Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 54


__ADS_3

Barra menghampiri Cindy yang terlihat cemas sembari berdiri di depan cermin. Sejak tadi memasang batal di perutnya dan beberapa kali membenarkan posisi agar benar-benar terlihat seperti sedang hamil sungguhan.


"Kenapa sayang.?" Tanya Barra. Dia hanya bisa memeluk Cindy dari belakang untuk memberikan ketenangan pada istrinya yang terlihat sangat cemas dan gelisah.


"Nanti siang aku akan pergi ke rumah Nicho untuk bertemu Mom Sonya dan yang lainnya." Ucap Cindy. Memang sejak 2 hati lalu Cindy sudah mengatakan hal itu pada Barra sampai terus mengirimkan chat padanya berulang kali saat di tengah babymoon bersama Yuna.


"Bagaimana kalau mereka menyentuh perutku dan tau ada yang berbeda."


"Aku tidak mau mereka tau kehamilanku palsu." Wajah Cindy begitu sendu.


"Mereka pasti akan membenciku kalau sampai itu terjadi." Ungkapnya dengan rasa takut yang menyelimuti.


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi, jangan khawatir., semuanya akan baik-baik saja." Barra memutar tubuh Cindy dan memberikan kecupan lembut di bibirnya.


"Aku harus ke kantor, jangan lupa nanti di antar oleh supir. Kalau kamu pergi sendiri, Mom kan curiga." Usapan lembut mendarat di pucuk kepala Cindy.


"Pulang dari kantor aku akan datang ke sana."


Cindy mengangguk patuh.


"Aku ingin membawa hasil USG nya dan menunjukkan pada Mom Sonya, dia pasti ingin melihat wajah tampan cucunya yang lebih jelas." Tutur Cindy.


"Ya,, bawa saja. Aku simpan di nakas."


"Kalau begitu aku berangkat dulu." Barra pamit dan keluar dari kamar di antar oleh Cindy.


...*****...


Kedatangan Cindy di rumah Nicho di sambut hangat oleh Sisil. Dia mengusap perut Cindy sembari mengulas senyum.


Hubungan Cindy dan adik iparnya kembali membaik, meski sebenarnya tidak ada masalah yang berarti di antara mereka. Hanya saja Cindy memang sempat berperilaku buruk di depan keluarga Barra untuk membuat mereka membencinya. Berharap saat itu kedua orang tua Barra akan menyuruh Barra menceraikannya. Tapi nyatanya sia-sia. Kini setelah Barra menikah lagi dan dia bisa pura-pura hamil, keadaan kembali seperti dulu.


Cindy memang selalu bersyukur, dia dikelilingi dengan orang-orang yang baik. Tak hanya suami yang begitu mencintainya dan menerima dia apa adanya meski tidak bisa mempunyai anak, serta kedua mertuanya yang juga masih baik padanya meski lama tak kunjung hamil.


Kini setelah mengetahui dirinya tengah hamil, mereka semakin bertambah baik padanya.


Sisil mengusap perut Cindy.


"Aku ikut bahagia dengan kehamilan kak Cindy, akhirnya yang kalian tunggu - tunggu akan hadir ke dunia." Ucap Sisil penuh haru. Dia senang karna Oppa dan kakak iparnya juga akan segera memiliki anak.


"Makasih,, ayo masuk. Aku belum bertemu Mommy dan keluarga suamimu,," Ajak Cindy. Sisil mengangguk dan membawa Cindy masuk kedalam.


Cindy menyapa Mommy Sonya, Mama Risa dan Jeje. Dia juga sempat menatap gemas pada Zayn yang baru berusia 1 tahun. Bayi tampan itu begitu menggemaskan di mata Cindy. Sejak dulu dia memang menginginkan anak laki-laki, terlebih Barra. Dulu setiap kali berpergian, Barra selalu mengamati jika ada seorang ayah yang sedang bermain dengan anak laki-lakinya.


Cindy duduk di samping Mommy Sonya setelah menyapa Jeje dan Zayn. Begitu duduk, perutnya langsung di usap oleh Mommy Sonya. Matanya berbinar, tentu saja dia sangat bahagia dengan kehamilan menantunya.


Usapan tangan Mommy Sonya membuat Cindy ketakutan.

__ADS_1


"Aku bawa hasil USG babynya, apa mommy mau lihat.? Yang ini lebih jelas, tidak seperti bulan lalu"


Ujar Cindy penuh semangat. Dia juga berusaha mengalihkan perhatian Mommy Sonya agar tidak terus-terusan memegangi perutnya.


"Oh ya, mana.?" Mommy Sonya sangat antusias.


"Apa jenis kelaminnya sudah ketahuan.?" Tanyanya lagi. Cindy mengangguk cepat.


Cindy membuka tas, mengambil foto USG baby boy dan menyodorkannya pada Mommy Sonya.


"Coba tebak, menurut Mom dia boy atau girl.?" Seru Cindy.


Semua orang tampak penasaran hingga ikut mendekat, termasuk Sisil dan Jeje.


Mommy Sonya menatap lekat gambar di tangannya. Hidung mancung cucunya sangat mirip dengan Barra.


"Mom, aku juga kau lihat." Sisil duduk di sisi kanan mommy Sonya dan merebut hasil USG dari tangannya.


