Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Dewi Kebijaksanaan


__ADS_3

"Aku benci, Nad kalau mendengarkan hal ini. Terus terang, aku sangat benci dengan tipe manusia seperti itu."


Tisna sangat marah. Mukanya memerah karena menahan amarah. Perawat itu berjalan mengiringi langkah Nadia yang pelan. "Lagian... Kenapa sih, kamu kok mau-maunya dengerin omongan yang ndak penting itu." Tisna melanjutkan amuknya sembari mensejajarkan diri dengan Nadia.


Nadia hanya terdiam. Dia bersama Tisna berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat parkir. Pikiran Nadia sedang kacau saat ini.


15 menit sebelum waktu berakhir, Nadia bercerita tentang pertemuannya dengan Riana tadi siang. Dia bercerita tentang Arkan dan Daniel. Tentang perlakuan mereka di depan umum. Kata memegang dan mengelus menjadi topik yang sangat dipikirkannya. Ketika mendengar cerita Nadia, Tisna sangat tidak setuju dengan perlakuan Riana kepada temannya ini. Tisna berusaha mengorek dari Nadia, apa maksud dibalik perlakuan Riana mengadukan tentang Arkan  kepada dokter muda itu. Tapi... dia hanya bisa berteori di dalam pikirannya. Tidak disampaikan ke Nadia.


"Jadi... apa yang mengganggu pikiranmu sekarang?"


Tisna menghentikan langkah dan menahan Nadia untuk menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan tubuh Nadia. Kini mereka berhadapan. Tisna melihat raut wajah Nadia yang sedikit kacau. Bingung. Itu yang bisa dibaca oleh perawat yang menggulung rambutnya ke atas.


"Aku bingung, Tis. Apakah harus aku lanjutkan pertunangan ini?" lantur Nadia. Dia menatap ke arah Tisna dengan mata yang sendu.


"Ya Allah, Nad...! Hanya karena perkataan dari Riana kamu langsung ingin merubah keputusan...! Kamu 100 persen mempercayai omongan Riana?" amuk Tisna. Dia menatap balik tatapan Nadia ke arahnya.


"Entahlah Tis...."


Nadia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.


"Sekarang aku tanya deh... kamu berpikir kalau Arkan dan Daniel pacaran?"


"Aku ndak tau..., aku bingung," jawab Nadia cepat. Dia sedikit menggelengkan kepalanya.


"Apa yang membuatmu bingung? Kok secepat itu kamu percaya dengan omongan Riana?"


"Riana pernah satu sekolah dengan Mas Arkan sewaktu di SMA. Jadi... dia bilang ke aku kalau dari SMA Arkan sudah dicap seperti itu. Tidak menyukai perempuan," jelas Nadia.


Tisna baru tahu informasi ini. Dia terdiam. Berusaha berpikir dengan jernih. Kedua matanya tidak menatap Nadia lagi, tapi sedikit tertunduk.

__ADS_1


"Awalnya aku membantah isu yang diutarakan oleh Mba Riana. Tapi setelah dia bicara tadi siang, aku menjadi ragu."


Nadia membelokkan sedikit badannya dan bergerak, berjalan dengan pelan.


Tisna mengikuti. Dia menggandeng tangan Nadia.


Mereka berdua terdiam sesaat. Suara ketukan sepatu menyentuh lantai terdengar dengan keras. Berirama. Tapi irama yang dikeluarkan adalah ketukan pelan. Nadia merenung sambil berjalan pelan. Tisna mengikuti. Perawat ini berusaha mensejajarkan diri dengan patner kerjanya itu.


Setelah beberapa langkah....


"Tapi... kalau mereka berdua pacaran untuk apa dr. Arkan mengajakmu tunangan? Dan... untuk apa dr. Arkan memperkenalkan Daniel kepadamu?"


Tisna kembali menahan langkah Nadia. Dia kembali menarik tubuh Nadia agar berhadapan dengannya.


"Nad... Coba kamu pikirkan secara logika. Kalau mereka berdua pacaran, dr. Arkan tidak akan memperkenalkan Daniel kepadamu secara pribadi. Dia sengaja mengajakmu dan aku untuk berkenalan dengan Daniel. Secara pribadi. Secara khusus. Bukan berkenalan di jalan karena kebetulan. " jelas Tisna. Dia berusaha menyatakan teorinya untuk meyakinkan temannya itu.


