Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Rumor


__ADS_3

"Arkan...? Arkan Wiguna...?"


"Iya, Mba. Kenapa, Mba?"


Nadia bertanya penuh rasa penasaran kepada perempuan yang bertubuh gemuk di depannya.


Perempuan yang memakai jilbab berpakaian baju PNS berwarna coklat, terdiam. Dia menyibukkan diri dengan makanan yang ada di hadapannya.


"Kenapa, Mba?" tanya Nadia. Dia semakin penasaran ketika melihat gelagat perempuan itu.


"Dia teman aku di SMA dulu. Kalian sudah pacaran?" tanya perempuan yang sekarang sedang menyeruput Jus Alpukat di hadapannya. Dia makan dan minum dengan lahap. Wajar saja badannya sangat berisi.


"Gimana ya? Dibilang pacaran sih, dia belum ada mengungkapkan perasaannya, tapi sikapnya sudah menganggap aku pacarnya. Dia sudah datang ke rumah beberapa kali dan mengajak aku keluar," jelas Nadia. Wajahnya masih sangat penasaran.


Nadia tidak tahu kemana arah pembicaraan perempuan ini.


"Ayo dong Mba Riana... sebenarnya ada apa?"


Nadia merengek manja sambil mengguncang tangan perempuan di hadapannya.


Riana adalah teman dekat yang dipertemukan Tuhan tanpa sengaja dengan Nadia. 5 tahun yang lalu mereka bertemu di perpustakaan Universitas Sebelas Maret. Mereka satu kampus tapi beda jurusan pada saat itu Nadia kuliah di kedokteran, sedangkan Riana sedang mengambil Program Pasca Sarjana Psikologi Pendidikan. Hanya pertemuan biasa, cerita dan mengobrol biasa tapi merasa ada keterikatan, akhirnya mereka bertukar nomor handphone dan terus menjaga silaturahim sampai sekarang.


Dan... Riana adalah adiknya Mas Am. Dia memang sengaja ingin menjodohkan Mas Am dengan Nadia setelah 4 tahun mereka bersahabat.


"Aku... takut salah ngomong, Nad. Takutnya jadi beban pikiran kamu."


Riana mengaduk-aduk sedotan yang ada di dalam gelas. Dia membuang matanya ke bawah ketika mengatakan kalimat itu.


"Endak, Mba. Mudah-mudahan tidak," yakin Nadia.


"Arkan... dia... waktu SMA, kami kenal tak pernah pacaran... anak yang baik dan terus menjadi ketua kelas."


Riana menghentikan bicaranya.

__ADS_1


Nadia tak sabar menunggu sambungan dari kalimat selanjutnya.


"Tapi... aku tak pernah sekelas dengannya. Jadi... aku tak tahu pasti."


"Tak tau pasti... tentang apa nih, Mba?"


Nadia benar-benar tidak sabar dengan perkataan yang dikeluarkan oleh Riana. Sepertinya perempuan itu memang sengaja menunda kalimat yang ingin disampaikan.


"Ah... aku takut, Nad."


Riana berkilah.


"Sekarang Mba Riana malah sudah memberikan beban kepadaku karena omongan yang tak tuntas."


Nadia memancing Riana untuk melanjutkan kalimat berikutnya.


"Arkan... setau kami tidak pernah pacaran, karena dia memang tidak menyukai perempuan...," jelas Riana dengan pelan. Suaranya sedikit menghilang ketika mengucapkan kalimat terakhir.


Nadia terdiam. Dia berusaha mencerna kalimat yang terakhir. Dia menyenderkan punggungnya di kursi.


Riana berkata seakan merasa bersalah.


"Apa pernah dia memiliki kasus sesuai tebakan kalian sewaktu di SMA dulu Mba? Yang memang tertangkap atau mempunyai bukti?"


Nadia berbicara dengan serius. Dia seakan marah ketika mendengar pernyataan dari Riana.


"Tidak. Tidak pernah. Hanya sekedar rumor," ujar Riana.