"Kamu ini." Mommy Sonya hanya bisa menghela nafas melihat ulah putrinya.


"Ya ampun gemas sekali, kenapa mirip dengan my baby boy." Serunya.


"Jangan-jangan dia juga baby boy.?" Tebak Sisil.


Semua mata tertuju pada Cindy, menunggu jawaban yang pasti dari mulutnya.


Cindy langsung menganggukan kepala.


"Iya benar, dia baby boy." Jawabnya.


"Wahh,,, dua cucu Mommy jagoan semua." Seru Sisil.


"Dua.? Apa Zayn tidak di anggap cucu sama Mommy Sonya.?" Jeje juga ingin Zayn di akui sebagai cucu oleh Mama mertua sang kakak.


"Ya ampun Je, Zayn sudah punya 2 grandma. Jangan rakus,," Celetuk Sisil sembari meledek.


"Mama,, lihat menantumu itu." Jeje mengadu pada Mama Risa yang sejak tadi asik menyimak obrolan semua orang.


"Kak Sisil memang cocok dengan kak Nicho, sama - sama menyebalkan." Dia balas meledek. Dsn terjadilah perdebatan di antara mereka hingga membuat Cindy tertawa geli melihat tingkah keduanya yang seperti anak kecil.


Padahal yang satu sudah memiliki dan satu lagi akan memiliki anak kecil sebentar lagi.


"Sudah-sudah,, Kalian berdua kerjaannya hanya berdebat setiap hari." Mama Rissa melerainya. Terkadang perdebatan mereka memang membuat rumah jadi hidup, tapi terkadang membuat kegaduhan.


...*****...


Sore itu mereka sedang berada di taman. Cindy memilih duduk dan melihat interaksi Sisil dan Mommy Sonya yang sedang bermain dengan Zayn. Jeje dan Mama Rissa sedang sibuk di dapur, membantu pekerja rumah untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Hari ini semua orang akan berkumpul dan makan malam bersama. Mereka sedang menunggu 4 laki-laki yang sejak pagi berada di kantor.


Papa Alex dan Daddy Hendra, serta Barra dan Nicho.


"Kak Cindy ayo masuk, sudah gelap." Ajak Sisil. Dia berjalan bersama Mommy Sonya yang menggendong Zayn.


"Ayo sayang, duduk di dalam saja." Mommy Sonya juga ikut menyuruh Cindy untuk masuk, namun Cindy menolak karna masih ingin duduk di sana.


Tak berselang lama setelah kepergian Mommy Sonya dan Sisil, kedua tangan besar merangkul pundaknya dari belakang. Warna jas dan aroma parfum itu langsung membuat Cindy bisa menebak jika itu tangan Barra. Dan tidak akan ada yang berani berbuat seperti itu kecuali suaminya.


"Kamu sudah pulang,," Ucap Cindy sembari menengok kebelakang. Senyum lebar Barra Membuatnya teduh.


"Hmm."


"Sedang apa disini.? Ayo masuk." Barra berjalan memutar. Menggandeng tangan Cindy dan mengajaknya beranjak dari taman.


Cindy tiba-tiba memeluknya, tubuhnya bergetar seperti sedang menangis.


"Sayang, kamu kenapa.?" Barra seketika panik, berusaha untuk melihat wajah Cindy namun Cindy malah membenamkan wajah di dadanya.


"Aku sudah memberikan kebahagiaan palsu pada meraka, bagaimana kalau suatu saat mereka tau bahwa baby boy bukan anak kandungku." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Kenapa harus memikirkan hal itu, Yuna sudah bersedia memberikan baby boy untukmu. Dia akan menjadi anakmu sayang." Ucap Barra menenangkan.


Cindy mulai mengangkat wajah dan menatap Barra.


"Apa dia tidak keberatan membiarkan baby boy menjadi anakku.?"


"Tapi bagaimana jika suatu saat dia juga ingin mengasuh baby boy.?" Tanya Cindy. Dia bisa membayangkan perasaan Yuna jika harus berpisah dengan baby boy, sekalipun masih bisa bertemu, tapi tidak akan setiap hari melihatnya.


"Aku akan pikirkan itu nanti, sudah jangan khawatirkan hal ini lagi." Barra mengusap air mata Cindy dan menggandengnya untuk masuk.


"Sisil,,! Sedang apa kau disitu." Teriak Jeje membuat Barra dan Cindy menoleh ke belakang. Sisi tengah berdiri di dekat pintu yang tadi mereka masuki.


"Tentu saja mau mencari jam tanganku yang hilang," Jawab Sisil cepat. Dia langsung beranjak keluar ke taman belakang.


"Tapi ini jam tanganmu,,!" Jeje berteriak sembari mengejar Sisil.


"Aku menemukannya di bawah meja." Serunya lagi.


Cindy hanya bisa menggelengkan kepala melihat mereka berdua.


"Mereka lucu sekali. Masih sangat belia tapi sudah memiliki anak, satu lagi akan memiliki anak." Gumamnya.


"Tapi aku iri pada mereka." Dia menatap perutnya. Bukan anak, melainkan bantal di dalamnya.


"Ayolah Cindy, aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Lagipula sebentar lagi kamu juga akan menggendong seorang anak." Tutur Barra. Dia merangkul Cindy dan membawa ke ruang keluarga.

__ADS_1


__ADS_2