
Kedatangan Yuna dan Barra ke ruang keluarga di tatap intens oleh Sisil. Dia sedikit mengulas senyum tipis, sangat tipis namun bisa di baca oleh Barra apa arti senyuman itu. Adik cerewetnya itu terlihat berfikir macam-macam padanya dan juga Yuna. Seolah menganggap terjadi sesuatu di antara dia dan Yuna sebelum datang menghampiri mereka.
Berbeda dengan anak-anak yang lebih menatap senang karna Mama dan Papanya sudah bergabung.
"Mama duduk disini,," Kinara meminta Yuna duduk di sisi kanannya, setelah itu menyuruh Barra untuk duduk di sisi kiri. Dia di apit oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Kenzie dan Brian duduk berdua di kursi terpisah. Sisil dan Nicho duduk bersebrangan dengan kursi yang diduduki oleh Kinara.
"Papa sama Mama mau coba kuenya.? Ara suapin ya." Kinara mulai mengambil potongan kue kedalam piring kecil, lalu menyendok kue dan menyuapkan ke Yuna.
"Makasih sayang,," Ucap Yuna setelah memakan kue dari tangan Kinara.
"Sama-sama Mah,,"
"Sekarang Papa, Ara jamin Papa pasti suka kuenya." Tuturnya dengan senyum lebar. Dia menyodorkan kue ke mulut Barra dengan sendok bekas yang tadi dia pakai untuk menyuapi Yuna.
Barra memakan kue itu tanpa protes, meski dia tidak terlalu suka dengan makan yang manis.
"Bagaimana Pah.? Enak tidak.?" Tanya Kinara. Dia sampai menatap dekat wajah Papanya yang masih terlihat tampan di usia 46 tahun.
"Pasti enak kan.? Apa lagi sendoknya bekas Mama." Ujarnya yang langsung mendapat teguran dari Yuna dan Barra.
Sisil hanya terkekeh kecil mendengarnya, Kinara berhasil melakukan dan mengatakan apa yang tadi dia perintahkan sebelum Yuna dan Barra datang.
Melihat Sisil yang tertawa puas, Barra mengalihkan pandangan pada adiknya itu dengan menatap kesal. Sudah pasti Sisil yang membuat Kinara jadi seperti itu. Gadis polosnya yang tidak pernah dekat dengan laki-laki, mana mungkin bisa berkata dan melakukan hal seperti itu jika tidak ada yang menyuruhnya.
"Prisilla.! Berhenti meracuni keponakanmu.!" Tegur Barra.
"Jangan menyuruh Kinara melakukan dan bicara yang tidak-tidak." Tegasnya.
Dia tau Sisil melakukan semua itu semata-mata untuk memperdekat hubungan dia dengan Yuna, hanya saja Barra tak membenarkan cara Sisil yang terlalu melibatkan anak-anak hingga mengatur apa yang harus mereka lakukan.
"Aku tidak mengatakan apapun Oppa. Kinara sudah remaja, wajar kalau ucapan dan perlakuannya mulai berubah lebih dewasa."
"Oppa saja yang masih menganggap mereka anak kecil di bawah 5 tahun." Sisil memberikan pembelaan, dia enggan di salahkan karna menurutnya hal itu masih wajar. Dia juga tau batasan saat berbicara dengan mereka yang masih dibawah umur.
"Tapi kamu terlalu meracuni pikirannya," Seru Barra.
"Sudah Mas, anak-anak jadi bingung melihatnya." Yuna meminta Barra untuk berhenti menegur Sisil di depan anak-anak. Ketiga bocah itu sampai menatap heran pada Barra karna tidak pernah melihat Barra sekesal itu.
Barra kemudian diam setelah di tegur oleh Yuna.
Anak-anak kemudian membuka pembicaraan lain dan membuat suasana terlihat hangat dengan obrolan santai.
"Aku sudah pesan makan siang. Sebentar lagi mungkin datang." Kata Sisil memberi tau.
"Wahh,, Aunty pesan apa saja.?" Tanya Kinara antusias. Remaja itu paling bersemangat kalau sudah urusan makanan.
"Jangan khawatir, Aunty sudah pesan makan kesukaan kamu." Ujar Sisil.
"Aunty memang terbaik." Puji Kinara. Sisil tersenyum bangga.
"Lalu kita.?" Tanya Kenzie dan Brian.
"Ya ampun, dua ponakan Aunty yang tampan ini kompak sekali."
__ADS_1
"Tentu saja Aunty juga pesan makanan kesukaan kalian." jawabnya.
Sisil sangat baik dan perhatian pada mereka, wajar jika ketiganya sangat dekat dengan Sisil dan selalu menurut perkataannya.
...****...
Makanan yang di pesan oleh Sisil sudah tertata rapi di atas meja makan. Dia dan Yuna yang menata semua itu.
Yuna lalu memanggil anak-anak serta Barra dan Nicho yang masih ada di ruang keluarga. Sementara itu, Sisil tengah menuangkan minuman yang juga dia pesan.
