
Suara bel apartemen menghentikan aktivitas Barra yang tengah merokok di balkon.
Hampir setiap hari dia akan menghisap batang rokok walaupun hanya 1 atau 2 batang saja sehari. Dan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun, sejak dia sendiri tentunya.
Saat ini keadaan memang lebih mudah di terima di banding dengan beberapa tahun yang lalu. Barra tak lagi mempermasalahkan perasaannya terhadap Yuna, meski tak kunjung bisa meluluhkan hatinya.
Bisa hidup berdampingan dan mengurus anak-anak dengan kepala dingin dan kompak saja sudah lebih dari cukup untuknya.
Mungkin memang dia dan Yuna tak berjodoh sebagai pasangan, tapi berjodoh sebagai orang tua yang akan terus membesarkan anak mereka bersama-sama.
"Happy birthday Oppa ku yang tampan,,. oh,, Duren yang tampan maksudku." Suara Sisil langsung menggema di telinganya begitu membuka pintu apartemen.
Kedatangan Sisil dan Nicho membuat Barra mengerutkan keningnya, tak biasanya pasangan itu datang berdua.
"Ada apa.?" Barra bertanya dengan suara dan ekspresi datar. Hal itu langsung membuat Sisil mencebik kesal.
"Ada apa bagaimana.? Oppa tidak dengar tadi aku bilang apa.?"
"Harusnya Oppa senang karna adikmu yang baik hati ini mau mengucapkan selamat ulang tahun."
Sisil langsung menghambur ke pelukan Barra. Usianya sudah 36 tahun tapi masih menganggap dirinya sebagai adik kecil Barra.
"Sayang, kamu ini apa-apaan." Nicho menarik Sisil agar melepaskan Barra.
"Kamu lupa Kak Barra sudah lama menduda, jangan sampai dia berfikir macam-macam padamu." Keluh Nicho.
"Plakk,,,!!" Barra langsung menabok lengan Nicho.
"Kamu pikir aku sudah tidak waras.!" Geram Barra. Adik iparnya ini memang semakin tua semakin gila pikirannya, seperti sudah terkontaminasi dengan Sisil.
"Ya siapa tau karna terlalu lama tidak di pakai, pikiran jadi tidak waras." Ujar Nicho lagi.
"Iisshh,,! sudah-sudah."
"Ayo masuk." Sisil menggandeng tangan Nicho dan mengajaknya masuk, padahal Barra belum menyuruh mereka masuk.
Barra menggelengkan kepala, kemudian menutup pintu dan menyusul mereka.
"Jadi sebenarnya tujuan kalian kesini mau apa.?" Barra menatap Sisil dan Nicho yang sudah duduk santai di sofa.
"Kamu ngucapin selamat ulang tahun tapi tidak bawa apapun."
"Sabar dong Oppa, sebentar lagi kado spesialnya datang."
"Dijamin Oppa suka." Sisil menahan senyum, senyum yang membuat Barra jadi menaruh curiga padanya.
__ADS_1
"Awas saja kalau kamu macam-macam." Ujar Barra.
Dia pergi ke kamarnya untuk mengganti baju, karna baju yang dia pakai saat ini tanpa lengan.
"Sayang, mereka sudah di depan." Ucap Sisil sembari beranjak dari duduknya setelah membaca pesan.
"Kita suruh mereka masuk saja, kejutin Barra Oppa di depan kamarnya."
Sisil membukakan pintu dan menyuruh mereka untuk masuk. Melihat Sisil yang membukakan pintu, Yuna menatap curiga ke arahnya. Pasti ada saja yang akan di lakukan oleh Sisil. Dan semua rencana anak-anak pasti di bantu olehnya.
"Hai Kak Yuna." Sapa Sisil lirih. Tak lupa dia meminta pada mereka untuk tidak bersuara.
Kinara yang memegang kue ulang tahun, langsung sibuk untuk menyalakan lili di bantu Kenzie. Anak-anak sudah siap untuk memberikan kejutan pada Papa mereka.
"Dimana Papa.?" Tanya Zie.
"Papa kalian di kamar. Ayo cepat bersiap di depan kamarnya, jangan sampai kita yang terkejut karna Papa kalian keluar kamar lebih dulu."
Sisil langsung mengajak mereka ke kamar Barra. Yuna hanya mengikuti anak-anak di belakang. Dia tak banyak berkomentar sejak di perjalan karna tidak mau membuat mereka kecewa.
"Happy birthday Papaaaa,,,," Twins dan Brian kompak mengucapkan ulang tahun pada Barra. Laki-laki paruh baya yang baru saja membuka pintu kamarnya, dibuat speechless dengan kejutan yang diberikan oleh anak-anaknya. Terlebih melihat Yuna yang ikut datang, meski dia hanya mengukir senyum tipis padanya.
