Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Sekedar lewat?


__ADS_3

Nadia dengan cepat mengangkat handphone yang berbunyi di meja ruang tamu. Tertera satu nama di layar handphone. Nama yang tertera adalah nama seseorang yang menelepon dia dua malam yang lalu.


"Halo...."


Gelagatnya sekarang sedang mempersiapkan hati yang sudah berdebar - debar.


"Selamat sore, Bu dokter...."


"Ya. Sore juga, Pak dokter."


Nadia berusaha menjawab dengan santai.


"Saya sedang berada di Jalan Veteran sekarang ini. Rumah Bu dokter di bagian mana?"


"What?"


Nadia terdiam. Di sore Minggu yang tak ada angin atau hujan dia seakan disambar petir di siang bolong.


"Halllllloooo...."


Suara di ujung telepon bernada mendayu.


"Ehem... ya... halo...."


Nadia gelagapan. Santai sorenya tidak  seperti biasa. Sore ini dia sedang menikmati novel koleksinya.


"Saya sedang di Jalan Veteran, rumah Bu Dokter dimana?"


Pria yang ada di balik sambungan telepon mengulang kalimat tadi dengan nada pelan dan jelas.


"Serius...?"


Nadia mengerutkan kening. Matanya menatap lukisan yang ada di ruang tamu.


"Ya... masa' becanda. Bisa saya minta alamat untuk mampir ke rumah?"


"Ouh... ya. Nanti saya share saja dari Google Map."


"Okey... saya tunggu."


Nadia dengan cepat mematikan handphone, membuka aplikasi Google Map. Kemudian dia mengetuk beberapa menu dan mengirim alamat rumahnya via whatsapp.


Klentung.


Ada balasan di aplikasi whatsapp. Tertera nama dr. Dingin di kotak pesan masuk. Nadia membuka pesan masuk. Hanya ada tanda jempol berwarna kuning sebagai balasan dari lokasi yang dikirim.


Nadia segera bangkit dari sofa, lalu berlari ke kamar yang tak jauh dari ruang tamu. Dia tak memperhatikan ibunya yang sedang di dapur, mengintip perilaku anehnya. Dia masuk ke kamar dengan sangat terburu - buru.


Cermin menjadi saksi biksu dari tindakan aneh yang dilakukannya saat ini. Berdiri di depan cermin, merapikan rambut dan membersihkan wajah. Senyum manis terpasang terus diwajah. Senyum itu tak pernah pudar. Setelah merasa rapi dan menarik, dia mengedipkan mata sebelah kanan. Genit. Kesan itu yang bisa ditangkap dari tingkah lakunya saat ini.


Gerakan selanjutnya adalah menuju lemari pakaian. Dia membuka lemari berbahan kayu mahoni, mencari - cari baju mana yang akan dikenakan. Sepertinya, Nadia tergesa - gesa dan salah tingkah dan juga bingung tentunya. Setelah beberapa  menit dia baru memutuskan baju yang akan dipakainya.


"Nad... Handphone kamu bunyi terus tuh." Suara ibunya terdengar masuk ke dalam kamar.


"Apa? Mungkin dr. Arkan yang menelepon."


Dia membuka pintu kamar dengan keras menuju ruang tamu. Dengan kecepatan tinggi Nadia berlari ke ruang tamu. Menyambar handphone yang mendendangkan lagu bernada panjang.


"Halo, dok."


Nadia menahan nafasnya yang tersengal agar tak di dengar oleh lawan bicara di balik handphone.


"Sepertinya saya sudah di depan rumah. Rumah bercat warna kuning, kan?"


Nadia terperanjat. Dia berlari menuju jendela, mengintip.


"Ah... Memang benar!"


Di depan rumah sudah berhenti sebuah mobil mercy berwarna hitam.


"Ya... sebentar dok. Nanti adik saya yang membukakan pintu pagar."


"Ok. Mobil aman kan jika saya parkirkan di depan rumah?"


"Aman, dok."


"Mau dimana lagi di parkir, ya hanya bisa parkir di situ. Emangnya rumah aku mall."

__ADS_1


"Oke."


Nadia mendengar nada putus dari balik telepon genggamnya. Gadis yang masih belum sempurna memakai baju tadi, berlari dengan cepat ke dapur.


"Ma, tolong suruh Natan atau Nazri membukakan pintu pagar, ada tamu. Teman Nadia."


Gadis itu tersengal - sengal menahan nafasnya.


"Siapa?"


Ibunya terperanjat dengan perilaku anaknya yang berkelebatan datang ke dapur seperti seorang pendekar.


"Teman Nadia. Nadia mau merapikan pakaian dulu, Ma."


"Oke."


Kemudian ibunya memanggil Nazri, adik Nadia paling kecil untuk membuka pintu pagar.


Nadia kembali berlari ke kamar yang tak jauh dari dapur, dia bergegas merapikan pakaian yang sudah dikenakan. Kali ini Nadia memakai rok dari bahan jeans berwarna biru pudar dipasangkan dengan kemeja berlengan panjang berwarna krim. Dia berusaha untuk serapi mungkin.


Nadia mendengar pintu pagar digeser. Lalu dia juga mendengar pintu depan rumah dibuka dan suara sapaan, dilanjutkan kata mempersilahkan masuk terdengar dari mulut ibunya.


'Silahkan duduk, nak. Nadia masih di dalam kamar. Tunggu sebentar ya'. Dia mendengar ibunya mengucapkan kalimat itu.


"Ya Tuhan... aku harus bagaimana?" bisik Nadia. Dia berperilaku seolah - olah bertemu presiden.


"Nad..."


Ibunya memanggil dan mengetuk pintu kamar beberapa kali.


