Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Dewi Racun


__ADS_3

Nadia menarik kursi Cafe berwarna oranye. Dia berusaha duduk dengan pelan tapi dengan wajah penasaran.


"Sudah lama, Mba di sini?"


"Sudah setengah jam," ujar perempuan bertubuh gemuk dengan singkat. Perempuan yang memakai baju PNS berwarna hijau melihat sedikit mendonggak ke arah Nadia. Dia duduk sambil menikmati makanannya.


"Ada apa, Mba? Sepertinya penting banget yang ingin Mba Riana bicarakan?"


Nadia memantapkan duduknya. Dia menatap lurus ke arah perempuan yang sedang duduk di hadapannya.


Perempuan itu adalah Riana. Dia menelepon Nadia tadi pagi dan ingin bertemu dengan gadis itu siang ini. Riana sedikit memaksa untuk bertemu Nadia. Ada hal penting yang akan disampaikan.


Sebenarnya, Nadia tak punya waktu untuk bertemu dengan Riana. Dia merasa tak cukup waktu istirahatnya untuk bertemu dan berbincang dengan sahabat yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Tapi Riana mendesak. Dan perempuan yang sudah dikenalnya cukup lama, memutuskan untuk datang ke tempat kerja Nadia. Dengan berat hati Nadia menyetujui itu. Mereka berjanji bertemu di Cafe ini. Cafe yang tak jauh dari lokasi RSUD dr. MOEWARDI.


Tentu saja hal ini membuat Nadia penasaran. Apa sebenarnya yang akan disampaikan oleh perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini? Sampai dia rela untuk datang ke lingkungan tempat Nadia bekerja. Jarak dari Universitas Sebelas Maret ke RSUD dr. Moewardi tidak jauh tapi harus melalui beberapa titik kemacetan ketika menuju ke tempat ini.


"Ada apa, Mba?" tanya Nadia lagi. Dia penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan oleh Riana.


"Pesan makanan deh. Kamu kan belum makan? Masih banyak waktu istirahat kan?" saran Riana dengan pelan. Dia masih menikmati makanannya dengan perlahan.


Nadia mencari pelayan. Melihat ke sekeliling. Dia menuruti perintah Riana. Hitungan detik, Nadia sudah menemukan pelayan yang sedang berdiri di meja lain. Dengan sigap Nadia memanggil pelayan perempuan yang memakai baju kuning dengan celemek berwarna hitam. Ada topi yang menghiasi dirinya tertempel di kepala.


Pelayan perempuan yang bertubuh kecil mendatangi Nadia. Dengan cepat pelayan itu bergerak. Setelah sampai di samping pelanggan, dia langsung memberikan salam dengan nada hangat dan memberikan buku menu dengan sipan. Berdiri, menunggu pelanggan memilih makanan dan minuman yang akan dipesan.


Beberapa menit Nadia melihat menu makanan dan minuman. Beberapa kali dia membolak-balikkan kertas menu yang tebal setebal kardus tapi dikemas dengan baik. Akhirnya pilihannya jatuh ke Sate Buntel dan Lemon Tea Hangat.


Pelayan perempuan yang telah menulis dan mengulang kembali pesanan Nadia, bergerak cepat menuju meja pemesanan.


Nadia kembali menatap Riana. Diam.


Riana tahu arti dari tatapan itu. Dia menyelesaikan minumnya. Dengan perlahan sedotan berwarna coklat terlepas dari bibirnya.


"Gimana hubunganmu dengan Arkan?"


Riana bertanya dengan gaya santai. Dia berusaha untuk menahan informasi penting yang ingin disampaikannya.


"Baik."


Nadia duduk dengan tenang. Punggungnya menempel di punggung kursi.


"Sering bertemu dengan Arkan?"


"Jadi... hal yang penting, yang mau Mba bicarakan soal Arkan?" tanya Nadia. Nada suaranya sedikit meninggi dengan tanda tanya besar. Dia makin penasaran. Biasanya mereka bertemu hanya membicarakan hal-hal kecil dan bukan hal yang terlalu serius.


"Ya."

__ADS_1


"Ada apa Mba, dengan Mas Arkan?"


"Kamu sering bertemu dengan Arkan?"


"Termasuk sering, Mba. Kemarin, Mas Arkan menjemput aku dan mengantarku pulang ke rumah," jelas Nadia.


"Kemarin?"


"Ya."


"Trus... Arkan langsung pulang ke rumah? Apa dia ada mengatakan sesuatu kepadamu sebelum pulang?"


"Ada apa sebenarnya ini, Mba? Aku kok jadi bingung. Kenapa Mba Riana tertarik banget tentang Mas Arkan?" tanya Nadia dengan wajah penasaran dan sedikit kesal.


"Jawab saja, Nad. Aku hanya ingin tau," ketus Riana.


"Mas Arkan mengantarku pulang, kemudian dia pergi ke tempat lain bersama asistennya."


"Asistennya? Dia mengatakan itu kepadamu?"


"Ya. Dia mengatakan kalau dia ingin pergi dengan Daniel untuk membeli sesuatu di Pusat Perbelanjaan."


Sebenarnya Nadia mulai kesal. Tapi dia berusaha mengikuti alur yang diinginkan oleh perempuan bertubuh gemuk di hadapannya ini. Kemana arah pembicaraan ini akan dibawa.


"Daniel? Kamu kenal dengan asistennya Arkan?"


"Mengenalkan?"


