
"Aku akan menikahimu, Nad... tapi aku ingin kita tunangan terlebih dahulu, setelah beberapa bulan dan saling mengenal, baru kita menikah...."
Arkan mengucapkan kalimat itu dengan jelas dan lugas. Lelaki yang sedang memakai baju kemeja berwarna salem, duduk dengan menegakkan punggung dan menatap lurus ke arah gadis yang di hadapannya. Dia sangat berwibawa dan sopan.
"Ya... Tuhaaaan...! Apakah ini mimpi...!" jerit Nadia di dalam hati. Hatinya seakan berhenti berdetak sesaat. Kedua matanya menatap ke arah lelaki yang duduk di hadapannya tanpa berkedip.
Akhirnya, cerita dongeng yang diharapkan menjadi kenyataan. Seseorang pangeran yang munculĀ tiba-tiba --dikenal tanpa sengaja-- datang ke rumahnya tanpa janji palsu dan akhirnya akan melamar dia di depan kedua orang tua secara jantan. Nyata. Drama yang sangat diinginkan berlaku di dalam kehidupannya, bukan sebuah skenario yang dibuat oleh manusia.
Nadia terpaku. Tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia berusaha menyembunyikan kegembiraan di wajah. Kedua matanya masih menatap Arkan.
"Gimana, Nad... apa jawabanmu? Kok diam?"
Arkan membalas tatapan Nadia dengan mata indah yang dimiliki.
Saat ini, Nadia salah tingkah dengan tatapan itu. Dia tersadar bahwa ini adalah kenyataan.
"Hmm... ya udah, Mas. Nanti ketika ketemu kedua orang tua, akan diberi jawaban."
Gadis itu berusaha menjawab dengan santai, padahal hatinya sudah meronta. Dia tertunduk malu.
Pada saat ini, bayangan Tisna -- asisten perawatnya-- berkelebat masuk ke dalam pikiran.
"Dokter bodoh... jawab iya... langsung katakan iya. Kamu bodoh, Nadia."
Nadia dengan cepat berusaha mengusir bayangan perawat perempuan yang telah memaki dirinya.
"Oke... silahkan dibicarakan terlebih dahulu. Memang harus berembuk dengan keluarga, pastinya. Ini bukan urusan main-main, kan?"
Arkan masih terlihat berwibawa dan sopan. Dia masih duduk dengan punggung yang lurus dan tegak.
"Tak perlu berembuk lagi, Mas. Aku sudah pasti akan menerimamu...!"
"Ya," jawab Nadia singkat. Dia berusaha menghilangkan perasaan yang sedang melayang saat ini. Dia berusaha untuk mengendalikan kedua kakinya yang seakan ingin terbang dan melesat pulang ke rumah dan memberitahu hal bahagia ini kepada ibunya.
"Oke... jadi... ya seperti itu. Aku akan menunggu seminggu lagi untuk mendengar jawaban langsung darimu ketika berhadapan dengan Ibu dan Bapakmu."
Arkan mengambil tisu yang ada di atas meja. Dia tak tahu harus diapakan lagi tisu itu, karena mereka sudah selesai makan. Tangan dan mulutnya juga sudah bersih. Karena sudah terlanjur mengambil benda tipis berwarna putih, dia mengelapkan benda itu sekali ke mulutnya yang memiliki bibir sensual.
"Aku ke kasir... setelah itu kita pulang ya?"
__ADS_1
Arkan segera bangkit dari duduk dan menjauh dari Nadia. Dia tidak mengharapkan jawaban dari gadis yang duduk terpaku. Diam, seakan tak berdarah.
Nadia hanya mengangguk. Dia melihat punggung lelaki yang sangat lebar, berjalan menuju kasir. Lelaki yang berdada bidang ini sangat menawan jika memakai kemeja. Pikiran liar Nadia menjalar ke otak karena Arkan sudah menyatakan cintanya. Bukan... bukan menyatakan cinta... tapi lamaran... lamaran dengan cara yang jantan. Dia sangat mendambakan momen ini dari beberapa tahun yang lalu. Ternyata, memang ada pria seperti yang dipintanya kepada Tuhan di setiap doa.
Nadia masih memandangi lelaki yang baru saja mengajaknya untuk bertunangan, bukan pacaran. Lelaki itu sudah berada di depan meja kasir dan membelakanginya. Tubuhnya begitu indah dan seksi. Kasir perempuan tersenyum kepadanya. Nadia cemburu. Di hatinya terasa sedikit sakit.
