
Handphone Nadia berbunyi. Lagu yang dibawakan oleh Wali Band berjudul Apa Kabar Sayang terdengar mendayu. Nadia melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur dimana barang elektronik itu berada. Sebelumnya dia berada di meja rias, membersihkan sisa make up di wajah. Walaupun dia tidak pernah memakai riasan yang tebal, tapi dia selalu membersihkan wajah sebelum tidur.
Mimik wajahnya sedikit murung ketika melihat ke layar. Keluar sekali helaan nafas pendek dan cepat dari hidungnya seperti mengeluh. Lama dia menatap layar handphone. Sepertinya dia sedikit malas mengangkat panggilan masuk di alat komunikasi yang berukuran 5 inchi.
Nadia tertegun. Dia mengabaikan panggilan itu sampai ringtone berhenti mendayu. Dia meletakkan handphone kembali ke atas tempat tidur. Namun... baru saja sedetik barang elektronik itu menyentuh tempat tidur, terdengar kembali nada dering yang sama dari alat komunikasi, seakan barang itu memelas untuk dijamah.
Tangan Nadia dengan perlahan mengambil handphone dan menggeser menu berwarna hijau.
"Ya... halo...."
"Apa kabar, Nad? Sedang sibukkah?"
Terdengar suara lelaki bernada lembut yang menjadi lawan bicaranya Nadia sekarang.
"Baik, Mas."
Nadia berusaha untuk duduk di pinggir tempat tidur. Dia menanggapi kawan bicaranya dengan nada singkat.
"Baru pulang kerja?"
Lelaki di ujung handphone membuka pembicaraan.
"Ndak. Sudah cukup lama juga."
Nadia tak bersemangat untuk meladeni lawan bicaranya.
"Mas ganggu ndak nih?"
Lelaki itu memancing pembicaraan.
"Ada apa ya, Mas?"
Pertanyaan lawan bicara dibalas dengan pertanyaan pula. Bukan jawaban.
"Oh, ndak ada hal yang penting. Jadi... kamu lagi sibuk?"
__ADS_1
Lelaki yang berbicara dengan lembut, sedikit bernada kecewa ketika mengucapkan kalimat itu.
"Ndak sibuk, Mas. Tapi aku pengen istirahat. Capek." Singkat Nadia.
"Sebenarnya ada satu hal yang mau ditanyakan. Boleh Mas bertanya?"
Suara lelaki itu sedikit sumbang.
"Iya, Mas... silahkan."
"Mas dengar... Nadia akan tunangan?"
Lelaki itu bertanya dengan sedikit keraguan. Terdengar dari suaranya.
Nadia terdiam sebentar. Dia tak perlu menanyakan dari siapa Mas Amrun tahu perihal tunangannya. Pasti Riana yang memberitahu.
"Nad...?"
Amrun mengecek keberadaan lawan bicaranya.
"Oh."
Mereka terdiam.
Amrun tak tahu apa yang ingin dibicarakan lagi karena hatinya seakan membeku.
Sedangkan Nadia serasa ingin cepat menyudahi percakapan ini.
"Hmmm... oke. Selamat istirahat, Nadia...."
Ada sedikit suara parau dari kalimat terakhir yang diucapkan oleh Amrun.
"Terima kasih, Mas. Selamat malam."
Nadia langsung menggerakkan tangan menjauh dari telinga. Menu dengan gambar telepon berwarna merah ditekan olehnya. Selesai. Hatinya terasa lega.
__ADS_1
Perasaan Nadia merasa resah ketika menerima telepon dari Amrun. Dia merasa bersalah dengan Arkan ketik menerima telepon dari lelaki lain. Walaupun mereka belum bertunangan. Tapi, Nadia hanya ingin menjaga hatinya.
Amrun, kakak Riana sudah menjadi masa lalu baginya. Dia tak ingin mengharapkan lagi lelaki itu datang ke rumah, bahkan untuk melamarnya. Babak baru dalam kehidupannya telah dimulai. Di mulai dengan seorang lelaki berwajah tampan dan pekerjaan mapan. Tapi bukan itu yang diandalkan Nadia. Keberanian seseorang lelaki yang mengajaknya ke jenjang yang lebih serius, hal itu yang sangat dihargainya dari Arkan. Hal itu juga merupakan impiannya dari dahulu. Dan, terima kasih kepada Tuhan, permintaannya dikabulkan.
