Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 123


__ADS_3

"Mah,, Ayo buruan nanti terlambat. Papa sudah datang,," Kinara masuk ke kamar Yuna, menghampiri Yuna yang baru selesai dengan riasan tipis pada wajahnya.


Di usianya yang sudah kepala 4, Yuna masih terlihat muda. Kecantikannya masih terpancar dan tak pudar sedikitpun.


"Iya sayang, Mama sudah selesai." Yuna bangun dari duduknya, meraih tas kecil dan bergegas keluar dari kamar bersama putrinya yang akan menghadiri acara kelulusan di bangku sekolah menengah pertama.


6 tahun berlalu, banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan Yuna. Setelah berjuang keras melawan Ibu dan saudara tiri dalam memperebutkan harta milik Chandra, Yuna mulai bisa bernafas lega. Bersyukur permasalahan itu tidak berlarut-larut mengganggu kehidupan dia dan anak-anak.


Saat ini Yuna juga sudah bisa menerima keadaan akan kepergian Chandra. Senyum bahagia sudah mulai terbit di wajah cantiknya sejak 2 tahun silam.


Tak perlu lagi harus memaksakan senyum di depan semua orang, tak perlu lagi pura-pura kuat di depan anak-anak, dan tidak perlu pura-pura bahagia.


Yuna sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Chandra, meski terkadang masih menangis saat mengunjungi makamnya.


Yuna sudah di fokuskan mengurus perusahaan dan bisnisnya yang sudah memiliki beberapa pabrik konveksi sendiri.


Namun selama itu juga Yuna menjadi sosok Ibu yang baik untuk anak-anak. Dia mengurus dan membesarkan mereka dengan baik. Selalu meluangkan waktu dan mendengarkan keluh kesah mereka di tengah-tengah kesibukannya yang padat.


Kini anak-anak sudah tumbuh menjadi remaja. Kinara sangat cantik, begitu juga dengan Kenzie dan Brian yang tumbuh semakin tampan.


Keberhasilan Yuna merawat dan membesarkan mereka, tak lepas dari Barra yang ikut andil di dalamnya.


Yuna dan Barra semakin kompak membesarkan anak-anak bersama meski keduanya menjalani kehidupan masing-masing.


Barra juga menganggap Brian seperti anaknya sendiri. Tak membedakannya dengan twins.


"Mama duduk di depan. Kak Zie sama Brian sudah di belakang, aku sama Oma mau di tengah." Tutur Kinara cepat, dia langsung menggandeng tangan Mama Rena dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Yuna bengong melihat Kinara dan Mamanya masuk ke dalam mobil. Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat putrinya yang terus berusaha untuk menyatukan dia dan Barra. Meski tidak pernah mengatakan langsung, tapi Yuna bisa merasakan kalau anak-anak sedang mencoba membuat dirinya semakin dekat dengan Barra.


Anak-anak selalu saja memiliki alasan untuk membuatnya berduaan dengan Barra.


Namun Yuna bersyukur mereka tidak pernah memaksanya untuk menikah lagi. Anak-anak seolah paham jika Papinya sulit untuk di gantikan. Sampai saat ini baik twins maupun Brian, mereka bahkan masih sering menangis saat datang ke makam Chandra.

__ADS_1


Sosok Chandra begitu melekat di hati dan pikiran mereka, perhatian dan kasih sayangnya yang membuat mereka juga sulit menerima kepergiannya.


Saat Yuna membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, Barra menoleh dan memberikan senyum tipis padanya. Yuna membalas senyuman itu.


"Apa Mom Sonya dan Sisil sudah berangkat.?" Tanya Yuna.


Sejauh ini Yuna sudah mulai banyak bicara dengan Barra. Dia seolah menganggap tidak ada hal yang menyakitkan yang pernah terjadi antar dia dan Barra. Yuna sudah melupakan semua itu sejak Chandra memenuhi hari-harinya dengan kebahagiaan, menghapus rasa sakit yang pernah dia rasakan.


Jika dulu masih menjaga jarak dan membatasi komunikasi dengan Barra karna tidak mau menyakiti perasaan Chandra, Kini Yuna sudah lebih santai berinteraksi dengan Barra sejak beberapa tahun yang lalu.


"Tadi masih siap-siap, mungkin sekarang sudah berangkat." Jawab Barra. Dia mulai melajukan mobilnya menuju hotel tempat acara kelulusan twins dan juga Kevin.


"Hari ini Papa tampan sekali, Mama juga cantik." Puji Kinara sambil menatap mereka bersamaan.


