Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Janji


__ADS_3

"Bagaimana dengan, Fandi?"


"Apa tuh yang bagaimana?"


"Fandi sangat dekat dengan Mas Arkan. Apa dia tidak kangen dengan ayahnya?"


Nadia mengambil potongan Sushi dengan garpu. Dia menyucuk ujung garpu ke satu sushi yang terlihat menggugah selera.


"Dari kecil, Fandi sudah tinggal bersama kami. Abang iparku, Ayah Fandi... kerja melaut. Tempat dia bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia. Jadi kakakku dan Fandi sering ditinggal. Setahun sekali ayah Fandi baru pulang. Jadi... dia tidak terlalu dekat dengan ayahnya."


Arkan menyeruput minuman Strawberry Shake yang ada dihadapannya.


"Kasian dia ya, Mas. Masih kecil sudah ditinggal ibunya."


Nadia berseru pelan. Memang terlihat kesedihan di wajah Nadia ketika mengatakan itu.


"Ya. Aku berusaha untuk memberikan kasih sayang lebih kepada Fandi. Agar nanti... ketika besar... dia tidak minder. Aku berusaha menjadi ibu dan ayah baginya."


Arkan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Karena itulah Nad, aku menjelaskan dari sekarang, posisi aku di keluarga saat ini. Menjelaskan semuanya ke kamu, agar kamu mengerti nantinya."


Arkan berbicara dengan sungguh-sungguh.


Nadia terdiam. Dia tidak menjawab karena dia bingung harus berbicara apa. Saat ini hubungan dia dan Arkan belum jelas. Belum ada pernyataan yang resmi dari mulut lelaki yang berada di hadapannya, pernyataan bahwa mereka telah resmi pacaran. Tapi... lelaki yang memakai baju kemeja biru, memperlakukan dirinya seperti pacar beberapa bulan terakhir ini.

__ADS_1


"Fandi sangat membutuhkan aku, Nad. Dan aku akan mengutamakan dia lebih dahulu dari yang lain. Karena dia masih kecil dan anak piatu. Hatinya sangat rapuh."


"Aku setuju kalau masalah itu, Mas. Secara psikologi, dia merasa dirinya kesepian dan mempertanyakan takdir yang dijalaninya saat ini. Karena itulah... kita memang harus menjaga perasaannya dengan baik."


Nadia berusaha menikmati makanan yang ada di meja. Dia menggunakan sendok dan garpu yang diminta Arkan kepada pelayan 15 menit yang lalu.


"Umi juga orang yang harus aku utamakan, Nad. Dia seorang diri sekarang ini. Aku tak akan bisa meninggalkannya. Aku akan terus bersamanya, disampingnya, sampai takdirnya di dunia ini berakhir."


Lelaki itu terlihat sedih ketika mengatakan kalimat yang sangat menyentuh.


Nadia menghentikan makannya. Dia menatap lekat ke arah Arkan. Nadia bisa melihat bahwa lelaki yang akan diharapkan menjadi pasangan hidupnya saat ini adalah anak yang sangat berbakti. Dia rela meninggalkan orang yang ditunangkan keluarga untuknya. Ketika ibunya memerintahkan untuk memutuskan hubungan dengan tunangan itu, dia bersedia. Padahal, rasa cinta lelaki itu sudah tumbuh kepada gadis pilihan orang tua. Dua tahun merupakan waktu yang cukup untuk dekat dan saling mengenal. Ketika sudah mengenal satu sama lain dengan baik, keluarganya memerintahkan lelaki itu untuk memutuskan pertunangan. Nadia mendapatkan semua cerita itu dari Umi Arkan. Dan Nadia sangat tersentuh ketika mendengar kisah pahit Arkan. Itu adalah salah satu contoh baktinya kepada orang tua. Dia rela mengorbankan diri dan cintanya.


Nadia juga tak ingin merebut hidup Arkan seutuhnya ketika menikah nanti. Itu janji di dalam dirinya. Dia akan tetap menjadi istri dan menantu yang baik untuk ibu Arkan. Gadis ini juga berjanji untuk menjadi Bunda yang baik untuk Fandi. Janji juga disematkan di dalam hati untuk menjadi teman yang baik bagi teman-teman Arkan. Jika Arkan memang bersungguh-sungguh akan melamarnya. Menjadikannya istri. Dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada dirinya.


Saat ini, Nadia seakan melihat sesosok manusia yang sangat sempurna. Hati lelaki di hadapannya seperti Dewa. Sedangkan fisiknya sempurna seperti seorang malaikat. Nadia tak sanggup, jika mereka berumah tangga nanti, apakah dia bisa mengimbangi irama kehidupan dari lelaki ini. Pasti dia akan cemburu jika banyak wanita yang meliriknya. Dia juga akan cemburu dengan kepintaran lelaki ini karena banyak orang yang akan memujinya. Sempurna. Fisik. Mental. Karakter. Sepertinya seluruhnya ada di lelaki ini.


Nadia berusaha untuk menstabilkan hatinya. Dia tak pernah merasakan rasa ini sebelumnya. Tak pernah sama sekali. Dibandingkan dengan Mas Amrun --Nadia pernah bertemu di rumahnya karena mengunjungi Riana dan tak sengaja bertatapan-- pesona lelaki ini sangat besar dan menggoda. Ditambah lagi kedipan mata yang mendarat secara tiba-tiba.


"Ya... Tuhan... benarkah dia yang akan menjadi pendamping hidupku kelak...? aku berharap... aku sangat berharap...."


"Gimana kabar, Mama dan Bapak?"


Tiba-tiba Arkan bertanya sembari mencolekkan sushi ke mangkok saos kecil berwarna putih.


"Baik... keduanya baik. Ada apa, Mas?" tanya Nadia. Dia sudah berhenti menikmati makanan yang baru pertama sekali dicobanya.

__ADS_1


"Malam minggu depan, aku pengen ngobrol dengan Mama dan Bapak di rumah kamu."


Arkan tak menatap Nadia. Dia sengaja tak memandang wajah gadis di hadapannya. Dia tahu bahwa gadis itu sedang memasang wajah penasaran.


"Ngobrol? Tentang apa?"


Nadia mengerutkan dahinya. Dan benar. Tebakan Arkan sangat tepat mengenai raut wajah gadis ini.


Arkan sengaja menyibukkan dirinya. Dia mengambil tisu kain yang ada di atas meja. Mengelap mulutnya dengan perlahan. Menarik gelas yang berisi cairan berwarna merah muda dan menyeruput dengan santai. Matanya sedikit dikerlingkan ke arah Nadia ketika menikmati minuman itu. Arkan merasa geli melihat ekspresi wajah Nadia saat ini.


Nadia menunggu jawaban dari Arkan dengan sabar. Wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


"Sesuatu hal yang penting... tentang hubungan kita."


"Apa...?"


Jantung Nadia berdegup dengan kencang. Dia bertanya dengan nada lembut dan penasaran.


Arkan terdiam. Dia sedikit menunduk.


"Nad... aku mau ke toilet dulu. Udah ndak tahan."


Lelaki yang memiliki kulit putih bersih, langsung berdiri. Dia tak perduli dengan ekspresi gadis yang di hadapannya saat ini. Dia merasa menang telah mempermainkan hatinya. Dia berbalik dan sedikit menahan tawa.


"Cepet, Mas. Aku menunggu...."

__ADS_1


Hanya kalimat itu yang bisa dilontarkan Nadia. Padahal hatinya ingin melemparkan mangkok saos kecil berwarna putih ke arah punggung lelaki tampan yang sudah berlalu menjauhinya.


****


__ADS_2