Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 53


__ADS_3

"Mas,," Yuna menyadarkan lamunan Barra dengan menepuk pelan pundaknya.


Bukannya memilih hasil USG yang disodorkan oleh Yuna, Barra malah bengong dan melamun.


Barra menatap Yuna sedikit tersentak.


"Anak yang mau ikut dengan Mas Barra dan Mba Cindy yang mana.? Boy or girl.?" Tanya Yuna lagi.


"Ikut.?" Tanya Barra dengan dengan tatapan menelisik. Entah kenapa Barra malah menangkap kalau pertanyaan Yuna seolah - olah sedang mengatakan kalau baby boy dan baby girl akan di pisahkan dangan kata ikut.


Karna jika Yuna mengatakan salah satu ikut dia dan Cindy, artinya satu lagi akan ikut dengan Yuna.


"Iya, ikut kalian. Bukannya nanti akan tinggalkan bersama Mba Cindy dan Mas Barra.? Bukankah seperti itu namanya ikut.?" Jelas Yuna cepat.


"Kalau Mas Barra masih bingung mau yang boy atau girl, nanti tanyakan saja sama Mba Cindy. Dia mau yang jenis kelamin apa."


Bagaimana mungkin Barra tidak mengakui ketulusan dan kebaikan hati Yuna, lihat bagaimana Yuna begitu tegar saat menawarkan anaknya, bahkan menyuruh dia dan Cindy untuk memilih sendiri siapa yang akan dijadikan anak Cindy.


"Kita bicarakan nanti di rumah. Ayo,,," Barra menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya pergi dari sana. Terus menggandeng tangannya hingga sampai di depan mobil Barra.


"Kamu mau jalan-jalan atau mau makan sesuatu.?" Tawar Barra sembari membukakan pintu mobil untuk Yuna.


"Mas Barra mau babymoon nggak.?" Tanya Yuna, tapi raut wajah dan tatapan matanya meminta Barra untuk menjawab mau.


"Memangnya mau babymoon dimana hmm,,,?" Barra menatap gemas.


"Masuk dulu, kita bicarakan di dalam." Barra menuntun Yuna untuk masuk ke dalam mobil karna udara di luar terasa panas. Sedangkan Yuna belakangan ingin sering mengeluh kepanasan sekalipun saat sedang berada di dalam kamar dengan suhu rendah.


"Jadi Mas Barra mau.?" Seru Yuna saat Barra masuk kedalam mobil.


"Memangnya aku boleh menolak.?" Nada bicara Barra terdengar meledek.


"Boleh, tapi jangan harap bisa minum su-ssu lagi." Sahut Yuna ketus, dia langsung membuang pandangan ke luar jendela. Terus mencebikan bibirnya.


"Kamu ini,," Barra mengacak pelan pucuk kepala Yuna sembari tersenyum lebar.


"Jadi mau babymoon dimana.?" Barra melembutkan suaranya untuk membujuk Yuna yang mendadak jadi kesal padanya.


"Terserah Mas Barra saja asal tempatnya indah."


Barra mengangguk untuk menuruti keinginan Yuna.


Karna dadakan dan Barra enggan untuk pulang ke rumah lagi, Barra singgah di store baju yang dia lewati dan membeli beberapa baju untuk menginap di sana 2 hari.


Mata Yuna berbinar, Barra mengajaknya ke puncak dan menikmati pemandangan indah di sana.

__ADS_1


Ini pertama kalinya dia dan Barra pergi bersama ke suatu tempat yang cukup di minati banyak orang.


6 bulan memang singkat, wajar jika mereka tidak pernah pergi keluar kota berdua untuk sekedar berlibur. Apalagi waktu yang Barra miliki tak hanya untuk bersama Yuna saja.


"Kita makan siang dulu ya,," Ajak Barra ketika sampai di hotel.


Hotel bintang 5 itu memiliki view yang indah sampai membuat Yuna kagum melihatnya.


Yuna mengangguk patuh. Barra menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke restoran yang ada hotel.


Setelah itu mereka berkeliling untuk menikmati pemandangan indah yang disuguhkan di sana.


...*****...


Berdiri di balkon kamar hotel, udara di sore hari terasa semakin sejuk dan dingin.


Dia merogoh ponsel, menghubungi Cindy yang sejak pagi terus mengirimkan pesan padanya.


"Sedang apa.?" Suara Barra sangat lembut dan terdengar hati-hati.


