
Suasana menjadi haru. Kedua orang tua Barra juga terlihat berkaca-kaca. Semarah dan sekecewa apapun perasaan orang tua terhadap anaknya, mereka pasti akan ikut sedih jika melihat anaknya menangis.
Barra memang bersalah dalam hal ini, dia juga yang patut di salahkan dan bertanggungjawab atas semua kekacauan yang terjadi.
Sebagai laki-laki Barra tidak bisa tegas dan tidak memiliki prinsip hingga membuat rumah tangganya menjadi rumit dan tragis.
Semua orang menatap ke arah Barra yang masih menggendong Kinara dan sesekali mendaratkan ciuman di wajah mungil itu.
Yuna sudah menundukkan wajah sejak tadi, takut tidak bisa menahan air matanya melihat pemandangan menyedihkan itu.
Yuna sadar di juga egois karna akan tetap meminta cerai dari Barra. Yang akan membuat kedua anaknya tidak bisa hidup dalam satu rumah dengan ibu dan papa kandungnya.
Namun Yuna merasa ini yang terbaik untuk semuanya, terutama untuk kesehatan hati dan mentalnya. Jika di paksakan untuk tetap hidup bersama Barra, Yuna takut hati dan jiwanya yang akan rusak. Itu akan memberikan dampak yang lebih mengerikan dan berbahaya untuk baby twins.
Merawat balita bukan hal yang mudah, apalagi untuk mengurus 2 balita sekaligus. Yuna butuh hati dan jiwa yang sehat agar tetap waras dalam menjalani hidupnya. Dengan begitu, dia bisa mengurus baby twins dengan baik serta perasaan yang selalu tenang dan bahagia.
Kesalahan Barra dan Cindy mungkin bisa dia maafkan dan dilupakan agar tetap menjalin hubungan yang baik demi baby twins, tapi Yuna tidak bisa jika harus menjalani rumah tangga dengan Barra, apalagi menjadi istri kedua.
Barra hanya orang asing yang masuk dalam kehidupannya, kemudian memberikan 2 kehidupan baru dalam hidupnya.
Tidak ada cinta, bahkan mungkin tidak akan pernah ada untuknya.
"Duduklah, berikan Kirana pada Bu Rena dan bicara 4 mata dengan Yuna."
"Mom dan Dad tunggu keputusan kamu secepatnya.!" Ujar Sonya tegas.
Dia memberikan waktu dan kesempatan pada putranya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Setelah mendengar keputusan mereka, mungkin setelah itu akan ikut memberikan solusi dan masukan yang baik demi kebahagiaan bersama.
"Maaf Mom, tapi saya sudah mengambil keputusan sejak 1 bulan yang lalu." Yuna menimpali dengan suara yang lirih. Dia juga terlihat takut untuk menatap kedua orang tua Barra, takut keputusannya tidak bisa di terima oleh mereka.
"Mom tau, kamu pasti ingin mengakhiri pernikahan kalian." Sahut Sonya lembut.
"Tidak apa bicarakan lagi saja dengan Barra bagaimana baiknya, kamu juga perlu mendengarkan pendapat dan isinya."
"Mom akan tetap mendukung keputusan yang terbaik." Tuturnya.
Melihat respon Mommy Sonya yang tenang dan tidak berat sebelah, Yuna akhirnya mau membicarakan hal itu lagi dengan Barra.
__ADS_1
Setelah memberikan Kinara pada Mama Rena, Barra mengajak Yuna ke ruang kerjanya.
Istrinya itu sempat menepis tangannya saat akan menggandengnya. Yuna malah mempersilahkan Barra untuk jalan lebih dulu.
Hubungan mereka benar-benar sudah jauh, sangat jauh berbeda dengan sebelum baby twins lahir.
Jarak mereka seperti bumi ke langit, Yuna benar-benar menganggap Barra seperti orang asing hingga Barra bisa merasakan hal itu.
"Jangan di kunci.! Mereka akan salah paham." Tegur Yuna ketika melihat Barra akan memutar kunci.
"Aku nggak akan macem-macem, biar lebih tenang membicarakannya." Jelas Barra. Dia tetap mengunci pintu tanpa memperdulikan tatapan tajam Yuna.
Barra hanya takut seseorang akan masuk tiba-tiba ke dalam ruang kerjanya.
"Duduklah,," Barra menyuruh Yuna untuk duduk. Sementara itu, dia menyalakan pendingin udara dan mengaturnya pada suhu rendah. Membicarakan hal serumit ini yang cukup menguras perasaan dan emosi, harus dengan suasana dan udara yang mendukung.
