Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 109


__ADS_3

Yuna menuruti perintah Chandra untuk istirahat. Dia juga merasa sedikit lelah setelah cukup lama menemani twins bermain. Jadi memutuskan untuk istirahat sebentar sembari menunggu Barra selesai bermain dengan twins.


Tidak sampai 30 menit memejamkan mata, Yuna terbangun lantaran kembali merasakan kontraksi. Tangannya meremas seprei sembari mengatupkan rapat-rapat giginya karna menahan sakit. Berusaha menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk mengurangi rasa sakit itu, tapi tak kunjung berkurang dan justru semakin terasa sakit.


Yuna beranjak, duduk di sisi ranjang untuk mengubah posisi. Perut besarnya itu terasa mengeras. Dia mengusapnya berulang kali dengan gerakan lembut.


"Sudah nggak sabar ketemu Mama dan Papi ya.?" Tanya Yuna. Senyumnya mengembang di tengah rasa sakit yang tak kunjung mereda.


Kali ini Yuna merasa kalau putra ketiganya akan segera terlahir ke dunia.


Yuna meraih ponselnya, merasa perlu menghubungi Chandra untuk memberitahukan kondisinya saat ini. Tapi ponsel Chandra tidak bisa di hubungi, sepertinya dia mematikan ponselnya karna sedang meeting.


Yuna bermaksud mengirimkan pesan. Namun sebelum selesai mengetik, Yuna langsung meletakkan ponselnya begitu saja dan beralih memegangi perutnya yang terasa semakin sakit.


"Mah,, Mamah,,," Seru Yuna. Dia beranjak dari duduknya, berjalan tertatih keluar dari kamar dan mencari Mama Rena.


"Mama dimana.?" Panggil Yuna lagi. Mengedarkan pandangan kesemua sudut rumah.


"Ya ampun, Ibu kenapa.?" Baby sitter twins datang dan langsung menghampiri Yuna. Merangkul pindak Yuna karna takut terjatuh lantaran terlihat lemah dan kesakitan.


"Perut saya sakit, tolong panggilkan Mama,," Pinta Yuna. Sebelum memanggilkan Mama Rena, baby sitter itu menuntun Yuna ke untuk duduk di sofa lebih dulu.


Tak berselang lama, mereka datang menghampiri Yuna.


"Perut Yuna sakit Mah,," Rintihnya.


Mama Rena langsung duduk di samping Yuna dan mengusap perut putrinya.


"Mungkin sudah waktunya melahirkan, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."


"Ana, tolong beri tau supir untuk menyiapkan mobil." Pinta Mama Rena pada pada baby sitter twins.


"Baik Bu,," Ana bergegas pergi ke luar.


"Ayo sayang, kita ke mobil." Mama Rena membangunkan Yuna, menuntun Yuna berjalan ke luar.


Namun baru sampai di ruang tamu, tiba-tiba Barra datang dengan berlari cepat ke arah mereka.


"Yuna mau melahirkan Mah.?" Tanyanya pada Mama Rena.


Mama Rena sempat bingung melihat kehadiran Barra karna sebelumnya tidak tau kalau Barra datang ke rumah sejak tadi.

__ADS_1


"Iya, sepertinya akan melahirkan." Sahutnya.


"Ayo ke mobil, biar saya antar." Seru Barra panik. Dia juga reflek ikut berdiri di samping Yuna dan memegangi lengannya untuk membantu berjalan.


Yuna yang sedang merasakan sakit, tidak sempat memikirkan untuk melarang Barra memegang lengannya. Dia terus berjalan keluar di bantu oleh mereka berdua.


"Ana, jaga anak-anak. Tolong setelah ini kamu telfon Pak Chandra." Tutur Mama Rena sebelum masuk ke dalam mobil Barra.


Ana mengangguk patuh dan langsung membujuk twins yang saat ini sedang merengek meminta ikut.


"Sakit Mah,,," Keluh Yuna. Dia bersender di jok mobil dengan raut wajah yang terlihat kesakitan.


Mama Rena juga terlihat cemas melihat keadaan Yuna seperti itu.


Barra bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit. Dulu dia tidak sempat mengantarkan Yuna ke rumah sakit saat Yuna terjatuh dari tangga yang akhirnya membuat Yuna harus melahirkan sebelum waktunya. Kini setelah statusnya berubah sebagai mantan suami, dia diberi kesempatan untuk melakukan hal ini.


Suatu penyesalan dan rasa bersalah yang pada akhirnya bisa dia tebus saat ini.


