
Cindy begitu antusias menyodorkan kue buatannya pada Barra untuk di cicipi. Dia duduk di depan Barra dengan menopang dagu setelah meletakkan piring berisi kue di depan suaminya itu.
Barra mengukir senyum bangga melihat hasil kue buatan istrinya. Meski tampilannya tidak sebagus kue yang dijual di luaran sana, namun kue buatan istrinya tetap yang paling cantik menurut Barra.
"Ayo cobain." Ujar Cindy tak sabaran. Dia ingin cepat mendengar penilaian dari Barra tentang kue buatannya.
"Menurut kamu kurang apa kuenya." Serunya lagi.
Cindy memang selalu begitu. Setiap kali berhasil membuat sesuatu, dia akan memberikannya pada Barra untuk mencoba dan meminta penilaian darinya.
Barra tersenyum gemas melihat Cindy yang sudah tidak sabar melihatnya mencicipi kue itu dan memberikan penilaian.
"Ini serius kamu yang buat.?" Tanya Barra dengan tatapan meragukan. Dia sengaja ingin membuat Cindy kesal lebih dulu.
"Tentu saja aku yang buat. Kamu nggak lihat itu,," Cindy menunjukan ke arah wastafel. Peralatan yang sudah dia cuci masih berada di sana, belum di simpan ke tempat semula.
"Hmmm,,, tapi aku nggak yakin." Barra pura-pura tidak percaya.
"Aku serius sayang, itu benar-benar kue buatanku." Cindy mulai terpancing.
"Mana aku tau, aku kan nggak liat saat kamu buat kue ini." Barra mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi acuh. Cindy terlihat mencebik kesal, namun tidak memberikan protes karna Barra mulai memotong kue itu dengan garpu dan memasukkan kedalam mulut.
"Bagaimana.?" Tanya Cindy.
"Lumayan, nggak buruk." Kata Barra dengan ekspresi datar.
"Nggak enak ya.?" Raut wajah Cindy langsung berubah sendu. Merasa sedih karna Barra terlihat menyukai kue buatannya.
"Mana mungkin kue buatan istriku nggak enak. Ini sangat enak sayang,," Puji Barra, dia kembali memasukkan kue ke dalam mulutnya dengan lahap.
"Kamu serius.??" Mata Cindy langsung berbinar mendengar penilaian Barra yang cukup memuaskan.
"Memangnya kapan aku bercanda.?" Barra balik bertanya. Mendengar hal itu senyum di bibir Cindy mengembang sempurna.
"Dan akan jauh lebih enak kalau kamu yang menyuapi kue ini dengan bibirmu." Goda Barra. Dia tersenyum meledek dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ya ampun, kamu itu,," Cindy mencebik kesal. Barra hanya terkekeh kecil melihatnya, kemudian menghabiskan semua kue di piring itu dengan cepat tanpa menyisakan sedikitpun. Dia ingin membuat Cindy senang dengan menghabiskan kue buatannya.
Selesai menghabiskan kue, Barra mengajak Cindy untuk duduk di ruang keluarga. Barra bahkan sampai menggendong Cindy karna sempat menolak ajakannya.
"Sepertinya kamu semakin berat,," Ucap Barra. Dia menurunkan Cindy di sofa.
__ADS_1
"Benarkah.? Apa aku harus diet.?" Cindy terlihat khawatir dengan komentar Barra mengenai berat badannya.
Sejak Barra menikah lagi dan jarang berada di rumah, Cindy merasa bosan dan kesepian hingga akhirnya sering makan saat Barra tidak ada di rumah.
Terlebih saat menjelang malam, dia tidak tau harus melakukan apa. Tidak ada teman mengobrol di rumah dan tidak memiliki kegiatan apapun. Jadi memilih untuk makan sambil menonton film.
"Nggak perlu, aku nggak mempermasalahkan itu."
"Sepertinya aku yang harus sering olahraga agar nanti lebih kuat saat menggendongmu." Tutur Barra. Dia mencubit gemas hidung Cindy.
"Kamu itu paling bisa bicara,," Cindy balas mencubit lengan Barra.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Tiba-tiba raut wajah Barra berubah serius. Cindy langsung penasaran dan menatap intens.
"Ada apa.?" Tanyanya. Wajah Cindy antara penasaran dan takut. Dia takut mendengar kabar yang nantinya akan membuat hatinya sakit.
"Dia sudah hamil." Tutur Barra. Sejauh ini Barra tidak pernah menyebutkan nama Yuna di depan Cindy, karna memang dia belum memperkenalkan nama istri keduanya pada Cindy.
