Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Piatu


__ADS_3

Ketika Nadia dan Arkan sampai di rumah, pada saat itu sudah jam makan siang. Dan dengan berat hati serta rasa segan, Nadia ikut berada di meja makan saat ini.


Arkan sengaja meminta asisten rumah tangga untuk memasak yang spesial hari ini. Lelaki itu juga sengaja menjemput Nadia agak siang dan membawa ke rumah pada saat jam makan siang.


Di meja makan sudah duduk ke tiga orang termasuk Nadia. Ada beberapa menu makananan. Sayur sop kesukaan umimya. Ayam sambal kesukaan Fandi. Menu itu sudah rapi tersusun di meja makan. Dan ada beberapa lagi menu pendamping.


"Fandi, Om ambilkan nasinya ya? Sedikit atau banyak...?" tawar Arkan.


"Sedikit dari biasanya," jawabnya manja. Dia tertawa kecil. Jempol dan jari telunjuk mempraktekkan kata sedikit yang dimaksud olehnya.


Arkan tersenyum melihat tingkah manja anak laki-laki itu. Dia duduk di samping Arkan.


Lelaki yang memakai baju kaos bercorak biru berlengan panjang, menyendok beberapa kali nasi di mangkok besar dan memindahkan ke piring di depan Fandi. Piring batu berwarna putih, hanya terisi seperempat.


"Udah... cukup...?" tanya Arkan pelan. Dia melihat wajah Fandi. Kepalanya sedikit mengangguk.


"Udah Om."


Anak laki-laki itu langsung mengambil sendok yang ada di samping meja.


"Cuma makan nasi putih doang? Ikan ayamnya enggak mau?" canda Arkan.


Fandi tertawa. "Mau dong, Om."


Arkan mengambil sepotong ayam sambal dan menaruh di piring. "Sayur nya juga ya sayang?" tawar Arkan.


"Fandi ndak suka sayur, Om. Om kan tau."


"Dikit doang sayang, biar kuat. Ya...?"


"Ya udah." ujar Fandi pelan. Dia memainkan sendok yang ada di tangan kanannya di udara kosong. Senyum selalu mengulas di bibir tipisnya.


Arkan mengangkat semangkok sayur dan memindahkan beberapa sendok kuah sayur ke dalam piring Fandi. Di tiga sendok terakhir dia mengambil isi sayur dan memindahkan ke piring itu juga.


"Kata Oom sayurnya dikit doang. Ini kok banyak?" tanya Fandi polos. Anak laki-laki yang memiliki lesung pipi di pipi kanan menoleh ke arah Arkan.


"Aduuuuh... Oom lupa... kebanyakan ya sayang. Udah deh, dihabisin aja ya. Ntar kalau ndak habis, Oom deh yang makan. Ndak papa kan?" goda Arkan. Ekspresi Arkan sangat merasa bersalah. Tapi... pura-pura.


Nadia tersenyum lebar ketika melihat kejadian itu. Dia merasa salut dengan Arkan bisa merayu anak laki - laki untuk makan sayur dengan teknik yang baik. Dan dia juga merasa bahwa Arkan mengurus Fandi dengan baik.


Fandi juga tersenyum. Dia tidak marah. Dia mulai menyendok makanannya.


Arkan menatap Nadia. Laki-laki muda ini tertawa. Dia sedikit menaikkan pundaknya sekali dengan cepat ketika Nadia melihatnya. Lirikkannya tertuju ke Fandi.

__ADS_1


Nadia tersenyum, dia mengerti arti gerakan Arkan itu.


"Kamu makan, Nad?" tawar Arkan sambil menyodorkan mangkok nasi yang dipegangnya. Arkan memindahkan beberapa sendok makanan pokok ke piringnya.


"Iya, Mas. Sebentar lagi. Umi mau makan juga kan?" tanya Nadia.


"Iya. Sepertinya masih sholat zhuhur. Sebentar lagi keluar dari kamar."


"Apa ndak sebaiknya dicek di kamar, Mas?" nyata Nadia.


"Ouh iya. Sebentar ya."


Arkan segera bangkit. Sebelumnya piring di hadapannya sudah terisi dengan nasi dan dia telah meletakkan mangkok berisi nasi di meja.


Nadia memperhatikan Arkan yang Berjalan menuju kamar, berdekatan dengan ruang tamu. Setelah Arkan menghilang dari pandangan, Nadia memperhatikan Fandi.


"Fandi kelas 3 ya sekolahnya?" tanya Nadia dengan ramah.


"Iya," jawabnya singkat. Dia menghentikan sendokan ke mulutnya. Keningnya berkerut.


Nadia bisa membaca gelagat anak laki-laki yang duduk di hadapannya.


"Ada apa? Kok sepertinya bingung?"


"Ouh, panggil Bunda." Nadia tersenyum. Dia merasa bahwa anak laki-laki ini sangat pintar dan bijak.


"Iya... Bunda, Fandi kelas 3 sekarang."


