
"Nad."
"Ya, Mas...."
"Malam minggu ini aku jemput kamu di rumah ya?"
"Mau kemana, Mas?"
"Ke rumahku."
"Ke rumah, Mas Arkan? Ngapain?"
"Mau memperkenalkan kamu dengan Mamaku."
"Astaghfirullah...."
"Haloooo... Nadia...."
"Ouh... iya mas. Ya sudah...."
"Oke ya. Aku masih ada kerjaan."
Arkan menutup telepon.
Nadia pucat. Dia terbengong.
***
Baru beberapa kali Nadia bertemu dengan Arkan. Belum bisa dihitung dengan jari yang ada di kedua tangannya. Tapi kali ini, dokter spesialis yang masih muda mengajaknya untuk bertemu dengan ibunya.
Ibu Arkan adalah seorang janda yang Sudah 26 tahun ditinggal suaminya. Ayah Arkan meninggal ketika dia berumur 3 tahun. Ibunya yang ditinggal ketika berumur 38 tahun, berjuang membesarkan dan memelihara ke - 5 anak yang ditinggalkan. Berusaha sendiri tanpa bantuan dari saudara kandungnya untuk membesarkan anak-anaknya. Begitu besar perjalanan seorang ibu ketika ditinggal Sang Suami. Tapi kini, ibunya seorang pengusaha rumah makan yang sekarang masih beroperasi di sekitaran JL. Wahidin Solo.
Arkan dan ibunya tinggal satu rumah. Arkan adalah anak ke - 5 dari 6 bersaudara. Yang lain sudah berumah tangga dan memiliki rumah masing-masing. Semuanya tinggal di sekitar Solo dan Surakarta. Tapi kakaknya yang paling tua baru meninggal 2 tahun yang lalu dan adiknya sudah meninggal dari kecil ketika berumur 10 tahun. Jadi hanya ada 4 orang anak kandung ibunya yang hidup dan Arkan sendiri yang belum menikah.
Arkan juga bercerita bahwa ada satu ponakan laki-laki yang diurusnya dari kecil. Sekarang sedang bersekolah di bangku kelas 5 SD. Ibu dari ponakannya sudah meninggal dunia yaitu kakak kandung Arkan. Kakak kandungnya yang nomor satu. Karena itulah Arkan yang mengurus anak laki - laki itu dari kelas 3 SD. Ponakannya tidak mau tinggal dengan ayah kandungnya di Jakarta, karena ayahnya sudah menikah lagi.
Nadia menangkap cerita Arkan dan memperkenalkan dirinya dengan orang-orang terdekat dari lelaki yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak bahwa Arkan ingin Nadia mengenal dirinya dan keluarganya lebih dekat. Nadia merasa tersanjung dengan hal itu, karena ibunya berkata bahwa Arkan sepertinya serius dengan dirinya. Dengan cara itu lelaki yang beda 5 tahun lebih tua dari Nadia, menyatakan cintanya. Itu kata ibu Nadia.
Nadia memilih baju yang merasa pas untuk pergi menemui calon mertua. Dia memakai model baju Kebaya Brokat dikombinasi Batik Payet. Warna baju yang tak terlalu cerah yaitu warna salem muda yang lembut terlihat serasi di tubuhnya. Ditambah dengan selendang yang meyelempang di bahu menambah kesan manis dari dirinya. Apalagi postur tubuhnya memang tinggi.
Sepertinya terlalu berlebihan. Tapi dia ingin memakai baju ini ketika bertemu dengan calon mertua. Tapi... apakah memang benar wanita yang akan ditemuinya adalah calon mertuanya? Arkan belum pernah menyatakan cinta kepadanya sama sekali. Itu yang terbersit di dalam pikirannya.
Dia mendengar ibunya memanggil dari luar. Ternyata Arkan sudah datang untuk menjemputnya. Nadia keluar dengan malu-malu. Pakaiannya yang terseret ke lantai berusaha diangkat sedikit. Dia langsung menuju pintu keluar rumah dari ruang tamu.
__ADS_1
Ibunya terbelalak.
"Kalian jadinya mau kondangan?"
"Tidak, bu. Mau ke rumah saya ketemu Mama."
