
Suasana di meja makan begitu hangat. Semua keluarga berkumpul, penuh dengan canda tawa yang di ciptakan oleh Sisil dan Jeje. Terkadang membuat keributan hingga Nicho sampai turun tangan melerai istri dan adiknya itu.
Zayn yang mulai bisa berceloteh juga menjadi perhatian semua orang karna suara yang keluar dari mulutnya sangat menggemaskan.
Namun tiba-tiba keceriaan dan canda tawa mereka berubah kepanikan saat Sisil berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
Awalnya Sisil sedang tertawa lepas akibat candaan yang terlontar dari mulut Jeje, tapi tiba-tiba seperti mengalami kontraksi.
Mama Rissa langsung berteriak untuk segera membawa Sisi ke rumah sakit.
Melihat hal itu, Barra langsung sigap.
"Bawa ke mobil ku.!" Seru Barra. Dia berjalan cepat keluar rumah untuk menyiapkan mobilnya. Wajahnya begitu panik, tigak tega melihat adik perempuannya kesakitan seperti itu.
"Ayo semuanya,," Ajak Daddy Hendra pada Jeje dan Cindy yang masih memaku dengan wajah cemas.
Sementara itu, Mommy Sonya, Papa Alex dan Mama Rissa sudah menyusul Nicho.
Sisil dan Nicho sudah masuk ke mobil Barra. Cindy juga duduk di samping kemudi.
"Lebih cepat kak.!" Seru Nicho panik. Dia terus memegangi tangan Sisil dan enggan melepaskannya. Barra bisa merasakan bagaimana perasaan Nicho saat ini sebagai suami adiknya.
"Aku tidak akan membahayakan nyawa kalian, diam dan tenang agar aku bisa konsentrasi menyetir." Pinta Barra. Dia menatap sekilas pada kaca spion. Menatap raut wajah Sisil yang menahan sakit. Serta Nicho yang begitu cemas.
"Ya ampun, apa sangat sakit.?" Cindy bertanya dengan wajah sendu dan panaik. Sejak tadi dia hanya diam menghadap ke belakang untuk melihat kondisi Sisil yang terus merintih. Dia tidak bisa membahagiakan seperti apa sakit yang sedang di rasakan oleh Sisil menjelang persalinan.
"Jangan takut kak, ini tidak sesakit yang kak Cindy bayangkan,," Sahut Sisil dengan suara yang tercekat.
Sisil seperti berusaha menangkan Cindy agar tidak takut saat akan melahirkan nanti. Padahal raut wajahnya tidak bisa di bohongi. Sangat jelas dia sedang kesakitan dan terus menarik nafas dalam.
Cindy paham kenapa Sisil bicara seperti itu, mungkin agar tidak membuatnya takut karna Sisil tau kehamilannya juga sudah mendekati persalinan.
Suasana di depan ruang operasi sudah ramai. Semua keluarga menunggu di luar dengan wajah cas tentunya. Sisil terpaksa harus menjalani operasi lantaran mengalami pecah ketuban dan pembukaannya tidak bertambah. Berhenti di pembukaan 2.
Akhirnya Dokter memberikan tindakan, Nicho juga meminta untuk segera mengoperasi Sisil lantaran tidak tega melihat istrinya terus kesakitan.
Cindy menghampiri Barra yang sejak tadi duduk melamun. Dia terlihat kacau, sama seperti Nicho.
"Sayang, jangan khawatir. Kita do'akan agar Sisil dan babynya selamat." Ucap Cindy, dia duduk di sebelah Barra sembari memegang tangannya.
Barra menoleh, dia tidak menjawab namun memberikan anggukan kecil.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak sepenuhnya hanya memikirkan Sisil, Dia teringat dengan Yuna yang 3 bulan lagi akan merasakan apa yang dirasakan oleh Sisil. Terlebih Yuna tak hanya berjuang untuk satu nyawa, melainkan dua nyawa sekaligus.
Proses persalinan Sisil berjalan lancar. Ibu dan bayinya di nyatakan sehat. Setelah di pindahkan ke ruang VIP, semua keluarga ramai-ramai masuk untuk melihat keadaan Sisil dan putranya.
Mereka tentu saja penasaran dengan rupa baby boy itu.
"Ya ampun, tampan sekali." Puji Cindy dan Jeje bersamaan. Keduanya merupakan terlihat gemas melihat anak Sisil dan Nicho.
Semua orang sibuk dengan baby boy setelah memastikan Sisil baik-baik saja, berbeda dengan Barra yang memilih menghampiri adik perempuannya itu. Sisil sedang di temani oleh Nicho yang sejak awal terus berada di sampingnya dan terus menggenggam tangan Sisil.
