
Pukul 5 lewat Yuna ke kembali ke rumah karna mendapat telfon dan Mama Rena kalau twins terus menangis.
Yuna di antar oleh Fina menggunakan motor.
Dari kejauhan sudah menghela nafas lantaran mobil Barra masih terparkir di garasi rumah.
Inilah yang Yuna takutkan sejak awal, itu sebabnya dia berusaha menolak rumah pemberian dari Barra.
Bukan karna tidak memikirkan kebaikan twins, tapi Yuna juga mempertimbangkan dampak kedepannya.
Sudah pasti Barra akan selalu datang dan pulang sesuka karna merasa punya hak atas rumah itu.
"Makasih Fin,,," Ucap Yuna pada karyawan barunya.
"Sama-sama Mba, aku pulang yah,," Pamitnya.
"Hati-hati di jalan."
Yuna masuk ke dalam rumah setelah Fina hilang dari pandangan matanya.
Suara tangis Zie dan Ara sudah terdengar begitu dia membuka pintu. Yuna semakin mempercepat langkah, bergegas mendatangi sumber suara di ruang keluarga.
Rupanya Mama Rena dan Barra sedang berusaha menenangkan twins. Menggendong dan membujuk dengan mainan, bahkan makanan dan susu di dalam botol. Tapi tangis keduanya tak kunjung mereda.
"Anak Mama, kenapa kalian menangis,,," Yuna langsung menghampiri Mama Rena untuk menenangkan Ara lebih dulu karna tangis Ara yang paling pecah.
"Mereka pasti kangen sama kamu nak." Ujar Mama Rena.
"Harusnya nggak perlu pergi ke ruko dulu." Tegur Barra lembut. Yuna hanya menoleh saja, tidak memberikan respon apapun.
"Aku tenangin Ara dulu di kamar." Pamit Yuna pada mereka. Dia pergi ke kamar sembari menggendong Ara. Jika sudah seperti ini, maka harus di tenangkan dengan memberikan asi secara langsung.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat Ara diam. Hanya 10 menit, Ara sudah bisa tertawa.
Yuna lalu mendudukkan Ara di lantai yang sudah di alasi matras, beberapa mainan sengaja dia letakan di sana agar Ara mau bermain.
Yuna juga harus menengkan Zie yang sampai saat ini masih menangis, walaupun tidak sekencang tadi.
"Sini berikan Zie padaku." Pinta Yuna. Dia merentang kedua tangannya untuk mengambil Kenzie dari gendongan Barra.
"Ara sudah tenang.? Dimana dia.?" Tanya Barra.
"Di kamarku, sedang bermain." Jawab Yuna datar. Dia langsung bergegas ke kamar sambil menggendong Kenzie. Langkah Keyla terhenti di depan pintu saat menyadari ada yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Mas.?" Yuna menatap Barra dengan kening yang berkerut.
"Ada apa.?"
Yuna heran lantaran Barra membuntutinya sampai kedepan kamar, bahkan terlihat akan ikut masuk kedalam.
"Biar aku yang temani Ara main." Ucap Barra.
"Sudah menjelang malam, sebaiknya Mas Barra pulang saja."
"Mba Cindy pasti sudah menunggu."
"Lagipula Ara sudah tenang bermain sendiri di dalam."
Yuna mengusir Barra secara terang-terangan. Dia bukan ingin membatasi interaksi anak-anak dengan Papanya, tapi rasanya sudah terlalu lama Barra berada di rumah ini dan hari juga mulai gelap. Memang sudah seharusnya Barra kembali ke apartemen.
"Cindy masih di New York." Suara Barra terdengar sendu.
"New York.?" Yuna sedikit terkejut mendengarnya. Dia tidak tau kalau Cindy sedang berada di luar negeri.
"Sudah 2 minggu berada di New York, tinggal dengan orang tuanya." Jelas Barra. Ada gurat kesedihan di wajahnya. Sepertinya kepergian Cindy ke New York cukup membuat Barra terpukul.
Penjelasan Barra hampir membuat Yuna bertanya tentang hubungan mereka, namun Yuna langsung tersadar dan memilih diam. Dia tidak mau tau lagi apapun yang berhubungan dengan Barra dan Cindy.
Karna mereka bukan lagi menjadi bagian dari hidupnya.
"Aku harus memberi asi pada Zie."
Yuna lalu masuk kedalam kamar, begitu juga dengan Barra yang mengikutinya di belakang.