Cindy tertegun, dia terlihat bingung harus bereaksi seperti apa mendengar kabar yang membahagiakan ini sekaligus menyakitkan.
Cindy bahagia karna pada akhirnya dia bisa memberikan kesempatan pada Barra untuk memiliki anak. Sesuatu yang tidak bisa dia berikan pada Barra karna tidak bisa memiliki anak.
Namun dilain sisi dia merasa sakit, sakit karna harus wanita lain yang melengkapi kebahagiaan suaminya. Laki-laki yang sejak dulu sangat dia cintai.
"Sayang,," Barra mengusap pelan pundak Cindy. Sungguh dia tidak tega melihat raut wajah Cindy yang langsung berubah sendu. Barra tau apa yang saat ini dirasakan oleh Cindy.
Dia pasti sedih mendengar madunya bisa hamil secepat itu sedangkan dia tidak bisa hamil.
"Ya,,," Sahut Cindy lembut. Dia tersenyum tipis, berusaha menunjukkan kebahagiaan di depan Barra.
"Aku ikut senang mendengarnya." Cindy semakin melebarkan senyumannya, tapi entah kenapa senyumannya terlihat begitu menyayat hati di mata Barra.
"Selamat sayang,, akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah." Cindy menghambur ke peluk Barra dan mendekapnya erat. Sejujurnya dia sedang menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Bukan hanya aku yang akan menjadi Ayah, kamu juga akan menjadi Ibu." Barra mengusap lembut punggung Cindy dengan penuh cinta.
"Apa kamu tau, dia mengandung baby twins."
Suara Barra terdengar sangat bahagia. Cindy bisa merasakan hal itu.
"Apa.? Baby twins.?" Cindy melepaskan pelukannya dan menatap serius.
__ADS_1
Barra mengangguk cepat.
"Satu di antaranya akan di rawat oleh kamu." Tutur Barra antusias.
"Bahkan akan menjadi anak kamu seutuhnya."
Cindy terkejut mendengarnya. Dia paham apa yang di ucapkan oleh Barra, namun tidak tau bagaimana bisa hal itu terjadi.
"Maksudnya.?" Tanya Cindy bingung.
"Aku nggak ngerti." Tatapan mata Cindy menuntut sebuah penjelasan.
"Dia mau memberikan salah satu baby twins untukmu. Anak itu akan menjadi anak kita."
"Jadi mulai saat ini kamu harus terlihat hamil di depan keluarga kita, mereka harus tau kalau anak itu terlahir dari rahim kamu."
Barra menjelaskan dengan senyum yang mengembang. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuna yang akan dipisahkan dari salah satu anaknya.
"Jangan bercanda sayang, kamu pasti bohong."
"Mana mungkin dia akan memberikan salah satu anaknya untuk menjadi anakku.?" Cindy tidak percaya dengan penuturan Barra yang menurutnya tidak masuk akal. Meski dia belum pernah merasakan hamil dan memiliki anak, tapi Cindy yakin tidak ada satupun wanita yang akan memberikan anaknya pada orang lain.
"Aku serius Cindy, dia benar-benar mau memberikannya untukmu." Barra berusaha meyakinkan Cindy agar dia percaya dengan ucapannya. Barra tau ini akan sulit karna Cindy pasti tidak akan percaya begitu saja.
"Kamu bisa tanyakan langsung padanya."
"Aku akan mengajaknya bertemu denganmu nanti.
"Jadi bersiaplah mulai sekarang untuk hamil di depan mereka, aku akan memberi tau Mom Sonya kalau kamu sedang hamil." Barra menatap teduh dengan mata berbinar. Dia melakukan semua ini demi kebahagiaan Cindy, agar Cindy juga bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki anak.
"Tapi sayang, aku nggak mau membohongi mereka."
"Lalu bagaimana dengan nasib dia dan anaknya nanti.? Kamu nggak mau mengenalkan dia dengan Mom dan Dad.?" Cindy benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Barra.
"Cindy, dengarkan aku." Ucap Barra dengan menekankan kalimatnya. Dia memegang kedua bahu Cindy dan menatapnya dalam.
"Aku sudah menuruti permintaan kamu dengan menikah lagi, sekarang kamu juga harus menuruti permintaanku."
"Lakukan apa yang aku mau, semua ini demi kebaikan kita."
"Dan sampai kapanpun aku nggak akan pernah bilang pada Mom dan Dad kalau aku menikah lagi. Itu akan menjadi masalah besar sayang, kamu harus mengerti itu."
__ADS_1
Barra bersikeras memaksa Cindy untuk mengikuti keinginannya. Barra telah membuat kebohongan besar pada Cindy. Bahkan pada Yuna dan keluarga Barra sendiri.