Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 51


__ADS_3

Yuna berdiri di balkon kamar. Lingerie yang dia pakai di balut dengan kimono untuk menghindari hembusan angin malam yang terasa dingin.


Dia menunggu Barra, laki-laki yang sejak 5 hari lalu tidak pulang ke rumahnya.


Saat berada di mall, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Sejak saat itu Barra tidak pulang, tapi setiap hari selalu mengirimkan pesan untuk menanyakan kehamilan Yuna. Tentunya karna Barra mengkhawatirkan baby twins. Dia benar-benar calon ayah yang perhatian dan penyayang tentunya.


Baby twins pasti akan bangga memiliki ayah sepertinya.


Entah sudah berapa lama Yuna berdiri di sana. Menatap hamparan langit hitam yang pekat. Tidak ada bintang, bulan bahkan hanya menampakan sedikit cahayanya tanpa menunjukkan diri.


Awan yang tadinya putih, kini berubah hitam.


Kilatan petir mulai menghiasi, ia memberikan tanda. Sepertinya hujan lebat akan segera turun. Menumpahkan air yang kian penuh karna tidak bisa lagi untuk di tampung.


Dari kejauhan sebuah mobil yang Yuna kenali melaju kian dekat. Mobil itu masuk ke halaman rumah dan terparkir di garasi. Yuna masih diam di tempat, tidak ada yang bergerak dari tubuhnya selain rambut panjangnya yang tersapu hembusan angin. Manik matanya begitu lekat menatap ke bawah, meski hanya sebagian mobilnya yang terlihat, tapi terus menatap ke sana.


Yuna menoleh sekilas ketika mendengar suara pintu kamarnya di buka. Setelah itu kembali meluruskan pandang dengan tatapan datar namun menerawang jauh.


Derap langkah kaki yang terdengar mendekat, tak membuat Yuna menoleh sedikitpun. Dia masih fokus dengan pikirannya yang terlihat memenuhi isi kepala.


Sebuah tangan besar menempel di pundaknya, saat itu Yuna baru menoleh.


"Sedang apa.?" Barra bertanya penuh kelembutan. Tangannya juga mulai memberikan usapan di pundak Yuna.


Wanita cantik itu mengulas senyum tipis.


"Menghirup udara segar dan mencari kenyamanan." Jawabnya.


"Tapi nggak baik terlalu lama berada di luar, lagipula dingin."


"Ingat kamu sedang hamil," Barra tersenyum teduh, sebelah tangannya mengusap perut Yuna di balik kimono.


"Darimana Mas Barra tau aku sudah lama disini.?" Tanyanya, Yuna menatap Barra yang tengah mengusap dan mencium perutnya.


"Aku melihatnya dari cctv." Jawab Barra cepat.

__ADS_1


"A,,aapa.?!" Pekik Yuna kaget, dia langsung berbalik badan.


"Cctv,.? Mas Barra memasang cctv di kamar ini.?" Yuna celingukan mencari letak cctv yang di bicarakan oleh Barra. Entah dimana cctv itu karna selama ini Yuna tidak melihatnya.


Barra terkekeh geli melihat wajah polos Yuna yang sedang kebingungan bercampur kaget. Yuna terlihat percaya saja dengan ucapannya, padahal tidak ada cctv di kamar mereka. Lagipula untuk apa memasang cctv di dalam kamar.


"Kamu lucu sekali." Barra mencubit gemas hidung mancung Yuna.


"Aku hanya bercanda, mana mungkin aku memasang cctv di kamar." Tutur.


Yuna menghela nafas lega, tapi kemudian memukul kesal dada Barra.


Mau di taruh di mana mukanya kalau cctv itu benar-benar ada, karna 2 jam yang lalu dia sibuk mencoba semua lingerie di sisi ranjang. Mencoba setelah itu berdiri di depan cermin.


Barra pasti akan menertawakannya jika tau.


"Ya ampun, menyebalkan sekali." Bibir Yuna mencebik.


"Aku mau buatkan teh dulu,," Dia hendak beranjak dari sana, tapi Barra menahannya.


"Kalau begitu mau minum apa.? Biar aku ambilkan." Yuna masih menawarkan minum padanya, dia tidak paham maksud Barra, padahal mata Barra sudah mengarah ke dua bukit yang terlihat semakin membusung dan menggoda untuk di lahap.


"Aku mau minum su-ssu,," Sahut Barra. Nyuna mengerutkan keningnya. Sejak kapan Barra suka minum su-ssu.? batin Yuna.


