
"Keputusan semuanya ada di tanganmu, Nad. Bapak pasti mengizinkan. Insya Allah calon suamimu ini orang baik."
Ayah Nadia duduk di kursi tamu sambil merokok. Pria dewasa yang kurus dan tinggi duduk dengan santai. Dari perawakan dan bentuk fisik, terlihat bahwa pria dewasa ini adalah pekerja keras. Dia Bertahun-tahun bekerja kasar untuk menafkahi keluarganya.
"Mama, Gimana?" tanya Nadia.
"Ya. Mama sih sudah senang dengan Arkan. Anaknya baik. Sopan. Kehidupan mapan. Dia juga bijaksana. Mama rasa dia bisa membimbing kamu yang keras kepala dan sembrono."
Giliran Ibu Nadia mengutarakan pendapat. Tapi dia mengucapkan hal itu dengan menambahi bumbu untuk menasehati Nadia.
"Ah... mama... kok bisa lari dari pembahasan," protes Nadia.
"Kamu emang harus merubah sifat yang kurang baik Nad. Kalau Mama liat, Arkan itu orangnya teratur, rapi dan disiplin. Perawatan diri juga sangat dipelihara. Bisa Mama liat dari penampilannya."
Nadia hanya diam. Sepertinya wanita separuh baya itu masih ingin berbicara.
Dan benar....
"Nah... kamu, ndok. Jangankan merawat rumah, merawat diri saja masih amburadul. Barang-barang kamu masih berantakan di sana sini. Bagaimana kamu bisa merawat suami nantinya. Suami itu harus diladeni, supaya dia betah dengan kita."
Ibu Nadia berbicara dengan lembut walaupun sebenarnya yang diutarakan itu berbentuk omelan. Wanita ini duduk di samping suaminya.
"Walaupun kamu wanita karir, tapi kamu harus bisa membagi waktu, kapan menjadi wanita karir dan kapan menjadi seorang ibu rumah tangga. Belum lagi kalau kamu punya anak. Harus bisa membagi waktu dengan baik."
"Panjang deh."
Nadia hanya terdiam. Tapi mengerutu di dalam hati. Dia tak ingin memotong pembicaraan ibunya, apalagi membantah.
Sepertinya, malam ini adalah jatah Nadia untuk mendapat wejangan dari Ayah dan Ibunya. Dia pasrah.
Tadi sore, setelah Nadia berbicara dengan Arkan di Cafe sekitar rumah sakit tempat dia bekerja, selanjutnya Arkan mengantarnya pulang. Arkan hanya sebentar bertemu dengan Ibu Nadia dan segera pulang ke rumah. Di saat Arkan masuk ke mobil, mobil mercy hitam belum bergerak, Nadia sudah tak sabar memberitahukan berita baik kepada Ibunya. Alhasil Nadia dan Ibunya bercengkrama di depan. Padahal mereka berdua masih berdiri di teras rumah. Tentu saja Ibunya histeris ketika mendengar berita dari Nadia. Jiwa muda wanita setengah baya itu seakan kembali lagi. Dia seolah ingin menjerit kegirangan.
Memang itu yang diharapkannya. Nadia... anak keduanya bersanding dengan dokter muda yang sopan. Semenjak dokter spesialis anak datang berkunjung ke rumah mereka, Ibu Nadia selalu berdoa agar lelaki yang tampan ini menjadi jodoh Nadia.
__ADS_1
Ibunya sangat tertarik dengan cerita Nadia. Mereka bercengkrama di depan teras. Tak perduli dengan posisi mereka saat ini. Tak terpikirkan oleh mereka untuk duduk karena begitu bahagia. Ibunya terus menanyakan kejadian istimewa di cafe secara detail. Dan tentu saja Nadia menceritakan juga secara detail dengan wajah yang berbinar.
Dan ketika sebelum maghrib, Ayah Nadia pulang dari tempat kerja, Ibu Nadia langsung menceritakan hal yang disampaikan Nadia. Suaminya hanya terdiam. Tentu saja dia memberikan seluruh keputusan kepada anak perempuannya. Dia percaya dengan keputusan Nadia. Sebagai orang tua, dia tak bisa memaksakan kehendak ke semua anaknya karena mereka yang menjalani kehidupan ini. Dia hanya bertugas untuk merawat, membimbing dan menasehati anak-anaknya jika keluar dari jalur yang benar.
Dan malam ini, Nadia membicarakan tentang acara pertunangan dengan kedua orang tuanya. Sistem dan teknis dari acara pertunangan juga dibahas. Keputusan yang diambil malam ini adalah acara pertunangan Nadia dan Arkan akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Itu penawaran dari pihak keluarga Nadia. Belum tahu tanggapan Arkan dan keluarga. Rencana acara pernikahan mereka akan dibicarakan pada saat acara pertunangan. Dibicarakan secara musyawarah antara kedua belah pihak.
Recananya Nadia akan memberi kabar ini kepada Arkan besok hari. Mereka akan bertemu lagi ketika jam kerja usai.
***
"Nad...! Benarkah? dr. Arkan melamarmu?
