Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 122


__ADS_3

"Ekheem,,," Sisil sengaja berdehem di samping kakaknya.


"Manis banget ya senyumnya, pantes susah move on." Godanya.


Sisil sengaja mendekati Barra yang sejak tadi diam di tempat sembari menatap Yuna yang tersenyum lebar karna sedang melakukan swafoto bersama anak-anaknya dan juga Mama Rena.


"Jangan mulai.! Kamu itu semakin tua semakin menyebalkan." Geram Barra. Dia melirik kesal pada adiknya yang tak pernah berhenti meledeknya.


"Menyebalkan kenapa.? Aku hanya bicara kenyataan." Balas Sisil.


"Jadi bagaimana.? Sudah sejauh apa usaha Oppa buat dapetin hati Kak Yuna.?" Sisil terlihat antusias dan bersemangat. Rupanya dia masih mendukung penuh jika Barra ingin mendekati Yuna dan kembali padanya.


Mengingat bagaimana Barra masih memiliki perasaan pada Yuna setelah lebih dari 8 tahun berpisah.


"Disaat seperti ini, apa kamu pikir Kakak bisa mendekatinya.?!" Sahut Barra cepat. Yuna pasti akan kesal padanya jika terang-terangan mendekatinya disaat hatinya belum bisa ikhlas menerima kepergian Chandra.


"Setidaknya usaha lebih dulu."


"Bukankah saat seperti ini Kak Yuna membutuhkan sosok laki-laki yang bisa mengobati kerinduan Brian pada Papinya.?"


"Dekati saja secara perlahan, asal jangan memaksa. Kak Yuna juga butuh proses untuk menyembuhkan lukanya."


Tutur Sisil panjang lebar.


"Bisa-bisanya bicara bijak seperti itu pada Kak Barra, tapi masih sering merengek padaku." Tiba-tiba Nicho datang menghampiri Sisil mencubit hidungnya.


"Ya ampun sayang, tidak mungkin kan aku harus merengek pada laki-laki lain." Jawab Sisil sambil menghambur ke pelukan Nicho.


"Coba saja kalau berani, aku akan mengurungmu.!" Jawab Nicho tegas.


Barra berdecak kesal melihat tingkah adik-adiknya.


"Kalian menggelikan sekali." Ujarnya sembari berlalu dari sana.


"Ya ampun, apa Oppa iri melihat kami.?" Teriak Sisil sembari tertawa meledek. Barra memilih tidak menanggapinya, dia menghampiri twins untuk mengajaknya berfoto.


"Kasian sekali Oppa Barra, bagaimana dia bisa bertahan selama 6 tahun ini seorang diri." Tuturnya. Mengingat perceraian Barra dengan Cindy yang sudah 6 tahun berlalu.


"Aku hanya takut pisangnya tidak berfungsi lagi." Celetuk Nicho. Mendengar hal itu, Sisil. langsung mencubit perutnya sambil menatap tajam.


"Lihat adikmu,,," Sisil menunjuk Jeje yang sedang berfoto dalam gendongan Kenzo.


"Mereka romantis sekali." Ujarnya.


"Kamu pikir kita tidak romantis.?" Tanya Nicho. Sisil langsung menggeleng cepat.


"Kamu terlalu kaku dan serius, hanya romantis di atas ranjang saja." Ujarnya dengan bibir yang sedikit mencebik kesal.

__ADS_1


"Lalu aku harus menggendongmu seperti itu juga.? Atau harus menciummu disini sambil di foto.?" Kata Nicho, tangannya merangkul erat pinggang Sisil.


"Kau ini,,!" Keluh Sisil.


"Mama,, Ayo ikut foto." Kinara menarik tangan Yuna agar ikut bergabung dengannya yang akan berfoto d


bersama Kenzie, Brian dan juga Barra.


Yuna terlihat berfikir sejak, lalu mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun. Dia berdiri di samping Kinara.


Melihat Yuna yang tidak menolak untuk berfoto dengannya, Barra mengulas senyum tipis. Setidaknya Yuna mau mengabadikan momen bersama dengannya.


Kebersamaan mereka saat sedang berfoto, menarik perhatian semua orang. Mereka tersenyum bahagia melihat twins dan Brian yang terlihat sangat menikmati kebersamaan bersama Yuna dan Barra.


Mama Rena juga ikut lega melihat Yuna mau tersenyum di depan semua orang, meski tau senyum itu terlihat di paksakan di balik rasa sakit dan sedih yang masih menyelimutinya.


Tidak ada yang di inginkan Mama Rena selain kebahagiaan Yuna dan ketiga cucunya paska kepergian Chandra.


Mama Rena selalu berharap mereka mampu menjalani hidupnya seperti dulu.


...*****...