"Oppa,," Panggil Sisil ketika Barra mendekat dan berdiri di sisi ranjang.
Barra mengulas senyum, antara sedih dan terharu karna adik kecilnya telah berjuang keras untuk menjadi seorang ibu.
"Kakak bangga padamu,," Ucap Barra sambil mengusap pucuk kepala Sisil.
"Kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang." Ujarnya.
"Oppaa,,," Suara Sisil bergetar dengan mata yang berkaca-kaca, kedua tangannya terangkat, meminta Barra untuk memeluknya.
Nicho hanya diam melihat interaksi adik dan kakak itu yang saling memeluk.
"Melahirkan itu sangat sakit Oppa, benar-benar berjuang antara hidup dan mati."
"Walaupun melalui operasi, tapi itu sangat mengerikan." Tuturnya.
"Laki-laki tidak akan tau rasanya meskipun dia melihat langsung,"
"Pengorbanan seorang ibu sangat besar dan luar biasa, aku harap persalinan Kak Cindy lancar dan baby kalian selamat."
"Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi dengan baby boy tadi, mungkin aku akan gila jika harus kehilangannya." Sisil mengusap air matanya yang keluar begitu saja dari pelupuk mata.
"Jangan bicara seperti itu." Tegur Nicho tak suka. Dia ikut menghapus air mata Sisil.
Barra yang mendengar ucap Sisil hanya diam. Tanpa di beritau sekalipun, dia bisa melihat sendiri seperti apa perjuangan Sisil saat melahirkan.
Hal itu membuat Barra semakin memikirkan Yuna.
...****...
2 bulan kemudian,,,
__ADS_1
Barra sedang berada di ruangan meeting. Sejak tadi ponsel di saku jasnya terus bergetar. Namun tidak bisa mengambilnya lantaran sedang memimpin rapat dengan para petinggi perusahaan.
Begitu rapat selesai, Barra langsung merogoh tas dan mengecek ponselnya.
Ada 10 panggilan tidak terjawab dari Mama Rena.
Barra langsung balik menghubungi nomor Mama mertuanya itu, namun panggilannya tak kunjung di angkat.
Merasa takut ada sesuatu, dia lantas menghubungi nomor Yuna. Tapi Yuna juga tidak menjawab telfonnya.
Hal itu membuat Barra panik, dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan melihat keadaan di sana.
Begitu sampai, Barra langsung bergegas masuk dan meneriaki nama Yuna. Tapi keadaan rumah sepi, hanya ada Farah yang tiba-tiba keluar dari ruang keluar dalam keadaan menangis.
"Kamu kenapa.?" Tanya Barra.
"Mba Yuna,, Mba Yuna,,," Ucap Farah terbata.
"Yuna kenapa.?!" Seru Barra. Keadaan Farah membuat Barra jadi berfikir macam-macam dengan kondisi Yuna.
"Mba Yuna jatuh dari tangga, Ibu dan Mba Nitha sedang membawanya ke rumah sakit." Tuturnya di tengah isak tangis.
Tanpa pikir panjang, Barra langsung pergi ke rumah sakit setelah Farah memberi tau dimana mereka membawa Yuna.
Setelah sampai di rumah sakit, Barra mencoba untuk menghubungi Mama Rena lagi dan panggilannya di angkat.
"Mah,, Yuna ada di ruangan mana.? Saya sudah di rumah sakit." Ucap Barra begitu panggilannya terhubung. Mama Rena langsung menjawab sembari menangis. Terdengar memilukan tangisannya. Hal itu semakin membuat Barra cemas.
Apa lagi mengetahui kalau Yuna sedang berada di ruang operasi. Entah apa yang terjadi dengan Yuna dan anak mereka.
Barra berlari, matanya sudah berkabut. Dia tidak bisa membayangkan terjadi sesuatu pada mereka.
"Mah, bagaimana keadaan Yuna dan anak kami.?" Tanya Barra begitu menghampiri Mama Rena dan Nitha yang menangis di depan ruang operasi.
"Kenapa kalian nggak bilang kalau Yuna hamil kembar.?" Tanyanya.
"Yuna jatuh, salah satu dari mereka meninggal di dalam." Tutur Mama Rena dengan raut wajah yang begitu kacau.
"Dan Yuna terpaksa harus melahirkan sekarang."
Seketika tubuh Barra merosot ke lantai, dia bersimpuh dengan tatapan mata yang kosong. Dunia seakan runtuh menimpanya.
__ADS_1