Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Perkenalan


__ADS_3

"Kenapa aku harus dibawa-bawa sih?" ujar Tisna sambil berjalan mengimbangi langkah Nadia.


"Sudah... ikut saja."


"Tapi... aku tidak mau menjadi orang yang ketiga, Nad."


Tisna berbicara dengan nada yang serius seolah-olah dia emang pantas untuk menjadi idola. Gadis yang berprofesi sebagai perawat mengikuti Nadia dari belakang.


"Itu mereka!"


Nadia tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh temannya barusan. Tapi, dia malah menunjuk ke restoran ternama yang ada di salah satu mall terbesar di Kota Solo dengan bibirnya.


"Mereka...?"


Tisna memandang ke arah yang dimaksud oleh Nadia.


Duduk 2 orang lelaki yang memiliki tinggi hampir sama. Dua orang yang terlihat menawan. Sepertinya kedua lelaki ini sangat ekstra menjaga penampilan tubuh mereka.


Satu sosok dengan rambut hitam yang sedikit ikal, tertawa ke arah lelaki satunya lagi. Di samping lelaki itu, ada seorang seorang lelaki yang berkulit putih memiliki rambut yang lurus dipotong pendek. Dia hanya tertawa kecil dan sedikit menunduk ketika menanggapi aksi lelaki di sampingnya. Mereka berdua sangat rapi. Wanita yang duduk di kursi lain di restoran yang terkenal dengan menu seafood, sering mencuri pandang ke arah mereka berdua.


"Ya..ampun. Kalau begini, seminggupun aku rela jadi anti nyamuk untuk menjaga tubuh yang indah itu."


Ekpresi wajah Tisna langsung gregetan ketika melihat dua lelaki tampan dan ganteng. Dia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Nadia. Tidak ada lagi keluhan dari mulut kecilnya.


Nadia berjalan dengan cepat ke arah kedua lelaki yang sedang tertawa. Mata Nadia masih terus mengawasi kedua lelaki yang duduk berdampingan. Tisna mengikuti langkah temannya yang berkaki lebih  panjang dari dirinya.


"Mas Arkan..."


Nadia memanggil salah satu lelaki ketika jaraknya masih beberapa langkah mendekati meja yang dituju.


Lelaki yang dipanggil menoleh. Dia tersenyum. Senyum yang sangat mempesona. Mungkin itu senjatanya untuk menarik perhatian manusia lain. Dia berdiri. Terlihat tubuh tingginya yang menawan.


"Nad...."


Arkan merapikan pakaian yang dikenakannya. Lelaki yang duduk di samping Arkan juga berdiri.


"Halo... Ibu perawat."


Arkan mengerlingkan mata ke arah Tisna. Nada suara Arkan seperti menggoda.


"Ah... Mas Arkan manggil Nadia dengan nama. Panggil aku dengan nama juga dong."


Genit. Sepertinya sifat itu sudah mendarah daging di dalam diri Tisna.


Arkan tertawa kecil.

__ADS_1


"Oh... ya... kenalin, Ini Daniel. Asisten aku."


Lelaki yang diperkenalkan Arkan dengan nama Daniel tersenyum lebar dan menjulurkan tangan kanan ke arah kedua perempuan yang berada di depan mereka. Giginya yang putih dan rapi menambah kesan plus dari senyum mempesona yang ditebar.


"Ya ampun. Senyumnya sangat menggoda. Manis sekali...."


Tisna seakan ingin berteriak ketika lelaki ganteng yang di hadapannya tersenyum dan menjulurkan tangan. Jiwa binalnya seakan ingin keluar.


Nadia hanya tersenyum kecil sembari menyambut tangan kurus ketika Daniel menjulurkan bagian tubuh itu ke arahnya.


"Ayo... silahkan duduk. Dibawa santai aja ya."


Arkan memerintah dengan sopan. Dia kembali duduk di kursi kayu yang sengaja didesain secara klasik.


"Nad... pesan deh makanan dan minuman. Aku belum tau selera kamu...," tawar Arkan pelan. Dia melihat gadis yang berambut panjang duduk di kursi kayu dengan tatapan serius.


"Cuma Nadia aja, Mas? Gimana dengan aku?"


Tentu Tisna yang berujar seperti itu. Gadis yang menggeraikan rambutnya saat ini, terlihat lebih muda daripada  ketika dia memakai baju perawat. Dia sudah duduk di kursi kayu dengan cepat.


"Tisna... aku traktir kamu... makan deh sepuasnya."


"Baiklah... jika Mas Arkan memaksa."


Daniel duduk dengan pelan dan tersenyum kecil. Tak berkata sedikitpun.


"Oke. Mbanya mana ya?"


Nadia melihat ke sekeliling, ketika matanya menangkap tubuh seorang pelayan perempuan, dia mengangkat tangan dan melambai.


Arkan sengaja mengundang Nadia untuk makan siang. Dia menganjurkan untuk membawa Tisna karena Arkan juga akan membawa seorang teman. Nadia mengerti maksud dari Arkan, dia ingin memperkenalkan seseorang yang dekat dengan dirinya kepada Nadia.


Nadia, tentu saja bersedia dengan rencana itu karena dia juga merasa penasaran dengan perawat yang menjadi asisten Arkan.


