Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
"Ngapain?"


__ADS_3

Lorong Rumah Sakit dr. Moewardi sangat ramai dikunjungi pasien setiap hari. Begitu juga dengan pagi ini.


Nadia berusaha berjalan di lorong menuju lobi dengan berhati - hati agar tidak berbenturan dengan orang lain. Sesekali dia menebarkan senyum kepada orang yang berselisih jalan dengannya.


Gadis itu ingin menuju ke ruangan administrasi, ada beberapa berkas yang ingin dilihat. Ketukan sepatunya terdengar cepat, dia berjalan seperti biasanya, lincah dan gesit.


Tiba - tiba, langkahnya tersekat. Beberapa detik kemudian, dia langsung berlari kecil dan bersembunyi di balik dinding rumah sakit yang membatasi ruangan lobi dan pintu masuk. Dia sedikit mengintip.


"Ngapain dia di sini...?" lirih Nadia.


"Siapa sih?"


"Astaghfirullah!"


Nadia terperanjat. Dia mengelus dadanya ketika melihat satu sosok di belakang tanpa sepengetahuan dirinya.


Ternyata sudah ada Tisna, teman yang sekaligus menjadi perawat di bagian tempat dia bekerja, menempel di pinggangnya.


Tisna juga mengintip seperti Nadia. Tapi posisi dia sedikit menunduk berada di pinggang dokter perempuan itu.


"Ish... Tisna, ngapain sih?"


"Lah... Bu Dokter yang ngapain?"


Tisna balik bertanya.


"Aku melihat dokter spesialis yang aku ceritakan ke kamu kemarin."


Nadia mengatakan hal itu sedikit berbisik dan melanjutkan pengintaian. Dia mengintip dengan sebelah mata. Hanya sebelah wajah yang terlihat di balik dinding. Sebelahnya lagi tersembunyi dengan rapi.


Begitu juga Tisna, kembali mengintai tapi posisi Tisna yang berada di pinggang Nadia, sangat berbeda, seluruh kepala dan lehernya terlihat jelas. Hanya badannya yang tersembunyi di balik dinding.


"Yang mana? Pria yang tinggi dan memakai baju biru muda itu?"

__ADS_1


"Ya."


"Wah... tampan. Sangat tampan malah. Wajahnya seperti Aliando."


"Aliando... matamu!" teriak Nadia kesal. "Tapi alisnya emang mirip sih..." Kali ini Nadia berkata dengan pelan dan sedikit tersenyum cengengesan.


"Eh... kita ngapain begini?"


Nadia baru sadar bahwa perilaku mereka sangat aneh di tengah keramaian di lorong rumah sakit itu. Padahal manusia yang ada di dekat mereka sudah memperhatikan perilaku aneh itu dari beberapa menit yang lalu. Dia langsung menarik kepala Tisna yang mencuat keluar dari dinding. Dia berusaha menegakkan temannya yang berprofesi sebagai perawat.


"Bu dokter yang duluan, kan?"


"Ah... kenapa kamu ikut - ikutan?"


Nadia keluar dari persembunyian dan menarik tangan Tisna. Berjalan menuju pangkal lobi dan berdiri di tengah.


"Ngapain, Bu Dokter?"


"Ouh, iya," jawab Tisna cepat menandakan dia setuju dan mengerti apa yang dimaksud dengan temannya yang dipanggil Bu Dokter. Dia berdiri menghadap ke Nadia. Jarak mereka sejengkal.


Mereka berdua berdiri berhadapan, menyamping. Berpura - pura seperti orang yang sedang bercerita tapi kepala mereka berpaling lurus ke samping. Bukan bertatapan.


Nadia melihat laki - laki yang berdiri sekitar 5 meter di hadapan mereka. Laki - laki itu bercerita dengan seorang dokter yang dikenal oleh Nadia, dokter yang juga bekerja di Rumah Sakit Dr. Moewardi.


Laki - laki yang berada di ujung lobi adalah dokter spesialis anak yang dikunjunginya 3 hari yang lalu yaitu dr. Arkan Wibowo. Mata Nadia tak lepas dari sosok yang membuat dia kesal pada saat itu.


Di sisi lain, berhadapan dengan Nadia, Tisna melihat ke arah sosok yang mereka intai dengan tersenyum simpul. Entah apa yang dipikirkannya.


Di ujung lobi, setelah tak berapa lama mereka mengintai, Nadia melihat pemuda yang berjalan mendekati dr. Arkan Wibowo dan memegang lembut bahu sosok itu dari belakang.


dr. Arkan Wibowo menoleh dan tersenyum. Pemuda itu memiliki tinggi yang cuma beda sedikit dengan dr. Arkan, tapi mereka memiliki tubuh kurus yang sama.


"Itu perawat yang aku ceritakan semalam, Tis."

__ADS_1


"Wow... mimpi apa aku semalam, pagi ini aku melihat 2 malaikat di rumah sakit tempatku bekerja."


"Hush...!" bentak Nadia.


Tisna terkejut dan menoleh ke arah gadis yang di depannya.


"Kayaknya cocok, Nad. Kamu dengan dokter itu. Aku dengan perawat itu."


Tisna melontarkan kalimat itu dengan mimik riang gembira. Dia sedikit melompat.


"Kamu sudah tunangan!"


"Aduh...."


Tisna menepuk jidatnya. Dia mengingat akan hal itu. Wajah riang gembira berubah menjadi kelabu.


 


***



 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2