Yuna menatap Brian dan Mama Rena yang sudah terlelap. Malam ini twins bersedia tidur dengan Barra dan Brian yang meminta sendiri untuk tidur bersama Yuna, setelah 3 hari tidur bersama Barra.


Beranjak dari ranjang, Yuna melangkahkan kaki menuju balkon. Dia membalut tubuhnya dengan coat tebal untuk melindungi tubuhnya dari cuaca dingin malam hari di kota Paris.


Selama ini dia tidak pernah menangis di depan anak-anak, terakhir kali menangis di depan anak-anak setelah pulang dari pemakaman Chandra.


"Aku hanya ingin bilang, aku merindukanmu." Ucap Yuna sembari memandang foto Chandra pada layar ponselnya.


Dadanya masih saja sesak setiap kali memandang foto ataupun sekedar mengingat kenangan indah bersamanya. Terlalu banyak kenangan indah yang diukir oleh Chandra dalam hidupnya hingga membuatnya tak pernah lepas dari bayang-bayang Chandra.


"Entah apa jadinya jika tidak anak-anak di sisiku, aku rasa tidak akan mudah untuk melanjutkan hidup." Ungkap Yuna sembari menarik nafas dalam.


"Aku mencintaimu, apa kamu juga masih mencintaiku.?" Yuna bertanya dengan senyum lebar yang begitu menyedihkan.


"Kamu semakin terasa begitu berarti setelah tidak ada di sisiku."


"Terimakasih untuk kebahagiaan yang sudah kamu berikan pada ku selama 7 tahun ini."


"Aku harap, selama itu kamu juga bahagia denganku."


Yuna kembali tersenyum, kali ini tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Dia berusaha untuk menahan air matanya.


...*****...


Banyak kebahagiaan yang tercipta selama 2 minggu berada di Paris. Hubungan antar keluarga semakin dekat dan hangat.

__ADS_1


Twins dan Brian juga tampak bahagia selama berlibur dan di keliling banyak orang yang menyayangi mereka.


Kebahagiaan twins dan Brian tentu saja menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi Yuna. Sebagai Ibu mereka, tentu saja Yuna ikut bahagia melihat anak-anaknya bahagia.


"Terimakasih,," Ucap Yuna setelah turun dari mobil Barra. Sementara itu, anak-anak sudah berlari ke dalam rumah.


Barra mengangguk pelan sambil mengulas senyum tipis. Dia lalu membuka bagasi dan menurunkan semua koper milik mereka.


"Makasih Nak Barra,," Ujar Mama Rena sembari menarik 2 koper besar miliknya dan milik Brian, lalu memanggil pekerja rumah untuk membantu membawanya ke dalam.


"Sama-sama Mah." Sahut Barra. Sampai saat ini Barra masih saja memanggil Mama pada mantan mama mertuanya.


"Biar aku yang bawa, kamu masuk saja." Barra mengambil koper yang tadi sudah di pegang oleh Yuna.


"Tidak apa, aku bisa membawanya." Yuna tetap menarik 1 koper miliknya, meninggalkan 2 koper milik twins untuk di bawakan oleh Barra.


Barra kemudian membawa koper milik twins dan menyusul masuk ke dalam rumah.


"Papa nantinya saja pulangnya." Twins menahan Barra yang pamit pulang pada mereka.


"Jangan begitu sayang, Papa mau istirahat." Tegur Yuna lembut.


"Kalau begitu Papa istirahat saja disini, di kamar Zie." Ujar Zie.


Barra langsung menatap Yuna, wanita itu hanya diam saja dengan tatapan datar, terlihat tidak berani menolak permintaan putranya.


"Papa harus pulang sekarang, Papa janji besok kesini lagi." Bujuk Barra.


"Tapi Zie mau main sama Papa."


"Ara juga." Kinara mendekat pada Barra memeluknya dari samping.


Barra kembali menatap Yuna karna tidak tau harus dengan cara apa membujuk twins.


"Tidak apa, temani saja mereka." Yuna akhirnya membiarkan Barra tetap berada di rumahnya agar twins tidak merengek lagi.


"Mama, Brian mau main sama Uncle juga." Pinta Brian sedikit memohon. Yuna hanya menganggukkan kepala dan menyetujui permintaannya putra bungsunya.


Dia lalu bergegas pergi ke kamar sembari membawa koper miliknya.


Barra diam beberapa saat, menatap kepergian Yuna. Dia tidak yakin bisa mendapatkan hati Yuna.


...***...


Baru 6 bulan di tinggal Chandra dan belum bisa move on, di bilang berlebihan karna masih inget terus. Giliran nikah sama Chandra 1 tahun setelah cerai sama Barra, dibilang cepet banget move onnya 🤣.


Sabar ya Yuna, kamu memang gak ada benernya di mata netijen. Wkwkw

__ADS_1


__ADS_2