Dia melanjutkan makan dengan perlahan.


"Pinter ndak di sekolah?"


"Ndak Bunda. Fandi kurang pinter di pelajaran matematika."


"Ouh, ya."


Nadia tertawa. Dia tak menyangka anak kecil ini berkata dengan jujur dan polos.


"Jadi Fandi pinter di pelajaran apa?"


"Kalau teman-teman bilang, Fandi pinter di pelajaran Bahasa Inggris dan Komputer."


"Waaah... kelas 3 SD sudah ada pelajaran Bahasa Inggris dan Komputer di sekolah kamu. Hebat...."

__ADS_1


"Iya bunda."


Fandi tersenyum. Dia mengambil segelas air yang terletak di sampingnya.


"Bunda nanti jadi istrinya Om Arkan ya?"


Tiba-tiba anak kecil itu berkata dengan jelas dan lugas. Air yang di gelas belum sempat diminumnya. Dia menatap Nadia.


Nadia terkejut. Terkejut karena pertanyaan itu keluar dari mulut anak kelas 3 SD.


"Iya..." jawab Nadia terbata.


"Kalau nanti jadi istri Om Arkan, Fandi masih boleh tinggal dengan Om Arkan?"


Anak laki-laki yang berkulit putih menanyakan hal itu dengan wajah polos. Dia menatap Nadia dengan mata yang sendu. Gelas yang berisi air, dipegangnya dengan kedua tangan. Gelas itu masih terletak di meja dan berada di hadapannya.


Nadia lebih terkejut ketika mendengarkan kalimat ini daripada sebelumnya. Dan Nadia serasa ingin menjerit dan mengeluarkan air mata ketika menatap anak piatu ini.


"Tentu... tentu saja boleh."


Nadia terbata. Suaranya sedikit para. Dia terpaksa berdehem sekali untuk meknacarkan tenggorokannya.


"Terima kasih, Bunda."


Fandi mengangkat gelas dengan kedua tangan dan meneguk minuman itu.


Nadia berpaling. Dia berusaha menghilangkan buliran bening yang tertahan di sudut mata dengan jarinya. Dia memiliki kesempatan sedikit untuk berpaling dan menstabilkan hati, ketika anak laki-laki yang berwajah manis itu meminum air dan tidak melihatnya. Dia berusaha menyembunyikan perasaan iba kepada anak laki-laki ini.


"Fandi sayang dengan Om Arkan. Om Arkan orangnya baik. Sewaktu Mama meninggal Om Arkan berjanji untuk menjaga Fandi," jelas Fandi. Dia melanjutkan kalimatnya ketika dia sudah menyelesaikan minumnya. Dengan perlahan dia meletakkan gelas di meja makan yang beralas kaca.


Nadia sudah mendengar cerita dari Arkan, bahwa kakak pertama Arkan meninggal karena penyakit diabetes dan myom yang dideritanya. Perjuangannya bertahun-tahun dengan penyakit itu, akhirnya menutup usianya di angka 45 tahun.


Fandi adalah satu-satunya anak kakak pertama Arkan. Suaminya yang berprofesi sebagai Anak Buah Kapal, sering meninggalkan mereka. Kebetukan pada saat meninggal, suaminya belum tugas, masih di Jakarta menunggu panggilan. Jadi dia masih bisa kembali ke Solo dan melihat mayat istrinya. Jika sudah bertugas, maka suaminya tak akan melihat mayat istrinya untuk terakhir kali.


Fandi bersedia tinggal dengan Arkan. Karena ayahnya akan bertugas, sebulan setelah kematian istrinya. Dan Arkan juga bersedia untuk merawat Fandi.


Di tangan Arkan, menurut cerita dari Uminya, Fandi begitu puas dengan kasih sayang yang diberikan oleh pamannya. Tak ada kurang sedikitpun walaupun dia tak mempunyai Ibu dan Ayah. Ayahnya yang bertugas di bidang pelayaran hanya berkomunikasi dengannya melalui telepon.


Nadia berpikir bahwa ketika menikahi Arkan, maka dia akan hidup dengan Uminya dan Fandi. Dia mungkin tak akan merasakan berumah tangga seperti yang lain, merasakan kehidupan berdua sebelum mempunyai anak. Tapi, Nadia tidak menyesali itu. Dia memiliki takdir untuk mendapatkan pahala dan ladang ibadah yang besar. Memelihara seorang anak piatu dan menjaga seorang janda yang telah melalui banyak perjuangan hidup. Nadia mensyukuri itu. Baginya tidak masalah.


Nadia kembali melihat ke arah anak laki-laki yang sedang menyantap makanannya dengan perlahan. Dia telah memiliki satu anak ketika menikah dengan Arkan nantinya. Bukan anak kandung. Bukan anak bawaan dari Arkan. Tapi anak yang diberikan oleh Allah yang akan jadi ladang pahalanya kelak.


***

__ADS_1


__ADS_2