Sebenarnya Arkan juga terperanjat ketika melihat Nadia berpakaian yang terlalu berlebihan. Jika hanya untuk bertemu dengan ibunya, mengapa mesti memakai gaun seperti mau ke pesta. Pikirnya. Tapi dia tak ingin menyinggung perasan Nadia. Dia masih menyimpan hal ini.
"Lah.... apa kamu tidak salah kostum, Nad?"
Ibunya sedikit meninggikan suaranya. Dia berdiri di depan pintu utama rumah.
"Tidak bu... sudahlah... Nadia pengen pakai baju ini. Sudah lama juga tidak dipakai, dari acara pesta Nathan, anak Om Tama, cuma pakai sekali."
Ibunya tak ingin membantah anaknya yang memiliki sifat keras kepala.
Nadia menyalami ibunya. Begitu juga Arkan.
"Kami pergi dulu ya, Tan."
Permisi Arkan dengan sopan sambil beranjak keluar rumah.
"Ya. Hati-hati dan jangan terlalu malam pulangnya."
"Baik, Tan."
Nadia melambaikan tangan sambil berjalan menapaki beberapa batu yang ada di taman mini di depan rumah.
Perempuan yang berusia belum genap 50 tahun itu hanya mengangguk.
***
"Apa ada yang salah dengan pakaian Nadia, Mas?"
Nadia bertanya dengan cemas.
"Menurut kamu salah atau tidak?"
Arkan malah bertanya balik. Dia menyetir dengan perlahan. Malam hari ini sangat ramai, mungkin karena malam minggu.
"Sepertinya ada yang mengganjal di hati. Tapi ya sudahlah... sudah terlanjur."
Nadia sedikit membenarkan rambutnya yang disanggul natural ke belakang.
__ADS_1
Arkan tertawa.
"Kenapa, Mas?"
"Enggak. Tidak ada apa-apa."
Tapi Arkan masih tertawa kecil ketika mengucapkan kalimat itu.
"Ah... tidak mungkin. Pasti ada apa-apa kalau dengan wajah dan tertawa seperti itu. Ayo... ngomong."
Arkan memalingkan wajahnya ke kanan, jauh dari hadapan gadis yang sedang salah tingkah saat ini. Dia tertawa ketika melihat ke kanan agar tak dilihat oleh gadis yang duduk di kursi penumpang sebelah kiri.
"Ayo, Mas. Jawab jujur," desak Nadia.
"Jujur ya. Tapi kamu jangan marah dan jangan tersinggung."
Arkan meminta janji terlebih dahulu. Dia masih mengulaskan sedikit senyum. Hal yang dipikirkannya mungkin memang terasa amat lucu.
"Ya."
"Saat ini... aku merasa menculik seseorang."
"Menculik?"
"Ya. Kamu dengan pakaian seperti mau akad nikah dan aku berusaha menculik kamu karena aku tidak setuju dengan orang yang akan menikahi kamu."
Arkan menjelaskan hal itu sembari sedikit tertawa.
"Benarkah?"
Kini Nadia ikut terkekeh. Nalarnya terangsang ketika Arkan berkata demikian. Sepertinya memang benar. Dia berpakaian seperti perempuan yang akan melangsungkan akad nikah, sedangkan Arkan hanya memakai celana jeans dan baju kaos berlengan pendek. Sangat santai.
"Ah sudahlah... yang akan terjadi, ya terjadilah... walaupun calon mertua tidak akan menyukai dia nantinya."
Wajah Nadia terlihat pucat.
"Sudah... santai saja. Mama aku bukan orang yang terlalu banyak menuntut. Dia malaikat bagi diriku. Walaupun umurnya sudah 69 tahun, tapi dia bukan tipe wanita yang suka ngomel dan ngedumel."
Arkan melemparkan tangan kiri, mendekati dan menimpa punggung tangan Nadia yang berada di pangkuan gadis yang sangat ketakutan saat ini. Dia berusaha menenangkan gadis itu dengan sentuhan tangan.
Deg.
Nadia sangat terkejut seakan jantungnya terhenti sesaat.
__ADS_1
Arkan hanya beberapa detik memegang tangan gadis cantik yang berada di sebelahnya, lalu menariknya kembali memegang setir mobil berwarna hitam. Wajahnya memerah.
***