
Tugu... dengan desain patung di atasnya yang berwarna coklat keemasan terlihat di depan stadion bola. Di tugu terlihat 2 patung berdiri di atas cawan. Di depan terlihat patung perempuan berpakaian adat Jawa yang sedang merentangkan busur panah ke arah kiri dengan kepala yang berpaling ke kiri juga. Patung kedua, berada pas di belakang patung perempuan tadi, juga menggunakan pakaian adat Jawa, terlihat seorang pria yang sedang memalingkan kepala ke kiri, melihat sasaran panah yang akan dipanah oleh perempuan di depannya. Tugu ini adalah ciri khas dari Stadion Manahan di kota Solo. Tugu ini terletak di pintu halaman depan sebagai pelambang selamat datang bagi para pengunjung.
Arkan memarkirkan mobil mercy hitam di depan Stadion Manahan. Dia memarkirkan mobil tepat di posisi sesuai garis putih. Mematikan mesin dan berusaha untuk membuka pintu mobil, digerakkan selanjutnya.
"Ayo."
Arkan menarik handle pintu, membuka daun pintu dan keluar dari mobil.
Seorang gadis membuka pintu depan di sisi lain. Dia juga keluar dari mobil yang sama. Gadis itu terlihat aneh dengan tempat yang dituju mereka saat ini. Terlihat dari raut wajahnya.
Arkan menunggu gadis yang terlihat canggung, di sisi mobil lain. Dia menatap gadis itu dan menyematkan senyum yang mempesona. Menunggu.
"Ayo, Nad. Kita masuk."
Nadia berjalan mengitari mobil, mendekati Arkan dari bagian depan.
Arkan langsung meraih tangan kanan Nadia dan menggenggam tangan mungil itu. Kemudian dia berjalan dengan santai.
Nadia terkejut. Mukanya memerah. Hentakan irama jantung bertambah dua kali lipat. Dia mengikuti langkah Arkan memasuki Stadion Bola Manahan Kota Solo dan membiarkan tangan itu lengket di dalam genggaman lelaki yang sedang bersamanya saat ini.
Arkan merogoh kantong celana berbahan kain dan mengeluarkan tiket yang sudah dibeli dari 2 hari yang lalu. Dia memberikan tiket itu kepada petugas yang menunggu di depan pagar yang menghalangi penonton agar tidak masuk sembarangan. Tangan kiri Arkan tetap menggenggam tangan kanan Nadia. Mereka berjalan beriringan setelah masuk dan melewati pagar pembatas.
Arkan berusaha mencari kursi yang sudah mereka pesan sesuai tiket. Di dalam stadion bola sudah banyak penonton yang menduduki kursi sesuai nomor tiket mereka. Setelah berjalan dan menaiki tangga beberapa kali, akhirnya Arkan menemukan barisan tempat mereka akan duduk. Lelaki itu masuk terlebih dahulu, meninggalkan Nadia di belakang, tapi masi memegang tangannya. Arkan menuntun Nadia ke dalam. Mereka melewati sekitar 7 kursi yang sudah ada penonton duduk di kursi itu. Lalu mereka duduk di tempat duduk berwarna biru. Memang sesuai dengan nomor di tiket masuk.
Arkan melihat ke arah pemain bola yang sudah mulai dari 10 menit yang lalu. Dia menegakkan punggungnya dan melihat pertandingan itu dengan serius.
Rasa penasaran Nadia terobati. Ternyata Arkan membawanya untuk menonton bola di stadion ini.
Tadi pagi, Arkan tiba-tiba meneleponnya. Karena Hari Minggu dan tadi malam dia tidak datang ke rumah Nadia, Arkan ingin mengajak Nadia keluar. Tentu aja Nadia bertanya akan pergi kemana. Arkan hanya berkata, "Sudah... berpakaian saja. Nanti kamu tau sendiri."
Nadia menuruti keinginan Arkan tanpa bertanya lagi. Satu jam kemudian, Arkan sudah menjemput Nadia di rumah.
Nadia tak biasanya seperti ini. Biasanya, jika temannya mengajak dia pergi, dia selalu bertanya akan kemana, walaupun itu seorang perempuan. Apalagi jika yang mengajak seorang laki-laki, dia pasti akan meminta penjelasan yang tepat, mau kemana dirinya akan dibawa.