Lelaki yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak, telah mengajaknya untuk ke jenjang yang lebih serius. Hanya dua bulan... ya, dua bulan mereka saling mengenal dan pada saat pertemuan pertama, Nadia memiliki kesan buruk terhadap lelaki yang dicintainya saat ini. Kesan yang menilai dokter muda itu secara sepihak. Dan itu salah. Setelah Nadia mengenal Arkan dalam kurun waktu 2 bulan, begitu banyak kelebihan yang dimiliki oleh lelaki yang dipujanya saat ini. Tampan, memiliki fisik sempurna, smart, anak sholeh dan mapan.
Arkan kembali mendekati meja dimana Nadia berada. Dia berjalan dan tersenyum kecil.
"Ayo... kita pulang," ajak Arkan.
Lelaki itu berdiri dan menunggu gadis yang berambut panjang, bangun dari tempat duduknya. Arkan mengambil tangan Nadia dan menggenggam dengan lembut ketika gadis itu sudah berada di sampingnya. Lelaki tampan itu menggiring Nadia ke arah pintu keluar Restoran Jepang yang berada di salah satu Mall di Kota Solo.
***
"Benarkah...? Ya ampun... aku turut bahagia, Nad."
Suara Tisna terdengar sangat nyaring di balik alat komunikasi.
Nadia sampai menjauhkan benda itu sedikit dari telinga kanan.
"Jadi... kapan resepsi pernikahan?"
"Lah... belum tau Tis, wong Mas Arkan belum ngomong ke Mama dan Bapakku."
"Kamu sudah cerita ke Mama dan Bapakmu?"
"Ke Mama, sudah. Ke Bapak... ya belum. Mungkin Mama sudah cerita."
"Ah... akhirnya kamu laku juga, Nad."
Tisna terkekeh.
"Ah... semprul kamu, Tis."
Nadia juga ikut terkekeh ketika mengucapkan kata itu.
Nadia sangat bahagia. Dia melampiaskan kebahagiannya dengan cara menelpon Tisna. Tentu saja Tisna sangat terkejut ketika mendengar kabar yang sangat istimewa ini. Nadia tak sabar menunggu besok untuk menceritakan hal ini, padahal di tempat kerjaan mereka akan bertemu. Selesai maghrib, dia langsung menelepon Tisna dan menceritakan hal yang sangat istimewa untuk dirinya.
__ADS_1
Rasa bahagia terlihat dari tawa Nadia. Terdengar juga balasan tawa dari Tisna yang merupakan salah satu teman terdekatnya di rumah sakit tempat mereka bekerja. Pembicaraan sudah menyerempet ke hal-hal yang harus disensor karena tak pantas didengar oleh anak yang belum cukup umur. Mereka bercanda dengan guyonan berkonten dewasa.
"Sudahlah, Tis. Perutku sakit. Aku masih perawan dan tak mengerti soal itu."
Nadia terkekeh.
"Alhamdulillah... kita masih perawan di zaman yang aneh. Banyak gadis rasa janda di zaman ini. Syukur kepada Tuhan kita masih melindungi orang tua dari siksa api neraka."
Tisna menyatakan hal itu dengan serius. Tak ada terdengar suara terkekeh lagi.
"Ya. Alhamdulillah... oke, Tis. Sudah ya. Besok kita sambung lagi."
"Oke. Assalamualaikum... calon tunangan dokter Arkan...."
Tisna menutup dengan salam yang bernada mendayu.
"Wa'alaikum salam... calon pengantin baru."
Nadia juga membalas dengan nada yang sama. Kemudian dia menekan menu berwarna merah, mengakhiri pembicaraan. Nadia tersenyum ketika mengakhiri pembicaraan itu.
Klentung...
Tiba-tiba masuk pesan singkat di chat room salah satu aplikasi sosial media. Tertera tulisan, dr. Arkan, di layar handphone.
Nadia dengan cepat membuka pesan. Handphone masih terpegang di tangan kanannya.
"Sudah dibicarakan dengan Mama dan Bapak, Sayang...."
Wajah Nadia langsung memerah. Dia merasa malu membaca kata terakhir. Tapi lebih besar rasa gembira daripada rasa malu ketika membaca kata itu.
Gadis yang sedang memakai baju tidur, cepat mengetik beberapa kata untuk membalas.
"Belum, Mas. Sebentar lagi, Nadia omongin ke orang tua."
Jempol mungilnya menekan tombol kirim untuk membalas pesan dari Arkan.
Klentung...
Nadia kembali membuka pesan masuk. Hanya tertera simbol jempol berwarna kuning di balasan chat room. Nadia tersenyum.
__ADS_1
***