Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 42


__ADS_3

Yuna baru selesai mandi. Dia langsung turun dan beranjak ke dapur untuk sarapan.


Sejak Barra mendatangkan asisten rumah tangga yang datang pagi-pagi dan pulang sore, Yuna jadi lebih santai dan tidak terlalu lelah karna hanya sibuk dengan bisnisnya saja. Semua pekerjaan rumah sudah di handle dengan baik oleh asisten rumah tangga.


Terkadang memang Yuna merasa bahwa Barra telah melakukan banyak hal demi dirinya dan kedua anaknya. Namun rasa kecewa karna merasa dibohongi, membuat Yuna sedikit benci pada laki-laki itu.


Yuna tau Barra telah berkorban banyak dari segi materi untuk dirinya, namun rasanya tidak sebanding dengan apa yang harus dia berikan untuk Barra.


Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, dia sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian yang seharusnya tidak boleh dilewatkan saat membaca.


Mungkin memang nyawa harus di gantikan dengan nyawa. Kesembuhan Mama Rena harus di tukar dengan darah daging Yuna.


Siap atau tidak, rela atau tidak, Yuna harus tetap memberikan salah satu buah hatinya untuk di ambil oleh Barra dan istrinya.


Selagi Barra tidak mengambil keduanya, Yuna masih punya kekuatan untuk terus melanjutkan hidup dengan salah satu anaknya.


"Barra nggak ikut turun.? Sudah siang, apa nggak berangkat ke kantor.?"


Ucapan Mama Rena membuat Yuna berhenti di tempat. Jelas-jelas Barra tidak pulang, tapi Mama Rena malah menanyakan Barra.


"Kok malah bengong Yun.?"


"Sana panggil suami kamu, suruh dia sarapan dulu." Tegur Mama Rena pelan. Dia sedang membantu menata makanan di meja makan.


"Eh,, iya Mah,,," Yuna segera beranjak. Dia tidak melihat Barra pulang tapi sang Mama begitu yakin kalau Barra ada di rumah.


Hal pertama yang Yuna lakukan bukan mencari Barra, melainkan pergi ke teras untuk melihat ada mobil milik Barra atau tidak.


"Jadi dia pulang." Gumam Yuna pelan. Dia tersenyum kecut melihat mobil Barra terparkir di garasi. Sejak tau dia hanya dijadikan istri kedua untuk mencetak anak, Yuna selalu benci setiap kali mengingat Barra atau sesuatu yang berhubungan dengan Barra.


Naik ke lantai atas, Yuna langsung menuju kamar sebelah. Sudah pasti Barra tidur di sana karna Barra tidak berada di kamarnya.


Beberapa kali mengetuk pintu namun tak kunjung ada jawaban. Pintu juga tak kunjung dibuka.


"Mas,,!!" Seru Yuna. Dia berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar sampai bawah. Kalau Mama Rena tau dan beliau naik ke atas, pasti akan curiga melihat Barra tidur di kamar sebelah.


"Mas Barra,,!"


Entah sudah berapa kali mengetuk dan memanggilnya, Barra belum juga menjawab.


Yuna mencoba menggerakkan handle pintu, ternyata bisa dibuka dengan mudah karna tidak di kunci.


Yuna sedikit menjulurkan kepalanya, dia tidak langsung masuk karna takut Barra sedang memakai baju atau mungkin bertelanjang.

__ADS_1


"Bisa-bisanya masih tidur." Yuna bergumam lirih. Dia menatap Barra yang masih berbaring di ranjang dan berjalan menghampirinya setelah menutup pintu.


Yuna terlihat menarik nafas dalam. Tidak mudah harus bersikap baik pada seseorang disaat hati terluka olehnya. Tapi kembali lagi pada posisinya saat ini. Tak hanya dijadikan sebagai alat pencetak anak, namun juga seorang istri yang harus mengurus dan melayani suami.


"Mas,, sudah siang." Ucap Yuna dengan mengeraskan suaranya. Dia tidak berani lagi menyentuh Barra seperti sebelumnya.


"Eemm,,," Barra hanya menggeliat kecil tanpa membuka mata.


"Bangun sudah siang. Nanti terlambat kerjanya."


Yuna masih berusaha membangunkan Barra. Laki-laki itu terlihat enggan untuk membuka mata, bahkan setelah menggeliat, Barra semakin erat memeluk guling.


"Aku nggak ke kantor hari ini." Barra mulai menjawab, tapi suaranya terdengar lemah. Hal itu membuat Yuna curiga.


"Mas Barra sakit.?" Tanya Yuna. Barra mengangguk pelan.


Melihat Barra mengangguk, Yuna langsung meletakkan punggung tangannya di kening Barra.


"Kamu demam Mas,," Yuna segera menarik tangannya karna merasakan panas dari tubuh Barra.


"Mau aku telfonkan istri Mas Barra biar dia jemput kesini.?" Tawar Yuna.


"Istri Mas Barra pasti cemas karna nggak pulang ke sana."


