
2 tahun berlalu, banyak perubahan yang terjadi pada pernikahan Yuna dan Barra. Cinta di hati Yuna mulai tumbuh meski terlihat baru bertunas. Kesempatan bagi Barra untuk menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya, perlahan mulai terbuka lebar. Barra memiliki peluang besar untuk mendapatkan hati Yuna, walau mungkin tak bisa seutuhnya.
"Kenapa masih berdiri disini.?“ Barra memeluk pinggang ramping Yuna dari belakang. Istrinya itu masih berada di balkon kamar setelah 1 jam di tinggal pergi ke ruang kerja.
Yuna menoleh sekilas, mengulas senyum tipis sembari menatap wajah Barra.
Dia baru saja mengambil keputusan setelah mempertimbangkannya dengan matang dan butuh waktu yang lama.
"Aku sudah siap pindah ke rumah baru," Ucap Yuna lirih. Terdengar berat namun seperti yakin bahwa itu adalah keputusan yang tepat.
Sudah 3 bulan yang lalu dia dan Barra membahas hal ini. Rumah baru yang dipersiapkan oleh Barra untuk istri dan anak-anaknya sudah selesai di bangun, bahkan sudah siap untuk di tempati sejak 2 bulan lalu. Rumah yang akan menjadi istana bagi keluarga kecilnya di buat senyaman mungkin untuk mereka. Barra tak mau rumah yang dia buat untuk mereka, lebih nyaman daripada rumah peninggalan Chandra yang saat ini mereka tempati.
"Kamu serius.?" Barra setengah percaya dengan ucapan Yuna. Dia takut Yuna hanya terpaksa pindah ke rumah baru.
"Hu'um,," Sahut Yuna dengan anggukan kepala.
"Besok aku akan bilang pada anak-anak, sekalian menyuruh mereka untuk mengemasi barang-barang mereka." Ujarnya.
Keputusan Yuna untuk pindah ke rumah baru, tentu membuat Barra tersenyum bahagia. Setelah 2 tahun kembali menjalani pernikahan dengan Yuna, akhirnya sebentar lagi akan menjalani hari-hari dengan tenang tanpa harus membayangkan bagaimana masa lalu Yuna dan Chandra saat hidup bersama di rumah ini.
"Mereka pasti senang mendengarnya,," Kata Barra. Dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Yuna.
"Sudah lama mereka ingin tinggal di sana." Tuturnya dengan senyum yang semakin mengembang.
Meski pada awalnya anak-anak keberatan saat membahas tentang rumah baru, tapi belakangan ini mereka justru ingin cepat-cepat pindah.
"Iya, itu sebabnya aku bisa mengambil keputusan sekarang." Ucap Yuna. Dia membalik badan, sedikit bergeser hingga lepas dari dekapan Barra.
"Aku akan bahagia jika kalian bahagia." Tuturnya. Sudut bibirnya membentuk gurat senyum yang tulus. Yuna tak pernah lagi mementingkan kebahagiaannya sejak memutuskan kembali dengan Barra. Hidupnya hanya untuk orang-orang yang ada disekitarnya saja.
"Tapi kebahagiaanmu juga penting,," Barra menyelipkan telapak tangannya di pipi Yuna, perlahan mendekatkan wajahnya hingga Yuna reflek memejamkan mata. Ci-um-an lembut penuh cinta diberikan oleh Barra, disambut dengan lu-ma-t tan kecil dari bibir sensual Yuna.
"Aku tidak mengkhawatirkan hal itu, bukankah Mas Barra sudah menjamin kebahagiaanku,," Kata Yuna setelah mereka melepaskan ci-um -an lembut itu.
Barra menanggapi dengan ekspresi berbinar. Perasaannya seketika menghangat, sadar bahwa Yuna sudah mulai percaya dan mau menaruh harapan padanya.
Kesempatan ini tak akan pernah di sia-siakan olehnya untuk membuat Yuna bergantung padanya karna cinta.
"Aku tidak akan mengecewakanmu." Tegas Barra.
Yuna mengangguk yakin. Dia bisa melihat bagaimana perjuangan dan pengorbanan Barra selama 2 tahun ini untuk membuatnya bahagia.
__ADS_1
Tak ada alasan untuk tidak percaya dengan ucapan Barra.
"Udaranya semakin dingin, ayo masuk,," Barra merangkul pinggang Yuna dan menggiringnya masuk kedalam kamar.
Setelah menutup pintu balkon dan menguncinya, dia lalu menggendong Yuna. Wanita dalam gendongannya itu sempat kaget lantaran tiba-tiba tubuhnya terangkat. Tapi setelah itu memasang ekspresi pasrah begitu menatap wajah Barra.
Tatapan mata dan senyumnya terlalu khas hingga bisa di tebak kalau Barra akan meminta haknya sebagai suami.
Tubuh polos Yuna dibuat menegang. Kedua tangannya mencengkram seprei. Sejak tadi bahkan sudah mengeluarkan des-s!ahan tertahan.
