
Kedua gadis memakai baju dinas putih bercerita di meja cafetaria dengan ceria. Mereka cekikikan. Makanan dan minuman yang mereka pesan sudah dilahap sampai tak bersisa.
"Terkadang, aku membayangkan kehidupan rumah tangga yang sempurna. Suami yang ganteng, mapan, dapat mertua yang baik dan punya anak yang lucu - lucu. Ah..., sangat indah, Tis."
Nadia bercerita dengan penuh semangat sambil memegang tangan teman yang ada di hadapannya.
"Pacar aja belum punya, udah mikirnya kemana - mana," seru gadis yang di hadapan Nadia. Jarak mereka terhalang dengan meja yang terbuat dari kayu.
"Idih... nanti juga bakal ketemu kok, aku mah santai aja."
"Yakin kamu dalam keadaan santai saat ini?"
"Huhuhu... tidak Bu..., umurku sudah 25 dan aku belum menemukan jodohku."
Nadia berpura - pura menangis dan berpura - pura menghapus air mata yang tidak ada sama sekali. Dia membuat mimik wajah mewek.
Teman yang di depannya tertawa.
"Seorang Tisna dong ya, yang lagi naik daun sekarang ini, punya pacar pengacara dan beberapa bulan lagi akan menikah."
Nadia berseru dan berusaha memuji temannya itu.
Gadis yang disebut Nadia bernama Tisna, hanya tersenyum. Dia menyeruput gelas yang sudah kosong. Mungkin gadis itu salah tingkah karena ucapan Nadia.
"Kamu, kenapa sih belum pacaran sampai sekarang?" tanya Tisna.
__ADS_1
"Apa ya? Pertama mungkin karena aku sibuk. Kedua belum ada pangeran yang hadir secara jantan mendatangi ayah dan ibuku untuk melamar."
"What?... apa ada zaman sekarang lelaki yang langsung mau ngelamar perempuan yang belum dia kenal? Imposible."
Tisnamembelalakkan kedua bola mata. Maskara di matanya seakan ingin berontak keluar.
"Hmmm... gimana ya? Aku yakin sih itu bakal terjadi."
Nadia mengatakan kalimat itu sembari mengambil benda di dalam tas dan tangannya langsung membuka benda itu di depan wajah. Dia berkaca. Dia memeriksa gigi, apakah masih ada sisa makanan yang tertinggal. Kemudian dia memeriksa lipstik yang tertempel di bibirnya yang menawan.
"Serah lu dah."
Tisna mengambil tisu dan menempelkan ke hidung yang berkeringat.
"Aku yakin kok bakal mendapatkan pria yang aku idamkan. Mapan, cakep, kehidupan rumah tangga yang sempurna," nyata Nadia. Gadis itu tersenyum kecil.
"Mungkin tidak persis seperti itu tapi... mendekati."
"Ho - oh."
"Kenapa?"
"Nad, kata ibuku, kehidupan berumah tangga tidak seindah yang kita bayangkan. Banyak cobaan di 5 tahun pertama dari masing - masing pasangan, setelah itu, 5 tahun berikutnya akan banyak cobaan dari keluarga di sekeliling kita."
Kini Tisna yang berkaca dengan benda kepunyaan Nadia. Gadis itu merebut benda berwarna coklat muda dari tangan kanan temannya beberapa detik lalu.
__ADS_1
"Trus... ngapain kita berumah tangga kalau dikasi cobaan melulu?"
"Tau' dah gua," jawab Tisna cuek.
"Tapi kata dosen reproduksiku, kawin itu cuma 5 % yang enak."
Tisna terpaku. Mulutnya sedikit terbuka menghadap cermin kecil berbentuk lingkaran di depan.
"Lah... 95 persennya enggak ada enaknya?
Kedua matanya yang kecil berusaha dibesarkan.
"95 persen lagi... enaaaak... tenan."
Nadia tertawa cekikikan.
"Hadeh... sangat tidak lucu."
Tapi Tisna tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.
Nadia dan Tisna sudah lama berteman semenjak mereka kerja di RS dr. Moewardi, sekitar 2 tahun yang lalu. Walaupun mereka berbeda profesi, Tisna sebagai perawat sedangkan Nadia sebagai dokter umum, pertemanan mereka tidak terhalang oleh hal itu.
Mereka sering menghabiskan waktu berdua di jam makan siang, seperti sekarang ini. Curhat mengenai masalah pribadi atau hanya sekedar bercerita kecil masalah pekerjaan dan bercanda ria.
Tisna akan menikah beberapa bulan lagi. Dia siap untuk dipinang oleh seorang pengacara berasal dari Jakarta.
__ADS_1
Sedangkan Nadia, sampai sekarang jodohnyapun belum jelas, jangankan untuk dipinang, lelaki yang dekat dengannya juga belum ada. Sepertinya harapan itu terlalu jauh.
***