
"Untuk apa?" tanya laki-laki yang bertubuh tinggi dan semampai. Dia tidak berani menatap Arkan.
"Ya, supaya rumah itu ada yang nempati dan aku juga jadi leluasa menemuimu, Niel."
Arkan melihat ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya. Dia menatap samping wajah laki-laki itu.
Daniel berusaha menghilangkan rasa malu didirinya. Dia tahu Arkan yang berada di samping sedang menatap dengan dalam. Diam. Kata sifat itu yang bisa menggambarkan prilaku saat ini.
Sedetik...
Dua detik...
Daniel hanya melihat lurus ke depan, berharap Arkan berhenti menatap dan melihat ke arahnya. Tapi dia menyadari hal itu tak akan terjadi. Di detik kelima, dia berdiri dengan cepat, sambil menahan senyum. Berjalan selangkah, tak melihat ke Arkan. Arkan berada di belakangnya.
"Ya sudah. Aku akan pindah minggu depan setelah acara pertunangan, Mas Arkan."
Arkan tahu gelagat laki-laki yang bersamanya saat ini. Daniel akan kalah dengan tatapan Arkan. Kekuatan Arkan untuk merayunya hanya dengan tatapan.
"Aku hanya ingin kamu lebih tenang tinggal di rumah itu. Tanpa terganggu dengan penghuni kost di sini. Kamu pulang kerja sampai larut malam, tapi masih tidak cukup istirahat dengan kondisi di sini."
Daniel membenarkan hal itu di dalam hati. Memang dia sudah tak cocok tinggal di lingkungan kost yang berpenghuni kebanyakan mahasiswa. Mereka sering berkumpul di tengah malam dan mengganggu penghuni yang lain dengan keributan. Dan itu tidak dilakukan oleh satu penghuni, tapi rata-rata setiap kamar seperti itu. Hampir setiap malam mereka nongkrong dan begadang. Sudah banyak penghuni berstatus pekerja, meninggalkan lingkungan kost ini.
__ADS_1
"Kita makan di luar yuk?" ajak Arkan.
Daniel diam.
"Apalagi sih yang dipikirkan?" tanya Arkan. Dia melihat asistennya berdiri terdiam.
"Ndak. Sudahlah...."
"Loh... kalau begitu jawabannya pasti ada yang mau disampaikan ke Mas mu ini?"
Arkan berdiri. Mendekati. Arkan memegang pinggang bagian belakang laki-laki yang memakai baju kaos berlengan pendek.
Daniel langsung berkilah. Dia berjalan menuju lemari pakaian, memilih beberapa baju dan mengambil satu baju kaos berlengan pendek yang dipilihnya.
Dia membuka baju yang dikenakan dengan perlahan. Kulit putih terkuak. Dadanya yang bidang terlihat. Dia membelakangi Arkan. Tapi walaupun begitu dia tahu bahwa Arkan memperhatikannya dari belakang. Daniel sengaja tidak mengganti celananya. Mungkin celana itu masih bersih atau mungkin juga karena dia malu ada Arkan yang mengawasinya.
Daniel berjalan menuju meja belajar. Terdapat beberapa perlengkapan untuk tubuh di meja itu. Daniel. Mengambil sebotol parfum dan menyemprotkan ke tubuh. Suara berdesis terdengar. Disusul suara hentakan botol yang menyentuh meja kayu.
Mengambil botol pomade berwarna biru. Membuka dan mencolek dengan ujung jarinya. Meletakkan botol pomade di atas meja. Telapak tangannya bersatu dan menggosok, meratakan pomade di tangan dan secara perlahan, kedua telapak tangan membelai rambutnya yang lurus. Pomade sudah berpindah ke permukaan rambut hitamnya. Sedikit merapikan rambutnya yang terlihat semakin indah. Setelah itu, dia berusaha untuk membersihkan sisa pomade yang berada di tangan dengan tisu basah.
