Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Kisah Rumah tangga


__ADS_3

Tisna tersenyum. Wajahnya seakan terbius dengan cerita teman sekaligus patner kerja yang ada di hadapannya. Dagunya tertempel ke punggung telapak tangan yang bersatu. Tangannya terangkat di depan. Kedua tangan itu membentuk tumpuan untuk dagunya.


"Ah... sungguh romantis, Nad. Aku serasa melayang mendengar ceritamu. Ternyata ada ya Nad, laki-laki seperti di film. Menghargai kehormatan wanita. Memperlakukan wanita dengan sangat spesial. Aku iri denganmu Nad," jelas Tisna dengan nada pelan. Dia memang seakan dibius saat ini. Gaya bicaranya juga seperti sedang mengkonsumsi gan*a. Kepalanya sedikit bergoyang dan kedua matanya sayu.


"Kenapa harus iri. Kamu sebentar lagi akan menikah? Mungkin kamu yang lebih dahulu menikah dibandingkan aku."


Nadia menggeser piring yang sudah kosong. Menggeser sedikit ke pinggir meja. Mereka sudah selesai makan 10 menit yang lalu.


"Ya. Memang aku dan Robbi akan menikah. Tapi Robbi seakan terpaksa menikahiku. Dia melamarku bukan karena inisiatifnya. Kalau tidak dipaksa oleh kedua orang tua, mungkin dia tidak akan melamarku. Mungkin kami akan terus pacaran sampai tua," rapal Tisna dengan cepat. Dia berkata seperti membaca mantra.


"Hush... ndak boleh gitu. Yang penting dia sudah berniat untuk menikahimu."


"Aku iri kepadamu karena 1000 banding satu lelaki seperti dr. Arkan di dunia ini, Nad. Kebanyakan lelaki akan mengejar perempuan ketika menyatakan cintanya, tetapi ketika diajak menikah, mereka akan mundur secara teratur."


Tisna masih merasa jengkel karena mengingat tunangannya tidak seromantis dr. Arkan.


Nadia hanya diam. Dalam diam dia memang membenarkan kalimat yang dilontarkan oleh temannya. Ada beberapa teman Nadia yang diperlakukan buruk oleh lelaki pujaan mereka. Sebelum dan sesudah menikah. Banyak hal yang tidak adil yang dilakukan laki-laki kepada perempuan.


Teman Nadia, ada yang hamil di luar nikah dan melaksanakan pernikahan seadanya saja karena ingin menutupi aib yang telah terjadi. Padahal, aib yang sudah terjadi, ketika sudah menikah juga akan terus menjadi aib seumur hidup. Bukan berarti ketika kedua insan yang melakukan dosa zina dan menghasilkan seorang anak, setelah dinikahkan maka dosa yang diperbuat sebelumnya akan hilang. Tidak. Itu adalah pemikiran yang salah.


Kehidupan rumah tangga orang yang dia kenal, Juga ada yang tidak berjalan dengan mulus. Ada teman Nadia yang mendapat perlakuan tidak adil dari suaminya. Suaminya tak bekerja. Tentu saja tidak punya penghasilan, tapi memiliki perangai yang buruk. Mabuk, judi dan narkoba menjadi temannya dan akhirnya istri mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Padahal perilaku suaminya  sudah seperti sampah masyarakat. Kekerasan dalam rumah tanggapun terjadi.

__ADS_1


Tapi, tidak semua perempuan diperlakukan tidak adil di dalam kehidupan berumah tangga. Nadia juga memiliki teman lelaki. Sahabat dekatnya di SMA dahulu. Lelaki yang baik. Nadia Bertahun-tahun berteman dengannya, oleh karena itulah dia bisa berkata teman lelakinya itu baik. Lelaki itu mendapatkan istri yang bekerja dan punya penghasilan yang lebih tinggi dari suaminya. Akhirnya Sang Istri memperlakukannya semena-mena. Suami diperlakukan seperti pembantu. Membersihkan rumah, menjaga anak, mengurus segala urusan rumah tangga. Istrinya berkerja dan pulang ke rumah dengan bangga memerintah suaminya melalukan sesuai keinginan. Hal itu juga salah bagi Nadia.


Setiap rumah tangga memiliki masalah masing-masing. Dan setiap rumah tangga juga memiliki air mata masing-masing. Nadia juga tak tahu kehidupan rumah tangga kelak seperti apa.


Saat ini, Nadia memang merasa beruntung. Dilamar oleh seorang laki-laki yang gentleman. Bukan harta, jabatan atau tampang dr. Arkan yang membuat Nadia bangga. Tapi dia bangga dengan hubungan yang mereka jalani saat ini karena sikap dr. Arkan yang memperlakukannya dengan sopan dan terhormat. Dia merasa tersanjung dengan sikap jantan lelaki itu. Berani memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua Nadia dan dalam hitungan sebulan, dengan jantan, lelaki itu mengajukan ajakan pertunangan. Dan akhirnya mereka akan membicarakan hal yang berhubungan dengan lamaran dan acara pernikahan. Jika diperlukan seperti itu, tak hanya dia yang akan merasa tersanjung. Semua perempuan akan merasakan hal yang sama seperti Nadia jika mereka mendapatkan momen seperti ini.


"Jadi... kapan acara pernikahan kalian, Nad?" tanya Tisna. Sekarang dia menyenderkan punggungnya di kursi berwarna oranye di rumah makan. Rumah makan yang merupakan langganan mereka cukup sederhana. Tidak mewah.


"Belum tau. Rencananya dibicarakan pada saat acara pertunangan."


"Kalau dari keluarga kamu, tergetnya kapan?" tanya perawat itu penasaran.


Nadia tersenyum kecil ketika mengatakan kalimat itu. Disusul kepalanya menunduk karena malu telah mengucapkan kalimat itu di depan Tisna


"Aha... aku tau kenapa kamu ingin secepatnya?"


Tisna menjentikkan jarinya. Seolah-olah ada ide yang muncul di kepala.


"Kenapa?"


Nadia bertanya dengan wajah serius. Kedua matanya sedikit menyipit.

__ADS_1


Perawat yang memiliki bibir tebal dan sensual itu mendekatkan kepalanya. Menyuruh Nadia juga mendekatkan kepala ke arahnya. Nadia menurut. Jarak mereka yang dipisahkan oleh meja seakan menghalangi komunikasi antar kedua gadis yang berbeda profesi. Karena itulah Tisna mendekatkan kepala dan membisikkan kalimat. "Karena kamu tidak tahan ketika melihat tubuh dr. Arkan, kan?" bisik Tisna.


"Apa sih?"


Nadia langsung memundurkan tubuh dan kepalanya. Pipinya langsung memerah.


Tisna terkekeh.


"Pasti benar? Hei... kamu pake blush on, Nad? Kenapa pipimu memerah sekarang?" Tisna menggoda.


Nadia langsung bangkit dari duduknya.


"Dasar porno. Aku mau ke kasir...!"


Tisna terkekeh. Dia merasa menang karena bisa menebak jalan pikiran dokter yang menjadi patner kerjanya.


Nadia berjalan dengan cepat menuju kasir. Memang dia merasa muka dan telinga sedikit panas.


"Apa dia sekarang memiliki indra ke enam? Mengapa dia bisa menebak pikiranku? Dasar perawat cabul."


***

__ADS_1


__ADS_2