"Ayo make a wish Papa,,," Kata Kinara sembari menggoncang tangan Barra.
"Makasih sayang,," Barra memeluk Kinara, kemudian mengencup keningnya. Dia juga melakukan hal yang sama pada Kenzie dan Brian, hanya saja tidak mencium kening keduanya karna mereka selalu protes lantaran sudah remaja.
"Buruan Oppa, buat permohonan. Menikah lagi misalnya, biar tidak sendiri terus." Seru Sisil antusias. Barra langsung melirik pada adiknya itu.
"Pasti kamu dalangnya.!" Barra mengetuk Sisil.
"Udah jangan banyak protes, mereka sudah menunggu Oppa make a wish dan tiup lilinnya." Kata Sisil untuk mengalihkan pembicaraan.
Barra lalu menuruti permintaan mereka, dia mengucapkan harapan yang belum terwujud sampai detik ini. Barra pikir harapannya akan terkabul kali ini dengan aamiin kan oleh banyak orang, terlebih apa yang dia harapkan ada di depan mata.
"Aamiin,,,,," Ucap mereka begitu Barra selesai mengucapkan harapannya dalam hati. Dia lalu meniup lilin di atas kue yang di pegang oleh Kinara.
"Panjang umur Papa Barra,," Brian memeluk Barra.
"Makasih sudah mau jadi Papa untuk Brian." Ujarnya lagi. Barra membalas pelukan Brian, dia mengusap lembut punggungnya.
"Siapa yang akan menolak punya anak tampan dan pintar seperti Brian." Ucap Barra memuji.
"Makasih sudah kasih kejutan untuk Papa."
"Stop.! Jangan ada drama air mata di hari bahagia." Tegur Sisil. Dia bahkan sambil menghapus air matanya yang baru saja menetes. Sedih melihat dan mendengar ucapan mereka berdua.
__ADS_1
Yuna bahkan tampak menundukkan kepala, hatinya sakit melihat putranya harus mengalami semua ini sejak kecil. Kehilangan seorang ayah tentu saja bukan hal yang mudah untuk diterima oleh Brian yang saat itu sedang membutuhkan cinta dan perhatian dari sosok seorang ayah.
"Ayo kita ke depan,," Sisil mengajak ketiga ponakannya untuk beranjak dari sana. Ketiga menurut, begitu juga dengan Nicho yang selalu setia mengikuti kemanapun Sisil pergi dan menuruti semua keinginannya.
"Kita makan kuenya sama-sama Aunty." Ucap Kinara.
Mereka semua meninggalkan Yuna dan Barra yang masih berdiri di tempat semula. Saling menatap dalam diam.
Sisil seolah sengaja mengajak ketiga ponakannya untuk buru-buru pergi.
"Selamat ulang tahun Mas,," Ucap Yuna tulus.
"Aku tidak membawa apa-apa, kadonya menyusul." Raut wajah Yuna terlihat menahan malu karna tidak enak pada Barra. Lagipula sejak awal tidak ada niatan untuk ikut dengan anak-anak.
Barra terlihat mengulas senyum tipis setelah mendapatkan ucapan dari Yuna.
"Terimakasih,"
"Tidak apa Yuna. Kamu mau datang kesini saja sudah lebih dari cukup." Ucap Barra dengan memberikan tatapan dalam pada Yuna.
Yuna hanya tersenyum tipis menanggapi pengakuan Barra.
...****...
"Araa,,!! Kamu mau apa.?!" Tegur Sisil pelan. Ponakannya itu sudah berdiri dari duduknya dan seperti ini masuk ke dalam.
"Aku mau lihat Papa dan Mama, Aunty,,,"
"Kira-kira mereka sedang bicara apa.? Aku penasaran." Tuturnya. Karna sudah lebih dari 10 menit mereka tak kunjung menyusul ke ruang keluarga.
"Sudah diam saja di sini. Kamu mau mereka kembali lagi kan.?"
Kinara langsung mengangguk cepat.
"Kalau begitu duduk lagi di tempatmu, lihat Kakak dan Adikmu yang anteng itu." Kata Sisil sembari menunjuk ke arah Zie dan Brian yang duduk tenang sembari bersender.
"Tapi kenapa lama sekali.?" Tanya Kinara, dia masih saja penasaran tapi terpaksa duduk di tempatnya lagi karna tidak mau mendengar teguran dari Sisil.
"Baru 10 menit, paling sedang mengobrol."
"Tunggu 10 menit lagi, siapa tau mereka sudah ci,,,
Mulut Sisil langsung di bungkam oleh tangan Nicho.
"Jangan bicara aneh-aneh di depan mereka." Tegur Nicho.
__ADS_1
Sisil langsung mengangguk cepat. Dia tidak sadar dan hampir saja keceplosan di depan ketiga remaja polos itu.