
Nadia menangis, terduduk di kursi sofa berwarna coklat di ruang tamu. Ruang tamu yang dicat berwarna putih telah diisi oleh beberapa orang. Di sebelah kanan Nadia, duduk sepasang suami istri dewasa. Mereka adalah orang tua Nadia.
Ayah dan ibu Nadia terdiam. Wajah mereka berdua seakan bingung dengan kondisi saat itu.
Di seberang Nadia, dipisahkan oleh meja sofa yang berbentuk persegi panjang, duduk dengan santai seorang lelaki yang berusia sekitar 33 tahun. Kedua kaki bersilang. Paha kanan menimpa paha kiri yang berada di bawah. Paha kiri menjadi tumpuan. Kedua tangan berada di lengan sofa. Punggung lelaki itu tegak, bersandar di kursi sofa.
"Aku tak tau harus gimana lagi, Mas? Aku capek dengan semua ini..."
Wanita yang memiliki rambut lurus dan panjang, berpakaian sederhana, meracau dibarengi dengan suara isakan.
"Kamu capek karena dirimu sendiri!"
Lelaki itu menjawab dengan ketus. Sikap lelaki itu masih santai. Tubuh rampingnya tak bergerak, walau seinchipun, masih di posisi seperti awal. Hanya kedua mata yang besar, semakin membesar sembari mengucapkan kalimat itu.
"Aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Tapi kamu tidak pernah berubah, Mas?"
Kini Nadia memandang lelaki yang berada tak jauh di depan. Dia berusaha mengusap air mata yang jatuh di pipi. Wajah putihnya terlihat penuh beban.
"Kamu pikir aku juga tidak capek dengan prilakumu yang terus menerus menguntit kegiatanku. Aku juga capek menjelaskan semuanya berulang - ulang. Permasalahan hanya berputar seperti lingkaran setan!"
Kedua bola mata lelaki itu membesar kembali. Wajah yang kuning langsat, memerah.
"Seharusnya... kamu... Arkan, lebih menjaga perasaan istrimu."
Wanita setengah baya yang duduk di samping Nadia, sekarang berbicara.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Biarkan hanya kami yang berbicara. Papa dan Mama cukup mendengarkan." Nadia menyela.
Dia berusaha untuk berbicara dengan lembut walaupun masih terdengar suara isak tangis dari mulutnya.
Arkan hanya melihat wanita yang duduk disebelah suaminya. Dia tak ingin mengeluarkan kata - kata yang nanti akan menyakiti hati ibu mertua.
"Seandainya aku bisa memaparkan semua dan membuat mengerti keadaanku. Oh...Tuhan."
"Kamu mau pulang atau tidak? Setelah kakiku keluar dari rumah ini, kamu harus pulang sendirian tanpa aku jemput. Aku beri waktu 3 hari untukmu beristirahat di sini."
Arkan segera berdiri. Dia terdiam beberapa detik, melihat reaksi istri yang duduk beberapa jengkal di hadapannya.
Nadia terdiam.
"Oke! Aku beri waktu kamu 3 hari untuk berpikir! Silahkan kembali setelah otakmu merasa jernih!"
Arkan seakan memanas, setelah menunggu beberapa detik jawaban dari Nadia.
Dia bergerak beberapa langkah menuju ke depan. Menyalami kedua mertuanya.
"Maaf Ma, Pa. Ini harus terjadi. Arkan pulang lebih dahulu. Biarkan Nadia di sini, sampai pikirannya jernih," jelas Arkan.
Dia berbicara dengan suara pelan. Kemudian lelaki itu menyalami dan mencium tangan mereka berdua.
Arkan mundur ke belakang beberapa langkah, lalu membalikkan badan. Sopan. Kemudian berjalan beberapa langkah dengan tenang, berusaha keluar dari tengah barisan sofa di ruang tamu.
__ADS_1
"Jadi, kamu lebih memilih lelaki itu daripada aku, istrimu ini!"
Nadia berteriak dengan lantang.
Arkan berbalik.
"Aku capek Nad... capek dengan pembahasan yang berulang - ulang. Pikiranmu tidak akan bisa dimasuki jika kamu masih mendengar omongan orang dan rasa cemburu membuat pikiranmu semakin tidak jernih."
Lelaki itu berbicara dengan pelan. Wajahnya terlihat sedih. Tak ada sikap santai lagi dari gayanya berdiri. Memang terlihat sikap yang capek menghadapi istrinya. Lalu, lelaki yang memakai kemeja putih berlengan panjang dengan bawahan hitam, berbalik menuju pintu keluar.
"Mirna, jaga Fariz dengan baik selama berada di sini."
Beberapa langkah di depan, dia berpas - pasan dengan Baby Sitter-nya yang berdiri di pangkal anak tangga menuju ke lantai dua. Dia sudah melihat anak laki - laki yang berumur 1 tahun sedang tertidur lelap, sebelum mereka ber empat berbicara.
"Iya pak."
Baby Sitter yang bernama Mirna sedikit menundukkan kepala.
Arkan melangkah menuju pintu keluar dengan pasti dan berbelok ke kanan.
"Kurang ajar. Dia masih bersikap sok jagoan saat ini. Lihat saja, aku akan memberikan bukti yang cukup untuk membuka aibmu."
Nadia menggeram di dalam hati.
***
__ADS_1