Daniel sedikit melirik. Arkan tidak memperhatikannya lagi. Patner kerjanya itu sedang duduk di pinggir tempat tidur. Memegang handphone. Dia melihat jika Arkan sedang mengetik sesuatu di handphone.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, Mas. Ayo, berangkat."
Daniel berjalan menuju pintu keluar beberapa langkah. Mengambil sepatu di rak sepatu yang kecil dan berusaha memasangkan sepatu itu dengan cepat. Dia memakai sneaker berwarna putih.
Arkan mengikuti langkah Daniel dan memasang sepatu sambil berdiri. Laki-laki ini memasukkan handphone ke saku bagian kanan.
Arkan membuka pintu untuk keluar terlebih dahulu. Diikuti Daniel. Arkan berhenti di depan pintu setelah Daniel keluar. Berdiri sebentar. Memperhatikan Daniel mengunci pintu kamarnya. Setelah terkunci dengan pasti -- terlihat dari gerakan Daniel-- Arkan berjalan. Daniel mengikuti Arkan di belakang. Mereka berdua melewati lorong yang berjejer kamar dengan ukuran 7 x 6 meter. Untuk menuju ke depan lorong, mereka harus berjalan melewati, setidaknya enam kamar.
Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Sebenarnya hal ini yang membuat Arkan tidak nyaman. Mata-mata yang menghakimi mereka berdua, sangat tidak disukainya. Pandangan orang-orang yang mungkin beropini berbeda. Mungkin ada yang berdecak kagum akan fisik mereka tapi pasti ada juga yang berpikiran dan menghakimi mereka dengan hal-hal yang belum tentu mereka lakukan.
Arkan berusaha berjalan dengan sangat santai. Mungkin orang akan melihat karakternya sedikit angkuh ketika itu. Tapi dia tidak perduli. Dia tidak perduli dengan mata-mata yang mengawasinya dan dengan pikiran orang yang menghakiminya. Tapi dia kasihan dengan Daniel. Laki-laki ini belum bisa menstabilkan hatinya. Dia masih bisa memasukkan opini orang lain yang menganggap bahwa mereka tak normal. Sepertinya, itu yang menganggu pikirannya.
Rumah yang tak jauh dari rumah kediaman Arkan sekarang ini, akan membuat nyaman dan leluasa untuk bertemu dengan Daniel. Karena rumah itu berada di komplek sebelah rumahnya. Jaraknya hanya sekitar 1 kilometer. Rumah itu sudah lama kosong. Empat tahun yang lalu,. Arkan membelinya ketika akan berumah tangga dengan calon tunangannya yang berasal dari Kota Palembang. Ketika rencana pernikahannya gagal. Maka dia tak ingin lagi tinggal di rumah itu. Dan dua tahun kemarin pun, kakak kandungnya meninggal, sehingga tak ada yang menjaga Ibunya.
Arkan berjalan di depan. Jarak Arkan dan Daniel sekitar dua langkah. Sudah setahun ini, Daniel tak pernah lagi berjalan beriringan dengannya. Ada alasan dia melakukan itu, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan. Padahal, dahulu mereka terlihat lebih akrab dibandingkan sekarang.
Arkan mengambil kunci mobil di kantong celana depan. Menghidupkan remote dari jarak jauh. Terdengar suara bip dua kali. Dia berjalan memutar di depan mobil. Membuka pintu depan bagian supir dan masuk dengan cepat. Daniel juga sudah membuka pintu mobil ketika Arkan sudah duduk dan berusaha memasang sambuk pengaman.
Kondisi malam hari terlihat ramai. Banyak berlalu lalang kendaraan seperti sepeda motor dan mobil di jalan utama. Jalan yang tidak terlalu besar, berada di tengah Kota Solo. Arkan melajukan mobilnya dengan perlahan dan hilang dibalik keramaian Kota Solo.
***
__ADS_1