan hamil palsu."


Tutur Sisil. Dia terlihat cemas dan bingung.


Yuna yang mendengar semua itu langsung menunduk sedih. Ada perasaan kasihan pada Cindy, dia tetap melanjutkan kehamilan palsunya tapi Barra tidak memberikan baby boy pada Cindy.


"Kita cari tau nanti, sebaiknya kita ke sana sekarang." Mama Rena beranjak dari duduknya. Dia lalu pamit pada Yuna.


"Saya pergi dulu, saya akan kembali lagi karna masih ada yang harus kita bicarakan." Pamitnya.


"Maaf sudah memisahkan kamu dari Kinara." Sonya merasa bersalah, tapi pada akhirnya ini yang terbaik untuk mereka semua. Barra jadi bisa merenungi perbuatannya.


"Kinara.?" Tanya Yuna sembari menatap putrinya.


"Ya, kami memberinya nama Kinara. Kamu bisa merubahnya jika tidak suka." Jawab Sonya lembut.


Yuna menggelengkan kepala.


"Itu nama yang bagus, terimakasih." Yuna tersenyum haru.


"Kalau begitu kami pergi dulu."


"Apa kami boleh ikut.?" Tanya Yuna dengan tatapan memohon.


Mama Sonya dan Sisil saling pandang, mereka terlihat tidak setuju untuk mengajak Yuna dan baby twins.

__ADS_1


__ADS_2