Yuna terlihat santai saja membahas tentang Cindy. dia sudah masa bodo tentang Barra. Saat ini hanya fokus untuk melanjutkan hidup dan menjalankan kewajibannya untuk melahirkan anak Barra.


"Nggak perlu, aku hanya butuh istirahat." Tolak Barra lirih.


"Kalau begitu tolong pindah ke kamar utama, Mama bisa curiga kalau Mas Barra tidur disini."


"Kalau nggak kuat jalan, biar aku bantu."


Nada bicara Yuna sedikit memohon. Dia memang tidak mau menimbulkan kecurigaan sedikitpun di depan Mama Rena. Meski pada akhirnya Mama Rena akan melihat dia dan Barra bercerai, tapi untuk saat ini harus tetap menunjukkan kalah pernikahan mereka normal dan baik-baik saja.


Barra membuka mata, dia baru mau beranjak setelah Yuna memintanya.


"Sini aku bantu." Yuna memegangi lengan Barra dan membantunya turun dari ranjang.


"Nggak udah khawatir, aku masih bisa jalan." Ucap Barra.


"Jangan salah paham, aku mau bantuin Mas Barra bukan karna khawatir." Yuna menjawab cepat.


"Kalau sampai Mas Barra jatuh dan kenapa-napa, nanti aku yang disalahin sama Mama." Jelasnya. Mulutnya sedikit maju, terlihat kesal karna Barra menganggapnya khawatir.

__ADS_1


Barra hanya tersenyum tipis tanpa merespon. Dia juga membiarkan Yuna memapahnya untuk pindah ke kamar mereka.


"Makasih," Ucap Barra setelah Yuna menuntunnya sampai di ranjang. Sayangnya Yuna tidak merespon.


"Mau aku bawakan nasi atau bubur.?" Tawar Yuna.


Dia masih berbaik hati menawarkan sarapan pada Barra bahkan akan membawakannya ke kamar.


Entah bagaimana cara Barra untuk mencampakkan wanita sebaiknya Yuna setalah mendapatkan seorang anak darinya. Yuna terlalu berharga untuk di sakiti.


"Aku nggak suka bubur." Jawaban yang cukup jelas dari mulut Barra. Yuna mengangguk paham dan bergegas keluar dari kamar.


Ekspresi wajah dan nada bicara Yuna selalu datar sejak saat itu, sama seperti Barra yang selalu bersikap datar pada Yuna sejak awal menikahinya.


Yuna kembali ke meja makan, Mama Rena menatap bingung lantaran Yuna datang sendiri. Sebelum Mama Rena kembali bertanya, Yuna lebih dulu mengatakan kalau Barra sedang sakit dan hari ini tidak masuk kerja.


"Sebaiknya periksa ke dokter saja Yun,," Mama Rena tanpa khawatir mendengar kondisi kesehatan Barra. Yuna tersenyum getir dalam hati. Dia dan sang Mama mungkin terlalu baik sampai tidak pernah menaruh curiga sedikitpun pada Barra.


Andai saja Mama Rena tau tujuan Barra, mungkin tidak akan khawatir pada Barra.


"Kata Mas Barra cuma butuh istirahat. Nanti aku kasih obat penurun panas saja."


"Mungkin kelelahan, terlalu sering bolak balik keluar kota." Yuna tersenyum tipis. Dia Menyendokan makanan ke dalam piring untuk Barra, setelah itu membuatkan teh hangat dan mengambil obat.


"Kalau nanti masih panas, panggilkan dokter saja Yun." Ujar Mama Rena sebelum Yuna beranjak dari dapur.


"Iya Mah. Mama nggak usah khawatir, Mas Barra nggak selemah yang Mama kira."


"Sedang demam saja masih bisa lari." Yuna terkekeh kecil sembari berlalu dari dapur.


Mungkin maksud Yuna, lari dari tanggungjawab.


"Ini makanannya, jangan lupa minum juga obatnya."


"Mas Barra jangan sampai sakit, harus sehat terus bisa lihat anak ini lahir." Yuna tersenyum kecut sembari meletakkan nampan di atas meja.


Barra membuka mata, dia menahan tangan Yuna yang akan beranjak.


"Mas Barra butuh apa lagi.?" Tanyanya datar. Yuna berusaha melepaskan tangan Barra namun genggamannya terlalu kuat.


"Tolong suapin." Pinta Barra. Yuna langsung terkekeh geli mendengarnya.


"Mas Barra salah rumah kalau mau di manja." Kata Yuna. Dia menarik paksa tangannya dan beranjak pergi. Namun Barra malah kembali tidur dan sedikitpun tidak melirik makanan di atas meja.

__ADS_1


Yuna menarik nafas dalam, dia terpaksa masuk kedalam kamar lagi dan menutup pintu.


"Bangun, mau disuapin atau nggak." Seru Yuna kesal. Dia sudah duduk di sisi ranjang sembari memegang piring. Mendengar hal itu, Barra langsung bangun dan duduk dengan tegap.


__ADS_2