Walaupun ikut cemas dan tidak tega melihat Yuna kesakitan, namun Barra bersyukur bisa mengantarkan Yuna ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit dan mendapatkan pemeriksaan, Yuna langsung dibawa menuju ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan. Dia dan Chandra memang sudah menyiapkan persalinan dengan baik di rumah sakit ini, termasuk dokter yang sudah biasa memeriksa kandungan Yuna setiap bulannya.


"Iya sayang, Mama sudah menyuruh Ana untuk menelfon Chandra." Sahut Mama Rena sembari mengusap kepala Yuna.


"Yuna nggak mau di operasi dulu sebelum Mas Andra datang." Ujarnya.


Mama Rena hanya mengangguk saja agar Yuna bisa tenang menghadapi persalinannya.


Barra sejak tadi hanya diam, terus memperhatikan Yuna yang sedang di dorong ke ruang operasi menggunakan kursi roda.


Hatinya berdenyut nyeri melihat perjuangan Yuna saat akan melahirkan. Mungkin perjuangan kali ini tidak seberapa dengan perjuangan Yuna saat melahirkan twins hingga mengalami cedera.


Tidak bisa di bayangkan saat Yuna jatuh dari tangga dengan perut besarnya. Pasti sangat sakit.


...*****...


Chandra mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya pucat, kepanikan jelas terlihat dari sorot matanya. Pikirannya kacau dan kesulitan untuk fokus. Terus memikirkan kondisi Yuna dan putranya.


Beberapa menit yang lalu setelah keluar dari ruang meeting, Chandra merogoh ponsel dan langsung mengaktifkan ponselnya. Melihat ada banyak panggilan masuk ke ponselnya, Chandra langsung menelfon balik ke nomor Yuna namun tidak mendapatkan jawaban. Dia juga sempat menghubungi nomor rumahnya tapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya dia memutuskan untuk melihat cctv ponselnya dan semua rasa penasaran serta ketakutannya terjawab dengan adanya cctv itu.


Chandra berlari kencang keluar dari kantor menuju basemen. Dia bahkan beberapa kali menabrak karyawannya karna tidak memperhatikan jalan dengan benar. Saat itu dipikirannya hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah sakit untuk berada di samping Yuna saat proses persalinan.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah sakit, Chandra langsung menanyakan keberadaan Yuna dan bergegas pergi ke ruang operasi.


Di depan ruang operasi terlihat Barra tengah duduk dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangannya bertautan, mengepal erat. Jelas sekali kecemasan dari gestur tubuhnya.


Chandra menghentikan langkah di depan Barra. Laki-laki itu langsung mengangkat wajahnya begitu melihat seseorang berdiri di depannya.


"Yuna di dalam." Ucap Barra setelah beranjak dari duduknya.


Chandra mengangguk paham.


"Makasih sudah mengantarkan istriku kesini." Ucap Chandra sembari menepuk pelan pundak Barra. Dia lalu bergegas masuk ke ruang operasi.


Kedatangan Chandra seketika menghadirkan senyum yang merekah di wajah Yuna. Dia tersenyum bersamaan air matanya yang menetes. Sejak tadi berusaha untuk tidak menangis, tapi begitu melihat Chandra ada di hadapannya, air mata itu tak bisa lagi di bendung.


Sejak tadi sudah ketakutan, tidak bisa membayangkan untuk kedua kalinya melahirkan tanpa di dampingi oleh suami.


Tapi ternyata Chandra datang tepat waktu.


"Sayang,,," Chandra mendekat, matanya berkaca-kaca melihat Yuna yang sudah siap untuk di operasi. Oksigen juga sudah terpasang.


Semua dokter dan perawat juga sudah berada di ruangan itu.


"Maaf,," Ucap Chandra tercekat. Dia merasa bersalah tidak ada di samping Yuna saat itu.


Chandra menunduk, mendekap Yuna dan mencium keningnya.


Mama Rena terlihat bernafas lega, dia lalu beranjak keluar dan membiarkan Chandra yang menemani Yuna di sana.


"Aku pikir Mas Andra tidak datang." Tutur Yuna dengan air mata yang semakin mengalir deras.


Chandra langsung mengusap air mata Yuna.


"Jangan menangis, aku sudah disini."


"Ayo berjuang untuk anak kita," Bisiknya lembut.


Yuna mengangguk cepat sembari mengulas senyum.


Setelah itu, dokter mulai mengambil tindakan karna Yuna sudah siap untuk di operasi.


Chandra tak hentinya menciumi kening Yuna, menggenggam tangannya dan selalu membisikan kata-kata manis dan semangat untuk istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2