Serangan di kedua daerah sensitifnya membuat Yuna tak bisa membendung rasa nikmat yang menjalar.
Barra begitu rakus melahap dua buah kenyal itu secara bergantian. Bahkan sedikit memberikan gerakan kasar yang justru membuat Yuna semakin bergerak tak karuan.
Apalagi usapan jari Barra di bawah sana, menghilangkan kesadaran Yuna dan hanya bisa merasakan ke-nik- matan saja.
Erangan panjang dari mulut Yuna terdengar seksi di telinga Barra. Suara indah itu menjadi semangat dan kepuasan tersendiri bagi Barra. Itu sebabnya dia selalu membuat Yuna melakukan pelepasan lebih dulu sebelum melakukan penyatuan.
Sembari memberikan jeda untuk Yuna, Barra melucuti sendiri kain yang masih lengkap di tubuhnya. Setelah itu berbaring di samping Yuna dengan benda yang sudah tegak sempurna.
"Naik sekarang Yuna,,," Pinta Barra dengan suara seraknya yang berat.
Yuna langsung menurut, mulai memposisikan diri dan menenggelamkan benda besar itu di dalam sana.
Barra mengangguk kecil, memberikan kode pada Yuna untuk mulai bergerak liar memberikan sekaligus merengkuh kenikmatan.
Suara des- sahan dari mulut keduanya saling bersautan. Menggema di seluruh ruangan.
Permainan panas penuh kenik- matan itu begitu memabukkan.
"Lebih cepat lagi sayang,,," Pinta Barra.
Gerakan liar Yuna membuat Barra menggila. Dia semakin ingin membenamkan dalam benda keras itu dengan gerakan cepat.
"Aku lelah,," Keluh Yuna lirih. Entah sudah berapa lama dia melakukannya, bahkan sudah mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya.
Barra meminta Yuna untuk turun, setelah itu mengarahkan Yuna agar membelakanginya.
"Aa--hhh,,," Des sah Yuna saat Barra mendorong masuk benda besar itu dan langsung bergerak cepat.
Malam itu dilewatkan keduanya dengan permainan panas karna saling merengkuh dan memberikan kenik- matan.
__ADS_1
Entah berapa kali Barra membuat tubuh Yuna menggelinjang nikmat. Begitu juga dirinya yang sudah 2 kali mencapai kli- ma-ks.
Rasanya tak pernah bosan melakukannya dengan Yuna.
...****...
"Jadi lusa kita pindah ke rumah baru.?" Tanya Kenzie memastikan.
Mereka sedang berada di ruang makan dan baru baru saja selesai sarapan bersama.
"Iya Zie. Kalian bisa minta tolong sama Mbak untuk mengemasi baju dan barang-barang kalian." Jawab Yuna.
Anak-anak terlihat senang mendengarnya, terutama Kinara yang langsung mengulas senyum ceria.
"Yeay,, akhirnya kita bisa tinggal di rumah baru,," Serunya senang. Wajar jika Kinara ingin cepat-cepat tinggal di sana, rumah yang baru saja di bangun oleh Papanya itu, rupanya masih satu cluster dengan rumah Kakak kelasnya yang sudah lulus 1 tahun lalu.
"Seneng banget yang mau tinggal satu komplek sama dia,," Ledek Zie. Kinara langsung melotot jengkel pada kakaknya itu.
"Kak Zie bisa diam tidak.!" Peliknya geram.
Gara-gara Kenzie, Barra dan Yuna jadi tau kalau putri satu-satunya itu sudah mulai memiliki ketertarikan dan rasa pada lawan jenis.
"Ayo berangkat Kak, nanti terlambat,," Brian beranjak dari duduknya. Dia yang paling tidak suka dengan keributan dan perdebatan, itu sebabnya selalu mencari cara untuk menghindari perdebatan terjadi.
Ketiganya lalu pamit pada Yuna dan Barra untuk pergi ke sekolah. Ketiganya selalu akur sampai detik ini walaupun sering di bumbui dengan kejahilan Kenzie ataupun Kinara, tapi tak pernah membuat ketiganya bertengkar. Mereka saling menjaga dan melindungi satu sama lain.
Yuna berhasil mendidik anak-anak dengan baik. Semua itu juga tak lepas dari peran Barra yang mampu menjadi contoh untuk ketiga anaknya.
Kebahagiaan yang sejati perlahan mulai menyelimuti keluarga kecil mereka. Kebahagiaan pun tak pernah luput dari hari-hari yang penuh warna itu.
Ketulusan dan kebaikan hati mampu menghadirkan kebahagiaan yang tak berujung.
...*****...
...TAMAT...
Ini novel yang diberi kemudahan dari awal sampai akhir, walaupun pembacanya nggak sebanyak novel² sebelumnya, tapi nggak dipersulit pihak platform.
Gak ada drama level turun meski kenaikan pembaca cenderung lambat.
Terimakasih banyak untuk para pembaca yang sudah satia menunggu part akhir😊🙏🏻
__ADS_1
Di tunggu karya othor selanjutnya ya.🙏🏻