Tapi... dengan Arkan, dia tak bertanya. Seakan lelaki itu menyihirnya melalui telepon untuk mengikuti perkataan dan mewujudkan keinginannya. Dia rela tak mendapat penjelasan yang jelas akan dibawa kemana dirinya hari ini.
__ADS_1
Di dalam mobil, Arkan tidak menjelaskan ketika ditanya Nadia kemana tujuan mereka saat ini. Arkan hanya menjawab, "Lihat saja nanti."
Sekarang, Nadia duduk di antara ribuan orang di Stadion Manahan Kota Solo. Dia menonton pertandingan bola dan ini hal baru yang dilakukannya. Dia berusaha menikmati pertandingan ini dan memang dia berhasil menikmati dengan orang yang mulai dicintai olehnya.
*******
"Emangnya hobi bola, Mas?"
"Tidak...."
"Loh kok... ngajak aku nonton bola?"
"Ya... seru aja. Percaya atau tidak, aku baru kali ini menonton bola di stadion bola," jelas Arkan lugas.
Nadia memasang wajah keheranan. Dia melihat lelaki yang semakin terlihat tampan di matanya. Lelaki itu sedang melihat jalan, lurus ke depan. Tangannya begitu lembut mengendalikan stir mobil.
"Kenapa?" tanya Arkan tanpa melihat ke Nadia.
"Ya... aneh aja, Mas. Mas Arkan tidak suka bola tapi membawa aku nonton bola."
Arkan berkata sedikit manja.
Wajah Nadia memerah. Dia serasa ingin memegang telinganya, ingin merasakan apakah indra pendengaran itu juga ikut memerah.
"Nanti... kalau kita sudah jadi suami istri, kita lakukan hal - hal yang baru bersama lagi. Gimana?"
Tentu saja Arkan tidak melihat ke arah Nadia ketika mengatakan kalimat itu. Dia menyibukkan matanya melihat ke arah jalan yang sedang dilalui.
Wajah Nadia semakin memerah. Kakinya seakan ingin menghentak-hentakkan di lantai mobil seperti kuda betina yang mencari perhatian. Dia tak bisa berkata sedikitpun. Lidahnya kelu.
"Suami istri... ah... indah sekali..."
*******
"Nad... bangun... sudah sore."
__ADS_1
Ibu Nadia mengetuk pintu kamar beberapa kali.
Nadia tersentak bangun dari tidurnya. Dia bergegas bangkit dari tempat tidur dan mengikat rambutnya yang sedikit berantakan. Gadis itu langsung berlari kecil ke arah pintu dan membuka pintu yang berwarna coklat tua.
"Sudah mau maghrib. Kamu sudah sholat Ashar?"
Ibunya bertanya sambil berdiri di depan kamar ketika pintu sudah terbuka.
"Sudah, Ma. Selesai Ashar tadi Nadia ketiduran," jawab Nadia sambil mengucek mata sebelah kanan.
"Emang tadi kemana dengan Arkan?" tanya ibunya pelan.
"Nonton bola di stadion Manahan.
Nadia keluar melewati ambang pintu, berjalan menuju dapur.
"Nonton bola? Ngapain?"
"Lah... nonton bola dong, Ma. Nonton pertandingan bola."
Nadia menjelaskan sambil berjalan.
"Kok bisa?"
"Apanya yang bisa loh, Ma?"
Nadia memang harus ekstra sabar jika dia membicarakan hal tentang Arkan kepada ibunya. Wanita itu selalu tertarik jika cerita tentang lelaki yang baru dikenal Nadia, belum 2 bulan. Ibunya seakan - akan haus berita tentang lelaki berprofesi sebagai dokter spesialis itu.
"Biasanya orang pacaran ngajakin nonton bioskop. Makan atau pergi ke tempat rekreasi. Ini kok nonton bola?"
Nadia hanya mengangkat bahunya dengan cepat. Nadia masuk ke kamar mandi yang ada di dapur.
"Kalian sudah pacaran, kan?" jerit ibunya dari dapur.
Nadia tak menjawab, dia malah sengaja membuang air ke lantai kamar mandi agar seolah-olah tak mendengar perkataan ibunya itu.
__ADS_1
*******