
Barra menyeka air matanya. Ini pertama kalinya dia menangis di depan banyak orang. Air matanya tidak dapat ia bendung. Perceraian ini membawa pergi separuh jiwanya. Rasa sakit di hatinya begitu dalam. Menjadi kehancuran terbesar dalam hidupnya saat ini.
"Maaf sudah membuat kalian kecewa." Ucap Barra dengan segala rasa bersalah dan penyesalan. Dia terus menunduk, tidak berani menunjukkan kehancuran dirinya di depan semua orang.
"Aku menyesal telah membuat situasi rumit dan menyakitkan seperti ini."
"Maafkan aku Dad, Mom. Aku sudah menghancurkan kepercayaan kalian." Barra tertunduk malu. Kedua orang tuanya sudah mendidiknya dengan baik, menjadi laki-laki yang selalu menghargai dan menjaga perasaan wanita sejak dulu, tidak pernah membuat kedua orang tuanya kecewa. Tapi kali ini dia telah menyakiti banyak orang dalam satu waktu.
"Mom memang kecewa, tapi semua ini sudah terjadi."
"Kedepan, kamu harus lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan. Berfikir ulang setiap kali akan melakukan sesuatu."
"Tidak semua hal bisa kamu lakukan."
Sonya juga menyesali semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga putranya. Tapi dia tidak bisa menghakimi siapapun, semua yang terjadi pada hubungan mereka memiliki alasan masing-masing di baliknya.
"Kamu harus minta maaf pada Yuna dan Mamanya. Orang tua manapun tidak ada yang rela anaknya diperlakukan seperti ini."
"Mommy juga punya anak perempuan, Mom tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada adikmu." Ucapnya dengan rasa sesak dan kecewa.
Barra langsung terdiam. Seketika merasa benci dan marah pada diri sendiri. Dia semakin menyadari bahwa apa yang ia lakukan pada Yuna di awal pernikahan sangat kejam. Menjadikan seorang wanita hanya untuk dijadikan alat pencetak anak dengan imbalan uang. Seolah-olah wanita bisa dengan mudahnya ia beli.
Jika itu terjadi pada Sisil, mungkin dia orang pertama yang akan menghabisi laki-laki itu.
...****...
Barra berjalan gontai, meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke lantai atas untuk menemui kedua anaknya. Kehancuran dan rasa sakit yang dia rasakan, membuat Barra seolah mengambang. Saat ini tidak punya tempat untuk berpijak. Dia juga kehilangan arah.
"Oppa,,," Kedatangan Barra di sambut sapaan sendu dari Sisil. Barra terlihat sangat rapuh dan menyedihkan. Dia tersenyum tipis, senyum dengan sejuta luka di baliknya. Berjalan menghampiri Kenzie dan Kinara yang sibuk bermain di lantai bersama Kevin.
Barra ikut duduk, dia mengusap pucuk kepala twins bergantian dengan mata yang berkaca-kaca.
Kebersamaan dia dan anak-anak akan semakin berkurang. Waktu untuk bertemu dengan mereka juga tidak akan sebebas sebelumnya.
"Apa kak Yuna tetap minta cerai.?" Tanya Sisil. Dia bicara dengan hati-hati karna tau apa yang sedang dirasakan oleh Barra saat ini.
Barra hanya mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan Sisil.
"Aku tau ini berat untuk Oppa, tapi aku mendukung keputusan kak Yuna."
"Berpisah jauh lebih baik daripada harus menelan luka setiap hari."
"Jika aku ada di posisi kak Yuna, aku juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin akan membawa Zie dan Ara pergi jauh dari Oppa."
Ucapan Sisil langsung membuat Barra menoleh.
__ADS_1
Tiba-tiba saja mucul ketakutan besar dalam hatinya. Sejauh ini dia tidak pernah memikirkan hal itu. Tidak pernah berfikir jika suatu saat Yuna akan membawa kedua anak mereka pergi jauh darinya.
"Oppa tidak perlu takut, kak Yuna tidak akan sejahat itu." Tutur Sisil. Dia seolah bisa melihat ketakutan dalam diri Barra.
"Oppa mungkin gagal menjadi suami yang baik, tapi berusahalah untuk menjadi ayah yang baik untuk mereka." Sisil tersenyum tulus, mengusap punggung Barra dan sedikit menepuknya. Dia ingin memberikan semangat pada kakaknya yang saat ini sedang terpuruk. Terlepas bagaimana perbuatan Barra, Sisil tidak mau membuat Barra semakin merasa bersalah.
"Adikku sudah dewasa." Ujar Barra sembari mengacak pucuk kepala Sisil. Dia tersenyum bangga pada adiknyabdi tengah rasa sakit yang menyiksa.
"Sepertinya aku lebih pantas menjadi kakak." Balas Sisil dengan tawa kecil.
...*****...
Yuna pamit ke atas setelah hampir 1 jam memberikan waktu pada Barra untuk bermain dengan twins.