"Sudah, baru pulang dari rumah sakit."


"Baby girl dan boy,,"


"Yuna menyuruh mu untuk memilih salah satu dari mereka.?"


"Ya, dia bilang terserah kamu."


"Baiklah, aku akan bicarakan padanya nanti."


"Hmm,, I love you too,,"


Barra mematikan sambungan telfonnya, menyimpan kembali kedalam saku celana. Masuk dan menutup pintu balkon, dia menghampiri Yuna.


Duduk di sisi ranjang, tangannya memberikan usapan pada perut besar Yuna.


Sudah 1 bulan ini Yuna mulai kesulitan untuk tidur, selalu berubah ubah mencari posisi yang nyaman untuk perutnya. Terkadang bangun tengah malam karna babu twins menendang di dalam, dan membuat Yuna merintih kesakitan.


Tarikan nafas Yuna saat tertidur juga terlihat sangat berat.


Barra terus mengusapnya. Perut Yuna benar-benar sudah sangat besar di usia kehamilan yang baru 6 bulan, wajar kalau Mama Rena tidak percaya kalau di dalam perut Yuna hanya ada 1 bayi.


Yuna menggeliat, tidur pulasnya terusik oleh gerakan tangan Barra di perutnya. Perlahan Yuna membuka mata, Barra nampak tersenyum padanya.


"Sudah sore, ayo mandi." Katanya sembari merapikan rambut yang menutupi sebagian pipi Yuna.

__ADS_1


Yuna bangun dari ranjang meski terlihat malas.


"Aku mau berendam air hangat." Pinta Yuna.


"Baiklah, biar aku isi dulu bathtubnya." Barra beranjak, dia mengusap kepala Yuna lebih dulu sebelum pergi ke kamar mandi.


Begitu selesai, Barra kembali menghampiri Yuna dan menuntunnya ke kamar mandi.


"Mas Barra mau mandi juga.?" Tanya Yuna. Dia sedikit heran melihat Barra yang menutup pintu kamar mandi setelah mereka masuk.


Barra mengangguk, ada senyum yang tercetak di bibirnya. Yuna paham betul arti dari senyum itu.


"Sini biar aku bantu buka,," Ucap Barra sembari memposisikan diri di belakang Yuna. Barra langsung membuka resleting dress Yuna dan menurunkan dress itu hingga ke lantai.


"Mas,!" Tegur Yuna saat tangan Barra berkenan kemana-mana, sudah pasti salah satu tangan Barra mendarat di tempat favoritnya.


Barra hanya tersenyum saja, dia malah semakin melancarkan aksinya hingga adegan panas itu terjadi di dalam kamar mandi. Menciptakan rasa yang membuat keduanya melayang tinggi.


...*****...


Pukul 11 Malam, Barra memaksa Yuna untuk segera tidur demi kesehatannya.


Mungkin kalau tidak di paksa, Yuna pasti masih berada di balkon untuk menikmati suasana yang sangat menenangkan di sana.


Barra menarik Yuna dalam dekapan, berbaring saling berhadapan.


Diam sesaat dan saling menatap satu sama lain.


Tatapan Barra terasa semakin dalam setiap harinya.


"Apa Mas Barra sudah menanyakan pada Mba Cindy.?"


"Baby boy atau baby girl yang Mba Cindy mau.? Tanya Yuna santai. Tidak dengan Barra yang seketika gelisah dan terlihat bingung.


"Cindy ingin baby boy." Sahut Barra lirih. Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau Barra tidak tega mengatakan hal itu pada Yuan. Tapi memang susah seharusnya berjalan seperti ini.


Yuna terlihat memaku, tapi kemudian mengukir senyum yang begitu menyayat hati untuk Barra.


"Baiklah, kalau begitu setelah pulang dari sini aku akan bilang pada Mama kalau cucunya baby girl yang cantik." Ujar Yuna.


"Mas Barra jangan lupa bawa foto USG baby boy dan berikan pada Mba Cindy setidaknya dia tau seperti apa wajah tampan putranya." Ucapnya, kalimat terakhir sangat jelas di tekankan oleh Yuna.


Seolah ada perasaan yang berkecamuk saat harus mengatakan darah dagingnya menjadi putra wanita lain.


Barra memilih mengalihkan topik pembicaraan, tidak tega membahas hal seperti itu dengan Yuna.

__ADS_1


__ADS_2