Nadia tersenyum kecil. Dia ingin membuang jauh-jauh pikiran negatif itu. Dia melihat bahwa Arkan tidak seperti itu. Dia merasakan perlakuan Arkan yang baik dan lembut terhadap dirinya selama 2 bulan terakhir ini. Segera ditepisnya, rumor yang baru didapat dari Riana.


"Sorry, Nad. Aku tidak bermaksud loh."


"Ndak papa kok, Mba. Aku tidak terpengaruh dengan berita barusan."

__ADS_1


Nadia mulai menyeruput minuman yang ada di hadapannya.


Nadia dan Riana memang sering berbagi kisah masing - masing semenjak mereka berteman. Kemarin... Nadia memutuskan untuk bertemu dengan Riana dan menceritakan soal lelaki yang mendekatinya. Ternyata, Riana adalah teman sekolah Arkan. Dunia ini memang sempit. Tapi... dia tak ingin menyempitkan pikirannya ketika mendengar rumor dari Riana. Toh... Arkan tidak pernah terbukti melakukan hal yang dirumorkan teman-teman sekolahnya. Pernyataan yang diucapkan oleh Riana tadi. Nadia... berusaha membuang jauh - jauh rumor negatif itu.


"Gimana kabarmu dengan Mas Am?"


Perempuan yang di hadapan Nadia membuka pembicaraan lain. Dia serius ketika menanyakan hal ini.


Nadia serasa malas menjawab pertanyaan sahabatnya sekaligus adiknya Mas Am.


"Tak tau lah Mba. Mas Am berulang kali janji mau berkunjung ke rumah, tapi tak pernah terjadi."


Gadis itu menggerakkan kembali punggungnya ke depan. Dia memainkan sendok di piring yang sudah kosong.


"Dia memang pendiam, Nad. Kamu harus memahami karakternya."


"Yah... capek dong Mba jika begitu terus. Masa'an aku yang harus agresif melulu," kesal Nadia.


"Alasan capek dikarenakan Arkan?" Riana menyindir gadis yang berada di depannya.


Nadia mengerlingkan matanya. Dia tak menjawab.


"Ya... mungkin... karena dia lebih gentle dari Mas Am."


"Ya... sudah... teruslah dicoba dengan Mas Am. Kalau jodoh kan pasti kalian bersatu," ujar Riana. Perempuan ini seakan memang ingin Nadia berjodoh dengan kakak laki-lakinya.


Nadia lebih memikirkan Arkan yang sudah berapa kali bertemu, datang ke rumah dan mengajaknya keluar. Laki - laki yang berprofesi sebagai dokter dan dikenalnya baik sampai saat ini, melintas dalam pikirannya. Apalagi jika dia mengingat Arkan yang begitu berani menghadapi ibu dan ayahnya ketika datang ke rumah. Jarang lelaki yang seperti itu. Lelaki yang gentle menghadapi orang tua perempuan. Tak hanya ingin mempermainkan perasaan perempuan.


Banyak... Nadia melihat teman-teman seprofesinya menganggap bahwa perempuan hanya sekedar permainan. Perempuan hanya dianggap seperti barang ketika sudah bosan akan ditinggalkan. Ada juga temannya yang serius pacaran tapi ketika diajak menikah, menyudahi hubungan mereka karena tidak mau terikat dengan hubungan yang serius. Alasan lelaki itu sangat klise, karena belum mapan.


Tapi, Arkan terlihat beda bagi dirinya. Walaupun Nadia tidak pernah pacaran, tapi Nadia punya banyak teman laki-laki dan tahu betul watak para lelaki hidung belang, egois dan jaga image di depan pacar atau orang tua perempuan.


Sampai saat ini, Nadia melihat sosok Arkan mendekati sempurna. Tapi...tak ada manusia yang sempurna diciptakan oleh Tuhan. Pasti ada cela dan Nadia tidak tahu, apa cela dari Arkan, seorang dokter spesialis anak yang memiliki kesempurnaan fisik di mata para wanita yang melihatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2