Setelah mereka datang dan duduk di tempat masing-masing, Sisil meletakkan semua minum itu di depan mereka.
"Wah,, akhirnya bisa makan bersama." Ucap Kinara dengan mata berbinar. Dia terlihat bahagia bisa makan bersama dengan Mama dan Papanya.
"Sayang sekali Oma, Opa, Kak Kevin dan Aileen tidak bisa datang." Keluhnya.
"Jangan sedih, lain kali kita bisa makan bersama." Sahut Sisil.
"Ayo makan, aku sudah lapar." Kata Kenzie yang langsung menyendok makanan kedalam mulutnya.
Mereka kemudian ikut menyantap makanannya.
Suasana yang terasa sangat hangat dan penuh cinta. Twins dan Brian tampak menikmati momen ini karna mereka jarang makan 1 meja dengan Mama dan Papanya.
Sesekali Barra melirik ke arah Yuna yang tampak lebih santai, tak seperti saat baru masuk ke apartemennya. Terlihat kaku dan canggung.
"Aunty kemarin janji sama kita mau beliin baju, ayo ke mall sekarang saja." Ujar Kinara setelah semuanya selesai makan.
"Oh ya ampun, Aunty sampai lupa."
"Oppa, Kak Yuna, aku bawa anak-anak dulu ya sebentar. Hanya di Mall depan." Ujar Sisil meminta ijin.
"Nanti kami kembali lagi kesini."
Yuna tampak kebingungan mendengar ucapan Sisil, itu artinya mereka akan meninggalkan dia berduaan dengan Barra di apartemen.
"Kalau begitu Mama pulang duluan saja ya,," Pamitnya pada anak-anak.
"Kak Yuna tunggu saja disini, aku janji tidak akan lama."
"Nanti bisa pulang bareng sama anak-anak." Ujar Sisil. Dia kemudian mengajak mereka untuk cepat-cepat pergi.
"Biar aku antar kamu pulang." Ucap Barra.
"Nah, ide bagus. Kak Yuna pulang sama Oppa saja."
"Bye,, kami pergi dulu." Mereka pergi begitu saja, meninggalkan meja makan yang belum di bereskan.
"Ayo,,," Ajak Barra, namun Yuna tampak ragu untuk langsung beranjak karna melihat piring kotor di atas meja makan.
"Aku bereskan ini dulu." Kata Yuna. Dia mulai menumpuk piring kotor dan membawanya ke wastafel.
"Sudah biarkan saja, aku bisa memanggil ART untuk membereskannya." Larang Barra. Mana mungkin dia membiarkan Yuna membereskan dan menyuci piring dan gelas kotor sebanyak itu.
__ADS_1
"Tidak apa." Yuna tetap bersikeras ingin mencucinya. Melihat Yuna yang sudah memakai apron, Barra lalu memilih untuk membantunya dengan memindahkan gelas kotor ke wastafel.
Lebih dari 10 menit, suasana hening sampai akhirnya keduanya mulai merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya.
"Apa pendinginnya mati.?" Tanya Yuna.
"Aku pikir hanya aku saja yang kegerahan." Barra lalu beranjak untuk memeriksa pendinginan udara di dapur itu.
Semakin lama dia merasa kegerahan dan mulai tidak nyaman.
"Tidak mati," Ujar Barra setelah memastikan mesin pendingin udaranya masih berjalan.
"Kenapa tidak terasa dingin." Gumamnya. Dia lalu menurunkan suhu terendah.
Saat menghampiri Yuna ke wastafel, wanita itu sudah melepas apronnya.
"Aku harus pulang sekarang, sepertinya aku harus mandi." Ujar Yuna. Wajahnya mulai terlihat merah, begitu juga dengan Barra.
"Mandi di sini saja, kamu bisa pakai kamar tamu." Kata Barra.
Keduanya lalu diam sejenak, mereka terlihat gelisah dan kebingungan.
Perlahan Barra mulai membuka 2 kancing kemejanya di bagian teratas karna semakin kegerahan.
"Pergi ke kamar tamu saja, sepertinya aku juga harus mandi." Tuturnya. Yuna lalu mengangguk karna sudah ingin menyiram tubuhnya dengan air.
Barra lalu mengantarkan Yuna ke kamar tamu karna dia yang bisa membuka kode aksesnya.
...****...
..."GIVE AWAY ke 9"...
...THR...
Hadiah untuk 4 orang pemenang, masing - masing mendapatkan pulsa 50K.
Wajib ikuti syarat & ketentuan di bawah👇
Syarat & Ketentuan :
Yang mau ikut wajib follow akun noveltoon "Clarissa Icha dan akun Ratna Wullandarrie" (Tidak follow otomatis diskualifikasi kalau keluar nomor undiannya.)
Komen di bab ini (komen apa aja terserah)
Cukup komen 1 kali
Wajib follow instagram othor r.wulland1
Kalau ketahuan baru follow pas pengumuman pemenang, akan di diskualifikasi dan di undi ulang.
__ADS_1
Jangan di nilai dari hadiahnya, ☺ buat seru - seruan aja.