***
"Aku tau, kamu malu sekarang dekat denganku."
Arkan memelintir spaghetti yang ada di piring dengan garpu. Dia memasukkan ke dalam mulutnya secara berhati-hati. Arkan tak ingin baju putih yang dikenakannya bernoda. Lelaki itu tak melihat lawan bicara ketika mengatakan kalimat tadi.
Diam. Tak ada jawaban. Di sekitar hanya terdengar suara tamu lain yang bercengkrama di Cafe yang terlihat mewah. Tak banyak pengunjung. Hanya beberapa meja. Bagi Arkan, tempat dengan kondisi seperti ini sangat nyaman.
Daniel berusaha menikmati ayam bakar yang ada di piring dengan kedua tangan. Lelaki yang memiliki bibir yang seksi, makan dengan perlahan. Dia tak ingin mengeluarkan suara ketika mengunyah makanannya. Table manner diterapkan dengan baik pada saat di meja makan. Arkan berhasil mengajarinya dalam hal ini.
"Apa aku bicara dengan manekin di pusat pasar?" sindir Arkan.
"Sudahlah, Mas. Aku tak ingin bertengkar," potong Daniel cepat.
"Mas, *n*dak ngajak bertengkar, Niel. Tapi kamu berubah sekarang ini...."
Arkan mengutarakan pendapatnya dengan menatap ke arah Daniel. Dia menghentikan gerakan tangan kanan yang memegang garpu. Garpu itu menempel di bagian atas spaghetti.
Daniel, tentu saja tidak ingin melihat Arkan yang sedang menatap tepat di wajah. Dia menyibukkan diri dan berkutat dengan ayam bakar kesukaannya. Malu. Itu yang dirasakannya saat ini. Dia memang tak bisa ditatap dan bertemu pandang dengan orang lain. Apalagi Arkan. Arkan yang memiliki mata yang bisa membius dirinya, sengaja dihindari. Mata yang besar dan indah, ditambah lagi dengan ketebalan alis yang sempurna, membuat hatinya akan berdegup kencang.
"Mas hanya tak ingin kamu berubah?" nyata Arkan sedikit menurunkan nada bicara.
"Manusia pasti akan berubah, Mas. Umurku juga bertambah. Aku bukan anak kecil lagi," nyata Daniel. Dia berusaha menuturkan kalimat itu dengan sopan agar Arkan tak tersinggung.
"Ya. Kamu memang bukan anak kecil lagi, usiamu sudah 25 tahun sekarang. Tapi aku yang terus menganggap dan memperlakukanmu seperti anak kecil," balas Arkan.
"Sudahlah, Mas. Biarkan hubungan kita berjalan apa adanya. Jalani saja apa yang memang harus dijalani. Di kantor, Mas adalah atasanku. Di luar, Mas adalah kakakku."
Daniel menatap Arkan sekali. Tak sampai satu detik matanya melihat ke Arkan, dia langsung menurunkan kembali pandangannya ketika bertemu tatap dengan lelaki yang berada di hadapannya. Resah. Ada perasaan yang tak biasa ketika menatap mata itu.
Arkan tak ingin meneruskan kembali pembicaraan mereka. Diaduk dan dipelintirnya kembali spaghetti di piring. Mengangkat garpu dengan gerakan perlahan menuju mulutnya. Dia mengunyah dengan pelan. Mulutnya tertutup rapi ketika menguyah makanan itu. Kepalanya melihat ke samping, ke arah jalan raya. Rintik hujan terlihat di jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan. Di dinding Cafe yang terbuat dari kaca, bulir-bulir air hujan telah menempel sejak setengah jam yang lalu. Sendu. Tatapan Arkan fokus ke bukit yang jatuh ke bawah secara perlahan.
__ADS_1
***