Dia menghampiri Ara yang sudah merangkak kemana-mana.
Barra langsung menghampiri Ara dan duduk di depannya sambil mengajaknya bicara. Hal itu tentu saja membuat Yuna melotot kesal. Padahal sudah diperingatkan untuk membawa Ara keluar dari kamar, tapi malah ikut duduk disana.
"Mas, aku mau menyusi Zie.!" Tegur Yuna. Suaranua sedikit di tinggikan agar Barra sadar dan segera keluar dari kamar.
"Ya sudah lakukan saja. Memangnya kenapa kalau aku disni.?" Sahut Barra dengan entengnya.
"Aku nggak akan lihat," Ujarnya lagi. Setelah itu kembali fokus pada Ara.
Yuna menghela nafas kasar, dia lalu memilih keluar dari kamar dan menyusui Zie di kamar sebelah karna tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan Barra.
...*****...
__ADS_1
"Mah,," Keluh Yuna dengan helaan nafas berat. Sudah ketiga kalinya dia menghampiri Mama Rena dan meminta Mama Rena untuk menyuruh Barra pulang, tapi Barra masih bertahan di rumah itu.
"Nanti setelah makan malam, Mama akan suruh Barra pulang." Ujar Mama Rena. Dia langsung paham kalau Yuna akan menyuruh untuk mengusir Barra lagi.
"Ini yang Yuna khawatirkan Mah, Mas Barra jadi nggak tau waktu." Yuna menggerutu kesal sembari menata piring diatas meja makan.
Padahal masih ada hari esok, tapi sudah malam belum pulang juga.
"Mungkin masih kangen sama anak-anak." Mama Rena hanya mencoba untuk meredakan kekesalan putrinya.
Yuna kembali menghela nafas. Nyatanya sudah lepas dari Barra tapi masih saja terbebani dengan hal seperti ini.
Makan malam kali ini harus di hadiri oleh Barra. Tidak ada obrolan yang terjadi di meja makan. Semuanya fokus menyantap makanan masing-masing. Beberapa kali Barra dan Mama Rena terlibat obrolan, namun hanya seputar kebutuhan twins.
Yuna hanya menyimak tanpa mau berkomentar. Dia bahkan baru tau kalau sejak lama Barra sudah menyiapkan tabungan untuk pendidikan twins dan semua keperluannya.
"Kalau anak-anak butuh sesuatu, kamu pakai saja uang itu." Ucap Barra pada Yuna.
Yuna mengangguk tanpa mengatakan apapun. Malas untuk meladeni ucapan Barra. Takut akan semakin lama laki-laki itu berada disana.
"Saya pulang dulu Mah,," Barra beranjak sembari pamit pada Mama Rena.
Setelah itu beralih menatap Yuna. Cukup lama menatap wajah Yuna, terlihat ingin mengatakan sesuatu namun ragu untuk berbicara padanya.
"Aku pulang." Akhirnya hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Barra. Yuna mengangguk, lalu beranjak dan mengantar Barra sampai ke depan tanpa bicara apapun.
Barra berbalik badan, mengurungkan niatnya saat akan membuka pintu mobil.
Dia malah berdiri menatap Yuna.
"Aku minta maaf." Ucapnya dengan nada penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Aku tidak bisa tenang, selalu memikirkan semua ini meski sudah berakhir." Tatapan Barra berubah sendu.
Perpisahannya dengan Yuna dan twins membawa luka yang menyakitkan di hatinya. Terkadang Barra berfikir untuk tidak melihat hari esok.
Perasaan dan pikirannya benar-benar kacau setelah semua permasalahan rumit ini terjadi dalam hidupnya.
Tidak ada yang bisa mengerti dan memahami keadaan dan perasaannya. Semua orang hanya berpihak pada Yuna maupun Cindy saja. Tanpa mau tau bagaimana beratnya berada di posisi seperti ini.
"Aku nggak mau membahas hal ini." Ucap Yuna.
"Mas Barra nggak perlu terus-terusan meminta maaf. Apa yang terjadi bukan keinginan kita kan.? Tapi karna keadaan."
__ADS_1
"Hubungan kita sudah sebatas orang tua saja untuk anak-anak, jadi mulai dengan lembaran yang berbeda tanpa harus mengungkit apa yang sudah lalu."
"Aku masuk dulu." Yuna beranjak masuk kedalam, meninggalkan Barra yang masih berdiri mematung.