"Bukannya Mas Barra nggak suka su,,,


"Siapa bilang aku nggak suka," Potong Barra cepat, bersamaan dengan tangannya yang masuk melalui celah kimono di atas da-dda.


Yuna memaku, matanya membulat sempurna. Tubuhnya seketika kaku saat tangan Barra masuk kedalam dan menyentuh gundukan kenyal miliknya.


Jadi ini su-ssu yang Barra maksud.


Tidak tau harus berbuat apa, Yuna hanya diam saja dengan kedua tangan yang lurus kebawah. Yuna sama sekali tidak tau caranya merespon hal seperti ini. Karna sejak awal Barra menyentuhnya, dia hanya diam saja dan pasrah menerima apa yang dilakukan oleh Barra. Sudah pasti malu karna Barra juga terkesan terpaksa saat melakukannya kala itu.


Tapi kali ini entah kenapa terasa berbeda. Yuna merasakan betul perbedaannya.

__ADS_1


Biasanya Barra selalu memulai dengan mematikan lampu dan berada di atas ranjang.


Tapi kini Barra berani menyentuhnya di bawah cahaya lampu, bahkan diruang terbuka seperti ini yang bisa saja dilihat penghuni rumah lain atau orang yang sedang melintas di jalan.


Yuna menggigit bibir bawahnya, sentuhan tangan Barra di balik kimononya semakin menjadi. Terlebih Yuna tidak memakai kain pembungkus. Barra bahkan terlihat kaget saat masuk dan menyentuh langsung benda itu tanpa hambatan. Namun dia terlihat enggan untuk bertanya seolah sudah tau dengan kesiapan Yuna.


Karna sebagian lingerienya terlihat dari balik kimono.


“Mas,," Yuna menahan dada Barra. Suaminya itu terlihat akan membenamkan wajahnya di sana.


"Kita sedang di balkon," Ujarnya mengingatkan. Barra seketika kaget, dia seolah tidak menyadari kalau sejak tadi berada di balkon.


Tangannya langsung keluar dari balik kimono Yuna, dia merapikan kimono Yuna dan menutupnya rapat di bagian dada.


"Ayo masuk,," Barra menggiring Yuna, suaranya sudah terdengar serak dan tatapan matanya menginginkan hal lebih.


Barra menutup pintu kaca dan menarik tirai.


Kedua tangan Barra melingkar di pinggang Yuna, dia menatap sekilas lalu mendekatkan wajah dan memagut bi-bbir Yuna. Sangat lembut, begitu meresapi dan penuh perasaan.


Ini kedua kalinya bibir sensual Yuna di cium oleh Barra. Bagaimana mungkin Yuna bisa menepis prasangkanya jika sudah seperti ini.


Sepertinya Barra memang benar-benar sudah mulai menerima dan menganggap keberadaannya sebagai istri. Atau mungkin hanya terpaksa untuk menyenangkan hatinya saja.?


Yuna mendorong bahu Barra. Ulah Barra yang hampir melepaskan tali kimono Yuna jadi tertunda.


"Kenapa.?" Barra menatap kecewa lantaran Yuna terlihat menolak.


"Aku tau selama ini Mas Barra terpaksa menyentuh ku karna tujuan Mas Barra memang untuk membuatku hamil. Mungkin saja waktu itu Mas Barra selalu membayangkan Mba Cindy karna aku nggak merasa ada perasaan lain selain terpaksa melakukannya." Ucapan Yuna membuat Barra terdiam. Dia tidak mau membantah karna memang sepeti itu faktanya. Jika tidak ingat pada tujuan dan juga membayangkan Cindy, tidak akan mungkin dia bisa menghamil Yuna.


"Maaf,, aku minta minta." Barra mengakui kesalahannya. Kesalahan yang telah membuat hati seorang wanita terluka bahkan merasa direndahkan derajatnya. Karna sejatinya ikatan pernikahan untuk memuliakan, bukan sebaliknya.


Yuna menepis pelan kedua tangan Barra dari pinggangnya.


"Maaf, aku nggak bisa memberikan hak kamu, Mas." Yuna menjauh.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan sentuh aku sebelum Mas Barra yakin dan melihatku sebagai Yuna, karna aku bukan Mba Cindy." Yuna beranjak, berjalan cepat ke arah ranjang. Meninggalkan Barra yang mematung dengan segala perasaan yang sedang berkecambuk.


__ADS_2