
"dr. Arkan sedang istirahat, Mba."
"Tapi... sekarang sudah hampir jam 2 siang...."
"Biasanya setelah makan siang, dr. Arkan langsung sholat zhuhur, dia memang selesai istirahat jam 2 siang, baru kembali masuk ke ruang praktek."
Perawat perempuan yang berkacamata menjelaskan dengan lembut kepada Nadia.
Nadia manyun. Dia hanya bisa keluar dari tempat kerjanya pas istirahat juga. Itupun... tadi dia izin keluar dari jam 11 siang agar bisa kembali dengan cepat. Ternyata jalanan macet, seharusnya perjalanan dari RSUD dr. Moewardi ke Rumah Sakit dr. Oen Solo Baru bisa ditempuh setengah jam, akhirnya menjadi satu jam.
Nadia kembali ke Rumah Sakit Swasta yang berlokasi di Sukoharjo untuk mengambil hasil tes darah keponakannya. Sampai di Ruang Sampling, dia harus menunggu 1 jam lagi. Dan akhirnya hassil tes sudah keluar dan akan diserahkan ke dr. Arkan. Tapi dia hanya menemukan perawat perempuan yang ada di ruangan praktek dokter spesialis anak, saat ini.
"Apa dia tidak bisa lebih cepat kembali ke ruangan?" tanya Nadia. Dia duduk di kursi dengan cemas dan gelisah.
"Coba ditelepon saja, Mba. Ini nomor teleponnya."
Perawat yang memakai baju putih menyodorkan secarik kertas kartu nama yang diambil dari di kotak kartu nama meja praktek. Dia berdiri di samping Nadia.
"Ouh... saya sudah menyimpan nomor dr. Arkan."
Nadia langsung mengambil handphone di dalam tas abu - abu yang dipangkunya.
Perawat yang berdiri di samping Nadia terdiam.
"Apakah aku ketahuan suka dengan dokter itu karena menyimpan nomornya. Oh... tidak, mata perempuan ini seolah menghakimiku."
Nadia telah memegang barang elektronik untuk berkomuniaksi dengan orang yang dituju. Dia menekan beberapa menu dengan sangat tergesa - gesa. Lalu menempelkan di telinga kanan.
Perawat perempuan yang berbadan mungil masih berdiri dan mengawasinya.
__ADS_1
"Aku seperti seorang terdakwa di hadapan perawat ini."
Nadia merasa serba salah. Dia masih menunggu jawaban dari balik alat komunikasi itu.
"Halo, dokter... selamat siang. Saya Nadia."
"Ya. Selamat siang. Nadia?"
"Ya. Saya Tantnya Rafi, pasien dokter yang mau...."
Tut... Tut... Tut...
"Ah... pulsaku habis."
Perawat yang masih tetap berdiri, terdiam.
"Pasti kau sekarang sedang mengejekku, khan?"
"Ya. Halo... maaf, pulsa saya habis, dok?"
"Nadia yang dokter itu, khan?"
"Ya."
Nadia menjawab dengan ketus.
"Nadia yang mana lagi? Pacarmu atau selingkuhanmu?"
"Hasil tes, tolong berikan saja kepada perawat saya. Saya masih ada urusan dan setengah jam lagi baru kembali. Tapi jika anda memang ingin bertemu saya, silakan menunggu."
__ADS_1
"Genit. Mencoba merayuku ya?"
"Maaf, saya tinggalkan saja hasil tes dengan perawat karena saya harus cepat kembali ke kantor."
"Oke. Sampai ketemu lagi."
Nadia tak menjawab, dia langsung menekan tombol merah di layar. Wajahnya cemberut. Sesal. Hati kecilnya mengatakan itu. Sesal karena perilaku dokter yang dingin itu atau... sesal karena tak bisa melihat senyum dr. Arkan.
"Ah... tidaaaak."
Nadia berdiri dari duduknya dengan cepat. Dia lalu menyerahkan map putih berlogo rumah sakit yang dikunjungi kepada perawat yang dari tadi berdiri disamping.
"Berikan saja kepada dr. Arkan. Terima kasih."
Nadia berusaha berbicara dengan sopan padahal hatinya sedikit dongkol.
"Oh... Iya. Jadi Mba langsung pulang?"
"Bukan urusanmu!"
Nadia hanya mengangguk dan sedikit mengulaskan senyum terpaksa di bibirnya yang mungil.
Dia berjalan menuju pintu keluar ruangan yang terbuat dari kaca, meraih pegangan pintu secara perlahan dan membukanya. Dia melangkah keluar ruang praktek dr. Arkan.
Mengapa aku kesal dengan perawat itu? Apakah karena aku tidak bertemu dengan dr. Arkan? Ah... aku tidak melihat senyumnya yang mempesona hari ini.
Dia berjalan pelan menuju lift di lantai 3. Dia berharap saat ini berselisih jalan dengan dokter spesialis anak yang sudah bertemu dengannya beberapa kali. Bayangan senyum dokter muda itu menghampirinya. Nadia tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala. Di detik berikutnya Wajahnya berubah. Tegang. Hatinya berusaha melawan perasaan.
"Apa-apaan ini?"
__ADS_1
***