Kening Riana berkerut.


Nadia tidak ingin menanyakan perihal mimik yang dikeluarkan Riana saat ini. Dia berusaha sabar untuk menunggu hal pnting yang ingin dibicarakan oleh Riana. Setidaknya dia tahu bahwa hal penting itu berhubungan dengan Arkan. Tapi, dia merasa aneh ketika Riana terkejut ketika Nadia mengatakan bahwa Arkan pernah mengenakan Daniel kepadanya.


"Kamu tidak curiga dengan Arkan dan asistennya itu?"


Riana berusaha untuk membuka tabir sedikit demi sedikit. Tabir informasi yang akan diberikannya.


"Curiga? Kenapa? Ada apa dengan mereka berdua?"


Nadia duduk dengan sikap tak santai lagi. Dia mulai bisa membaca kemana arah pembicaraan Riana.


"Aku melihat mereka di Pusat Perbelanjaan kemarin malam."


Riana menghentikan ucapannya. Pelayan perempuan datang membawakan minuman pesanan Nadia.


Pelayan itu mendekati meja dengan perlahan, meletakkan gelas berwarna putih berbentuk seperti toples yang bergagang. Dia mempersilahkan Nadia untuk meminum pesanannya. Berlalu sembari tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih," balas Nadia. Gadis ini menarik gelas yang berbentuk unik mendekatinya.


"Aku melihat mereka berdua di Pusat Perbelanjaan kemarin malam. Arkan Sepertinya tidak melihat aku atau mungkin dia tidak mengenaliku. Dulu, kami juga tidak pernah tegur sapa ketika SMA. Entahlah... mungkin dia memang tidak mengenaliku sama sekali."


Nadia terdiam. Dia melihat ke arah Riana. Berusaha mencerna kalimat yang diucapkan oleh perempuan yang berjilbab dan berusaha menafsirkan sesuatu dari ucapannya.


"Arkan lebih ganteng ya sekarang. Pantesan kamu kepincut."


Tak ada senyum ketika Riana mengucapkan kalimat itu. "Sewaktu SMA dia juga sudah terlihat rapi dan menarik, tapi... kemarin aku melihat Arkan lebih menarik dan sepertinya sangat sempurna. Asistennya juga. Tampan."


Pujian yang dikeluarkan oleh Riana, tidak menyisakan senyum dibibir. Tunggu dulu... sepertinya itu bukan pujian. Lebih tepatnya lagi adalah sindiran.


Nadia berusaha menahan hati. Dia membiarkan Riana berkomentar sesuka hati di hadapannya untuk saat ini. Dia berusaha menikmati Lemon Tea Hangat dengan santai. Apalagi pelayan perempuan sudah datang membawakan makanan yang dipesan. Nadia berusaha untuk fokus ke makanan yang tersusun rapi di piring. Beberapa tusuk sate sudah tersedia di dalam piring. Nadia masih bersabar untuk mendengarkan omongan Riana selanjutnya.


"Kamu benar - benar tak curiga, Nad dengan mereka berdua?" tanya Riana. Sekarang dia mulai gelisah dengan respon Nadia yang biasa saja ketika mendengar ceritanya.


"Curiga...? Dalam hal apa, Mba?" Nadia balik bertanya. Cuek. Sembari berusaha untuk menikmati makanannya dengan baik.


"Aku melihat mereka dengan mata kepalaku sendiri. Sepertinya mereka berdua cukup mesra. Bercanda. Asistennya memegang tangannya. Dan Arkan mengelus kepalanya di depan umum."


Gerakan tangan kanan Nadia tersekat. Tangan yang sedang memegang tusuk sate mendekati bibir dan bibirnya berusaha untuk menarik daging yang menggoda untuk dinikmati.


"Memegang? Mengelus?"


Sepertinya kata itu mepengaruhi Nadia. Keningnya berkerut. Makannya terhenti.


"Ya. Bukan menggenggam, mereka berdua berbicara, mungkin sambil bercanda. Laki-laki itu memegang pergelangan tangan Arkan seperti ini."


Riana mempraktekkan dengan kedua tangannya. Tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri. "Trus... Arkan hanya tertawa kemudian mengelus kepala laki-laki itu."


Nadia jadi tak selera makan ketika mendengar pernyataan Riana. Dia meletakkan tusuk sate yang isinya masih setengah dimakan. Diletakkannya secara perlahan di atas piring. Dia berusaha menghilangkan pikiran negatifnya dengan cara meminum air hangat berasa lemon dicampur teh. Nadia terdiam. Menyandarkan punggung rampingnya ke kursi.


"Sorry, Nad. Mba hanya ingin kamu tau tentang hal ini."


Riana berkata dengan lembut.


Nadia hanya diam. Sekarang pikirannya berkecamuk. Hatinya serasa terbakar. Otaknya berusaha untuk melawan pikiran buruk yang mulai menyerang.


"Trus... Mba Riana liat apa lagi?" jawab Nadia ketus.


"Arkan berada di kasir. Sepertinya dia yang membayar barang belanjaan. Asistennya cuma berdiri saja, jauh dari kasir. Main handphone. Seharusnya tugas asisten tidak seperti itu kan?"


Riana berusaha meracuni pikiran Nadia. Walaupun, mungkin dia tak sadar telah melakukan hal itu.


Nadia terdiam. Pikirannya semakin tak karuan. Dadanya sesak. Dia tak selera makan lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2