"Iya, Ma. Nadia udah selesai kok."


Terdengar suara pintu kamar dibuka dan Nadia pun keluar.


"Siapa sih pemuda itu...? Cakep amat?"


Ibunya sedikit berbisik.


"Ah... Mama... teman Nadia."


Suara gadis yang sengaja menggeraikan rambutnya itu sedikit manja. Seolah-olah ibunya menggoda dia dan dia melawan dengan suara itu.


Masih tetap berbisik.


"Ya ampun. Nih orang tua, Kepo amat!"


"Nanti, Ma. Nanti Nadia jelaskan."


Nadia bergerak menuju ruang tamu. Ibunya yang terbengong ditinggalkan sendirian di depan pintu kamar.


"Pak Dokter, akhirnya sampai juga di rumah saya. Jadi merepotkan pak dokter, saya jadi tidak enak."


Nadia berasa - basi.


"Wah... dia terlihat lebih muda dengan menggunakan baju kaos dan celana jeans. Tolong aku Tuhan... kuatkan imanku...."


"Hai...."


dr. Arkan bangkit dari duduknya.


"Panggil dengan nama Arkan saja, tapi pakai Mas ya supaya lebih sopan."


Arkan tersenyum. Candaannya seperti kena ke gadis yang berdiri di depannya.


"Senyum itu. Ah...."


"Ouh, iya, Mas Arkan. Silahkan duduk. Inilah gubug saya, Mas. Enggak susah khan mencarinya?"


Nadia meracau untuk menghilangkan kege-erannya.


"Tidak. Kan sudah dibantu dengan kehebatan teknologi. Google map."


Arkan kembali tersenyum setelah mengatakan kata terakhir.


Arkan kembali duduk dengan perlahan. Matanya melirik 3 novel yang ada di meja ruang tamu. Tertulis judul "Langit Bumi" di salah satu sampul novel yang berada di tumpukan paling atas.


"Sebentar ya, Mas. Saya ke dapur. Sebentar saja."

__ADS_1


Nada suara Nadia tak seperti biasa. Terlihat genit dan sedikit manja.


"Oh, ya... silahkan."


Arkan kembali tersenyum. Dia duduk dengan gagah. Punggungnya berdiri rata sejajar punggung sofa. Dia mengambil buku novel yang ada di meja.


Di sisi lain, Nadia bergerak cepat menuju dapur. Dia tak melihat lagi ibunya di pintu kamar. Ternyata wanita itu sudah di dapur ketika Nadia masuk ke ruangan kecil itu.


"Ma, Nadia mau buat minuman."


"Sudah... kamu temeni saja tamu kamu. Ibu sedang buatkan minuman nih."


Ibunya tersenyum.


Nadia merasa ada senyum genit di bibir wanita yang melahirkannya.


"Hadeeeh...."


Nadia tak berkata apapun, dia langsung menuju ke ruang tamu. Tapi kali ini dia berjalan perlahan. Tak tergesa - gesa. Jaga image.


"Maaf, ya Mas. Ditinggal."


Kalimat itu keluar ketika Nadia sudah mencapai ruang tamu dan melihat pria yang memakai baju kaos lengan pendek berwarna hitam meletakkan buku novel itu kembali di meja.


"Mas Arkan, darimana?"


Gadis itu berangsur duduk di sofa. Bersebrangan dengan tamunya.


"Maksudnya?"


Kening pemuda itu berkerut.


"Tadi katanya sekedar lewat, emang Mas Arkan darimana?"


"Oh. Hmmm... dari... tempat temen... di sekitar lokasi ini juga."


Pemuda yang merupakan dokter spesial itu sepertinya berbohong.


Nadia membaca gelagat pemuda bernama Arkan.


"Oh...."


"Sepi. Kemana anggota keluarga yang lain? Rafi dimana?"


Arkan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Rafi tidak tinggal di sini, Mas. Kakak saya tinggal beberapa blok dari sini," jelas Nadia. Nadia menoleh ke samping, merasa ada sesuatu. Ternyata dia melihat ibunya membawa baki minuman. Gadis itu langsung berdiri dan menyambut baki yang berwarna merah muda.


"Ini Ibu saya, Mas," nyata Nadia. Dia. Mengambil Bali dari tangan ibunya.


"Ouh, iya. Tadi saya sudah langsung bertemu. Saya pikir kakaknya Nadia."


Arkan bersungguh - sungguh mengucapkan kalimat itu.


"Ah... bisa aja, anak muda ini."


Ibu Nadia langsung duduk di sofa bersebelahan dengan Nadia. Terlihat wajah ibu Nadia yang tersipu malu. Kalimat yang dilontarkan Arkan merupakan pujian baginya.


"Hadeeeh..." 


Nadia yang sedang menuangkan minuman ke dalam gelas dalam kondisi berdiri, sedikit melirik ibunya.


"Namanya siapa, nak?"


"Saya Arkan, Tante...."


"Teman Nadia satu kantor?"


"Ouh, bukan. Saya dokter yang memeriksa Rafi seminggu yang lalu," jelas Arkan. Dia menjawab pertanyaan wanita itu dengan sangat sopan.


"Ouh, ya ampun... dokter spesialis itu... Nadin banyak cerita tentang, Nak Arkan."


"Apa maksud dari kata, 'itu'? Cerita apa?" Nadia bergumam, dia duduk di sofa setelah menuangkan air ke dalam gelas. Dia terdiam. Wajahnya datar.


"Jadi, Nak Arkan dokter spesialis anak ya? Tinggal dimana?


"Haduuuh... ancur deh dunia percintaan."

__ADS_1


Nadia merutuk. Dia tahu cerita ibunya bakal panjang.


***


__ADS_2