Mereka berempat berbicara dengan santai. Topik pembicaraan juga hal - hal yang berhubungan dengan kuliah mereka dahulu dan profesi mereka. Ternyata Tisna adalah kakak kelas Daniel tapi Daniel masuk ke Akademi Perawat setelah Tisna lulus dari tempat yang sama.


Arkan dan Daniel begitu akrab seperti keakraban Tisna dan Nadia. Kedua lelaki yang hampir memiliki fisik yang sempurna sepertinya sangat dekat. Seakan mereka hidup dalam satu misi. Keakraban mereka berdua seperti nada dan irama yang menciptakan satu lagu yang sangat baik. Itulah ibarat dari kedekatan mereka yang membuat suasana semakin hidup dan menarik. Mereka berdua pintar untuk mencari perhatian manusia lain terutama perempuan. Perempuan manapun akan tertarik ketika melihat dan dekat dengan kedua lelaki ini. Tapi, Nadia melihat bahwa Daniel --asisten Arkan-- memiliki sifat jaga image yang  sangat tinggi. Nadia sering menangkap bahwa Daniel selalu menjaga bicara dan tindakannya. Beda dengan Arkan yang apa adanya.


Kesan dingin yang dilihat Nadia ketika pertama kali bertemu dengan Arkan di ruang prakteknya, sudah hilang. Arkan begitu ramah dan lucu. Nadia bisa menyimpulkan beberapa sifat Arkan yang bisa diacungi jempol karena sudah 3 malam minggu lelaki itu datang ke rumah Nadia untuk berkunjung. Jadi, Nadia setidaknya sudah tahu beberapa sifat dari kulit luar lelaki yang sedang duduk di hadapannya.


Nadia semakin menyukai dokter spesialis anak ini. Apalagi ibunya sering memuji lelaki ini. Ibunya seakan berharap banyak dari Arkan untuk menjadi pendamping Nadia.


Kali ini Nadia mendapat pelajaran bahwa tidak bisa menilai seseorang dari kulit luarnya saja. Beberapa bulan yang lalu, dia menilai Arkan sebagai pria yang dingin dan sedikit angkuh. Sekarang dia melihat keceriaan dari lelaki itu yang sudah mengimbangi candaan Tisna.


Oleh karena itulah, Nadia tak berani menilai karakter asisten Arkan yaitu Daniel dengan cepat. Walaupun kesan lelaki yang memiliki hidung besar dan mancung ini, memang terasa sekali menjaga image dan wibawanya di hadapan Tisna dan Nadia. Dia... dengan cepat menepis dalam pikiran bahwa Daniel seorang lelaki yang sedikit munafik.

__ADS_1


*******


"Kamu merasa ada yang aneh atau tidak dengan dr. Arkan dan perawat itu, Tis."


Pandangan Nadia fokus ke depan kaca mobil yang sedang dikendalikannya.


"Aneh...? Maksudnya?"


Tisna meletakkan cermin kecil yang dipakai untuk melihat riasan di wajah, di atas tas yang dipangku. Dia langsung melihat ke arah Nadia.


"Ah... tidak. Aku merasa Daniel sedikit aneh dan terlalu menjaga wibawa ketika berbicara dan tertawa."


"Hmmm... sudahlah Nad. Jangan berpikiran yang macem-macem. Dulu juga kamu menilai salah ketika bertemu dengan dr. Arkan pertama sekali. Dia tak sedingin dan angkuh seperti yang kamu kira. Aku malah ingin menjadi pacar dr. Arkan, dia sangat lucu."


Nadia menoleh dengan cepat ke arah Tisna. Tisna sedang melihat ke cermin kecil yang kembali terangkat di tangan kanannya.


"Tumben nih anak omongannya bener."


Nadia membenarkan apa yang dikatakan Tisna. Dia tidak boleh selalu berpikiran buruk dengan orang lain. Dia harus lebih positif memandang orang lain agar aura positif itu terus mengikuti perjalanan hidupnya.


*******


"Gimana menurutmu tentang dr. Nadia, dek."


Arkan berpaling ke arah kiri. Dia melihat sekilas ke seseorang lelaki yang duduk di kursi penumpang depan.


Lelaki itu diam. Seolah-olah susah menjawab pertanyaan Arkan.


Arkan kembali melihat ke depan agar tidak menyimpang dari jalur jalan raya.


"Ya... gimana ya? Itu terserah mas. Pilihan mas, enggak mungkin aku sela."


Lelaki yang dipanggil Arkan dengan kata dek adalah Daniel. Arkan memang memanggil dengan sebutan adek ke Daniel karena dia juga sudah menganggap Daniel seperti adik kandungnya sendiri.


"Maksud Mas, kesan pertama ketemu dengan Nadia gimana?"


"Hmm... sepertinya dia pintar. Trus... pekerja keras dan talk active."


Daniel mengatakan kalimat itu tanpa melihat ke arah Arkan.


Arkan tak ingin bertanya lagi tentang Nadia. Dia menangkap ada raut wajah tak nyaman dari lelaki yang duduk di sampingnya, karena itulah dia tak ingin berbicara lagi. Dia sangat mengenal Daniel, begitu juga Daniel yang sangat mengenal dirinya. Mereka sudah 7 tahun bersama dan seperti saudara.


Siang yang panas di jalanan protokol Kota Solo, membuat keadaan semakin gerah, walapun di mobil menggunakan AC dengan kondisi full. Arkan berusaha mempercepat lari mobil mercy hitam menuju kantor untuk berkerja kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2