"Kalian sangat serasi. Teman-temanku pasti akan iri melihat ku memiliki Papa dan Mama seperti kalian."


Yuna terlihat mengulas senyum, sedangkan Barra dibuat menggelengkan kepalanya dengan tingkah putrinya yang sangat mirip dengan Sisil.


Belum genap berusia 15 tahun sudah pandai berakting untuk membuat dia dekat dengan Yuna.


"Pandai merayu dan cerewet." Tambahnya.


"Papa tidak yakin mengijinkanmu kuliah di luar kalau seperti ini."


"Bisa-bisa banyak laki-laki yang salah paham dengan ucapan kamu. Kalau disini, Papa masih bisa mengawasi kamu."


Kinara jadi mencebikkan bibir, niat hati ingin membuat Papa dan Mamanya saling mengagumi satu sama lain, dia malah mendapatkan ceramah panjang lebar.


"Kalau sampai mengirim bodyguard untuk mengikutiku, itu bukan mengawasi namanya Pah, tapi memata-matai." Protes Kinara kesal. Dia sudah di jaga oleh bodyguard sejak masuk ke bangku SMP. Sedangkan Kenzie dan Brian tidak mendapatkan pengawasan dari bodyguard.


"Ara jadi nggak punya temen laki-laki, mereka pada takut deket sama Ara." Keluhnya lagi.


"Pokoknya nanti pas SMA, Ara tidak mau di ikuti bodyguard lagi." Pintanya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Jangan Pah, biarkan saja di awasi bodyguard. Ara itu jadi inceran laki-laki di sekolah. Bahaya kalau tidak di awasi." Sambung Zie yang tidak setuju adiknya dibebaskan dari pengawasan bodyguard.


"Ya ampun, kenapa Kak Zie menyebalkan sekali.!" Ara menoleh kebelakang dan melotot kesal pada Kenzie.


"Kakak kamu benar Ara. Papa melakukan semua ini juga demi kebaikan kamu." Tutur Barra. Kinara kembali mencebik kesal. Dia maju dan menempel pada belakang kursi yang diduduki Yuna.


"Mah, tolong bantuin bujuk Papa,," Rengek Kinara sembari memegang lengan Yuna.


"Masa sudah SMA masih pakai bodyguard. Ara kan sudan remaja Mah, malu sama temen-temen." Keluhnya dengan wajah memelas. Yuna menoleh dan mengusap tangan putrinya.


"Nanti Mama bicarakan lagi sama Papa kamu. Sudah jangan cemberut seperti ini, riasan kamu nanti berubah." Ujar Yuna lembut.


"Makasih,, Mama memang the best." Kinara setengah berdiri untuk memeluk Yuna dari belakang.


Barra hanya bisa menggeleng melihat putrinya yang meminta bantuan Yuna.


"Kamu kenapa.?" Kenzie menyenggol lengan Brian yang sejak tadi hanya diam saja dan melamun.


"2 tahun lagi aku juga merayakan kelulusan. Kak Zie dan Ara pasti senang bisa di dampingi Mama sama Papa." Tutur Brian. Dia mengulas senyum, tapi senyum yang dipaksakan untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.


Mama Rena langsung menoleh, menatap sendu pada cucu bungsunya.


Begitu juga dengan Yuna dan Ara yang kompak menoleh kebelakang setelah mendengarkan ucapan Brian. Barra juga menatap sekilas lewat kaca spion.


"Ada Papa Barra, pasti Papa Barra mau mendampingi Brian saat hari kelulusan nanti." Ucap Mama Rena sembari memegang tangan Brian. Dia menahan sesak saat menatap wajah Brian yang terlihat sedih.


Sementara itu, Yuna langsung mengalihkan pandangan keluar jendela karna tiba-tiba tidak bisa menahan air matanya. Dia mengambil tisu dan langsung menghapus air matanya sebelum anak-anak melihatnya menangis. Mungkin hanya Barra saja yang melihat Yuna meneteskan air mata karna Yuna duduk di sebelahnya.


"Memangnya selama ini Brian anggap Papa apa.?" Ujar Barra sembari menatap Brian dari kaca spion.


"Papa kan sudah sering bilang, Brian juga anak Papa. Sama seperti Kak Zie dan Kak Ara."


"Tentu saja Brian juga akan di dampingi Mama dan Papa saat acara kelulusan nanti." Ujar Barra tegas.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Brian terlihat mengangguk dan mengulas senyum tipis.


"Makasih Papa,," Ucapnya. Namun nada bicaranya masih terdengar sendu.


__ADS_2