Yuna menjulurkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dia melihat Barra yang sedang asik bermain dengan twins serta keponakannya.
"Apa aku boleh masuk.?" Tanyanya. Barra dan Sisil menoleh bersamaan ke sumber suara.
"Kak, sini masuk." Jawab Sisil cepat. Barra terlihat melempar senyum pada Yuna, namun Yuna hanya menatap dan mengembangkan senyum pada Sisil.
"Makasih." Ucap Yuna sembari membuka pintu lebih lebar dan berjalan menghampiri mereka.
"Kami harus pulang,," Ujarnya memberi tau. Yuna duduk di sebelah Sisil, kedatangnya langsung membuat twins merangkak ke arahnya.
"Kenapa buru-buru.? Sebentar lagi waktunya makan siang." Ucap Sisil sembari melirik arloji di tangannya.
"Sebaiknya makan siang dulu disini." Bujuk Sisil.
"Terimakasih, lain waktu saja." Tolak Yuna halus.
"Ayo sayang, pamit dulu sama Aunty dan Kakak Kevin." Yuna mendekatkan Kevin dan Kinara pada Sisil. Mengarahkan tangan mereka untuk bersalaman dengan Sisil.
"Ya ampun, kenapa cepat sekali pulangnya. Padahal Kevin masih betah main dengan twins." Keluh Sisil.
"Kamu dan Kevin bisa main ke ruko,," Ucap Yuna.
"Ya, tentu saja. Aku akan sering menemui dua ponakanku yang lucu-lucu ini." Sisil mencubit gemas pipi twins.
"Oppa, antar Kak Yuna pulang." Suara Sisil membuyarkan lamunan Barra yang sejak tadi menatap wajah Yuna dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.
"Tidak usah, terimakasih." Tolak Yuna dengan seulas senyum.
"Aku sudah memesan taksi." Tuturnya.
"Tolong gendong Kinara saja ke bawah,," Pinta Yuna. Karna tidak mungkin dia menggendong twins sekaligus sembari menuruni tangga.
__ADS_1
Barra mengangguk dan langsung meraih Kinara untuk menggendongnya.
Mereka langsung turun ke bawah, termasuk Sisil dan Kevin yang berjalan lebih dulu. Dia seperti sengaja membiarkan Barra dan Yuna berjalan di belakang.
"Aku minta maaf,," Ucap Barra. Sudah kesekian kalinya dia mengatakan maaf pada Yuna sejak masih di ruang keluarga tadi.
Yuna menoleh, tatapan matanya beradu dengan Barra. Yuna bisa melihat penyesalan dari sorot mata Barra.
"Aku juga minta maaf, nggak ada manusia yang sempurna kan.? Aku juga pasti pernah berbuat salah pada Mas Barra, entah sengaja atau nggak."
"Ini bukan akhir dari segalanya, juga bukan akhir hubungan seorang ayah dan anak-anaknya."
"Terimakasih sudah memberiku kebahagiaan dengan hadirnya Kenzie dan Kinara."
"Aku harap Mas Barra dan Mba Cindy lebih bahagia lagi setelah ini." Ucap Yuna tulus.
Dia hanya ingin semua orang bisa menjalani hidupnya dengan bahagia. Tanpa ada beban, tanpa ada rasa iri dan sakit hati, tanpa harus terpaksa untuk berbagi. Hidup terlalu singkat, sangat menyedihkan jika harus hidup dengan perasaan yang tidak tenang.
...*****...
Barra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 20 menit yang lalu dia mendapatkan pesan dari Cindy. Pesan yang menyebutkan bahwa dirinya akan terbang ke New York untuk beberapa waktu atas permintaan Eva.
Tanpa pikir panjang, Barra langsung bergegas pergi ke bandara untuk mencegah Cindy. Dia tidak akan pernah membiarkan Cindy pergi.
Begitu memarkirkan mobil, Barra langsung turun dan bergegas lari menyusul Cindy.
Barra berhenti, dia bernafas lega meski nafasnya tersenggal. Senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat Cindy masih duduk di ruang tunggu.
Wanita cantik itu duduk seorang diri dan tertunduk sendu, dia terlihat memainkan cincin di jari manisnya.
Barra berjalan mendekat.
“Cindy,,," Panggil Barra. Cindy langsung mendongakkan kepala dan menatap wajah laki-laki yang sejak tadi dia pikirkan.
Air matanya tumpah, mengalir deras tanpa mampu di bendung. Cindy pikir Barra tidak akan datang setelah Yuna meminta Barra untuk menceraikannya.
"Jangan pernah pergi, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi kemanapun." Barra semakin mendekat ke hadapan Cindy.
Cindy bangun dari duduknya dan langsung menghambur kepelukan Barra.
Bagaimana dia bisa pergi jika separuh jiwanya ada dalam diri Barra. Cindy terpaksa pergi atas permintaan Maminya yang disertai dengan ancaman.
...*...
...Jangan lupa vote😊...
__ADS_1