Nadin masuk ke kamar Nadia tanpa mengetuk pintu. Perempuan yang bertubuh gemuk ini seperti seekor kucing yang masuk ke dalam tudung saji yang penuh dengan ikan goreng. Suaranya sedikit tinggi.
"Astagfirullah... Mbak Nadin...."
Nadia yang sedang membersihkan wajahnya terperanjat. Kapas yang berada di tangannya seakan ingin terlepas. Dia melihat Nadin masuk dengan tergesa dari cermin yang ditatapnya. Cermin yang di kaca rias berada di dinding, bersebrangan dengan pintu kamar.
"Bener kabar itu, Nad...?"
"Iya."
"Kok bisa?" tanya Nadin penasaran.
"Loh kok gitu pertanyaannya?"
"Iya. Kok bisa tiba-tiba seperti itu? Padahal kalian kan baru kenal? Dan kamu menerimanya?"
Pertanyaan kakaknya yang secara beruntun membuat Nadia membelokkan badannya ke arah Nadin. Dia tak berdiri. Pantatnya sengaja diputar 180 derajat.
"Memang kenapa, Mba?" tanya Nadia. Keningnya berkerut.
"Ya, kamu harus kenal dia terlebih dahulu, Nad. Kenal sifatnya. Kenal keluarganya. Kenal perilakunya. Seperti itu?"
__ADS_1
Nadia hanya diam. Dia sengaja bertingkat seperti itu karena ingin mendengar sampai selesai penjelasan dari kakak kandungnya.
Nadin berjalan mundur dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Memang... dr. Arkan terlihat baik dan hampir mendekati sempurna. Tampan. Mapan. Sopan. Bijaksana. Terpelajar. Tapi harus hati-hati dengan laki-laki yang terlihat sempurna. Bisa saja dia punya sifat dingin dan ketika berumah tangga menjadi suami yang suka memukul pasangannya."
Nadia masih diam.
"Atau mungkin dia mandul dan tak bisa memberikan keturunan nantinya."
"Astaghfirullah... Mba Nadin...! Sadar Mba. Omongannya kok sampai ke sana kemari. Jadi... untuk membuktikan dia tidak mandul, aku harus tidur dulu dengannya?"
Nadia protes tapi masih dengan nada wajar. Dia masih menghormati kakaknya walaupun kakak kandungnya itu seakan menghina Arkan. Nadia sakit hati. Entah mengapa dia sakit hati ketika Arkan dihujat.
Nadia membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dia kembali menghadap cermin dan melanjutkan kegiatan yang tertunda sebelumnya.
"Maaf Nad... bukan maksud Mba untuk berpikiran buruk, tapi Mba hanya mengingatkan doang."
Nadin mendekati Nadia dan memegang kedua pundak adiknya dari belakang.
"Iya. Ndak papa, Mba."
"Tapi semua keputusan ada di tanganmu. Kami hanya memberi masukan," lirih Nadin pelan. Kini suaranya tidak tinggi lagi seperti sebelumnya.
"Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik dan lancar, Mba. Aku hanya berdoa kepada Tuhan, jika dia tak baik untukku, Tuhan punya jalan untuk menggagalkan rencana ini. Kita hanya bisa berencana, Tuhan yang punya kuasa. Benarkan?" tanya Nadia meminta persetujuan dari perempuan yang berdiri di belakangnya. Nadia hanya menatap kembali kakak kandungnya melalui cermin. Alisnya sedikit naik.
Nadin mengangguk pelan. Dia tak ingin berdebat dengan adiknya yang memiliki pengetahuan luas daripadanya. Dia memang merasa kurang memakan bangku sekolahan, sedangkan adiknya seorang dokter yang punya pengetahuan lebih luas.
Nadia, seorang perempuan yang terkenal keras kepala di keluarganya. Jika dia menginginkan sesuatu, maka keluarganya tidak akan bisa mencegah keinginannya. Apalagi Nadia sekarang ini menjadi tulang punggung. Dia yang membiaya kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya. Ayahnya berkerja hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Itupun terkadang tak cukup, Nadialah yang menutupi semuanya.
Karena tertempa dengan kondisi perekonomian yang lemah, Nadia menjadi mandiri. Mencari uang sedari kecil. Dan berhasil melalui masa-masa sulit. Dari sikap mandiri karena selalu bisa memberi dan menjadi tulang punggung, timbullah sikap percaya diri dan dari sikap percaya diri itulah timbul sikap keras kepala di dalam diri. Tapi, menurutnya, sikap keras kepala itu adalah hal yang positif.
Dia juga menyadari sikap keras kepala yang dimiliki, harus dikurangi, apalagi ketika berumah tangga nanti. Dia sangat sadar bahwa sikap keras kepala ini akan menjadi bibit pertengkaran. Oleh karena itulah dia berusaha untuk sedikit demi sedikit merubahnya.
__ADS_1
Nadin dan Nadia berbicara dari hati ke hati. Nadin hanya ingin adiknya memutuskan hal yang sangat sakral ini dengan keputusan yang matang. Tidak tergesa-gesa. Mereka sedikit berbicara dan berdiskusi sebelum Nadin pulang ke rumahnya.
***