Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Tersembunyi


__ADS_3

Siang hari di hari yang sama di tempat yang berbeda.


 


"Mas akan tunangan dengan Nadia...."


Arkan melontarkan kalimat itu sambil menulis beberapa lembar kertas putih di meja praktek. Dia berbicara tapi tak menoleh ke orang yang dituju.


Tak ada yang membalas kalimat yang dilontarkan oleh dokter spesialis anak. Di dalam ruangan praktek hanya terdengar dentingan botol dan beberapa alat yang terbuat dari besi.


"Dicuekin...? Mas seakan berbicara dengan dinding?"


Arkan menoleh ke belakang. Seorang perawat laki-laki berdiri di samping tempat tidur, membelakanginya.


"Ya udah. Bagus dong. Aku harus gimana, Mas?"


Perawat laki-laki yang bertubuh tinggi terus melakukan pekerjaannya. Dia juga tidak menoleh ke arah Arkan. Dia merasa tersindir, akhirnya menjawab pertanyan Arkan.


"Kamu tidak suka?"


Arkan berdiri, berjalan perlahan beberapa langkah, mendekati perawat laki-laki yang sedang membelakanginya. Dia merangkul perawat yang sibuk dengan botol dan beberapa kotak obat. Tangan kanannya berada di pundak kanan perawat yang memakai baju seragam berwarna hijau toska.


"Kenapa aku yang harus tidak suka. Mas Arkan yang akan memakai perempuan itu."


Dia menjawab dengan pelan dan tidak menoleh sama sekali. Nada suara berusaha distabilkan.


"Kita sudah saling kenal. Cukup lama. Sudah tau sifat masing-masing. Mas tau, kamu tidak suka dengan Nadia. Apa yang tidak kamu suka dari Nadia?"


Arkan berusaha mencari mata laki-laki berprofesi sebagai perawat. Dia ingin bertemu pandang dengan kedua mata itu.


"Sudah... Mas. Kita di ruang praktek saat ini. Nanti dilihat orang."

__ADS_1


Laki-laki itu merasa gelisah dan sedikit cemas.


"Aku akan berbuat begini terus sampai kamu melihat dan menjawab pertanyaaanku. Aku tak perduli jika orang lain melihat tingkahku. Kamu kenal sifat aku kan, Niel?"


Arkan masih tetap berusaha mencari kedua mata perawat laki-laki yang bernama Daniel.


Daniel tahu bahwa Arkan tidak akan berhenti bertingkah seperti itu. Dia mengenal Arkan adalah seorang laki-laki yang gigih. Dia tidak akan berhenti berusaha jika tidak mendapatkan sesuatu sesuai keinginannya. Daniel menggeser badannya seperempat putaran. Dia sekarang berhadapan dengan Arkan yang berada di sebelah kirinya. Kedua matanya berusaha untuk melihat wajah dokter muda yang berada di hadapannya. Dia menatap lurus ke depan. Walaupun terkadang dia sedikit tertunduk. Malu ketika melihat lawan bicaranya yang terus menatap seakan ingin membaca pikiran.


"Apa yang ingin Mas Arkan tanyakan?"


Daniel berusaha tak bergeming. Tapi matanya seakan tidak tahan untuk fokus ke mata Arkan.


"Kamu tidak suka dengan Nadia?"


Arkan menanyakan hal itu dengan lembut. Kedua mata Arkan berusaha untuk menyelidiki pikiran Daniel lewat matanya yang berwarna coklat. Kedua lelaki itu berdiri berhadapan. Jarak mereka hanya satu jengkal.


"Suka Mas... suka.... Oke... puas, kan?"


Arkan tertawa kecil.


"Aku kenal karaktermu. Banyak hal yang kamu simpan. Begitu juga pendapatmu tentang Nadia."


"Dan pendapatku mungkin tidak semuanya benar, Mas." Daniel bergeser ke lemari yang berisi beberapa perlengkapan dan beberapa obat yang tersimpan. Dia melewati tubuh laki - laki yang kurus di sampingnya tadi dengan membawa beberapa barang di kedua tangan.


"Semua keputusan ada di Mas Arkan. Seperti yang aku bilang, Mas yang akan memakainya."


Daniel sekarang berdiri di sebelah kanan Arkan. Dia sibuk memasukkan beberapa botol dan kotak obat ke dalam lemari.


"Tapi aku ingin tau tentang pendapatmu...," pinta Arkan.


"Untuk apa? Semenjak kita kenal, aku sudah pacaran sampai 3 perempuan yang aku pacari, tapi aku tidak pernah meminta pendapat Mas Arkan tentang perempuan yang aku pacari," jelas Daniel. Gerakannya terhenti. Perawat lak-laki itu menatap Arkan dengan mata yang tajam. Dia menyatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Ya karena kamu tidak memikirkan perasaanku. Seharusnya kamu bertanya dong seperti aku bertanya sekarang ini. Itu alasan pertama. Alasan kedua, karena sekarang ini aku akan menikah, bukan pacaran. Jadi aku meminta pendapat tentang seseorang yang akan menemaniku seumur hidup."


Posisi Arkan sekarang berada di pinggir tempat tidur. Berdiri dengan tegak. Dia melipat kedua lengannya di dada. Dokter muda itu terlihat gagah.


"Sudahlah Mas.... Jangan tanya aku. Lagian aku tadi sudah menjawab."


"Tapi masih ada hal yang kamu sembunyikan, Niel?"


Arkan berusaha menjebak Daniel.


"Mas, lebih baik, Mas, Sholat Istikharah daripada menanyakan hal ini kepadaku. Allah pasti kasi petunjuk."


Kini, giliran Daniel berdiri tegak dan menghadap ke dokter muda spesialis anak. Dia berusaha mengimbangi kegagahan lelaki yang berada di hadapannya.


Arkan terdiam.


Kedua lelaki yang berbeda profesi berhadapan dengan tatapan serius. Jarak mereka sekitar 5 jengkal. Mereka berusaha membaca pikiran satu dan lainnya. Posisi mereka berdua saat ini dengan fisik yang sempurna membuat mereka seperti beradegan di drama korea yang memiliki rating tinggi. Drama korea yang selalu dinantikan kehadirannya oleh penggemar yang kebanyakan ibu rumah tangga. Karena ingin melihat aksi pemeran utamanya yang tampan.


 


 


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2