Setidaknya dia bisa bicara dengan tenang dalam ruangan yang sejuk.
"Keputusanku sudah bulat, aku mau kita tetap bercerai." Seru Yuna tegas. Dia masih berdiri di tempat, tidak mengindahkan perintah Barra yang menyuruhnya untuk duduk.
"Aku bilang duduk dulu." Tegur Barra. Dia menjatuhkan diri di atas sofa. Sorot matanya tak lepas dari Yuna, sangat tajam dan dalam. Yuna bahkan tidak berani berlama-lama menatapnya.
"Pikirkan baik-baik, sudah ada Kenzie dan Kinara dalam kehidupan kita. Setidaknya bertahan demi mereka, aku janji akan lebih adil lagi. Cindy juga sudah setuju jika kita bersama." Penuturan Barra dan janji manisnya hanya di tanggapi dengan senyum dingin oleh Yuna. Wanita itu terlihat tidak tertarik sedikitpun untuk mempertimbangkan sesuatu yang sudah jelas.
"Aku melakukan semua ini juga demi anak-anak, mereka harus hidup bahagia dengan seorang ibu yang waras." Ucap Yuna penuh penekanan.
"Mas Barra pikir siapa yang akan mendapatkan dampak buruknya disini.?" Tanyanya dengan tatapan tajam.
"Aku hanya ingin tenang dan bahagia agar bisa merawat mereka dengan baik. Bukan karna aku nggak peduli dengan anak-anak, justru karna aku mengkhawatirkan kebahagiaan mereka."
"Anak-anak yang bahagia, terbentuk pula dari orang tua yang bahagia."
"Jika aku tidak bahagia, maka aku juga tidak bisa menjamin kebahagiaan mereka."
"Aku nggak peduli Mas Barra mau bilang aku egois atau apa, tapi aku yang akan menjalani dan merasakannya."
Barra sudah diam sejak tadi, nafasnya terlihat berat mendengar ungkapan hati Yuna. Wanita itu memang terlihat tertekan, bahkan penuh dengan emosi untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dan dia inginkan.
__ADS_1
Namun di sisi lain, Barra merasa berat untuk benar-benar melepaskan Yuna. Perasaannya terhadap Yuna bahkan tidak memudar meski selama 1 bulan tidak bertemu dengannya.
Memang buka suatu hal yang baik jika memiliki lebih dari 1 istri, tapi hal itu juga bukan sebuah dosa ataupun aib. Selama dia bisa adil, selama kedua istrinya bisa saling menerima, tidak ada yang salah jika mereka bertiga hidup berdampingan.
"Aku mohon akhiri pernikahan kita." Pinta Yuna.
"Mas Barra dan Mba Cindy boleh ikut merawat Kenzie dan Kinara, aku nggak akan menghalangi kalian untuk bertemu dengan mereka."
"Kalau Mas Barra mau dan semua orang memperbolehkan, kalian bisa merawat Kenzie berdua."
"Asal jangan melarangku untuk bertemu dengannya, dan tetap mengatakan pada Kenzie bahwa aku yang telah mengandung dan melahirkannya jika sudah besar nanti."
Barra langsung menggelengkan kepalanya karna tidak setuju dengan pemikiran Yuna. Walaupun kedengarannya itu akan menjadi hal yang baik bagi semua orang, tapi Barra tetap ingin mengupayakan agar pernikahannya dengan Yuna tidak berakhir.
"Aku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Aku benar-benar minta maaf karna pernah menyakiti dan mengecewakan kamu."
"Kita mulai dari awal lagi, aku serius Yuna." Barra mendekat, dia meraih tangan Yuna dan menggenggam.
Yuna menggelengkan kepalanya, dia juga menarik pelan tangannya dari genggam Barra.
"Maaf Mas, aku tetap ingin cerai." Yuna beranjak dari duduknya.
"Sebaiknya kita bicarakan ini dengan mereka." Yuna berjalan ke arah pintu. Belum sempat membuka kunci, tubuhnya sudah di peluk dari belakang oleh Barra.
"Aku mencintaimu." Ucap Barra. Dia memeluk Yuna dengan erat.
"Aku rasa bukan cinta, Mas Barra hanya kasihan dan merasa bersalah padaku, juga merasa bertanggungjawab atas aku dan anak-anak." Sanggah Yuna.
"Kalaupun benar itu cinta, hapus saja."
"Karna aku tidak punya cinta untuk Mas Barra.!" Ucap Yuna tegas.
Dia melepaskan tangan Barra, membuka pintu dan keluar dari ruangan kerja itu.
...***...
__ADS_1
...double up biar pada voteš¤...