"Mas Arkan melakukan itu karena dia memang ingin memperkenalkan Daniel kepadaku. Katanya, saat ini ada tiga orang yang penting di dalam hidupnya. Ibunya, Fandi dan Daniel."


"Nah... Bener kan? Dia berusaha untuk memperkenalkan ketiga orang itu agar bisa bersosialisasi dengan baik kepadamu. Dia ingin menyatakan bahwa inilah orang-orang yang penting di dalam hidupnya dan dia berusaha memberitahumu supaya kamu bisa mengerti akan hal itu," jelas Tisna. Dia berusaha menjernihkan kembali pikiran Nadia yang keruh karena Riana. Dari dulu... ketika Nadia bercerita tentang Riana yang ingin menjodohkan dirinya dengan saudara kandungnya, Tisna menyimpulkan bahwa perempuan itu sedikit memaksa. Di situlah Tisna kurang menyukai Riana. Tisna hanya beberapa kali bertemu dengan Riana karena diajak oleh Nadia. Tapi, Tisna tidak terlalu akrab dengan perempuan yang berprofesi sebagai dosen itu.


Nadia kembali membelokkan badannya dan meneruskan kaki dengan perlahan berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Dia berusaha memasukkan aura positif di dalam pikiran.


"Sudahlah Nad. Memang seperti ini. Ketika kita sudah bertemu dengan jodoh yang pas, akan banyak cobaan yang dilalui. Setan akan berusaha menggoda manusia agar tidak melaksanakan pernikahan. Karena apa? Ketika kita sudah menikah dan halal, ladang dosa yaitu zina, pasti akan tertutup. Setan tak menyukai itu, karena itulah dia berusaha terus untuk menghalangi manusia yang ingin menikah. Itu yang dikatakan bapakku."


Tisna seakan menjadi seorang ustadzah ketika mengucapkan itu. Tapi dia ingin menenangkan hati dan menjernihkan pikiran Nadia dengan kalimat yang diucapkannya.


Sepertinya nasehat dari Tisna masuk ke dalam otaknya. Dia berusaha untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan hati. Aura positif kembali dialirkannya ke dalam darah.


Memang benar kata Tisna. Jika Arkan tidak serius dengannya, untuk apa dia mengajak bertunangan. Jika memang Arkan memiliki hubungan khusus dengan Daniel, untuk apa dia memperkenalkan Daniel secara pribadi. Hal itu karena Arkan ingin Nadia mengenal dekat Daniel. Seseorang yang begitu  penting dalam dirinya. Dan Arkan juga sudah mengakui itu ke Nadia.

__ADS_1


Pada saat pertemuan yang direncanakan, Arkan juga menyuruh Nadia untuk membawa Tisna karena dia menghormati Nadia sebagai perempuan. Tak mungkin Nadia datang sendirian sebagai perempuan dan duduk bertiga dengan dua orang laki-laki yang belum dikenal dekat olehnya. Jika itu terjadi, seolah-olah Nadia adalah barang yang akan ditawarkan.


Arkan memiliki sikap yang diacungi jempol oleh Nadia. Sopan. Berakhlak. Tahu mana sikap yang beradab dan yang sebaliknya. Nadia bisa melihat hal itu ketika mereka dekat beberapa bulan ini.


Arkan yang dianggapnya adalah manusia dingin dan angkuh, sekarang menjelma menjadi seorang manusia setengah dewa. Tak hanya baik kepadanya, tapi juga baik kepada orang lain.


"Nad... sudah ya. Jangan terlalu dipikirkan lagi. Kalau ada hal yang ingin dibicarakan, telepon aku malam ini."


Tisna berujar. Dia melepaskan pegangannya kepada Nadia.


"Oke. Sampai ketemu besok."


Nadia melambaikan tangan.


Tisna membalas lambaian Nadia dengan pelan dan tersenyum. Kemudian dia berbelok dan membelakangi Nadia.


Nadia... tertegun. Dia masih melihat ke arah punggung Tisna yang berjalan dengan gemulai.


"Semoga engkau tetap menjadi sahabatku sampai akhir hidup kita, Tis. Terima kasih."


Mereka berdua berpisah ke arah yang berbeda. Nadia melangkah menuju parkiran mobil. Sedangkan Tisna berbelok ke sebelah kiri memasuki tempat parkir sepeda motor.


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2