Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Mampir


__ADS_3

"Hai...."


Arkan menyembulkan kepalanya dari dalam mobil melalui kaca jendela, keluar.


Nadia terkejut. Langkahnya terhenti.


"Bu dokter mau kemana?"


Arkan melihat ke arah gadis yang di tegur, berjalan di lapangan parkir.


"Eh... Pak Dokter. Saya mau pulang."


"Panggil saja dengan Nama Arkan. Ditambah kata Mas juga boleh."


Arkan masih tetap berbicara dari balik jendela mobil yang terbuka lebar.


"Mau diantar pulang?"


"Ah... tidak. Saya bawa mobil sendiri."


Nadia sepertinya salah tingkah ketika mendengar kata itu.


"Oke. Saya duluan ya?


"Oke, Pak Dokter."


"Mas... seharusnya kata itu yang aku sebutkan."


"Sampai ketemu lagi."


Arkan melemparkan senyum di bibirnya yang tebal dan sensual. Dia melajukan mobil Mercy Hitam perlahan, keluar dari lapangan RSUD dr. Moewardi.


Nadia serasa ingin meloncat pada saat itu, tapi... tentu saja dia menahannya. Ini adalah kejadian yang tidak diduga. 3 hari yang lalu dia berharap bertemu dengan dokter spesialis anak untuk mengantarkan hasil tes darah keponakannya, eh... tidak, lebih tepat untuk melihat senyum pria itu tapi tak tersampaikan, namun hari ini secara tiba - tiba dokter yang memiliki paras sedikit ke arah Timur Tengah menyapa dan memberikan senyum terbaiknya.


Ah...


Nadia meneruskan jalan di lapangan parkir menuju mobilnya. Dia berusaha mencari kunci mobil di dalam tas kecil berwarna abu - abu yang disandang. Dia merogoh tas secara terburu - buru dan kunci itupun terjatuh di lapangan parkir yang ditutupi oleh icon block. Gadis yang memakai baju kemeja berbahan setengah sutra berwarna merah maron, sedikit berjongkok dan mengambil kunci mobil yang terjatuh.


Nadia tersenyum sendiri. Dia membayangkan dr. Arkan yang tiba - tiba datang dan mengambil kunci mobil yang terjatuh. Tangannya dan tangan dokter Arkan bersentuhan dan mereka bertatapan, lalu perlahan  - lahan naik ke atas untuk berdiri secara bersamaan. Mereka bertatapan di tengah lapangan parkir. Nadia melihat senyum pria tampan itu.


"Aaaaaargh..."


Akhirnya Nadia menjerit dan beberapa kali kakinya menghentak - hentak di lantai terbuat dari icon block seperti kuda betina yang sedang kasmaran.

__ADS_1


"Astaghfirullah... apa yang aku pikirkan."


Gadis yang memakai bawahan rok panjang berbahan berwarna hitam segera melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di sudut areal lapangan. Dia tersenyum menahan jantungnya yang berdetak sedikit tidak normal.


***


Nadia mengangkat panggilan telepon yang melantunkan lagu "Apa kabar sayang" dari Armada. Gadis yang sedang membersihkan riasannya di kamar tidur tertegun sebentar melihat ke layar handphone.


dr. Dingin. Kata itu terlihat di layar.


"Dokter Arkan? Ada apa dia nelpon?" bisik Nadia.


Dia berusaha menarik menu berwarna hijau di layar dengan perlahan tapi... handphone itu terjatuh.


"Ah...."


Dengan cepat dia kembali memungut benda yang sedang berdendang dan menggeser menu berwarna hijau.


"Hallo..."


"Hallo, dengan Bu dokter Nadia, khan?"


Terdengar suara yang berat tapi seksi di ujung telepon.


Kening Nadia berkerut. Gadis itu menatap dirinya sendiri di cermin, dia menggosokkan kapas pembersih di pipinya.


"Oh... saya cuma mau mengabarkan tentang ponakan bu dokter. Ternyata setelah saya diagnosa dan dari hasil tes darah, dia hanya demam biasa."


"Ouh... gitu ya, pak dokter."


Nadia menggosokkan kapas pembersih di pipinya.


"Ya... saya kemarin menduga dia terkena Meningitis karena itulah saya menyuruh untuk tes darah."


"Iya, Dok. Kemarin saya juga menduga seperti itu makanya saya bawa ke dokter spesialis anak."


Kapas pembersih sekarang bergerak ke dagu.


"Gimana kabar, Rafi?"


"Wah... dia mengingat nama pasiennya!. Dan pasien itu adalah keponakanku!" jerit Nadia dalam hati. Entah mengapa dia harus girang mendengar hal ini. Kapas pembersih langsung dilemparkan ke meja rias.


"Baik, dok. Demamnya sudah mulai turun."

__ADS_1


Nadia berusah menstabilkan suaranya. Dia tersenyum genit di depan cermin. Kini dia memegang pipinya sebelah kiri.


"Bu dokter tinggal dimana?"


"Saya tinggal di Jalan Veteran. Kenapa, pak dokter?"


Nadia memandang wajahnya yang datar di depan cermin


"Ah... tidak. Kali saja saya lewat di jalan itu dan bisa mampir, kapan - kapan?"


Deg.


"Mampir." 


Nadia terdiam. Tenggorokannya seakan tersekat dan tak bisa mengeluarkan kata - kata.


"Hallo..."


Suara dokter spesialis anak yang ada di balik telepon seakan mengecek apakah masih ada lawan bicaranya. Dia mengeluarkan kata itu dengan suara lembut.


"Ah... iya... hallo...."


"Okelah kalau begitu, bu dokter. Sepertinya anda sibuk."


"Tidaaak... aku tidak sibuk." 


Nadia mendelikkan matanya di depan cermin.


"Sudah dulu ya. Selamat malam."


Arkan menutup pembicaraan dengan suara yang lembut dan mendayu.


"Se... lamat malam...."


Nadia mengucapkan kalimat itu dengan pelan dan terbata. Wajah kecewa teraptri. Dia masih menempelkan alat elektronik di telinga walaupun lawan bicaranya sudah tak ada lagi di ujung sambungan telepon.


"Dia ingin mampir ke rumah. Benarkah itu? Ah... tidak... semua laki - laki sama. Hanya memberi harapan palsu."


Nadia bangkit dari duduknya, menuju tempat tidur yang sederhana. Dia membuka selimut yang berwarna putih dan berusaha untuk memasukkan seluruh tubuhnya dibalik selimut itu. Berbaring menghadap ke kanan.


"Selamat malam, dr. Arkan. Ah...." 


Gadis yang mengikatkan rambutnya yang panjang, tersenyum simpul di dalam kamar tidur yang berukuran 8 x 5 meter itu.

__ADS_1


***


__ADS_2