
Terdengar suara beberapa ketukan dari laptop di depan meja praktek. Laptop itu seakan tersiksa dengan ketukan jari yang cepat dan terlalu kasar. Jari - jari tangan yang bergerak dengan lincah mengetik sesuatu di laptop dan...terakhir menekan tombol enter dengan mengangkat tangan perlahan tapi jari telunjuk menekan tombol itu dengan ketukan keras pada akhirnya.
Tuk.
Nadia tampak kesal di balik meja praktek. Sudah 3 hari dokter spesialis itu tidak menghubunginya. Itu yang membuatnya kesal. Pertama kali dia datang ke rumah, - di sore Minggu- Nadia tak terlalu banyak berbicara karena ibunya yang menguasai waktu pada saat itu. Dari pertama datang sampai dokter spesialis bernama Arkan itu pulang, selama 2 jam ibunya ikut nimbrung ke dalam pembicaraan mereka. Nadia tak bisa berbuat banyak walaupun dia merasa sangat kesal pada saat itu.
"Tapi... ya... sudahlah...," pikirnya.
Gadis yang memakai baju praktek berwarna putih bangkit dari duduknya. Bergerak perlahan ke lemari buku. Dia mengambil sebuah buku, membuka buku tersebut sambil berdiri. Perasaannya sedikit bingung. Itu yang dirasakannya saat ini.
Tok... tok....
Nadia menoleh.
"Ya...."
Seorang perawat membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Sudah tidak ada pasien lagi, Bu Dokter. Antrian sudah habis."
Perawat itu tersenyum cengengesan.
"Oh...."
"Apa kita keluar untuk mencari cemilan di sore hari ini, Bu Dokter?" tanya perawat yang bersanggul kecil di kepalanya, dengan gerak gerik manja dan masih cengengesan. Lebih tepatnya pecicilan.
"Aku pengen minum kopi latte dan makan pisang goreng."
Nadia menghampiri kursi dan menghempaskan pantatnya. Dia seakan malas untuk berbicara. Punggunya menempel di kurus kerja yang empuk.
__ADS_1
"Ada apa, Nad?" tanya perawat yang berparas dewasa. Dia tak memanggil Nadia dengan kata Bu Dokter, lagi. Wajahnya serius bercampur penasaran.
"Aku kita keluar, cari makanan yang kamu mau."
"Aku tak ingin keluar, Tis. Hatiku galau...," seru Nadia.
"Wow... menarik nih. Sebentar, aku panggil OB untuk membeli makanan dan minuman kita."
Perawat yang adalah Tisna kembali bertingkah pecicilan.
Tisna berlari kecil menuju telepon di meja Nadia, mengangkat gagang telepon, lalu menekan satu nomor dengan satu jari telunjuk dengan lentikan yang lembut.
"Ya. Tolong Pak Rudi suruh ke kantor bu Nadia. Oke...," serunya lembut dan manja. Kepalanya sedikit menggelayut ketika meletakkan gagang telepon ke wadahnya.
"Oke... aku siap mendengarkan...."
Tisna duduk di kursi pasien yang berwarna biru. Dia menyilangkan kakinya. Lalu meletakkan kedua tangannya yang juga bersilang di atas lutut kanan. Dia bergaya bak pendengar profesional yang akan mendengarkan seorang pendongeng. Kedua matanya berkedip - kedip menatap Nadia yang telah lama menjadi sahabatnya.
"Aku harus gimana, Tis...? Sepertinya aku jatuh cinta dengannya...."
Nadia menidurkan setengah badannya ke meja praktek. Tangan kiri menahan kepalanya berbenturan langsung dengan kaca hitam yang ada di meja praktek sebagai alas. Pantatnya masih berada di kursi kerja. Nada bicaranya seperti orang mabuk.
"Kalau perkiraanku, dia juga suka denganmu."
Tisna menimpali pertanyaan Nadia.
"Benarkah...!"
Tisna terkejut karena temannya tiba - tiba bangkit dari tidurnya, memandang dirinya dan memperlihatkankan kedua mata yang sangat berbinar.
__ADS_1
"Mengapa gadis ini tingkahnya seperti pelajar SMA?"
Dari setengah jam yang lalu, Nadia bercerita tentang dr. Arkan dengan gelagat yang sangat berbeda. Dia seperti Anak Baru Gede.
"Ya. Menurutku dia suka denganmu. Kalau dia tidak suka, ngapain dokter muda itu datang ke rumahmu?"
Tisna memberikan pendapat dengan sungguh - sungguh.
"Hmm... tapi mengapa dia tidak menghubungiku dalam 3 hari ini...."
Nadia kembali meringkuk ke meja dengan nada bicara melemah mengiringi gerakan tubuhnya.
"Ambil sisi baiknya, kamu kan ingin bertemu dengan pangeran seperti di drama korea. Pangeran yang berani datang ke rumahmu dan bertemu dengan orang tamu. Dan sekarang sudah terwujud," tandas Tisna menyemangati Nadia. Dia berbicara dengan penuh semangat sampai badan dan wajahnya dimajukan sedikit ke depan.
Nadia bangkit dari ringkukannya.
"Ya... karena dia bersikap seperti itulah aku jadi tidak bisa tidur dengan tenang."
Gadis itu seakan sedikit meracau dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Sampai segitunya?"
"Ya...."
Nadia memajukan badannya ke depan, mengambil secangkir kopi yang sudah ada di meja praktek, diantar Pak Rudi dari 15 menit yang lalu.
"Hei...! Itu Punyaku. Bu Dokter benar-benar mabuk kepayang sekarang ini...!
Bentak Tisna tapi dalam bentuk kasih sayang, bukan amarah.
__ADS_1
***